
CHAPTER 6 : PUTRI RAJA IBLIS
Mereka mendekati gadis itu dengan hati-hati, dan saat melihat apa yang sedang terjadi, mereka terkejut. Gadis itu memiliki tanduk kecil yang tumbuh di dahinya.
" Dia adalah iblis, ini sangat berbahaya " ujar Duma dengan rasa khawatir.
Nenek Silva mengangkat sedikit punggung gadis itu.
" Lihatlah di punggungnya, dia bukan ras iblis biasa. Dia adalah iblis tingkat atas, atau bisa kita sebut sebagai bangsawan " dengan suara yang keras.
Morgan terdiam, melihat gadis itu. Ia tidak pernah menduga bahwa gadis tersebut merupakan seorang iblis. Duma segera berlari ke ruang perpustakaan, mengambil buku yang diperlukan, lalu kembali ke kamar.
Dengan hati-hati, Duma memegang buku yang terikat dengan tali dan memotong tali itu dengan pisau kecil. Buku itu pun terbuka, dan mulai mencari setiap halaman yang berisi informasi tentang ras iblis.
" Nah, ketemu! " .
Semua orang di ruangan itu memperhatikan buku dengan seksama. Duma menjelaskan, " Gadis ini merupakan seorang iblis. Dia termasuk dalam tingkat ke-10, sebagai keturunan langsung dari Raja Iblis. Dalam buku ini juga dijelaskan bahwa Raja Iblis memiliki satu keturunan yang mutlak, yaitu seorang gadis berambut pirang, bertanduk dan mata berwarna merah. Menurut mitos kepercayaan Draconius, gadis iblis yang memiliki lambang iblis kemarahan di punggungnya adalah putri dari 'Hellbert Draconius Vortigern Infernus Rex Morbithorn Drakarion II', Raja Iblis ke-2 dari segala dimensi "
Mereka semua saling memandang, menyadari bahwa gadis ini sesuai dengan penjelasan itu. Mereka juga menyadari bahwa gadis itu bisa menjadi penyelamat atau malapetaka.
Saat semua masih membahas isi dalam buku. Tiba-tiba, gadis itu terbangun, dan ia terkejut melihat Morgan dan orang-orang lain berkumpul di sekitarnya. Gadis itu panik, merangkak mundur sampai ke sudut dinding, dan ia mendesis seperti seekor kucing. Gigi-giginya yang tajam terlihat jelas, dan matanya memancarkan cahaya merah.
Duma, merasa cemas, berusaha menenangkan gadis itu. Namun tiba-tiba gadis itu mengeluarkan aura magis yang begitu kuat sehingga Duma segera mundur, merasa tidak berani untuk melangkah lebih jauh. Menghindari risiko besar, Duma memutuskan untuk menyerahkan masalah gadis itu kepada Morgan.
" Mulai saat ini, kamu yang harus mengurusnya, Morgan " ujar Duma dengan tegas.
__ADS_1
" Nenek Silva dan aku tidak lagi bisa melakukan apa pun. Tanggung jawab ini harus bisa kau selesaikan sendiri "
Morgan mengungkapkan kebingungannya, " Duma, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan gadis ini "
" Kau yang membawanya ke sini, maka sekarang kamu bertanggung jawab untuk merawatnya. Jangan khawatir tentang makanan dan tempat tinggal, aku akan memberikan izin, tetapi dengan syarat bahwa kamu harus bisa menenangkan gadis ini " jawabnya dengan tegas.
Setelah memberikan penjelasan kepada Morgan, Duma dan nenek Silva meninggalkan mereka berdua. Morgan memandang gadis itu dan tersenyum penuh kebaikan.
" Apakah kamu sudah merasa lebih baik sekarang? Sebelum kamu datang ke sini, kawanan naga raksasa mengepungmu. Aku menemukanmu dalam keadaan pingsan dan membawamu ke tempat ini "
Gadis itu teriak dengan emosi, " Mengapa kamu menolongku! "
" Aku tidak tega melihatmu terluka parah. Selain itu, pada saat itu, semua naga terkecoh oleh batu besar yang aku lemparkan. Sungguh beruntung batu itu menggelinding ke arah mereka " Senyum tetap terukir di wajahnya.
Gadis itu menghela nafas, menatap Morgan dengan penuh kebencian.
Morgan tersenyum lembut, menatap gadis itu dengan penuh empati. " Aku tahu bahwa tidak semua manusia adalah sama. Meski aku sering diabaikan dan dihina, aku percaya masih ada orang yang baik. Dan aku melihat kamu tidak sejahat seperti dalam cerita. Aku menolong, bukan hanya karena kewajiban, tapi juga karena aku ingin menciptakan kedamaian, di mana ras dan latar belakang tidak mempengaruhi cara kita memperlakukan orang lain. Mungkin kamu beranggapan bahwa manusia itu jahat, tapi aku bukanlah salah satu dari mereka "
Dalam hati gadis itu, “ Manusia ini sangat bodoh! bagaimana bisa dia memperlakukan iblis seperti manusia? apakah dia tidak tahu jika aku dapat membunuhnya? aku harus mengujinya terlebih dahulu “
Morgan mengambil minum, memberikannya pada gadis itu.
“ Minumlah sedikit, tenangkan dirimu dulu ". Lanjutnya, " Oh iya, bagaimana bisa kamu tahu tentang sifat manusia? “
" Tentu saja, aku memiliki kemampuan untuk melihat sifat, kisah hidup, dan keinginan manusia. Banyak manusia di Desa Draconius yang menyembahku, dan tak sedikit di antara mereka yang menjual nyawanya demi kepentingan sendiri. Mereka hidup dengan layak karena mereka melayaniku setiap hari " jawab gadis itu dengan kesombongan yang memancar.
__ADS_1
Morgan tertawa kecil, memaklumi sifat kekanak-kanakan gadis itu, lalu ia bertanya, " Kalau boleh tahu, siapa namamu? Ah, ini untuk mempermudah memanggilmu saja "
Gadis itu berteriak dengan wajah sombongnya, " Namaku adalah Asmothia Draconius Vortigern Infernus Rex Morbithorn Drakarion. Ingatlah namaku dan panggil aku dengan sebutan Putri Thia "
" Dengan senang hati, Putri Thia. Namaku Morgan, salam kenal " senyuman terpancar di wajahnya.
Asmothia bercerita banyak hal tentang pengikutnya dan segala hal yang membanggakannya. Morgan mendengarkan dengan antusias sambil mencari informasi penting. Namun, ketika sedang berbicara dengan semangat, tiba-tiba gadis itu mulai menangis. Tangisnya tak bisa dihentikan, air mata mengalir dan ingus keluar dari hidungnya. Morgan segera mengambil kain bersih, mengusap air matanya, dan membersihkan ingusnya. Asmothia memeluk erat tangan Morgan dan terus menangis dengan lebih keras. Akhirnya, tidak lama kemudian, dia pun tertidur di pangkuannya.
Morgan membaringkan Asmothia di tempat tidurnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut agar tetap hangat. Ia tetap berada di sampingnya, menjaga dengan penuh perhatian, memastikan tidak ada hal buruk terjadi. Meskipun Morgan berencana untuk begadang, akhirnya rasa kantuk yang tak terbendung membuatnya tertidur di lantai yang hanya dilapisi tikar. Tepat pada tengah malam, Morgan bermimpi. Ia dihampiri oleh seorang pria yang gagah, wajahnya samar-samar terlihat, mengenakan baju perang yang terbuat dari besi berkilauan cahaya.
Pria itu berkata dengan suara berat dan kasar, " Namaku Hefei. Aku hanya menyampaikan pesan dari Raja untukmu, manusia. Kamu telah diakui sebagai penyelamat putri mahkota. Jagalah dia dengan baik, dan sebagai imbalannya, keinginanmu akan dikabulkan "
Setelah terbangun, Morgan melihat tubuhnya terbungkus oleh selimut yang tebal. Ia kemudian menoleh ke arah Asmothia dan menyadari bahwa gadis itu tidak memakai selimut tersebut, melainkan Morgan yang memakainya. Morgan menyadari bahwa mimpinya terasa sangat nyata, dan kemungkinan sikapnya saat bermimpi itu membuatnya terbangun dan memberikan selimut itu. Meskipun terdengar berlebihan, itulah satu-satunya penjelasan yang masuk akal bagi Morgan. Setelah menenangkan diri, Morgan mengembalikan selimut itu ke tempat semula dan melanjutkan tidurnya.
Ketika matahari sudah mulai terbit, Morgan bangun dari tidurnya. Melihat Asmothia masih tertidur, ia berdiri dan pergi ke dapur. Di sana, Duma sedang bersiap-siap untuk memasak. Tanpa ragu, Morgan menawarkan bantuannya untuk membantu Duma. Keduanya mulai memasak makanan untuk sarapan pagi, tetapi Duma tidak tahu makanan apa yang cocok untuk ras iblis.
" Morgan, kamu tahu makanan apa yang cocok untuk ras iblis? "
" Aku tidak tahu. Meskipun dia mirip manusia, belum pernah sekalinya melihatnya makan. Yang kutahu, dia bisa minum air "
Duma menepuk dahinya, " Aduh, bagaimana jika nanti dia sakit perut atau diare. Bisa-bisa kita dibantai olehnya "
Dengan suara yang keras, Morgan menjawab, " Oh ya, dia memiliki gigi yang tajam. Kemungkinan makanannya adalah daging, atau siapa tahu, mungkin daging manusia "
Lalu, tertawalah dengan keras sampai air matanya keluar.
__ADS_1
Duma menanggapinya dengan sedikit candaan kaku, " Bercanda apa sih kamu ini. Aku memang bisa menyediakan daging mentah untuknya, tapi itu bukan berarti aku bisa menyediakan daging manusia. Kamu ini… "
Mereka melanjutkan memasak sambil bercanda dan berbincang. Setelah sudah hampir makanan matang, Asmothia memanggil Morgan dengan suara keras. bergegaslah ia pergi ke kamar dan menemuinya.