
BAB 15 : UNDANGAN YANG BERAT
Pintu itu terbuka dengan suara gemuruh, dan Morgan terlempar ke dalam dunia yang gelap gulita. Tapi, tiba-tiba, satu per satu, lampu-lampu kristal menyala dengan cahaya yang memukau, menembus kegelapan yang mengelilinginya. Cahaya tersebut menerangi setiap sudut dan celah, mengungkapkan pemandangan yang sebenarnya. Morgan terpesona saat melihat kemegahan di sekelilingnya, tetapi pandangannya segera tertuju pada suatu hal yang membuatnya merasa ketakutan.
Di hadapannya, berjajarlah iblis-iblis dalam berbagai bentuk dan ukuran. Keberadaan mereka mengejutkan dan memenuhi ruangan dengan kehadiran mengerikan. Namun, sorotan utama adalah sebuah singgasana yang sangat besar di ujung ruangan itu. Di singgasana itu, terdapat sosok raksasa duduk dalam bayangan hitam yang mencekam. Aura kejahatan yang begitu kuat menyebabkan tubuh Morgan menjadi lemas, dan rasa takut merambat dalam dirinya.
Hefei and Frost berdiri dengan tegap di samping singgasana itu, bersama dengan dua orang lainnya, salah satunya adalah seorang wanita. Seorang pria yang berdiri di samping Frost melangkah maju ke depan Morgan. Ia mengenakan pakaian hitam yang melingkupi tubuhnya, matanya berwarna hitam dengan kornea merah yang memancarkan aura kejahatan. Jubah hitamnya dikelilingi oleh asap hitam yang mengambang di sekitarnya. Dengan suara yang berat, pria itu mulai berbicara dalam bahasa iblis,
" Lav artem! " diacungkan tangannya pada Morgan.
Morgan merasa bingung, tidak mengetahui arti kata-kata tersebut, tetapi ia sering mendengar Asmothia mengucapkannya.
" Salv krea! "
Pria tersebut menghentakkan kakinya, dan tiba-tiba asap hitam mulai turun dari atas, menyerang Morgan dengan kekuatan dahsyat. Tubuh Morgan terhempas ke lantai, kepala terbentur dan darah mulai mengalir dari hidungnya. Tekanan yang ia rasakan semakin kuat, dan tulang rusuknya bahkan mengalami retakan. Rasa sakit yang tak tertahankan hampir membuatnya kehilangan kesadaran, tetapi ia memaksakan diri untuk bangkit. Dengan kekuatan terakhir, ia berusaha berdiri meskipun dalam tekanan yang maha kuat, hingga akhirnya ia berlutut. Pria berjubah itu meningkatkan tekanannya lagi, membuat Morgan yang hampir berhasil berdiri terjatuh lagi, bahkan ia memuntahkan darah. Pandangan Morgan mulai kabur, dan matanya perlahan tertutup.
Namun, tiba-tiba seorang wanita yang berada di dekat singgasana melancarkan tendangan yang kuat kepada pria berjubah tersebut. Pria itu terlempar ke dinding dengan kekuatan yang keras, hingga dinding itu hancur. Asap hitam mulai memudar, dan tekanan yang kuat akhirnya menghilang. Wanita itu mendekati Morgan yang berada di ambang kematian, tangannya yang lembut menyentuh pipinya. Cahaya merah muda yang terang memancar dari telapak tangannya, dan tubuh Morgan mulai terangkat ke udara. Hangatnya cahaya itu menyelimuti seluruh tubuhnya, menyembuhkan semua luka yang dideritanya dalam sekejap.
" Selva, Nyx? " ucap pria berjubah itu dengan nada marah.
“ Misva, aslvei Thia mon kre vi “ jawab gadis itu.
__ADS_1
Perdebatan yang sengit terjadi antara wanita yang telah menolong Morgan dan pria berjubah tersebut. Percakapan mereka berlangsung dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh Morgan, namun sebuah kekuatan misterius merasuki tubuhnya, memungkinkannya untuk memahami pembicaraan mereka. Kekuatan itu mengarahkan perhatiannya pada sosok bayangan hitam yang duduk di singgasana, dan Morgan dapat melihat dengan samar-samar senyum jahat yang terbentuk di wajah makhluk itu.
Morgan merasa bulu kuduknya merinding ketika melihat wajah makhluk itu tersenyum dengan senyuman yang penuh dengan kejahatan dan keserakahan. Lalu, terdengar keras perdebatan antara kedua iblis itu yang telah dimengerti olehnya. Sambil memperhatikan perdebatan itu, ia mendengarkan percakapan mereka.
" Nyx, seharusnya kita sebagai jenderal memiliki status lebih tinggi dari manusia rendah ini, apalagi kepada Raja! " suara itu bergema, penuh dengan keangkuhan dan kekuasaan yang tak terbantahkan.
“ Putri Thia, telah memberi perintah padaku untuk melindungi manusia ini. Apakah kamu akan membangkang pada putri mahkota? “
Asap hitam membumbung tinggi, “ Meski begitu seharusnya dia berlutut di hadapan Raja! “
“ Bukankah, yang mulia tidak berkata sepatah katapun? itu artinya manusia ini memang tidak bersalah, Abyss “
“ Bukan itu masa…. “
“ Keparat! “
Dalam kekuatan kegelapan, Abyss melaju kencang, memancarkan asap hitam yang mengepul dengan ganas. Dalam sekejap, dia bergerak dengan kecepat cahaya menuju arah Nyx. Namun, sebelum Abyss bisa mencapai tujuannya, cahaya terang tiba-tiba turun dari arah kiri dan kanan, menghantam tubuh Abyss dan menghasilkan ledakan yang hebat. Dua gadis yang menuntun Morgan di dalam kegelapan, muncul dari cahaya dan berdiri di depan Nyx, sedangkan Abyss terlempar ke belakang dengan luka yang parah pada lengannya.
“ Berhenti! “
Tiba-tiba, suara menggelegar yang memekakkan telinga mengisi ruangan yang luas itu. Lampu-lampu berkedip tanpa keteraturan, menciptakan suasana menegangkan.
__ADS_1
Mendengar suara dari bayangan hitam di singgasana itu, semua orang yang ada di dalam ruangan secara serentak bertekuk lutut menghadap ke arah takhta yang menjulang tinggi. Morgan pun tak terkecuali ikut berlutut, menyadari betapa kuat tekanan suaranya.
“ Morgan! Apakah kamu kenal siapa aku? “
“ Ti.. tidak, aku tidak tahu “ Morgan gugup.
“ Apakah Asmothia tidak memberitahumu tentangku? “
Morgan tidak bisa berpikir dengan jernih, suara yang terdengar membuat seluruh badannya gemetar, “ A.. a.. aku hanya diberitahu tentang Raja iblis dan jenderal beserta pasukannya “
“ Apakah kau takut? “
Morgan terdiam membisu, mulutnya seakan terkunci.
“ Kamu, Morgan Wolfe, pelayan putriku yang lemah. Aku tidak pernah menduga bahwa Asmothia akan memilih seseorang sepertimu sebagai pelayannya. Setiap kali dia bercerita, selalu saja menyebutkan pelayan yang kuat dan tangguh. Bukankah, sikapmu yang seperti ini adalah penghinaan bagiku? “ Bayangan itu tersenyum dengan mata merah menyala.
“ Putrinya? jadi dia adalah Raja Iblis Hellbert? “ ucap Morgan dalam pikirannya
Berdirilah bayangan itu dari singgasananya, “ Benar, akulah Hellbert Draconius Vortigern Infernus Rex Morbithorn Drakarion II, Raja Iblis kedua di kerajaan ini “ Raja iblis berjalan ke depan Morgan, tubuhnya yang terselimuti bayangan berubah seukuran manusia. Pakaianya serba armor yang dilapisi emas dan cahaya kristal adamantite memancar terang, wajahnya terlihat muda, mata yang menyala merah serta tatapan angkuh, rambutnya terikat rapi dan rambut sampingnya panjang sampai pundaknya.
Morgan terkejut, rasa ia lupa jika iblis dapat membaca hati dan pikiran manusia. Tanpa berpikir, kata-kata spontan keluar dari mulutnya, “ Maaf, Yang Mulia Hellbert. Saya tidak bermaksud menghina atau mengecewakan Anda. Saya hanya gugup, melihat kekuatan yang besar “
__ADS_1
“ Gugup? pria yang gugup tidak layak melindungi putriku, dari penampilanmu saja terlihat begitu lemah dan tidak berdaya. Apa yang bisa kamu lakukan? “
Mendengar itu Morgan langsung teringat dengan janjinya kepada Asmothia, yang membuatnya selalu berkeinginan untuk menjaganya. Tekadnya mulai membara, “ Saya mungkin tidak hebat seperti yang Anda harapkan, Yang mulia, tetapi saya memiliki kesetiaan yang tulus kepada Asmothia. Saya akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindunginya “