
CHAPTER 26 : RITUAL PEMBANGKITAN 3
Azazel berdiri di hadapan para tetua, menghadap mereka dengan tatapan serius. Azazel berkata, " Karena prosesnya tinggal setengah jalan, aku yang akan melanjutkannya. Namun, ingatlah bahwa setelah ritual berhasil, bersiaplah untuk bertempur "
Para tetua, yang berlutut hormat di hadapan Azazel, secara bersama-sama menjawab dengan suara lantang,
" Siap, Yang Mulia! "
Hefei dan Frost, serta Asmothia yang juga berlutut di samping Azazel. Mereka ikut bergabung dalam penghormatan tersebut. Dalam satu suara mengucapkan kata yang sama, menunjukkan pengabdian mereka terhadap leluhur. Azazel mengambil pisau yang digunakan untuk ritual, menggenggamnya dengan kuat di tangannya. Lalu, ia menancapkan pisau itu ke lantai. Azazel mengangkat wajahnya, memandang ke arah lautan darah. mengucapkan mantra sihir, pembangkitan iblis murni. Nama yang diucapkannya, " Perintah leluhur! pembangkitan iblis murni, Morgann Xanthorax Malakarix Vornheim von Hellbert! "
Pisau yang tertancap kuat di lantai mulai bersinar. Sementara itu, lautan darah yang berada diluar istana mulai bergetar dengan intensitas yang semakin meningkat. Getaran air menciptakan ombak-ombak besar yang bergerak semakin ganas, memecah dan meluap. Dari dalam gelombang ombak, muncul tanduk besar yang muncul dari dalam laut. Ketika tanduk itu sudah mencapai atas akhirnya terlihat jelas, seorang manusia berkepala kambing yang berukuran raksasa. Setengah tubuhnya terendam dalam lautan darah, namun kedua tangannya diangkat menengadah ke depan. Di telapak tangannya yang luas, terlihat sosok pria yang tertidur lelap, memakai pakaian putih yang mencolok di antara warna gelap darah. Raksasa itu perlahan mengulurkan tangannya yang besar dan kuat menuju arah istana tempat Azazel berdiri. Dengan penuh kekuatan, ia menyerahkan sosok yang ada dalam genggamannya kepada Azazel. Telapak tangan raksasa itu telah mencapai depan pintu gerbang istana, dan tetua pertama memberikan perintah kepada Hefei.
" Hefei! Ambil dia dan serahkan pada Putri Mahkota! "
__ADS_1
Dengan sigap dan gesit, menggunakan kekuatan teleportasinya untuk melompat ke atas telapak tangan raksasa. Dengan cepat, ia menggapai pria yang ada di tangan raksasa tersebut, dan kemudian teleportasi kembali ke dalam istana. Hefei dengan lembut menyerahkan pria itu kepada Asmothia. Ketika pandangannya bertemu dengan wajah pria tersebut, tiba-tiba Asmothia merasa seperti dunianya berhenti sejenak. Dia duduk di lantai, menaruh kepala pria itu di pangkuannya, dan memeluknya dengan erat. Dengan penuh rasa rindu, ia mengusap lembut rambutnya yang terurai, membelai pipinya perlahan
" Morgan, akhirnya aku dapat melihatmu kembali " ucap Asmothia.
Ketika pembangkitan telah berhasil, hal yang tidak diinginkan terjadi. Suasana menjadi dingin, lalu berubah lagi menjadi panas. Tanpa diduga, tetua iblis kedua mengeluarkan kekuatan sihirnya,
“ Perintah iblis! Perisai darah! “
Perisai dari darah melindungi seluruh istana, setiap lapisan terbungkus oleh darah beku. Tak berselang lama, hujan es dan hujan api kembali melanda wilayah tersebut, menciptakan kekacauan dan kehancuran. Di langit, tampak mata terbuka seolah-olah ada yang mengawasi. Kemudian, dari atas terpancar kekuatan besar yang sama dengan bencana. Jarum es dan jarum api meluncur dengan kecepatan tinggi menuju perisai darah, mencoba menembus pertahanannya. Terjadilah benturan dahsyat antara serangan tersebut dan perisai yang kokoh. Jarum-jarum itu tidak cukup kuat untuk meretakkan perisai meski menghujani dengan kuat, Namun, dari langit cahaya emas bersinar terang, tombak cahaya berkecepatan cahaya menghantam perisai itu dan akhirnya hancur. Tombak itu tidak berhenti, pergerakannya menjadi lebih cepat mengarah ke arah Morgan, Asmothia langsung memeluknya berusaha melindungi. Dan kilatan cahaya muncul,
Sebuah pedang tajam yang dipegang oleh Frost memotong tombak itu dengan mudahnya, mereka yang berada di istana melihat ke langit. Tampak dua dewa cahaya dan dewi kemalangan beserta pasukannya sudah bersiap tempur. Di tengah situasi yang genting, Frost berkata pada Asmothia, “ Bawalah Morgan pergi bersamamu, saya akan menahan mereka disini bersama tetua! “
Asmothia merasa khawatir dan bertanya tentang nasib Frost, “ Tapi, bagaimana denganmu, Tuan Frost? “
__ADS_1
“ Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya, gelar dewa pedang dan jenderal iblis bukanlah sekedar nama belaka. Lagi pula, kemampuan Anda tidak sebanding dengan dewa cahaya, jika anda tetap disini nyawa kalian berdua akan terancam! “ Jawab Frost dengan tegas.
Beberapa pelayan berusaha membantu Asmothia untuk pergi melalui teleportasi, namun ditengah perjalanan, dua dewa cahaya menyerang mereka secara membabi buta. Pedang, tombak, dan panah tak terhitung jumlahnya berhamburan menyerang istana. Hefei, yang telah mencapai batas kesabarannya, memperlihatkan ambisinya untuk bertempur. Ia mengeluarkan sihirnya dengan lantang, " Perintah dewa perang! Pergeseran ruang! "
Sihir berkekuatan besar dilepaskan oleh Hefei, memancarkan cahaya merah gelap yang meluas hingga mencapai langit. Pada saat yang sama, pedang, tombak, dan panah yang awalnya ditujukan untuk menyerang berbalik arah dengan kekuatan yang lebih besar. Dua dewa cahaya bersatu dalam menghadapi serangan tersebut, dengan menggabungkan kekuatan. Mereka mengeluarkan sihir, " Perintah dewa cahaya! Dinding Kokoh! "
Dinding cahaya terbentuk melintang, membentang dengan tujuan melindungi seluruh pasukan mereka. Namun, senjata cahaya yang telah ditingkatkan oleh Hefei dengan kekuatannya mampu dengan mudah meruntuhkan dinding tersebut. Pasukan musuh yang awalnya begitu banyak langsung berkurang drastis akibat serangan balik yang dilancarkan oleh Hefei.
Dewi kemalangan tidak tinggal diam dan mengeluarkan sihirnya dengan lantang, " Perintah dewa! Tikaman es! " Kekuatan yang tak terdeteksi muncul di depan Asmothia, dan salah satu pelayan mengetahui itu dengan cepat mendorongnya dan mengorbankan dirinya untuk menerima serangan tersebut. Pelayan itu membeku dan hancur berkeping-keping. Asmothia terdiam sejenak melihat kejadian itu, bersama dengan pelayan lainnya ditarik tangannya untuk segera berlari menuju lingkaran teleportasi dan meninggalkan tempat itu. Sementara itu, Dewi kemalangan merasa kesal karena serangannya tidak berhasil. Azazel maju ke depan pintu dan berkata,
" Kerja bagus, para jenderal iblis. Sayangnya, saat ini bukan saatnya untuk mengorbankan mereka. Jadi, biarkan mereka hidup lebih lama dengan luka ". Azazel mengaktifkan sihirnya,
" Perintah mutlak! Pantulan cermin! "
__ADS_1
Saat mantra itu diucapkan, wujud yang memiliki penampilan yang sama dengan dua dewa cahaya dan dewi kemalangan muncul di lautan darah. Mereka memiliki pasukan yang sama, elemen yang sama, tetapi kekuatan mereka berbeda. Pantulan cermin ini memiliki kekuatan seratus kali lebih kuat dari aslinya. Tanpa banyak bicara, mereka segera melancarkan serangan. Dua dewa cahaya asli tidak menyadari kekuatan pantulan cermin tersebut dan ikut menyerang. Saat pedang mereka bertabrakan, ledakan yang hebat terjadi. Dua dewa cahaya asli terhempas ke belakang, dan luka cahaya yang mereka terima hampir menusuk ke inti kehidupan mereka. Dewi kemalangan juga terkena serangan dari pantulan cerminnya sendiri, kekuatan yang seratus kali lebih kuat menyebabkan luka serius di inti kehidupannya. Karena mereka tidak bisa melanjutkan pertarungan, akhirnya mereka pergi menggunakan teleportasi, memilih untuk melarikan diri.
Setelah mereka semua pergi, cahaya emas masih tetap bersinar di langit. Tetua pertama bergumam, “ Sepertinya pertempuran masih belum berakhir “