Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 9 FLASHBACK PART 1


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Flashback 4 tahun yang lalu...


Sore ini Gibran bersiap berangkat latihan basket di sekolah. Andra, kapten tim basket putra sekaligus kakak kelas dan sahabatnya sudah menunggu di lapangan basket sekolah.


Sesampainya di sekolah...


"Kita jadi sparing?" tanya Gibran kepada Andra.


"Jadi, mereka bilang jam 4." jawab Andra melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 15.45.


"Kamu yakin, Bang, mau sparing sama Roni dan kawan-kawan? Bukannya kamu sama Roni musuh bebuyutan?" tanya Gibran lagi sambil duduk di pinggir lapangan sambil memasang sepatu basketnya.


Andra menyunggingkan senyumnya mendengar pertanyaan Gibran. "Dia yang nantangin. Ya... Kita tunjukan saja siapa yang akan menang." jawab Andra dengan yakin dan percaya diri.


Gibran hanya tersenyum mendengar jawaban Andra. Baginya sebenarnya mengikuti ekstrakurikuler basket adalah untuk menyalurkan hobi, berolahraga dan berteman sebanyak-banyaknya. Tidak pernah terlintas di pikirannya untuk mencari musuh atau menyombongkan diri dengan keahliannya. Gibran memang terkenal pandai memainkan si bundar berwarna jingga itu.


Sebaliknya Andra terkenal di sekolahnya. Dia dan Gibran adalah idola perempuan di sekolah itu. Mereka sama-sama tampan dan mempunyai tubuh yang bagus serta tinggi. Tetapi Andra lebih menonjol dan berkuasa di sekolahnya, sementara Gibran biasa-biasa saja. Andra lebih cenderung menciptakan keributan dan memiliki banyak musuh, sementara Gibran lebih kalem dan tidak tertarik bermusuhan dengan orang lain.


"Maaf sudah menunggu." sapa Dedi, rekan Roni yang juga merupakan kapten tim basket di sekolah Roni. Dedi tiba di hadapan Andra dan Gibran sementara Roni mengikuti berjalan di belakang dan segera mengambil tempat di bangku timnya tanpa menyapa Andra maupun Gibran.


"Nggak masalah." jawab Andra kemudian tersenyum dingin sambil memandang Roni. Roni memandang balik Andra dengan tidak kalah dinginnya.


Andra dan Roni memang selalu bersitegang jika bertemu. Alasan mereka bermusuhan sebenarnya sepele, waktu itu Andra mendekati gebetannya Roni, padahal Andra tidak tau kalau Roni sedang dekat dengan perempuan itu. Akhirnya Andra jadian dengan gebetan Roni, tetapi tidak bertahan lama mereka pun putus.


Andra mengalihkan pandangannya dari Roni menyadari kedatangan seseorang yang sekarang sangat dicintainya. Gadis itu bernama Mawar. Dia lebih tua setahun dari Andra. Mawar baru saja masuk kuliah beberapa bulan yang lalu. Mereka bertemu di sebuah kafe dan Andra langsung tertarik meminta nomor handphone Mawar. Dari situlah Andra melakukan pendekatan dan akhirnya berpacaran dengan Mawar.


"Semangat sayang." kata Mawar yang sekarang berada di hadapan Andra. Andra menyentuh dan mencium tangan Mawar.


"Terimakasih sayang." jawab Andra tersenyum.


Mawar menonton kekasihnya sedang bertanding. Meskipun ini hanya pertandingan persahabatan, namun kedua tim sepertinya tidak mau mengalah satu sama lain. Pertandingan berjalan agak keras, terlebih saat bola berada di tangan Andra dan Roni. Mereka seperti membawa suasana yang mencekam di pertandingan kali ini.


Pertandingan akhirnya selesai dan tim Andra, Gibran dan kawan-kawan memenangkan pertandingan dengan skor sangat tipis. Andra tertawa puas sedangkan Roni dengan wajah kesal dia merasa tidak terima dengan hasil pertandingan ini.


"Sudah kubilang kita pasti menang...!" teriak Andra kepada Gibran. Gibran hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Sudah... Sudah..." jawab Gibran sambil menurunkan tangan sahabatnya yang menunjuk-nunjuk ke atas kegirangan. Dia mengajak Andra untuk bersalaman dengan lawannya.

__ADS_1


Mereka pun saling bersalaman, tentu saja kecuali Andra dan Roni.


Gibran mengganti bajunya yang basah dan bersiap untuk pulang. Andra juga sudah bersiap untuk pulang. Mereka berdua berjalan beriringan. Mawar menghampiri mereka berdua dan mengikuti sampai ke parkiran motor.


"Kamu keren banget tadi, sayang...!" seru Mawar sambil memeluk lengan Andra. Andra mengecup puncak kepala Mawar.


Gibran tertawa kecil melihat Andra dan Mawar bermesraan. Gibran memang saat ini tidak punya pacar alias jomblo.


"Kalian kalau mau mesra-mesraan jangan disini, kasian mata yang jomblo jadi sakit." ledek Gibran kepada Andra dan Mawar.


Andra tertawa sementara Mawar tersenyum ke arah Gibran.


"Ndra, kamu dicari Dedi. Ada yang mau diobrolin katanya." kata David, rekan tim basket Andra dan Gibran memberitahu.


"Ada apaan?" tanya Gibran penasaran.


"Biasa... Paling obrolan sesama kapten." jawab Andra menyunggingkan senyumnya menyombongkan diri. "Kamu tolong jagain pacarku dulu sebentar ya, jangan sampai lepas." perintah Andra kepada Gibran sambil bercanda.


"Kamu jangan lama, Bang. Aku mau pulang nih, sebentar lagi Maghrib." jawab Gibran serius.


"Iya... Iya... Anak sholeh..." ledek Andra kepada Gibran. "Kamu jangan nakal ya, Aku tinggal sebentar." kata Andra kemudian kepada Mawar dan dia menepuk-nepuk mesra puncak kepala pacarnya itu.


Sementara itu Gibran duduk di atas motornya. Mawar duduk di selasar teras di depan parkiran. Dia berhadapan dengan Gibran.


"Kamu belum punya pacar?" tanya Mawar tiba-tiba kepada Gibran.


"Belum, Kak." jawab Gibran.


"Jangan panggil Kak, dong." tegur Mawar sambil tertawa kecil mendengar panggilan Gibran untuknya.


"Nggak enak soalnya, Kak Mawar kan lebih tua 2 tahun dari aku. Lagian aku juga manggil Kak Andra itu Abang." sahut Gibran menjelaskan.


"Hahaha... Kamu tuh lucu, Gibran." kata Mawar tiba-tiba membuat Gibran agak terkejut.


"Lucu?" tanya Gibran.


"Kamu tau nggak, aku sebenarnya lebih suka sama kamu ketimbang Andra. Sayangnya kamu itu susah buat didekatin." jawab Mawar membuat Gibran sekarang sangat terkejut.


"Apa? Kamu seharusnya nggak bilang seperti itu...!" sahut Gibran agak marah mendengar pengakuan Mawar.

__ADS_1


Mawar hanya tersenyum melihat reaksi Gibran. Dia tau betul Gibran akan marah dan dia tidak pernah menyukai Mawar sedikit pun.


Tanpa disangka, Mawar seperti memberikan kode kepada seseorang dan... "Bukkk...!" bunyi pukulan seseorang kepada Gibran membuat Gibran terjatuh dari motornya dan segera tidak sadarkan diri karena seseorang yang lain menempelkan sebuah sapu tangan yang sudah diolesi bius kepadanya. Gibran tidak sadarkan diri.


Gibran dibawa ke sebuah kamar hotel oleh kedua orang tadi. Gibran masih tidak sadarkan diri dan tidak tau apa yang terjadi kepadanya. Dia terbaring di ranjang kamar hotel bersama Mawar, Roni, dan 2 orang teman Roni yang lain.


"Dimana Andra?" tanya Mawar kepada Roni yang sedang duduk di sofa kamar hotel bersebelahan dengan Mawar.


"Tenang, Dedi sudah mengalihkannya. Dia nggak tau kita ada disini." kata Roni tersenyum. "Jadi kamu menginginkan dia?" lanjut Roni menunjuk ke arah Gibran yang sedang terbaring tak sadarkan diri.


"Ya... Aku akan membuatnya tidak bisa menolakku lagi." jawab Mawar yakin. "Kita sudah sepakat kan?" tanya Mawar melanjutkan.


"Kamu ingin foto seolah-olah habis berhubungan se*s dengan Gibran supaya Gibran tidak bisa menolakmu karena menganggap kalian sudah pernah melakukannya?" tanya Roni lagi. "Kamu licik, sayang." ledek Roni sambil tertawa licik melihat Mawar yang mengerutkan keningnya mendengar ucapan Roni.


"Kamu nggak kalah licik. Lagian kamu akan diuntungkan, kok. Kamu akan melihat bagaimana sakit hatinya Andra karena dikhianati sahabatnya sendiri. Itu setimpal, kan?" tanya Mawar tidak kalah licik.


"Hahaha... Aku suka kamu, Mawar. Kamu lebih licik dari yang kuduga." jawab Roni tertawa.


"Aku menghubungimu karena aku tau kamu pasti akan setuju membantuku." kata Mawar lagi.


"Siapa bilang aku setuju?" tanya Roni kali ini membuat Mawar sedikit bingung. "Kamu nggak tau aku lebih licik dan lebih jahat daripada yang kamu tau." lanjut Roni lagi menyimpan maksud tertentu di dalam ucapannya.


Mawar sangat terkejut mendengar perkataan Roni dan dia berusaha menyembunyikan kegelisahannya.


Roni mulai mendekat kepada Mawar. Mawar tidak tau kalau sebenarnya Roni bukan bermaksud membantunya.


"Andra akan tau kalau kamu dan Gibran sudah mengkhianatinya, tapi lebih menarik lagi kalau sebenar-benarnya aku lah yang melakukan itu kepadamu. Tenang saja, Andra nggak akan pernah tau, sayang. Dia akan mengira Gibran yang melakukannya nanti." kata-kata Roni membuat Mawar bergidik. Dia baru sadar sedang memasukkan dirinya ke sebuah jebakan yang sangat berbahaya dari Roni.


Mawar segera beranjak dari sofa tempatnya duduk. Namun sebelum dia berdiri, Roni sudah menggapai dan memeluk tubuhnya.


Beberapa saat setelah kejadian itu...


Gibran akhirnya menyadarkan diri. Dia terbangun dan segera duduk. Dia mendapati dirinya sudah berada di sebuah ranjang yang entah dimana dia berada sekarang. Di depannya dia melihat seorang perempuan sedang menangis tersedu, dia adalah Mawar.


Gibran terkejut melihat Mawar yang sekarang seperti sedang syok. Mawar yang saat itu mengenakan kaos putih dan celana jeans panjang terlihat sangat berantakan. Ada robekan yang jelas terlihat di kaosnya. Di wajahnya juga ada sedikit luka, sepertinya seseorang sudah memukulnya.


Gibran bergerak pelan dan segera menghampiri Mawar. Dia bingung atas semua yang telah terjadi.


"Mawar..." Gibran memanggil Mawar dan dia tidak tega melihat wajah Mawar yang tersiksa.

__ADS_1


Mawar langsung memeluk Gibran dan menangis sekuat-kuatnya.


__ADS_2