Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia

Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia
Makan Bersama


__ADS_3

CHAPTER 30 : MAKAN BERSAMA


Sinar matahari menyembul di balik jendela, memancarkan sinarnya yang hangat dan menyinari ruangan dengan cahaya yang lembut. Bunyi riang dari kicauan burung-burung mengisi udara pagi, menggiring alam dari dalam tidur ke kehidupan yang penuh semangat. Di dalam kamar, Morgan merasakan perubahan dalam dunia di sekitarnya dan perlahan membuka matanya. Tiba-tiba, pintu diketuk dengan keras, menciptakan dentingan yang menggema dalam ruangan itu. Morgan meraih kesadarannya, terbangun dari tidurnya yang lelap. Suara pelayan desa yang ramah terdengar keras di balik pintu, " Tuan Morgan, sarapan pagi sudah tersedia. Anda diundang oleh kepala desa untuk mengunjungi rumahnya. Dan Putri Thia juga sudah menunggu kehadiran Anda di sana "


Morgan beranjak dari tempat tidurnya, lalu memberikan jawabannya yang penuh antusiasme, " Baiklah, saya akan segera ke sana! "


Pelayan itu pergi dengan langkah ringan, membiarkan Morgan untuk mempersiapkan diri. Dalam keadaan yang segar bugar, Morgan bersiap-siap untuk mengunjungi rumah kepala desa. Ia bergegas mandi, menyirami dirinya dengan air yang segar. Namun, saat ia keluar dari kamar mandi, ia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Di atas meja dekat kamar mandi, terdapat pakaian yang sudah terlipat rapi. Di sebelahnya, sebuah catatan kecil menarik perhatian Morgan. Tulisan tangan atas catatan itu mengatakan, " Setelah mandi, pakailah baju ini ". Senyuman muncul di wajah Morgan saat ia membaca catatan itu. Ia dengan pasti tahu siapa yang telah meninggalkan pesan ini.


Tanpa ada keraguan, Morgan mengenakan pakaian yang tersedia di meja. Ketika ia melihat dirinya di cermin, ia tak dapat menahan kejutan. Pakaian itu tak hanya pas di tubuhnya, melainkan juga memperindah penampilannya secara luar biasa. Rambutnya yang panjang terurai dengan anggun, tubuhnya yang tinggi menjadikan setiap jahitan pakaian tampak menyatu, dan wajahnya yang tampan semakin bersinar dengan kemilau yang tak terduga. Dalam sekejap, Morgan menyadari betapa pakaian itu berhasil menyempurnakan penampilannya dan memberikan kepercayaan diri menjadi lebih baik.


Sesudah berganti pakaian, Morgan melangkah keluar dari kamarnya. Ketika menuruni tangga, terlihat seorang pria berdiri di dekat pintu depan, menatap Morgan dengan penuh perhatian. Meskipun demikian, Morgan tetap melanjutkan langkahnya menuruni. Tanpa diduga, pria itu memalingkan pandangannya ke arah Morgan dan dengan ramahnya berkata, " Tuan Morgan, penampilan Anda benar-benar memukau. Meskipun saya hanya seorang pelayan, namun saya masih bisa menilai dengan tajam "

__ADS_1


Morgan menanggapi dengan rendah hati, " Tidak perlu berlebihan seperti itu. Pakaian ini saja yang memang bagus "


Namun, pelayan itu menggelengkan kepala, dengan cermat memberikan jawabannya, " Tidak, tidak. Pakaian diciptakan untuk menyempurnakan penampilan. Ketika penampilan seseorang sudah sempurna, maka setiap pakaian yang dipakai akan terlihat lebih sempurna "


Ucapan pelayan tersebut membuat Morgan merasakan perasaan yang baru. Ia belum pernah mendapat pujian sedalam itu sebelumnya. Dalam diam, pelayan itu mengajak Morgan untuk berjalan bersamanya menuju rumah kepala desa. Mereka berjalan beriringan, bercengkrama dengan penuh keakraban. Setiap kata yang keluar dari bibir Morgan memukau pelayan itu, seakan kebijaksanaan hadir dalam diri Morgan. Setelah beberapa saat, mereka akhirnya tiba di rumah kepala desa. Tempat itu begitu luas, dengan aula di sebelahnya yang sering digunakan untuk pertemuan warga. Saat mereka memasuki area rumah, mereka disambut oleh kerumunan orang yang telah berkumpul di sana. Mulai dari anak-anak hingga lansia, semua berkumpul untuk melihat kedatangan Morgan dan pelayan itu.


Morgan dan pelayan itu berjalan menuju ruangan makan, di mana mereka disambut dengan antusiasme oleh banyak orang. Dalam kerumunan, terdengar bisikan-bisikan, " Siapakah dia? " " Wah, dia sangat tampan! " " Apakah dia kenalan Putri Thia, atau mungkin… " " Hush! Dia adalah penyelamat Putri Thia! " “ Apakah aku bisa menikahinya? “


Penduduk, pelayan, dan kepala desa terkejut mendengar teriakan Asmothia. Sebagai seorang yang biasanya tenang dan tidak menunjukkan banyak ekspresi, ini adalah kejutan besar bagi mereka. Namun, kegembiraan dan semangat yang terpancar dari Asmothia mengisi ruangan, menciptakan aura yang berbeda dari biasanya. Morgan duduk di samping Asmothia, berdekatan dengan kepala desa beserta bawahannya. Kepala desa bertanya pada Morgan, " Tuan, bagaimana keadaanmu sekarang? "


Morgan menjawab, " Saya dalam keadaan baik. Terima kasih atas semua pertolongan Anda " sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Kepala desa tertawa lega, lalu para pelayan membawa hidangan mewah ke atas meja. Semua makanan itu sangatlah lezat dengan berbagai variasi. Morgan melihat hidangan tersebut dan menyadari bahwa sebagian besar merupakan makanan kesukaan Asmothia. Ketika ia melihat ke samping, Asmothia sudah menaruh banyak sekali makanan ke dalam mangkuk besar. Morgan bergumam pelan, " Ketika tubuhnya masih kecil, porsi makanannya sangat besar, dan sekarang tubuhnya sudah dewasa, tapi apa-apaan ini? Porsi makanannya dua mangkuk besar yang biasanya dia makan, makanan itu masuk kemana? "


Morgan melihat sekelilingnya, semua hidangan di meja para penduduk disiapkan dengan wajar. Hanya di mejanya saja hidangan dengan porsi super besar dihidangkan. Morgan baru menyadari bahwa penduduk desa sudah terbiasa dengan porsi makanan Asmothia. Morgan pun mulai mencicipi suapan pertamanya. Saat potongan daging masuk ke dalam mulutnya, ia terdiam sejenak. Rasa yang begitu lezat memenuhi seluruh rongga mulutnya, memanjakan lidahnya. Salah satu pelayan membawa sebuah mangkuk kecil kepada Morgan dan berkata, " Tuan, ini adalah hidangan spesial dari Putri Thia, silahkan dinikmati "


Morgan melihat makanan itu hanya sepotong roti, tetapi ketika ia memakannya, rasa yang meledak-ledak menghantam lidahnya. Paduan rasa selai dan susu menciptakan keharmonisan sempurna, rasa manis dan asin saling menyatu menjadi satu sensasi yang luar biasa enak. Morgan sangat menikmati hidangan tersebut, dan kepala desa tersenyum kepadanya sambil bertanya, " Bagaimana rasanya? "


" Hidangan ini sangatlah lezat. Menurutku, yang paling enak adalah hidangan dari Putri Thia. Rasanya tidak pernah kubayangkan sebelumnya " Jawab Morgan dengan penuh kekaguman.


Setelah mendengar pujian tersebut, semua orang di ruangan itu langsung tergoda untuk mencoba hidangan yang dibuat oleh Asmothia. Mereka tidak tahan untuk mengambil lebih banyak lagi. Kepala desa pun merasa penasaran dan mencicipi sedikit hidangan tersebut. Tiba-tiba, teriakan keras memenuhi seluruh ruangan, " Enak sekali! "


Asmothia mendengar pujian-pujian tersebut dan berusaha dengan untuk menahan kebahagiaannya. Ia mengerti betul bahwa reaksi sombongnya akan keluar jika tidak ditahan. Meskipun hatinya berbunga-bunga mendengar pujian itu, ia berusaha tampil ramah dan rendah hati.

__ADS_1


Dengan penuh usaha, Asmothia hanya tersenyum kepada semua orang yang memandangnya, berusaha menahan kesombongannya agar tidak keluar. Matanya berbinar-binar, namun ia dengan bijaksana mengendalikan ekspresinya. Wajahnya tetap ramah dan hangat, tidak ada tanda-tanda kesombongan atau rasa angkuh. Ia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa ia tetaplah sosok yang dikenal oleh para penduduk, meskipun mendapat pujian yang luar biasa atas hidangan yang ia buat.


__ADS_2