
CHAPTER 36 : KESEPATAKAN BERSAMA
Disana Dewi Zera membawa Morgan ke dalam kamarnya, dengan hati-hati tubuhnya dibaringkan di atas tempat tidur. Kemudian tubuh Morgan ditutup menggunakan selimut serta menekan seluruh berkah dari leluhur. Asmothia juga memberikan kekuatan penekanan aura, menggunakan perintahnya sebagai tuan, berkah dari leluhur di tekan masuk sampai ujung alam bawah sadar. Sekarang tubuh Morgan telah menjadi lebih baik, yang sebelumnya memiliki aura membunuh yang kuat dan sekarang aura itu telah padam. Dewi Zera menekankan pada Asmothia, katanya, “Putri Mahkota, apa yang kita lakukan ini bukanlah akhir dari masalah. Ada saatnya dia akan kembali seperti ini, tergantung dari peristiwa yang akan muncul.”
“Apa maksudmu? Apakah Morgan akan selalu seperti ini?“ jawab Asmothia yang sangat khawatir.
Dewi Zera duduk di kursi dan menjelaskan, “ Itu adalah skenario terburuknya. Ketika kekuatan berkah sudah tak terkendali, jiwanya akan tersiksa oleh kekuatan itu sendiri, bahkan setelah Morgan diubah menjadi iblis murni. Namun, alasan di balik kekuatan yang menjadi liar ini ada pada rasa sakit yang dialami oleh wadahnya. Kekuatan leluhur di dalam alam bawah sadar merasakan setiap rasa sakit yang dialami oleh wadah. Mungkin saja saat anda memberikan ujian, tanpa disadari anda memancing keluar kekuatan tersebut dan ia memandangmu sebagai musuh."
Dewi Zera meletakkan pedang beserta perisainya di atas meja, kemudian dia melanjutkan pembicaraan, “ Ingatlah pesanku ini, Putri Mahkota. Berkah anda dan berkah dari leluhur iblis merupakan kesatuan dari bangsawan murni. Ketika satu wadah menerima berkah dari bangsawan iblis, kekuatannya akan berkembang pesat bahkan jika pemiliknya adalah manusia biasa. Namun, ketika dua berkah dari dua bangsawan iblis yang berbeda bersatu dalam satu wadah, ini akan memicu pertarungan di alam bawah sadar. Keduanya akan bersaing untuk mendominasi wadah tersebut. Hanya ketika salah satu berkah berhasil mengalahkan yang lain, pemenangnya akan menguasai wadah dan berkah yang lain."
Asmothia merenung, membiarkan kata-kata Dewi Zera meresapi pikirannya. Setelah beberapa saat merenung, ia akhirnya berkata, "Kau benar. Berkahku pasti tak mampu mengatasi berkah leluhur Azazel. Perbedaan status bangsawan saja sudah cukup besar, apalagi dalam hal kekuatan. Mungkin yang terbaik adalah aku tak lagi mencoba mengujinya, biarlah berkah leluhur yang mengambil peran ujian itu."
__ADS_1
Asmothia terus merendahkan diri, terlihat dalam setiap kata dan nada bicaranya.
Namun, tiba-tiba...
“ PLAK!! “
Sebuah tamparan keras tiba-tiba menghantam pipi kiri Asmothia. Tatapan Dewi Zera tajam dan penuh kemarahan, raut wajahnya mengekspresikan kekesalan yang mendalam. Asmothia terkejut, tidak pernah terbayangkan bahwa dia akan ditampar begitu. "A... apa yang kamu lakukan?" ucap Asmothia, pipinya merah karena tamparan tadi.
Tamparan itu begitu keras, Asmothia langsung tersadar dengan semua usahanya selama ini. Tangannya digenggam sangat erat, matanya mulai berkaca-kaca, tidak kuat menahan perasaannya dia pun menangis.
“Maafkan aku Morgan..“
__ADS_1
Asmothia menangis begitu keras, air mata keluar dengan derasnya. Merasakan tangisan murni dan tulus Asmothia, Dewi Zera menghampirinya dan memeluknya. Lengan Dewi Zera menyampaikan dukungan dan kenyamanan, mengusap pelan rambut Asmothia. Tak lama kemudian, tangisannya mereda. Dewi Zera dengan penuh kelembutan menyeka air mata yang tersisa, berkata, “Putri Mahkota tidak perlu khawatir, umur anda kan masih sangat muda jadi wajar jika membuat kesalahan.”
“Aku mengerti, Dewi Zera “
Mereka berdua terlibat dalam percakapan yang ringan, mengalihkan suasana menjadi lebih ceria. Namun, begitu topik kembali pada Morgan, suasana serius kembali memenuhi ruangan.
"Putri Mahkota, saya punya usulan untuk melatih Morgan. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, berkah leluhur akan muncul kembali bila terprovokasi oleh situasi tertentu. Agar ia bisa melewati ujian tanpa memicu berkah leluhur, apa pendapatmu jika saya membantu dalam latihannya?" tawar Dewi Zera.
Asmothia memalingkan wajahnya dengan ragu, "Aku takut Raja Langit akan marah."
"Tak perlu khawatir, kita telah membahas ini. Raja telah memberiku izin, dengan syarat hasil akhir dari ujian ini tak merugikan langit,"
__ADS_1
Asmothia menganggukan kepalanya, dan dengan begitu mereka sepakat untuk saling membantu. Meskipun hari telah merambat larut, percakapan mereka terus berlanjut. Dewi Zera hendak pulang, tapi Asmothia meminta agar dewi itu tinggal semalam di kamarnya. Dewi Zera dengan senang hati menerima tawaran itu, dan mereka berdua berbagi tempat tidur. Saat mereka merebahkan diri, Asmothia mulai menceritakan pengalamannya dengan Morgan, dan Dewi Zera mendengarkan dengan penuh antusiasme. Setelah itu, giliran Dewi Zera yang bercerita tentang kehidupannya di langit. Waktu terus berlalu tanpa terasa, hingga akhirnya mereka pun terlelap dalam tidur.