Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 21 BERTEMU PAPA GITA


__ADS_3

*****Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊😊😊 *****


Gita mempersilahkan Gibran duduk di ruang tamu. "Kamu mau minum apa?" tanya Gita kepada Gibran menawarkan minuman.


"Apa aja, Git." jawab Gibran tidak ingin merepotkan.


"Oke, tunggu disini bentar, ya." sahut Gita menyuruh Gibran menunggu dan segera berjalan ke dapur.


Gibran mengangguk dan dia melihat-lihat di sekitar. Di tembok sebelah kiri tempat Gibran duduk terpajang beberapa foto yang diyakini Gibran adalah kedua orang tua Gita. Kemudian dibawahnya ada foto Gita dan kedua adiknya. Ada juga foto keluarga Gita bersama kedua orang tua dan adik-adiknya.


Gibran tertarik melihat salah satu foto di dinding itu, foto Gita waktu masih kecil. Dia melihat foto seorang gadis cilik yang kira-kira masih berusia enam tahunan. Dia sedang memakai gaun berwarna merah dan mahkota di kepalanya. 'Gita kecil sangat cantik dan imut.' batin Gibran di dalam hati.


"Assalamualaikum..." tiba-tiba suara papa Gita terdengar dari depan pintu dan mengejutkan Gibran yang sedang duduk memandangi foto Gita kecil.


"Waalaikumsalam..." jawab Gibran yang sendirian di ruang tamu itu.


"Kamu temannya Gita, kan?" tanya papa Gita mengenali Gibran.


"Iya, Om. Saya Gibran yang kemarin pernah kesini." jawab Gibran tersenyum.


Gibran segera beranjak dari duduknya dan menyalami papa Gita.


"Iya, Om ingat. Kalian sudah pulang? Gimana pesta pernikahannya, Gibran?" tanya papa Gita lagi mengajak berbincang dan kini duduk di seberang Gibran.


'Ternyata papa Gita ingat namaku.' batin Gibran.


"Kami baru datang, Om. Pestanya lancar." jawab Gibran.


"Papa sudah pulang?" tanya Gita tiba-tiba muncul dan membawakan dua buah gelas berisi minuman es jeruk. Gita tampak agak canggung dan malu-malu karena sebelumnya dia belum pernah mengajak teman lelakinya ke rumah.


"Iya, kamu juga sudah pulang?" tanya balik papa Gita.


"Iya, Pa. Gita baru aja sampai." jawab Gita sambil meletakkan minuman di atas meja.


"Silahkan diminum es jeruknya, Gibran." kata papa Gita menawari.


"Iya, Om. Terimakasih." jawab Gibran mengambil gelasnya dan meminumnya. Gibran terlihat santai, sementara Gita sebaliknya. Dia masih berdiri dan memegang nampan di tangannya.


"Kalian pacaran?" tembak papa Gita santai. Gita terbelalak, sementara Gibran malah tersenyum. "Kamu nggak duduk, Git?" tanya papa Gita melihat anak gadisnya itu masih berdiri membeku di dekat Gibran.


"I... iya, Pa." jawab Gita akhirnya duduk di sebelah Gibran.


"Jadi kalian pacaran?" tanya papa Gita sekali lagi.


"Nggak, Pa." jawab Gita segera. Gibran menoleh ke arah Gita sambil menahan tawa. Dia tau betul Gita sedang gugup.


"Kalian cocok, kok." sahut papa Gita dengan santainya.

__ADS_1


"Papa apa-apaan, sih." kata Gita dengan wajah merona. Papa Gita tersenyum melihat tingkah anaknya yang jelas-jelas terlihat menyukai lelaki di sampingnya itu.


"Kamu semester depan juga praktek kerja, Gibran?" tanya papa Gita mengganti topik pembicaraan. Gita merasa lega karena papanya tidak bertanya lebih jauh hubungannya dengan Gibran.


"Iya, Om." jawab Gibran. "Tapi saya belum tau dimana mau magangnya." lanjut Gibran lagi.


"Di perusahaan Om saja, mau?" tanya papa Gita menawari. "Kebetulan Gita nggak mau Om ajak magang disitu." lanjutnya lagi.


Gita terkejut dan memelototi papanya yang sedang duduk di seberangnya itu.


"Boleh, Om. Kalau diijinkan, saya malah sangat berterimakasih." jawab Gibran dengan sopan. Mata Gita beralih dari papanya kepada Gibran di sebelahnya.


"Bagus kalau begitu." kata papa Gita tersenyum.


"Tapi rumah Gibran jauh dari sini, Pa." sahut Gita memberitahu papanya. Dia benar-benar merasa canggung sekarang, apa lagi kalau sampai Gibran dekat dengan papanya.


"Oh, ya? Kalau begitu kamu bisa nginap di mess kantor kalau kamu mau." jawab papa Gita menawari.


"Terimakasih, Om." jawab Gibran lagi.


"Nanti kamu bisa antar suratnya langsung ke kantor atau kesini juga nggak papa." kata papa Gita menjelaskan.


"Pasti, Om. Nanti saya antar kalau sudah ada suratnya." jawab Gibran.


"Oke, Papa ke dalam dulu, ya." kata papa Gita berpamitan.


"Iya, Om." jawab Gibran.


"Kamu beneran mau magang di kantor papa?" tanya Gita kepada Gibran.


"Iya. Nggak boleh?" tanya Gibran heran.


"Bukannya nggak boleh. Maksudku..." kata Gita berpikir.


"Maksudmu kamu takut aku memberitahunya kalau kita lebih dari sekedar teman?" tembak Gibran.


"Emmm... Apa?" tanya Gita heran.


"Lebih dari sekedar teman. Aku juga bingung menyebutnya apa. Masalahnya, kamu masih nggak mau pacaran denganku." jawab Gibran.


"Aku memang nggak mau pacaran, tapi sama kamu... itu hal yang lain, Gibran." kata Gita sambil menghembuskan nafasnya pelan.


"Hal lain? Hubungan tanpa status maksudmu?" tanya Gibran bingung.


"Bukan... Aku juga nggak mau hubungan yang nggak jelas." jawab Gita sebal.


"Lalu yang seperti apa yang kamu mau?" tanya Gibran bertambah bingung.

__ADS_1


Gita bingung menjelaskan kemauannya kepada Gibran. Dia sebenarnya tidak ingin berpacaran atau berada di hubungan yang tidak jelas tujuannya.


Gita hanya menginginkan sebuah hubungan yang jelas dan terarah. Dia ingin serius menjalin hubungan itu sampai akhirnya bisa menikah.


Tapi tidak mungkin dia menyebutkan kata 'pernikahan' kepada Gibran sekarang. Dia sangat tau Gibran tidak akan tertarik dengan pernikahan, karena hal itu pasti belum tercantum di pikirannya. Gibran mungkin akan lari darinya kalau dia mengatakan keinginannya yang sebenarnya.


Gita juga sebenarnya tidak mungkin menikah dalam waktu dekat, karena dia masih ingin lulus kuliah dan bekerja. Tetapi dia juga tidak ingin jauh dari Gibran karena jika dia menolak, pasti Gibran akan mencari pacar lagi.


Dia sangat tau Gibran pasti tidak bisa jika tidak punya pacar. Walaupun dia tidak benar-benar mencintai pacarnya saat menjalin suatu hubungan. Tetapi pikir Gita, dia pasti akan memilikinya walau terpaksa sekalipun. Dan pada akhirnya pikirannya sendiri membuat Gita bingung.


"Kamu mikirin apa?" tanya Gibran membuyarkan pikiran Gita.


"Emmm... nggak papa." jawab Gita dengan cepat.


"Coba cerita." kata Gibran memaksa.


"Nggak... Nggak ada apa-apa, kok." jawab Gita lagi.


"Aku tebak kamu pasti mikirin yang aneh-aneh." tebak Gibran.


"Nggak." jawab Gita singkat.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi." kata Gibran mengingatkan.


"Pertanyaan apa?" tanya balik Gita pura-pura lupa.


"Jangan pura-pura lupa, Gita." jawab Gibran mengacak rambut Gita di sebelahnya.


Gita langsung membenarkan rambutnya. Dia salah tingkah dan was-was kalau ada orang rumah yang melihat perlakuan Gibran terhadapnya.


Syukurlah mama Gita masih menemani adik bungsunya, Fariz yang sedang tidur siang dan adiknya yang satu lagi, Haris sedang berada di dalam kamarnya.


"Aku maunya... nggak pacaran." kata Gita akhirnya memberitahu Gibran.


"Aku tau kamu maunya apa." kata Gibran serius. Gita langsung menatap Gibran. "Kamu maunya nikah." lanjut Gibran membuat pipi Gita merona.


"Aku tau kamu menganggap pikiranku kuno." sahut Gita segera.


"Aku nggak menganggapmu begitu." sahut Gibran dengan cepat.


"Aku tau kamu nggak akan menerima pikiranku." kata Gita bersikeras.


"Siapa bilang?" tanya Gibran heran.


"Kamu kan nggak pernah tertarik dengan pernikahan." jawab Gita tegas.


"Aku memang nggak tertarik dengan pernikahan, dulu..." kata Gibran. "Tapi sekarang aku tertarik." lanjut Gibran bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Gita terkejut mendengar pernyataan Gibran. Matanya tidak bisa berkedip memandangi wajah serius Gibran di sebelahnya.


__ADS_2