Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia

Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia
Penyelesaian Ujian Ke-2


__ADS_3

CHAPTER 33 : PENYELESAIAN UJIAN KE-2


Morgan tertidur sangat lelap, sehingga ia tak menyadari bahwa waktu sudah beranjak pagi. Ketika ia membuka matanya dan melihat keluar dari jendela, langit masih gelap karena cahaya matahari belum bersinar. Tanpa menunggu lama, Morgan langsung bergegas menuju hutan dan sampai di kawasan es untuk menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Ia memposisikan tubuhnya dengan kuda-kuda untuk menahan terpaan suhu dingin, mengingat bahwa biasanya suhu tersebut akan membuatnya tidak bertahan lama.


Namun, saat berjalan hampir lima jam lamanya, ia merasa heran karena tubuhnya tidak merasakan dingin, malah terasa hangat. Suhu semakin turun hingga mencapai -50 derajat, tetapi dia masih tetap nyaman. Waktu berjalan enam jam dan suhu semakin ekstrem mencapai -60 derajat, bahkan -65 derajat, namun tubuhnya tetap sama, tak ada efek buruk padanya. Morgan mencoba bertahan lebih lama lagi.


Tiba-tiba, Asmothia muncul dari arah belakang dan bertanya tentang hasilnya. Morgan mengatakan bahwa saat ini tubuhnya tidak merasakan efek buruk seperti sebelumnya.


Asmothia tertawa keras dan memberikan penjelasan, " Bagus, tapi kamu harus tahu mengapa semua itu terjadi. Dalam suhu yang sangat dingin, tubuh manusia akan menjadi lemah. Darah dalam tubuh akan mengalir ke bagian-bagian yang dingin untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat. Namun, di suhu seperti ini, bertahan selama enam jam tanpa pakaian hangat hanya akan mempercepat kematian "


Morgan bingung dengan penjelasan tersebut dan bertanya lagi, "Jika manusia punya mekanisme itu, mengapa saya tidak mengalaminya? Bukankah saya masih manusia? "


Asmothia menjawab lagi, " Benar, kamu memang manusia, tapi hanya setengah manusia. Setengah lainnya adalah iblis. Itulah mengapa pertahanan tubuhmu berbeda dan dapat beradaptasi dengan kondisi seperti ini. Pada awalnya, tubuhmu sangat lemah dan reaksinya terhadap dingin sangat parah, namun ketika batas fisik manusiamu mencapai titik tertentu, tubuh iblismu mulai menyesuaikannya "

__ADS_1


Asmothia mendekati Morgan dan duduk di atas batu es. Ia melanjutkan, " Karena kamu memiliki bagian fisik manusia, cara untuk menghilangkannya adalah menjadikanmu iblis sepenuhnya. Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, pelayan mewarisi sepuluh keuntungan mutlak dari tuannya, dan keuntungan itu diperoleh melalui ujian. Apakah kamu masih ingat? "


Morgan mengangguk, mencoba mengingat apa yang pernah dikatakan Asmothia ketika mereka berada di rumah Duma. Ia semakin penasaran dengan proses dan arti dari semua ujian ini.


Morgan mempertanyakan Asmothia, " Tapi saya belum menyelesaikan satu pun "


" Tidak, kamu telah menyelesaikan satu hal penting, yaitu mendapatkan kehidupan abadi. Dalam ujian pertamamu, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Jika pelayan ini adalah iblis, maka ujian mendapatkan hidup abadi akan diubah. Namun, jika pelayan ini adalah manusia, ujian untuk mencapai kehidupan abadi harus dilalui. Ujian ini sangat berisiko tinggi, dan jika manusia tersebut mati, ritual pembangkitan akan dilakukan. Jika berhasil, manusia tersebut akan menjadi setengah iblis, tetapi jika gagal, dia akan menjadi penghuni neraka " jelas Asmothia.


Asmothia berhenti sejenak, " Tidak perlu khawatir tentang hal itu, karena dia juga akan melatihmu. Selain itu, apakah kamu tidak ingin pulang? "


Morgan merasa sedikit terganggu dan bertekad untuk mengetahui lebih banyak. Ia mulai berlari mengejar Asmothia yang meninggalkannya. Morgan mengikuti Asmothia dari belakang, ia juga merasa lega karena telah berhasil melewati kondisi dingin yang menusuk. Setelah beberapa saat berjalan, mereka tiba di sebuah tempat tandus dengan hamparan batu yang memenuhi area tersebut. Asmothia menghentikan langkahnya, dan Morgan pun berhenti juga. " Ada apa, Putri Thia? Di mana kita berada dan mengapa kita ke sini? "


Asmothia menjawab dengan suara pelan, " Tempat ini disebut Gurun Batu. Tempat ini sangat cocok untuk melatih fisik dan sihir "

__ADS_1


Morgan yang masih bingung mendadak diserang oleh Asmothia, " Salv in! "


Morgan langsung terjatuh dengan keras, terbaring di tanah yang penuh dengan batu-batu. Tubuhnya ditekan oleh medan magnet yang kuat, sihir itu terus menekannya secara berulang. Asmothia dengan serius berkata, " Tugasmu hanya satu, yaitu melepaskan dirimu dari kendali sihir ini. Kamu diperbolehkan menggunakan segala jenis sihir tanpa ada aturan khusus ". Asmothia tetap berdiri di tempatnya dan menambahkan, " Oh, aku lupa. Jangan terlalu lama, karena tekanan ini akan semakin kuat seiring berjalannya waktu "


Morgan berusaha bertahan di bawah tekanan tersebut, tetapi beberapa saat kemudian, tekanan semakin meningkat. Tubuhnya semakin tertekan, dan batu-batu kerikil mulai menusuk kulitnya. Morgan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri menggunakan kekuatan fisiknya, tetapi semua upayanya sia-sia. Ia mencoba menggunakan sihir, tetapi rasa sakit yang dialaminya membuat fokusnya terganggu, dan tekanan semakin bertambah. Tanah di sekitarnya mulai retak, dan batu-batu kerikil yang menusuk semakin dalam lagi. Asmothia melihat Morgan dengan tatapan yang tampak acuh tak acuh, tetapi sebenarnya di dalam hatinya dia sangat khawatir.


" Kumohon, jangan sampai mati " kata Asmothia dalam hati.


Saat tekanan berikutnya semakin meningkat, terdengar suara retakan tulang. Asmothia berusaha menahan perasaannya sendiri, dan dengan usaha yang keras, dia menggigit bibirnya untuk merasakan rasa sakit sebagai pengalihan atas rasa khawatirnya. Morgan, yang saat itu tidak lagi mampu menggunakan sihir karena melebihi batas kemampuannya, sudah dalam kondisi terluka parah. Tiba-tiba, sebuah cahaya kecil muncul di depan matanya. Cahaya itu membentuk tulisan dalam bahasa iblis, dan Morgan membacanya dengan seluruh kekuatannya, " Relivas! in! "


Api hitam mulai berkobar di sekitar Morgan, dan api itu segera melahap sihir Asmothia. Tekanan dari medan magnet terbakar oleh api hitam, dan efek tekanan itu pun berhenti. Api itu tidak berhenti di situ, melainkan terus membesar dan menghancurkan batu-batu besar. Pada saat itu, Morgan kehilangan kesadaran, tetapi sihirnya tetap tak terkendali. Api hitam terus meluas, dan Asmothia berusaha memadamkannya, tetapi upayanya justru memantul kembali. Sihir yang digunakan oleh Asmothia memantul dengan keras, dan tubuhnya terhempas ke batu-batuan. Api hitam semakin ganas, dan batu-batu yang sebelumnya telah lenyap berubah menjadi pasukan api. Terdapat empat pasukan bersenjata dengan palu, masing-masing palu memiliki warna yang berbeda: merah, biru, emas, dan putih. Pasukan-pasukan tersebut berbicara, " Siapapun yang melukai tuan kami, dia harus dihukum mati! "


Tanpa aba-aba, mereka langsung menyerang, dan Asmothia menggunakan perisai sihirnya untuk menahan serangan mereka. Namun, pasukan yang membawa palu berwarna emas berhasil menghancurkan perisai itu hanya dengan satu pukulan. Asmothia terkejut melihat perisainya hancur begitu mudahnya, dan dengan serius ia melawan balik. Asmothia melakukan teleportasi menuju pasukan tersebut dengan cepat. Telapak tangannya terbalut api biru yang menyala. Dengan gerakan yang gesit, ia membelah semua pasukan tersebut menggunakan tangannya, dan tubuh mereka yang terbelah langsung dilahap oleh api biru yang membara. Akan tetapi, salah satu pasukan yang membawa palu berwarna putih dengan cepat menghentakkan palunya ke tanah, menyebabkan api putih yang kuat melahap balik api biru yang dihasilkan oleh Asmothia.

__ADS_1


__ADS_2