Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia

Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia
Perjalanan Menuju Pulau Monster 2


__ADS_3

CHAPTER 18 : PERJALANAN MENUJU PULAU MONSTER 2


Morgan meletakkan barang bawaannya dengan hati-hati, pakaian yang dipakainya pun basah kuyup. Ia duduk bersila, fokus, mencoba membangkitkan kembali sihir angin yang pernah dipelajarinya. Angin perlahan berhembus di sekitar mereka, melingkupi Morgan. Angin kencang masuk ke dalam setiap celah pakaian, mengeringkan setiap tetes air yang ada di pakaiannya. Asmothia memperhatikan sihir yang mampu mengeringkan pakaian, merasa sedikit iri. Meskipun Asmothia lebih kuat dari Morgan, namun kekuatan sihirnya hanya terbatas pada pertempuran dan perlindungan. Sihir dasar sehari-hari masih belum sepenuhnya dikuasainya. Akhirnya, Asmothia mendekati Morgan.


" Ah... pakaianku basah. Sepertinya harus dikeringkan. Jika saja ada yang bisa mengeringkannya " ucapnya sambil memeras bajunya.


" Apakah Putri Thia juga ingin bajunya dikeringkan? " balas Morgan.


" Hahaha... rupanya kamu peka, ya " ucap Asmothia.


Morgan mengarahkan sihirnya ke arah Asmothia, angin yang kencang mengeringkan pakaiannya dengan cepat. Asmothia sangat senang, lalu menunjukkan bajunya kepada Morgan yang sudah kering.


" Lihat, bajuku sudah kering sepenuhnya. Kamu memang pelayanku yang bisa diandalkan. Hahaha " kata Asmothia dengan riang.


Saat tawanya semakin keras, terdengarlah suara keras yang bergema di dalam gua.


" Kruuk.. Kruuk.. "


Morgan tanpa banyak bicara segera menyiapkan makanan dalam jumlah yang banyak. Asmothia tidak sabar ingin mencicipi semuanya, bahkan ia ingin melahap semuanya dalam satu suapan. Namun, sebelum makanan tersebut dikeluarkan dari tas, suara perut yang lapar semakin keras terdengar. Morgan sudah tidak bisa menahan tawa lagi.


" Hei! Mengapa kamu tertawa? " geram Asmothia.

__ADS_1


" Maaf, Putri Thia. Tapi saya tidak bisa menahan tawa, namun sebagai gantinya, semua makanan ini milikmu " jawab Morgan sambil tersenyum lebar.


" Sungguh? Tapi bagianmu mana? "


Morgan menunjukkan makanannya, ada sekotak daging yang lezat. Asmothia melihat bagian makanannya, terdapat tiga ikan bakar berukuran besar, dua kotak potongan daging, dua roti bundar, dua gelas air putih, dan segelas susu. Mereka makan dengan lahap sambil istirahat setelah seharian berjalan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bermalam di tempat itu. Api di dinding gua tetap menyala meskipun terkena air, dan api tersebut tidak membutuhkan oksigen sehingga Morgan masih bisa bernapas.


" Putri Thia, apakah iblis bernapas? " tanya Morgan.


" Tentu saja tidak, iblis termasuk makhluk abadi. Mereka bisa hidup abadi karena iblis memiliki satu kehidupan, yaitu api. Itulah mengapa bangsa iblis tidak perlu bernapas atau memiliki roh "


Morgan semakin penasaran, ia pun bertanya lagi, " Saya pernah membaca di sebuah buku bahwa iblis memiliki musuh abadi dan diberkahi oleh leluhur. Apa maksudnya? "


Asmothia membuat gambar menggunakan sihirnya, " Ketika saya kecil, ayah saya pernah menceritakan tentang leluhur kami. Sebelum alam semesta dan dimensi terbentuk, tidak ada yang namanya iblis. Malaikatlah yang mendominasi, dan salah satu pemimpin malaikat adalah leluhur kami. Para malaikat selalu mematuhi perintah pencipta mereka, bahkan keinginan mereka hanya satu, yaitu melayani pencipta. Namun, ada satu pemimpin malaikat yang berbeda dari yang lain, keinginannya yang tidak terpuaskan membuatnya memberontak terhadap pencipta. Pada saat itu, ada pemimpin lain yang melawannya, malaikat tersebut memiliki status tertinggi dan kekuatannya sangat besar. Ketika akhirnya kalah dalam pertempuran, ia dihukum dan dibuang ke dalam api abadi. Di dalam penjara yang terbakar itu, kekuatan suci berubah menjadi kekuatan yang mewakili keinginannya, yaitu kesombongan.


" Mengerti. Jika suatu saat saya benar-benar menjadi jenderal iblis, apakah saya juga akan diberkahi? " imajinasi Morgan mulai muncul.


" Tak..! "


Asmothia menyentil dahi Morgan dengan keras. " Sebelum menjadi jenderal, sebaiknya pikirkan terlebih dahulu bagaimana cara melawan monster "


" Apakah kita benar-benar akan melawan monster? Apa maksudmu di pulau monster? " tanya Morgan ragu.

__ADS_1


" Pulau monster sebenarnya bukan pulau yang dipenuhi oleh banyak monster, tetapi disebut pulau monster karena untuk mencapainya, diharuskan melewati banyak monster di laut. Oleh karena itu, pulau itu disebut pulau monster "


Morgan merasa ragu dan semakin serius mempertimbangkan untuk berhadapan dengan banyak monster. Namun, tiba-tiba...


“ Tak..! “


" Aduh... Mengapa dahiku disentil lagi? " keluh Morgan.


" Jika kamu terlalu ragu untuk melawan monster, bagaimana jika kamu dihadapkan dengan manusia? Sebagai tuanmu, aku akan melatihmu dengan keras. Persiapkan dirimu " tegur Asmothia dengan serius.


Tatapan tegas Asmothia membuat Morgan berpikir dua kali untuk menolak. Ia terpaksa menuruti kata-katanya. Sebenarnya, Morgan masih traumatis dengan monster, terutama naga laut. Sebelum memberontak, Morgan pernah berhadapan dengan naga laut dan kekalahannya menyebabkan rekannya tewas, hanya dirinya yang selamat. Kecerdasan dan kekuatan naga laut tidak dapat disaingi manusia, meskipun manusia lebih cerdas, kekuatannya tetap kalah jauh. Manusia dengan sihir lemah tidak bisa mengalahkan naga.


Morgan tidak ingin berpikir terlalu keras, ia mengalihkan pikirannya dengan merapikan peralatan makan. Setelah merapikan segala sesuatu yang digunakan untuk makan, rasa lelah membuatnya ingin bersandar di dinding. Pada saat itu juga, Asmothia berbicara dengan tegas,


" Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Saat matahari terbit, kita harus sampai di pantai karena cepat atau lambat para sampah itu akan tiba di sini  "


Asmothia langsung melangkah maju, dan Morgan segera mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan jauh di dalam gua, perjalanan yang mereka tempuh dimulai dari malam hingga subuh. Ketika mereka berjalan, angin bertiup kencang memasuki gua. Suara deburan ombak dan aroma garam yang kuat menemani perjalanan mereka. Di kejauhan, ujung gua mulai terlihat. Asmothia berlari kencang keluar dari gua. Dan sampailah mereka tiba di pantai, di mana bulan purnama menerangi pesisir dan sinarnya memantulkan di lautan yang luas. Suara ombak yang sedang pasang dan angin laut yang kencang mengiringi keindahan malam.


Dengan napas terengah-engah, Morgan akhirnya sampai di pintu gua, kelelahan setelah mengejar Asmothia yang terus berlari dengan sangat aktif. Namun, saat langkah kaki menginjakkan pasir pantai, suara auman keras bergema di kejauhan. Memancing pandangan mereka ke arah lautan yang membentang luas. Di tengah gelombang bergelora, mata mereka terpaku pada pemandangan yang tak terduga. Dua naga laut sedang terlibat dalam pertempuran ganas. Tubuh mereka yang panjang bagai ular dan kepala yang menyerupai naga, bertarung sengit.


Morgan tahu salah satu dari mereka adalah naga yang pernah mengalahkannya dulu, tekadnya agak gentar namun tetap berusaha untuk tenang.

__ADS_1


Asmothia mendekati Morgan, berdiri di sampingnya, tatapan yang tajam tertuju pada kawanan naga, " Kamu mampu melakukannya. Jika dia telah merampas nyawa rekanmu, satu-satunya yang bisa kamu lakukan adalah membalas dendam. Gunakan seluruh kekuatanmu untuk menghancurkannya. Tidak, bahkan lebih dari itu, hancurkan mereka semua "


__ADS_2