
CHAPTER 19 : DUA NAGA DAN MANUSIA
Morgan merenung dengan ragu, " Apakah aku mampu mengalahkan kedua naga itu? "
" Jika kamu ingin menjadi kuat, segeralah berangkat untuk menghadapinya. Namun, jika kamu memilih untuk menjadi pengecut, tinggalah di sini dan merengek seperti bayi. Aku akan pergi seorang diri " Langkah Asmothia melangkah mendahului.
Morgan dengan cepat menahan tangan Asmothia. " Putri Thia, berilah aku kesempatan sekali lagi. Kali ini, ijinkan aku menghadapi masa laluku disini "
“ Pergi! “
Morgan segera berlari mencari perahu, keberuntungan menyertai saat menemukan perahu kecil terparkir di dermaga. Tanpa berlama-lama, ia segera naik dan mendayungnya menjauh dari pantai. Asmothia berbicara pelan,
" Morgan, kamu harus berhasil. Kedua naga itu memang mustahil bagi manusia, tapi kamu tidak tahu bahwa jiwamu telah diberkahi oleh Tetua leluhur kami, Azazel "
Langit yang semula cerah berubah menjadi mendung hitam pekat. Kilat menyambar di sepanjang lautan. Morgan tetap berusaha mendayung, lalu ombak menjadi semakin ganas. Perahu yang dikemudikan terguncang oleh ombak yang bergulung cukup tinggi, namun Morgan tetap bertahan, sambil terus mendayung di tengah badai yang mengamuk. Hujan deras mulai turun bersamaan dengan kilatan petir, angin berhembus kencang menuju pantai berlawanan arah dari arah tujuan. Ombak pun semakin tinggi, dan perahu itu terbalik. Morgan terlempar keras dari perahu, tercebur ke dalam lautan. Untungnya, perahu itu dapat kembali seperti semula, segera Morgan berenang untuk kembali ke perahunya. Sekujur tubuhnya basah kuyup, ia tetap terus mendayung di tengah badai, kekhawatiran menghantuinya, takut terkena petir yang menyambar tepat ke tubuhnya.
Saat melihat ke depan, kedua naga yang sedang bertarung sudah semakin dekat. Mereka saling menggigit, menyemburkan air berkekuatan tinggi. Meski gigi dan semburan mereka sangat kuat, kulit mereka tak tergores sedikit pun. Mengetahui itu, Morgan tetap membulatkan tekadnya menuju mereka, mencoba lebih dekat lagi, dalam perjalanannya ia melawan hujan badai di lautan dan ombak yang kuat menerpa perahunya. Ketika jarak menuju naga hanya tinggal satu kilometer, kedua naga itu menoleh ke arah Morgan. Salah satu dari mereka melepaskan semburan air dengan kekuatan tinggi. Morgan mendayung dengan kuat untuk menghindarinya. Saat semburan air semakin dekat,hanya lengan baju Morgan saja yang terkena serangan itu sehingga robek. Namun, naga yang lain juga melepaskan semburan air, tak ada jalan lain bagi Morgan untuk menghindar. Ia melompat ke dalam air, serangan yang kuat menghantam perahunya hingga hancur berkeping-keping.
" Kekuatan ini memang diluar kemampuan manusia, tapi aku memiliki sihir angin yang dapat memberiku peluang besar untuk menghindari serangan yang kuat " gumam Morgan dalam hatinya.
__ADS_1
Morgan memanfaatkan sihir anginnya di dalam air, ia naik ke atas hingga terbang ke awan. Dengan cepat ia mengucapkan mantra,
" Elemen angin: tebasan pisau "
Sebuah pisau angin meluncur dengan cepat menuju salah satu naga, namun saat pisau angin mengenai sisiknya, tidak ada goresan sedikit pun. Bahkan, angin itu terpental. Kedua naga melihat ke arah Morgan, mulut mereka terbuka, dan menyemburkan semburan air dengan tekanan lebih tingi. Morgan segera terbang menukik turun dan ketika sudah berada di luar jangkauan serangan naga, ia mengucapkan mantra lagi,
" Elemen angin: tebasan pisau " lanjutnya, " Elemen angin: cabikan badai "
Tebasan pisau meluncur cepat bersamaan dengan badai yang memiliki pedang dari angin, keduanya bersatu menciptakan pusaran pemotong yang kuat. Serangan itu mendorong kedua naga sehingga mereka terhuyung ke belakang, namun sisik mereka yang sangat kuat tak tergores sedikit pun. Salah satu naga berbicara pada Morgan,
" Bagaimana manusia selemah ini bisa begitu percaya diri untuk melawan kita berdua? "
Ekor naga bergerak menyerang, tapi sihir angin yang dimiliki Morgan memungkinkannya untuk menghindar dengan cepat. Tanpa berpikir panjang, Morgan menyerang tanpa henti. Kecepatannya yang sulit dilihat oleh mata telanjang membuat kedua naga kesulitan mengejarnya. Semburan air ataupun serangan ekor mereka tidak dapat mengenainya.
Serangan demi serangan tak berhenti dilontarkan, ratusan hingga ribuan tebasan angin sudah mengenai kepala dan tubuh naga. Namun, sia-sia belaka. Sisik mengkilat mereka tak dapat ditembus oleh ribuan sihir angin. Morgan berhenti menyerang, tenaganya sudah terkuras banyak. Melihatnya berhenti menyerang naga itu tertawa,
" Hahahaha... Mengapa berhenti? Bukankah ratusan serangan itu bisa menembus sisikku? Kepercayaan dirimu sudah mulai runtuh. Nah, Sekarang biarkan kami yang menyerang " ejek salah satu naga sambil tertawa.
Kedua naga itu memancarkan cahaya yang terang, menciptakan lingkaran sihir di antara mereka. Energi sihir yang kuat menciptakan kilatan petir yang tak terkendali.
__ADS_1
“ Hah? Naga itu dapat menggunakan sihir? “ gumamnya di dalam pikirannya.
Morgan segera menggunakan sihir anginnya untuk melarikan diri. Namun, naga yang lain melepaskan sihirnya, menciptakan sebuah penghalang besar yang mampu menghentikan segala bentuk sihir. Sihir Morgan langsung terhenti dan ia terjatuh ke dalam air.
Morgan bingung, " Mengapa sihirku tidak berfungsi? "
“ Semua yang ada di dalam penghalang ini tak bisa menggunakan sihir, terutama manusia lemah sepertimu. Bukanlah ancaman besar bagi kami “ ucap salah satu naga.
" Maksudmu kamu juga tak bisa menggunakan sihir, bukan? "
Morgan mencoba membalikkan situasi sambil mencari cara untuk menyelamatkan diri. Kepala naga itu mendekat ke arahnya, “ Benar, Memang aku juga tidak dapat menggunakan sihir, namun diriku yang hebat ini memiliki penangkalnya jadi tidak masalah. Sekarang terima saja ajalmu, makhluk lemah “
Dengan kekuatan ekornya yang besar, naga itu menerjang Morgan. Sisik kerasnya menghantam kepala Morgan dengan hebat. Morgan terlempar jauh, pukulan yang keras membuat telinganya berdengung dan darah mengalir dari hidung dan telinganya. Terombang-ambing di permukaan air, Morgan berjuang untuk bangkit meskipun pusing dan badannya mulai keram. Tiba-tiba, serangan ekor yang mematikan menghantamnya lebih keras, menyebabkannya terlempar ke udara dan kaki kanannya diterkam oleh naga.
" Haaaa! " Jeritan kesakitan keluar dari bibir Morgan.
Salah satu kakinya dimakan oleh naga yang menciptakan penghalang sihir, dan tangan kirinya pun tidak luput dari terkaman. Morgan menderita dan berteriak kesakitan. Dalam upaya terakhirnya, dia mencoba mengeluarkan sihirnya. Dengan suara yang lemah, ia mengucapkan mantra,
" Sihir angin: tebasan pisau! " Lalu, ia mengarahkan tangan kanannya ke arah naga. Namun, sihirnya tak berdaya.
__ADS_1
“ Percuma saja.Tidak peduli seberapa keras kau mencoba, sihirmu tak berguna! “
Kemudian, naga itu menyerang tangan kanan Morgan dan membuatnya jatuh ke permukaan laut. Dari kejauhan, Asmothia menyaksikan Morgan yang telah terluka parah. Ia berkeinginan untuk membantu, tetapi semua ini telah direncanakan oleh para tetua leluhur iblis. Asmothia merasa cemas dan khawatir, “ Morgan, tetaplah berjuang. Ini ujian pertamamu, jadi jangan pernah menyerah “