
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
"Gibran...!" panggil Lodya, pacar baru Gibran yang baru ditembaknya tiga hari yang lalu.
Gibran, berwajah tampan dengan tubuh yang menjulang tinggi berbalik arah berjalan mendekat ke arah Lodya yang sedang berdiri di depan mobilnya. Lodya berwajah cantik, berkulit putih, rambut panjang lurus, sangat khas tipe-tipe pacar Gibran selama ini.
"Iya sayang, aku masih ada kuliah hari ini." jawab Gibran buru-buru setelah sampai di hadapan Lodya.
"Aku mau ngajakin kamu keluar padahal, bisa nggak kita makan siang bareng setelah kamu selesai kuliah?" rengek Lodya manja.
"Oke, nanti aku hubungi kamu kalau sudah selesai kuliah ya." jawab Gibran.
"Oke kalau gitu." Lodya pun tersenyum ceria mendengar jawaban Gibran dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
Sementara itu Gibran berjalan tergesa-gesa dari parkiran ke arah kampusnya, dia tidak ingin terlambat karena dosen mata kuliahnya yang satu ini terkenal killer dan mempunyai kedisiplinan yang tinggi.
Sesampainya Gibran di kelas, dia memilih duduk di samping Gita, sahabatnya.
"Darimana saja kamu?" tanya Gita melihat Gibran ngos-ngosan.
"Emmm... tadi motorku mogok, untungnya ada bengkel yang dekat." jawab Gibran sambil mengatur nafasnya.
"Selamat pagi..!" suara Pak dosen menyapa saat memasuki ruangan.
Gita dan Gibran kembali fokus mengikuti perkuliahan.
Tidak terasa sudah 90 menit waktu berjalan, jam sudah menunjukan pukul 11.30, perkuliahan pun berakhir.
"Git, ajarin aku nanti ya atau kalau boleh copy paste aja lebih bagus kayanya. Heee..." kata Gibran sambil mengedipkan matanya kepada Gita.
"Enak aja, makanya belajar, pacaran mulu sih." jawab Gita sambil bercanda memukul pelan kepala sahabatnya itu dengan gulungan kertas catatan di tangannya.
"Iya iya, nanti malam aku ke kost kamu ya, lagian kok bisa tugasnya harus dikumpul besok, bukannya dikumpul minggu depan aja sesuai jadwal pertemuan mata kuliah selanjutnya, ckck.." protes Gibran sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Supaya kamu nggak pacaran terus! Hahaha!" canda Gita sambil tertawa. "Oh iya, siapa nama pacar kamu yang baru? Lida, Ledi, Lidi..." sambung Gita.
"Lodya, Git.." jawab Gibran.
__ADS_1
"Iya iya, Lodya. Anak mana dia? Kamu kan belum ada cerita ke aku." tanya Gita.
"Dia kuliah di FMIPA jurusan Kimia, sekarang semester 7." jawab Gibran.
"Wuih, jadi brondong lagi nih ceritanya?" goda Gita, karena pacar Gibran sebelum Lodya juga kakak tingkat mereka yang terpaut dua tahun di atas mereka dan sekarang sudah lulus.
"Nggak papa kan, namanya juga cinta." kata Gibran dengan nada bercanda.
"Hueksss, kamu tuh ya, sudah aku ingatin berkali-kali jangan mainin perasaan perempuan."
"Tuh kan, mulai lagi ceramahnya ustadzah Gita." potong Gibran sambil mengacak-acak rambut Gita. Gita pun membenarkan rambutnya yang berantakan karena acakan Gibran.
"Sudah ya, aku ada kencan sama Lodya. See you..!" Gibran segera berdiri dari kursinya. Gita pun membereskan barang-barangnya sebelum keluar kelas.
Setelah keluar kelas, Gita langsung berjalan ke arah parkiran. Biasanya dia bersama Intan dan Lala, sahabat perempuan yang dimilikinya. Tapi karena hari ini mereka beda kelas dan beda jadwal, jadi Intan memutuskan langsung pulang ke kos-an nya.
Di kampus ini Gita tidak memiliki banyak teman perempuan. Maklum, kampus Teknik memang kebanyakan mahasiswanya laki-laki. Teman dekat perempuan yang Gita miliki hanya Intan dan Lala.
Sesampainya Gita di parkiran...
"Git, kamu kok nggak balas whatsapp aku?" tanya Alvin tiba-tiba, kakak tingkat Gita yang sudah menyukai Gita sejak lama.
"Oh gitu, aku sebenarnya mau ngajak kamu jalan kemarin." kata Alvin.
"Kemarin aku sibuk ngerjakan tugas Kak, heee.." jawab Gita tersenyum paksa.
"Kalo hari ini aja gimana, Git?" tanya Alvin antusias.
"Hari ini aku juga nggak bisa Kak, besok ada dateline tugas yang harus dikumpul." jawab Gita menolak ajakan Alvin.
"Oh gitu.." sahut Alvin kecewa.
"Aku duluan ya Kak, sampai ketemu lagi." kata Gita mengakhiri percakapannya dengan Alvin dan segera masuk ke mobilnya. Alvin pun pergi ke parkiran motornya. Gita menyalakan mesin mobilnya dan bergegas pulang ke kost-nya.
Gita memiliki mobil sendiri karena orang tuanya bersikeras membelikan mobil itu setelah dia lulus sekolah. Saat ingin kuliah, Gita tidak diijinkan orang tuanya untuk kuliah di luar kota apalagi di luar negeri. Alasannya, Gita adalah anak perempuan mereka satu-satunya yang sangat mereka sayangi, sehingga mereka tidak bisa jauh dari Gita, sementara kedua saudaranya yang lain adalah laki-laki, Haris yang berumur 15 tahun dan sekarang sedang sekolah kelas 3 SMP, dan Fariz yang baru berumur 7 tahun masih sekolah kelas 2 SD.
Gita akhirnya diperbolehkan kuliah di kampus yang jaraknya 2 jam perjalanan dari rumahnya. Untuk menghemat waktu tempuh maka orang tuanya memberi kebijakan menyewakan kost untuk Gita. Kamar kost Gita terbilang eksekutif dan berada di kawasan elit. Kamarnya dilengkapi AC, kulkas, shower, bahkan ada air panas dan dingin di kamar mandinya, seperti kamar hotel.
__ADS_1
Ayah Gita adalah seorang kontraktor yang sukses membangun gedung-gedung dan bangunan komersial. Beliau juga memiliki perusahaan di bidang properti. Ibu Gita adalah seorang ibu rumah tangga yang dulunya adalah seorang model. Tidak heran Gita difasilitasi orang tuanya dengan begitu mewah karena mereka kaya raya. Gita juga mewarisi kecantikan dari ibunya dan bakat yang didapat dari ayahnya. Meskipun memiliki wajah yang cantik, tubuh yang tinggi dan rambut bagus bergelombang, Gita selalu tampil sederhana dan tidak pernah berlebihan.
Sesampainya di kamar, Gita merebahkan diri di ranjangnya. Gita membuka bungkusan makanan yang tadi dibelinya di pinggir jalan. Meskipun Gita anak orang kaya, tapi dia tidak segan makan atau jajan di pinggir jalan. Dia juga lebih suka makan di kamarnya dari pada makan di luar, kecuali kalau diajak berkumpul bersama teman-temannya. Siang ini dia membeli gado-gado kesukaannya dan makan dengan lahapnya.
Tiba-tiba ponsel Gita berbunyi...
"Halo..." suara Gita mengangkat telepon.
"Kamu dimana?" sahut suara di seberang sana yang tak lain dan tak bukan adalah Gibran.
"Di kost, kenapa?" tanya Gita.
"Aku jemput kamu sekarang ya, temani aku makan." jawab Gibran.
"Loh, bukannya tadi kamu mau kencan sama Lidya?" ejek Gita.
"Lodya Git.." Gibran mengingatkan.
"Oh iya, lupa." jawab Gita singkat.
"Nggak jadi, aku jemput kamu sekarang." kata Gibran tanpa basa basi menutup teleponnya.
"Ini orang main tutup telepon aja, belum juga ditanya aku mau keluar apa nggak, mana gado-gado ku belum habis lagi." gumam Gita.
Gita pun langsung cepat-cepat menghabiskan gado-gado nya dan bergegas ke depan kost-nya sambil menunggu Gibran datang.
Tidak berselang lama Gibran pun datang...
"Mau kemana kita?" tanya Gita dengan nada seperti Boots di kartun 'Dora the Explorer'. Dia berjalan menghampiri Gibran dan motornya.
"Kemana aja, aku lapar." jawab Gibran asal.
"Aku barusan sudah makan gado-gado tadi, lagian kamu main tutup telepon, nggak tanya dulu aku sudah makan apa belum." protes Gita sambil memasang helmnya.
"Kalau sudah makan pun kamu harus tetap mau nemanin aku." kata Gibran dengan percaya diri.
"Memangnya bisa seenaknya gitu ya ngajak anak orang?" omel Gita.
__ADS_1
"Selama kamu nggak punya pacar, aku bebas ngajak kamu kemana aja, Gitaku." canda Gibran menggoda Gita yang sekarang sudah berdiri di hadapannya.
"Nggak ada hubungannya sama pacar, dan jangan sebut aku Gitaku-Gitaku, Gibran!" omel Gita sambil bercanda menutup kaca helm Gibran. Gita pun langsung naik ke motor Gibran dan duduk di belakangnya. Gibran menyalakan motornya dan segera melaju.