Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 7 KETAHUAN


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Gibran sedang duduk di kursi teras belakang rumahnya. Dia sedang memikirkan sesuatu yang mengusik hatinya. Disamping itu dia juga teringat hubungannya dengan Lodya. Sudah tiga hari dia tidak membalas pesan maupun menjawab telepon dari Lodya.


Tentang hubungannya dengan Lodya, dia merasa sudah cukup dan harus segera mengakhirinya, walaupun tidak ada masalah dan tidak ada yang salah pada pacarnya itu. Tiba-tiba ponsel Gibran bergetar dan lagi-lagi pesan yang kesekian kalinya dari Lodya.


Lodya:


'Aku masih nunggu kamu sayang. JAWAB AKU!!!'


Gibran masih tidak berkutik melihat pesan dari Lodya.


Lodya:


'APA SALAHKU???'


Gibran tetap tidak menghiraukan pesan dari Lodya. Tidak lama kemudian ada pesan masuk kembali, kali ini bukan dari Lodya.


Andra:


'Temui aku di kafe sekarang. Aku akan memberitahumu.'


Setelah membaca pesan dari Andra, Gibran segera beranjak masuk ke dalam rumahnya, mengambil jaket dan kemudian menyalakan motornya melaju ke jalanan.


Andra adalah kakak kelas Gibran sewaktu SMA. Dia dan Andra sempat berteman baik karena sama-sama berada dalam satu tim basket sekolah, tetapi karena sebuah kejadian yang tidak menyenangkan, mereka akhirnya menjadi jauh dan tidak pernah berhubungan lagi.


Seketika Gibran sudah berada di sebuah kafe, tempat dia dan Andra janjian. Gibran melihat Andra sudah duduk sendiri di pojok kafe, dia menghampirinya.


"Hai" sapa Gibran dengan sopan kepada kakak kelasnya itu.


"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan Lodya?" tanya Andra tanpa basa-basi dengan wajah dinginnya.


Gibran segera duduk berhadapan dengan Andra, dia sudah lama tidak bertemu dengan Andra.


"Aku sedang berpacaran dengannya." jawab Gibran.


"Hahaha...!" Andra tertawa meledek Gibran. "Kamu serius pacaran dengan perempuan itu?" tanya Andra kemudian, raut mukanya yang tadinya dingin segera berubah.


"Iya." jawab Gibran singkat. Entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak. "Maksudku, aku memang sedang berpacaran dengannya, tapi bukannya aku serius." lanjut Gibran.


"Hmmm..." Andra berpikir. "Kamu nggak pernah berubah." katanya sambil memikirkan sesuatu.


"Aku akan berubah." jawab Gibran mengerti maksud Andra dan segera menepis pikirannya mengenai Gibran yang tidak akan pernah serius berpacaran.


"Buktinya kamu hanya main-main dengan Lodya." kata Andra menyunggingkan senyumnya.


"Aku kesini hanya ingin kamu menjawab yang kutanyakan kemarin." kata Gibran ingin cepat-cepat mengakhiri percakapannya dengan Andra.


"Tentang dimana dia tinggal?" tanya Andra.


"Ya... Aku tau Lodya kakaknya Lidya. Mereka sering melihat kita latihan basket waktu sekolah dulu. Yang aku tau kamu masih berpacaran dengan Lidya sekarang, jadi kamu pasti tau kan dimana mereka tinggal?" tanya Gibran balik.


"Lodya tidak tinggal dengan orang tuanya, dia tinggal sendiri di apartemen." kata Andra memberitahu. "Apa dia nggak pernah memberitahumu dimana dia tinggal?" tanya Andra melanjutkan.


"Aku tau dia tinggal di apartemen, tapi aku kira dia tinggal bersama orang tuanya dan Lidya, dan dia nggak pernah memberitahuku dimana apartemennya." kata Gibran menanggapi.

__ADS_1


"Aku dan Lidya sudah putus beberapa bulan yang lalu." lanjut Andra membuat Gibran terkejut.


"Apa? Bukannya kamu sudah bertahun-tahun pacaran dengannya?" tanya Gibran heran.


"Ya... empat tahun. Sejak kejadian tidak menyenangkan yang melibatkanmu waktu itu, akhirnya aku memacari Lidya." jawab Andra dengan wajah yang berubah menjadi kesal.


"Kenapa kalian putus?" tanya Gibran lagi kali ini dia sadar tidak terlalu penting baginya mengetahui urusan orang lain apalagi Andra.


"Apa yang ingin kamu lakukan dengan Lodya?" tanya Andra mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin putus dengannya." lanjut Gibran memberitahu.


"Aku benar-benar nggak menyangka kamu belum pernah ke apartemen Lodya." kata Andra dengan nada mengejek Gibran.


"Kalau aku tau, nggak mungkin aku repot-repot menanyakan padamu." jawab Gibran bertambah kesal.


"Hahaha...! Ternyata kamu nggak seburuk yang kukira." jawab Andra masih meyisakan teka-teki untuk Gibran.


"Apa maksudmu?" tanya Gibran penasaran.


"Ini... Kartu apartemen Lodya, nomor 304. Datanglah kesana sekarang, mungkin kamu juga akan menemukan alasan kenapa aku putus dengan adiknya." jawab Andra sambil menyerahkan sebuah kartu. Gibran segera mengambil kartu itu dan beranjak dari kafe menuju apartemen yang dimaksud.


Sementara itu di sebuah minimarket...


"Totalnya seratus dua ribu rupiah, Kak." kata Kasir minimarket sambil membungkus belanjaan Gita. Gita menyerahkan uang pas dan membawa belanjaannya keluar.


Gita ke minimarket dengan berjalan kaki dari kost-nya. Letak minimarket memang tidak terlalu jauh, tetapi ternyata lumayan cukup untuk membuat kedua kaki Gita pegal-pegal.


Gita membuka belanjaannya dan menemukan sebuah susu kotak rasa cokelat di dalamnya, dia pun segera duduk di kursi depan minimarket dan meminumnya.


"Eh, Kak Alvin." sapa Gita balik.


"Kamu sudah selesai belanja?" tanya Alvin kepada Gita.


"Sudah Kak, ini mau pulang." jawab Gita.


"Aku nggak lihat mobil kamu?" tanya Alvin sambil memperhatikan ke sekeliling tidak ada mobil Gita di parkiran minimarket.


"Hehe... Iya nih, aku jalan kaki tadi kesini." jawab Gita tersenyum malu.


"Jalan kaki? Itu kan lumayan jauh dari kost kamu?" tanya Alvin terkejut.


"Iya, sekalian olahraga, Kak." jawab Gita bercanda.


"Kalo gitu, aku antar kamu pulang, ya." kata Alvin menawarkan tumpangan untuk Gita.


"Emmmm..." Gita berpikir.


"Aku sebentar aja, kok. Cuma mau beli sabun mandi, soalnya lagi habis." lanjut Alvin meyakinkan Gita.


"Boleh deh, Kak." akhirnya Gita menerima tawaran Alvin. 'Capek juga kalau harus jalan kaki membawa belanjaan ini, lagian nggak akan lama, lumayan dekat juga kok.' batin Gita.


Gita pun menunggu Alvin sebentar di depan minimarket dan ikut pulang bersamanya.


Di lain tempat...

__ADS_1


Gibran sedang berdiri di depan sebuah apartemen mewah di tengah kota. Awalnya dia ragu-ragu melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen, tetapi akhirnya dengan rasa penasaran dia masuk juga.


Dia memasuki lift dan menempelkan kartu yang diberikan Andra di tombol 3, tidak lama Gibran sudah berada di lantai 3 apartemen itu.


Dia berjalan mengikuti arah panah dan sampai di sebuah ruangan yang bertuliskan nomor 304.


Gibran masih kebingungan mengapa Andra memiliki kartu akses apartemen Lodya. Sementara dia, bahkan untuk mengetahui dimana apartemennya saja, Lodya tidak mau memberitahunya. 'Ada hubungan apa Andra dan Lodya?' batin Gibran penasaran.


Gibran sudah berada di depan pintu dan segera menempelkan kartunya ke gagang pintu apartemen Lodya.


Pintu apartemen pun perlahan dibukanya. Gibran berjalan pelan masuk ke dalam apartemen mewah itu, benar-benar mewah dengan ukuran ruangan yang besar dan fasilitas yang sangat lengkap. Gibran berjalan melewati ruang tamu, dapur, dan tiba-tiba terdengar suara berbisik dari dalam kamar yang terletak di ujung apartemen. Gibran mendekati sumber suara itu, dan...


"Lodya...!" seru Gibran terkejut mendapati pemandangan di depannya. Lodya sedang berada di dalam selimut memeluk seorang lelaki di sebelahnya, yang mungkin saja sedang sama-sama tidak berpakaian. Sepertinya mereka baru saja selesai melakukan 'sesuatu'.


Lodya terkejut melihat kedatangan Gibran, begitu pula dengan lelaki yang bahkan dilihat dari umurnya lebih pantas menjadi ayahnya itu. "Gibran...!" seru Lodya tidak kalah terkejutnya.


Gibran segera berbalik dan pergi dari ruangan itu. Sementara Lodya bersusah payah mencari pakaiannya dan mengejar Gibran. Namun, Gibran berlari lebih cepat dari yang Lodya bisa. Lodya hanya bisa menangis tanpa bisa berucap sepatah katapun.


Gibran meninggalkan apartemen Lodya dan membawa motornya melaju ke suatu tempat yang selalu menjadi tujuannya mengadu, kost Gita.


Sementara itu...


Gita baru saja sampai di halaman kost-nya. Alvin mengantarnya pulang dan membantu membawakan belanjaannya ke depan pintu kost-nya.


"Terimakasih, Kak." kata Gita berterimakasih kepada Alvin karena sudah mengantarkannya.


"Sama-sama, Git." jawab Alvin tersenyum. "Kapan-kapan kamu mau nggak aku ajak jalan lagi?" tanya Alvin kemudian.


"Emmm... boleh, Kak. Tapi kalau aku nggak sibuk ya." jawab Gita merasa tidak enak karena sebelumnya selalu menolak Alvin.


"Baiklah kalau gitu. Aku selalu nunggu kamu, kok." kata Alvin lagi-lagi berharap.


Suara motor tiba-tiba masuk ke halaman dan parkir di depan kos Gita. Gita mengenali suara motor besar nan berisik itu. 'Gibran...!' batin Gita.


Benar saja, Gibran membuka helmnya dan turun dari motornya menghampiri Gita dan Alvin yang sedang berdiri di depan pintu kos Gita. Gibran menatap tajam Alvin.


"Aku pulang dulu, Git." kata Alvin berpamitan kepada Gita. Alvin merasa tidak enak dengan tatapan Gibran.


"Eh, iya, Kak. Terimakasih, hati-hati di jalan." sahut Gita bingung, diiringi tatapan Gibran yang penasaran apakah Gita dan Alvin tadi jalan berdua.


Alvin pun menyalakan motornya dan pergi.


"Kamu jalan sama dia?" tanya Gibran dengan nada agak kesal setelah Alvin pergi.


"Nggak...!" jawab Gita singkat.


"Bohong?" tuduh Gibran membuat Gita agak kesal juga.


"Nggak, aku nggak sengaja ketemu Kak Alvin di minimarket. Tadinya aku pikir sanggup jalan kaki kesana, ternyata capek juga, jadi aku terima tawaran dia buat nganterin aku pulang." kata Gita menjelaskan.


"Oh..." jawab Gibran, kemudian terdiam sejenak.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Gita balik.


"Aku putus." jawab Gibran membuat Gita terkejut.

__ADS_1


__ADS_2