
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
"Gibran...!" sapa Gita sedikit berteriak kaget. Gibran tersenyum akhirnya bisa bertemu dengan sahabatnya itu.
"Ngapain kamu disini? Kok bisa tau rumahku? Kamu nguntit, ya?" tanya Gita bertubi-tubi kepada Gibran.
"Hahaha... Ngapain aku nguntitin kamu?" jawab Gibran tertawa. "Masih marah?" lanjut Gibran.
"Emmm... Aku nggak marah, kok." jawab Gita setelah berpikir sejenak.
"Terus kenapa kamu menghindar?" tanya Gibran lagi masih berdiri di depan pintu pagar.
"Emmm... Aku..." jawaban Gita terputus.
"Mbak Gita, ada tamu toh?" kata Bi Inah tiba-tiba sudah ada di samping Gita.
"Eh, Bi Inah." Gita terkejut dengan kedatangan Bi Inah. "Emmm.... Bukan Bi... Emmm... Ini si mas nya tadi nanyain alamat." jawab Gita terbata-bata sementara Gibran mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Gita. Gita memberi kode kepada Gibran dengan mengedip-ngedipkan mata agar Gibran mengerti maksudnya.
"Emmm... Ya..." jawab Gibran mengiyakan.
"Oh, Bibi kira ada tamu. Kalau begitu Bi Inah ke belakang dulu ya, Mbak." kata Bi Inah pamit kepada Gita.
"Jadi nggak mau terima tamu nih? Aku datang jauh-jauh lo kesini?" tanya Gibran sesaat setelah Bi Inah pergi.
"Nggak enak sama mama papa. Dikira macam-macam nanti." jawab Gita. "Lagian kamu mau apa sih kesini?" lanjut Gita bertanya sinis.
"Aku mau minta maaf, Git." kata Gibran tulus mengutarakan maksud kedatangannya.
"Nggak ada yang perlu dimaafin, kok." jawab Gita dengan nada dingin. Gita sebenarnya sudah memaafkan Gibran, dia hanya ingin sementara menghindar karena bingung harus berbuat apa setelah kejadian malam itu.
Gibran paham perasaan sahabatnya itu. Dia tersenyum mendengar nada bicara Gita yang dingin kepadanya. "Keluar yuk, nggak enak ngobrol di depan pagar gini?" ajak Gibran.
"Nggak ah... Aku jauh-jauh pulang ke rumah bukan malah buat jalan-jalan lagi keluar." jawab Gita masih dengan nada dingin.
"Aku juga jauh-jauh kesini bukan buat ketemu kamu 10 menit terus pulang lagi." kata Gibran membalas sembari tersenyum. " Atau kamu mau aku masuk ke dalam terus ketemu sama orang tuamu?" ancam Gibran. "Oke, aku masuk..."
Baru saja Gibran melangkahkan kakinya tapi Gita langsung menghalangi.
"Eh... eh..." kata Gita. "Iya, iya. Kamu tunggu disini, nanti aku keluar." jawab Gita akhirnya mengalah.
"Nah, itu baru Gitaku." sahut Gibran tertawa licik merayakan kemenangannya.
"Aku ganti baju dulu." jawab Gita sambil memutar bola matanya melihat ekspresi kemenangan Gibran.
"Jangan lama-lama." pesan Gibran.
"Kalau kamu ngerasa kelamaan nunggu, kamu bisa pulang, kok." sahut Gita dingin. "Oh iya, jangan panggil aku Gitaku!" kata Gita tegas. Gibran tertawa kecil mendengar omelan Gita.
Tidak lama Gita keluar setelah berganti baju dan bersiap-siap. Gita juga sudah meminta ijin kepada orang tuanya untuk pergi sebentar bersama temannya.
__ADS_1
"Kamu tau alamatku dari mana?" tanya Gita kepada Gibran sesampainya di sebuah warung makan tidak jauh dari rumah Gita.
"Ada deh..." jawab Gibran singkat.
"Perasaan aku nggak pernah ngasih tau alamat lengkapku." kata Gita masih penasaran.
"Apa sih yang aku nggak tau tentang kamu?" sahut Gibran membuat pipi Gita memerah.
"Apaan sih, jangan mulai lagi deh." gumam Gita pelan tapi masih bisa didengar oleh Gibran. Gibran tersenyum mendengarnya.
"Kamu sering makan disini?" tanya Gibran mengalihkan pembicaraan.
"Suka, Bi Inah sering bungkusin lontong sayur sama nasi uduk buat kami sarapan di rumah." jawab Gita.
"Iya enak banget." kata Gibran sepakat. Gibran makan nasi uduk dengan lahapnya.
"Kamu lapar banget, ya?" tanya Gita tertawa melihat Gibran menyantap seperti orang kelaparan.
"Aku tadi belum sempat sarapan. Habis bangun tidur langsung siap-siap kesini, dua jam perjalanan membuat perutku keroncongan." jawab Gibran. Gita tertawa lagi mendengar ucapan Gibran.
"Memangnya siapa yang nyuruh kamu datang ke rumahku?" sahut Gita kemudian meneguk minumannya.
"Siapa suruh kamu marah?" sahut Gibran balik membuat Gita mendengus sambil memutar bola matanya. Sebuah ekspresi yang entah mengapa mulai disukai Gibran.
"Aku nggak marah, kok." sangkal Gita tidak mau kalah.
"Jadi mau kamu apa?" tanya Gita.
"Aku mau... Kita nonton yuk!" ajak Gibran tiba-tiba. Dia baru saja selesai menghabiskan makanannya.
"Apa?" jawab Gita terkejut mendengar ajakan Gibran. Selama bersahabat dua tahun lebih ini, Gita dan Gibran belum pernah nonton ke bioskop berdua, Gibran selalu nonton dengan pacarnya, sementara Gita lebih sering nonton dengan Intan dan Lala. "Nggak ah, aku tadi cuma ijin keluar sebentar sama Papa." lanjut Gita menolak ajakan Gibran, padahal di dalam hati sebenarnya dia juga mau nonton bersama Gibran.
"Bentar aja, Git. Nggak nyampe sore juga, kok." bujuk Gibran.
"Emmm... tapi nanti..."
"Nggak usah tapi-tapian, aku yang traktir. Ayo pergi...!" tegas Gibran setengah memaksa menarik tangan Gita untuk pergi. Gita menuruti, entah mengapa dia selalu tidak bisa menolak ajakan Gibran. Gita pun berjalan mengikuti Gibran sementara Gibran membayar makanannya.
Gita dan Gibran memilih menonton film action terbaru. Kebetulan mereka memiliki selera genre film yang sama yaitu action dan science fiction.
Gibran membelikan dua buah tiket, dua gelas minuman dan satu popcorn besar rasa karamel. Gita sangat menyukainya.
"Ini tuan putri Gita..." kata Gibran sambil memberikan popcorn dan minuman untuk Gita.
"Terimakasih." jawab Gita menyambut dengan kedua tangannya.
"Pintu teater nya sudah dibuka tuh, masuk yuk." ajak Gibran. Gita setuju dan mengikuti Gibran berjalan di sampingnya.
Menonton bersama Gibran ternyata sangat menyenangkan, begitu pikir Gita. Demikian pula dengan Gibran, selama menonton film tadi dia melihat Gita sangat terhibur dan memahami jalan cerita dengan baik. Padahal selama ini dia selalu menonton film romantis atau komedi bersama pacar-pacarnya. Mereka rata-rata tidak menyukai film action seperti Gita.
__ADS_1
"Gimana tadi filmnya?" tanya Gibran sesaat setelah mereka berdua keluar dari bioskop.
"Ceritanya bagus, aku suka ternyata dia akhirnya bisa lolos, dengan berbagai cara dan kepintarannya dia bisa memecahkan teka-teki yang hampir mengancam hidupnya. Kalau orang biasa mungkin sudah pasrah kali, ya." jawab Gita.
"Aku juga suka, kamu sudah nonton yang seri pertama?" tanya Gibran lagi.
"Escape plan 1? Sudah, waktu itu aku nonton di kost. Intan sama Lala nggak ada yang mau nemenin aku nonton, mereka nggak suka film beginian." jawab Gita.
"Hahaha... Lagian cewek kan biasanya suka film yang romantis-romantis gitu, selera kamu aja yang aneh." sahut Gibran menanggapi.
"Aneh apanya? Malah bagus, kan? Jadi ada yang mau nemenin kamu nonton film action." jawab Gita tidak terima.
"Iya, sih. Biasanya aku selalu dipaksa nonton film romantis atau komedi sama mereka." kata Gibran menyetujui.
"Mereka pacar-pacar kamu maksudnya?" sahut Gita segera, disambut senyum terpaksa dari Gibran. "Ngomong-ngomong soal pacar, pacar kamu tau kamu kesini?" lanjut Gita menanyakan Lodya.
"Nggak, dia nggak tau." jawab Gibran.
"Kalau dia tau, dia pasti cemburu sama aku. Jadi nggak enak nih." kata Gita memikirkan Lodya.
Gibran terdiam sejenak. "Kamu lapar nggak? Makan yuk, kita belum makan siang." ajak Gibran tanpa menanggapi pernyataan Gita.
"Lapar sih." jawab Gita segera.
"Makan disana yuk!" ajak Gibran menunjuk sebuah restoran yang terkenal di dalam *m*all yang sedang mereka kunjungi.
"Makan di tempat lain aja deh, disitu kan mahal. Aku nggak bawa banyak uang di dompet." jawab Gita jujur.
"Aku yang traktir." kata Gibran memaksa.
"Apa? Nggak, nggak!" jawab Gita tidak enak.
Gibran menarik paksa tangan Gita. Kali ini Gita tidak menolak. Entah mengapa dia menyerahkan tangannya begitu saja untuk berada di dalam genggaman Gibran sekarang. Mereka menuju restoran yang dimaksud Gibran.
"Duduk...!" Gibran menyuruh Gita duduk setelah sampai di restoran. Gita duduk diikuti Gibran di sebelahnya. Pelayan langsung memberikan daftar menu kepada mereka berdua. Setelah memilih, mereka melanjutkan pembicaraan.
"Kamu belum jawab pertanyaanku." kata Gita membuka pembicaraan lagi.
"Pertanyaan apa?" jawab Gibran.
"Kira-kira pacar kamu nanti cemburu nggak?" tanya Gita lagi.
"Nggak." jawab Gibran singkat.
"Tau dari mana kamu?" tanya Gita meragukan jawaban Gibran.
"Karena besok dia bukan pacarku lagi." jawab Gibran singkat dan tegas.
"Oh..." sahut Gita. "Apa?" tanya Gita lagi terkejut mendengar jawaban Gibran.
__ADS_1