
CHAPTER 23 : NERAKA LAPISAN KE 8
Saat pintu itu terbuka, angin bersuhu tinggi masuk dengan keras. Suara gemuruh terdengar jelas sampai masuk ke dalam celah lorong. Ketika mereka keluar, tercenganglah Asmothia. Mereka semua ada di ujung jembatan yang terletak di atas jurang, di dalamnya begitu gelap dan penuh dengan kobaran api yang membara. Langit gelap tertutup oleh awan hitam yang menggantung rendah, memancarkan cahaya merah menyala yang memperkuat suasana yang mencekam. Di tengah jurang, terdapat sungai lava yang mengalir. Lava tersebut mengeluarkan suhu yang tak terbayangkan tingginya, dan menjadi simbol penyiksaan yang berkelanjutan bagi roh-roh yang berada di sana. Api dan asap membumbung tinggi, menciptakan suara gemuruh yang mengguncang seluruh tempat. Pelayan Azazel menyentuh jembatan, kilatan cahaya muncul di ujung jembatan.
Jembatan itu memanjang jauh ke depan mereka, melewati tebing dan jurang.
“ Ikuti saya “ ucap pelayan itu.
__ADS_1
Mereka mengikutinya sambil melihat sekitar. Ketika Asmothia melangkah melintasi jembatan yang menjulang di atas tebing dan jurang, pemandangan yang menakutkan terbentang di hadapannya. Di bawah mereka, terdapat jembatan lain yang membentang sepanjang jalan dengan manusia berjubah yang berbaris. Beberapa dari mereka membawa senjata tajam, sedangkan yang lain memegang lentera berapi-api. Sementara itu, di sisi jembatan yang berbeda, terdapat jembatan lain yang sangat sempit, hanya berukuran satu meter lebarnya. Di atas jembatan sempit itu, barisan manusia yang terikat rantai terlihat berjalan dengan penuh kesulitan. Mereka melangkah di atas jalan yang diberi lapisan arang yang masih terbakar. Namun, dari semua manusia yang berjalan, salah satu dari mereka ada yang jatuh ke dalam jurang api. Frost menggandeng tangan Asmothia berjalan, sedangkan Hefei berjalan di depan. Saat melewati tebing, suasana semakin jelas akan penderitaan manusia. Dalam pemandangan api, terlihat manusia dalam penderitaan yang tak terhingga. Mereka terjebak dalam kobaran api yang tak pernah padam, terbakar tanpa henti. Tubuh mereka terbungkus oleh abu dan kulit yang menghitam. Di sepanjang jurang, terdapat alat-alat penyiksaan yang digunakan untuk menyiksa mereka. Mereka terikat pada rantai panjang dan terkena berbagai siksaan ekstrim. Suara jeritan dan tangisan penuh derita mengisi udara. Para manusia itu berteriak memohon ampun, tetapi suara mereka terjebak dalam kedalaman jurang api, tidak akan pernah didengar oleh siapa pun kecuali mereka sendiri.
Pelayan Azazel berkata kepada Asmothia, " Putri Mahkota, mungkin ini adalah kunjungan pertama Anda ke tempat ini. Di sini, segalanya berbeda dari istana Raja Hellbert. Tidak ada kebahagiaan, kegembiraan, atau cinta yang ditemui di sini. Yang ada hanyalah kesedihan, penderitaan, dan rasa sakit yang tak terhingga. Di lapisan ini, terdapat delapan siksaan kekal yang menyiksa. Apakah Anda menginginkan penjelasan lebih lanjut, Putri Mahkota? "
“ Cepat atau lambat, aku akan inspeksi kesini sebagai wakil Ayah. Ceritakan singkat padaku “ jawab Asmothia.
" Dunia ini seakan menjadi penjara bagi manusia " kata Asmothia.
__ADS_1
Pelayan Azazel memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya. " Anda benar, Putri Mahkota. Hanya manusia tidak terpilih saja yang dibuang ke sini "
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, melintasi suasana yang semakin ekstrem dan mematikan. Setiap langkah mereka melintasi jurang api yang didalamnya penuh dengan penderitaan tiada akhir. Di kejauhan, terlihat sebuah istana megah yang berdiri tegak di tengah-tengah lautan darah. Pelayan Azazel menghentikan langkahnya,
" Itulah tempat tujuan kita! "
Lalu mereka melanjutkan lagi perjalanan, pelayan itu menjelaskan setiap tetes darah yang mengalir di permukaan laut tersebut mewakili nyawa makhluk yang telah berakhir dalam pertempuran. Lautan darah terlihat menggelap dan merupakan darah segar, tak berselang lama hujan turun. Tetesan darah yang jatuh dari langit menyatu dengan gelombang yang bergulung-gulung. Bau besi dan kematian tercium kuat di udara, menciptakan atmosfer yang mencekam. Istana yang menjulang di tengah lautan darah itu memancarkan aura kekuasaan. Dindingnya terbuat dari batu hitam yang tampaknya menyerap sinar dari langit, menciptakan bayangan gelap yang mengelilingi bangunan itu. Bentuknya megah dan berhias dengan ukiran simbol iblis dan patung Gargoyle di sudut tembok. Tembok-tembok istana dikelilingi oleh air darah yang bergelombang, menciptakan efek dentuman ombak menabrak tembok. Gerutuan gelombang yang menghantam tembok menyebabkan gemuruh yang terdengar seperti erangan dari jiwa yang teraniaya. Pintu gerbang istana terbuka lebar. Mereka akhirnya tiba di depan pintu gerbang, pemandangan yang menyambutnya adalah barisan patung Gargoyle yang mengintimidasi terletak di sebelah kanan gerbang. Setiap patung Gargoyle memiliki bentuk yang menyeramkan. Mereka memiliki tubuh besar dan berotot dengan sayap lebar yang menjulang tinggi di atas kepala mereka. Kulit mereka tampak kusam dan ditutupi oleh goresan-goresan yang memberikan kesan usia dan keausan. Mata mereka terbuat dari batu dan menatap Asmothia beserta semua yang bersamanya, seolah-olah mengawasi setiap gerakan yang dilakukan oleh siapa pun yang mendekati pintu gerbang. Setiap Gargoyle memegang posisi yang berbeda, beberapa berdiri dengan mulut terbuka yang menampakan gigi-gigi tajam, sementara yang lain memiliki sikap bertahan dengan cakar tajam yang melintang di depan dada mereka. Ekspresi wajah mereka terukir dengan rinci, menampilkan seruan kemarahan yang melintas di wajah mereka.
__ADS_1