Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia

Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia
Rekan


__ADS_3

CHAPTER 3 : REKAN


Morgan mempertanyakan dalam hatinya, " Bagaimana bisa Nenek Silva memiliki koin Lumina yang begitu berharga? Apakah dia sebenarnya orang kaya, sehingga mampu membantu saya setiap hari? " Dalam kebingungan tersebut, berbagai spekulasi melintas di pikirannya, dan pertanyaan-pertanyaan terus muncul. Namun, dia berusaha keras untuk tetap berpikir positif, menolak terjerat oleh keraguan dan mencoba melihat sisi baik dari situasi ini.


Setelah mendengar penjelasan yang cukup panjang, pria itu berjalan ke belakang, mengambil sebuah peti usang dan berdebu dari rak. Dia juga mengambil sebuah kunci kecil untuk membuka peti yang terkunci. Dengan susah payah, dia mencoba membuka peti tersebut, namun kunci yang digunakan sudah berkarat sehingga tidak bisa terbuka.


“ Tuan, jika boleh tahu. Siapakah namamu? ” tanya Morgan, penasaran.


Pria itu menatap Morgan dengan ekspresi kaku sejenak sebelum menjawab dengan nada keras, “ Hah?!! Namaku? Panggil saja aku Duma. ”


Morgan tersenyum dan tertawa pelan, “ Oh, Tuan Duma. Baiklah, akan saya ingat nama itu. ”


Duma meliriknya sebentar sebelum kembali mencoba membuka peti tersebut.


Setelah beberapa upaya, akhirnya terdengar suara


 " ceklek! "


yang menandakan kunci berhasil terbuka.


Duma membuka peti itu, terdapat sebuah kantong kecil yang diikat erat menggunakan seutas tali. Dia mengambil kantong tersebut dan memberikannya kepada Morgan. Namun, ketika Morgan hendak menerima kantong itu, tiba-tiba Duma menarik kembali kantong itu dengan cepat sambil memegang kerah baju Morgan.


Tatapan tajam Duma membuat Morgan terdiam, merasa ketakutan akan konsekuensi apa yang akan terjadi jika ia melawannya.


Dengan mata melotot, Duma berteriak cukup kencang, “ Datanglah kemari pada tengah malam... jangan sampai lupa. Namun, jika kau tidak datang... ”


Dengan ekspresi menakutkan, Duma mengancam, “ KAU AKAN BENAR-BENAR MATI!!! ”

__ADS_1


“ Kau mengerti, bukan? “ lanjut Duma sambil tersenyum lebar.


Morgan hanya bisa mengangguk mengerti, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun karena satu tindakan bodoh nyawanya bisa melayang. Duma melepaskan cengkraman pada kerahnya dan menyuruh Morgan segera pergi. Morgan pergi dari tempat itu dengan perasaan yang tidak tenang, ia sangat yakin bahwa Duma tidak sedang bercanda.


Setelah keluar dari gua tersebut, Morgan langsung menuju rumah nenek Silva, seorang nenek yang sering membantunya dalam kesulitan. Ketika sampai di depan rumah nenek Silva, Morgan melihat nenek tersebut sedang menggambar sesuatu di kertas.


Morgan mendekati nenek Silva sambil bertanya, “Nek, saya sudah mendapatkan apa yang kau butuhkan.”


Nenek Silva menoleh dan menjawab, “Taruh saja di meja, aku masih sibuk.”


Morgan melihat gambar yang ada di kertas itu, sebuah simbol aneh yang tidak bisa dipahaminya. Dia ingin bertanya tentang gambar tersebut, tetapi takut mengganggunya. Maka, ia memutuskan untuk berpamitan dan langsung pulang ke rumahnya.


Pada saat itu, hari masih siang, dan saatnya bagi Morgan untuk bekerja mencari rumput dan membersihkan kotoran di tempat pembuangan akhir. Pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang mudah, karena ia harus mencari rumput dalam jumlah yang cukup untuk mengisi sebuah gerobak sebagai pakan ternak. Selain itu, ia juga harus membersihkan kotoran di area yang menjijikkan dan berbau tak sedap. Upah yang diterima hanya sebesar 10 koin perunggu, jumlah yang sangat kecil bahkan bagi rakyat jelata. Sayangnya, hanya Morgan yang diberikan upah yang tidak pantas tersebut karena ia merupakan orang dengan status paling rendah.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Morgan segera mandi di sungai. Menggunakan beberapa tanaman herbal sebagai pengganti sabun, sehingga tubuhnya kini tidak berbau. Inilah rutinitas harian yang dijalani oleh Morgan di siang hari, yang penuh dengan pekerjaan berat namun tetap dilakukan dengan baik.


** Aku harus menjadi lebih kuat **


Namun, ketika hendak memejamkan matanya, ia teringat janji untuk bertemu dengan Duma. Dengan tergesa-gesa, Morgan bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil sebuah belati untuk disimpan di sakunya. Ia berangkat menuju gua tersembunyi itu. Mengikuti langkah-langkah yang sudah dilakukan sebelumnya, memasuki gua yang ditutupi oleh bendera, melalui tiga cabang gua, dan menarik tuas untuk membuka cabang keempat. Cahaya lilin menerangi jalannya hingga ia mencapai pintu yang dihiasi oleh tulang belulang.


Dengan hati berdebar, Morgan membuka pintu tersebut. Lonceng kecil berbunyi, menambah ketegangan yang dirasakannya. Dengan perlahan, dia melangkah maju, tangan kanannya sudah siap dengan belati kecil yang disimpan dalam kantongnya. Setiap langkah diambil dengan kewaspadaan, mengantisipasi bahaya yang mungkin ada. Namun, saat sampai di hadapan Duma, yang terlihat adalah Duma yang duduk santai di meja tamu dengan dua gelas berisi anggur.


Morgan terkejut dengan situasi tersebut, merasa waspadanya terlalu berlebihan. Duma menata kursi di sampingnya dan menyuruh Morgan untuk duduk.


“ Hei, kemarilah. Jangan hanya diam saja disitu “ ujar Duma.


Morgan segera berjalan menuju kursi itu, ia duduk tepat di sampingnya. Terlihat suasana yang santai, ada pula makanan ringan serta minuman yang disediakan di meja itu.

__ADS_1


Duma meminum segelas anggur dan berkata, “ Jika kau terlalu serius menghadapi sesuatu yang belum jelas, ingatlah bahwa ketidakpastian adalah bagian dari perjalanan hidupmu. ”


Morgan penasaran dan bertanya, “ Apa maksud Tuan Duma dengan itu? ”


Dengan tatapan tajam, Duma menghentakkan gelasnya ke meja dan menjawab, “ Aku tahu sebelum kau datang kemari, pikiranmu sudah membuatmu menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang tak berbelas kasihan. Belati tersembunyi di dalam saku, dan kau tetap siaga seolah ada musuh yang siap menyerangmu. Namun, musuh yang sebenarnya adalah dirimu sendiri... ”


Morgan hanya melihatnya dan menduga bahwa Duma mungkin sedang mabuk, sehingga dia bisa mengatakan hal tersebut.


Duma mengambil gelasnya, menuangkan anggur ke dalamnya, dan melanjutkan, “ Morgan, beritahu aku sesuatu yang bisa membantu mengalahkan pahlawan korup itu. ”


“ Jika melawan satu penyihir gunakan saja anti-sihir, jika melawan dua penyihir gunakan anti-sihir berlapis, dan jika ingin melawan tiga penyihir kuat gunakan anti-sihir super “ jawab Morgan sambil memandangi gelembung anggur yang naik ke permukaan di dalam gelasnya.


Duma terkejut dengan apa yang dikatakan Morgan. Ia menahan pundak Morgan dan dengan serius bertanya, “ Darimana kau bisa mengetahui baris itu? ”


Morgan menjawab terbata-bata, “ Aku... Aku mempelajarinya sebelum diasingkan ke desa Kai. ”


Dengan suara pelan, Duma menjawab, “ Morgan, apakah kau pernah mempelajari sihir? Atau bagaimana kau mengetahui baris itu? Baris itu terdapat dalam halaman buku sihir yang disimpan secara rahasia oleh Kerajaan. ”


Morgan menjawab, “ A.. Aku hanya tahu sedikit, namun aku tidak memiliki energi sihir apapun “ . Sebenarnya, sebelum memberontak, Morgan telah mempelajari semua buku sihir yang pernah ia temukan di dalam hutan, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling tinggi. Tingkat menghafal yang dimiliki Morgan berbeda dari manusia biasa, dia memiliki kemampuan untuk mengingat semua yang dilihatnya secara singkat. Setelah membaca semua buku itu, Morgan membakar tumpukan buku itu untuk menjaga rahasianya dari siapapun.


Dengan senyuman dan kata-kata tegas, Duma menawarkan sesuatu pada Morgan, “ Morgan, aku memiliki tawaran menarik untukmu. Bagaimana jika kau membantuku mengalahkan pahlawan itu, dan sebagai imbalannya, aku akan membantumu mempelajari sihir meskipun kau tidak memiliki kekuatan sihir. ”


Morgan terkejut mendengar tawaran tersebut. Dia berpikir bahwa tawaran itu sangat membantunya dalam mengalahkan Kerajaan yang sudah membuatnya sengsara, dan keuntungan dalam memiliki sihir akan sangat berguna di masa depannya.


setelah berpikir sejenak, Morgan menjawab, “ Aku akan mempertimbangkannya. Namun, aku benar-benar tidak memiliki sihir apapun, dari yang kutahu seseorang dapat mempelajari sihir karena keturunan atau memiliki sumber mana. Aku bukan dari kalangan penyihir ataupun memiliki sumber mana. Namun, jika Tuan Duma bisa membantuku, maka aku bersedia membantumu. ”


Duma tersenyum puas mendengar jawaban Morgan. Dia dengan senang hati menyetujui permintaan Morgan, dan mereka berjabat tangan sebagai tanda telah bersepakat untuk bekerja sama. Setelah momen itu, Duma dengan antusias mengajak Morgan untuk merayakan kesepakatan mereka dengan minum bersama. Dengan semangat yang tinggi, mereka melanjutkan perbincangan sepanjang malam, sambil menikmati berbagai jenis minuman dan hidangan yang menggugah selera.

__ADS_1


__ADS_2