
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
Gita dan Gibran sudah selesai berbelanja dan keluar dari mall. Gibran menenteng dua buah tas belanja di kedua tangannya.
Gibran menitipkan barang belanjaannya kepada Gita dan menaruhnya di kursi belakang mobil Gita. Gibran segera menuju mesjid untuk sholat Jumat, sementara Gita pulang menuju rumahnya. Rencananya mereka akan berkumpul di rumah Gita jam 2 siang ini.
Gita sampai di rumahnya dan mulai memasukan perlengkapannya. Tidak lupa dia juga meminjamkan tasnya yang lain untuk memasukan perlengkapan Gibran yang masih berada di dalam tas belanja.
Gita tersenyum melihat tas belanja Gibran, dia tertawa sendiri mengingat bagaimana Gibran cemburu kepada Alvin dan memutuskan untuk ikut pergi bersamanya.
Jam 2 siang...
Lala datang ke rumah Gita. Lala diantar kakaknya ke rumah Gita. Dia membawa sebuah koper berukuran sedang.
"Kalau kamu bawa koper yang ukurannya lebih besar dari ini, bakal nggak muat barang-barang kita semua, La." kata Gita saat dia dan Lala memasukan barang-barang ke bagasi mobil Gita. Mobil Gita berkapasitas maksimal lima penumpang. Jadi, bagasinya pun juga cukup terbatas.
"Hihihi... Untung cuma dua hari, ya." sahut Lala terkikik. "Kamu juga bawa banyak barang itu sampai bawa dua tas segala." kata Lala menunjuk kedua tas yang sedang dimasukan Gita. Lala tidak terima dia menjadi tersangka satu-satunya yang paling banyak membawa barang.
"Ini satunya tas Gibran." kata Gita memberitahu Lala.
"Hah? Gibran ikut?" tanya Lala terkejut. Dia tidak mengira Gibran akan ikut karena dia tau Gita sedang berjauhan dengan Gibran.
"Iya..." jawab Gita singkat.
"Bukannya kamu lagi berantem sama Gibran?" tanya Lala kemudian.
"Sebenarnya nggak berantem banget juga sih. Tapi dia yang mau ikut, kok." jawab Gita.
"Bukannya Kak Alvin ikut juga?" tanya Lala lagi.
"Iya, dia juga ikut. Tadi sudah aku kirimin alamat rumahku ke dia lewat whatsapp." jawab Gita.
"Hahaha... Bakal rame kayanya nih." canda Lala tertawa.
"Rame apanya?" tanya Gita kesal melihat Lala tertawa meledeknya.
"Bakal galau kamu, Git. Kamu pilih yang mana? Kak Alvin yang benar-benar suka sama kamu dari dulu atau si pendatang baru tapi lama alias Gibran yang baru-baru ini mulai suka sama kamu?" ledek Lala lagi kembali tertawa.
"Lala...! Jangan gitu dong." sahut Gita mencubit kecil lengan Lala.
Tiba-tiba Bi Inah datang menghampiri Gita dan Lala. "Mbak Gita, ada Mas ganteng." kata Bi Inah memberitahu Gita sambil tersenyum. Bi Inah menunjuk ke arah Alvin yang datang dengan motornya.
"Bibi apaan sih." sahut Gita menegur Bi Inah.
"Beneran, Mbak. Ganteng. Hihihi..." jawab Bi Inah cekikikan.
__ADS_1
"Bibi...!" seru Gita.
"Motornya parkirkan di sana aja, Kak." kata Gita menunjuk ke arah garasi motor yang terletak di sebelah garasi mobilnya.
"Iya, Git." jawab Alvin segera memindahkan motornya ke garasi motor.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Alvin setelah selesai memasukan tasnya ke bagasi mobil Gita.
"Tunggu sebentar..." jawab Gita terpotong karena suara motor besar yang masuk ke halaman rumah Gita, tidak lain dan tidak bukan adalah Gibran. Sesampainya di depan garasi, Gibran membuka helmnya dan langsung memarkirkan motornya di garasi motor Gita.
"Bi Inah kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Gita heran dengan tingkah Bi Inah yang tersenyum-senyum sendiri.
"Mas-nya yang ini lebih ganteng, Mbak. Sepertinya Bi Inah pernah lihat deh sebelumnya." jawab Bi Inah masih tersenyum malu-malu sambil berbisik kepada Gita.
Lala dan Alvin sayup-sayup masih bisa mendengar perkataan Bi Inah. Lala tertawa sementara Alvin merengut karena ternyata Gibran juga ikut bersama mereka.
"Gibran kan memang pernah kesini, Bi." kata Lala memberitahu Bi Inah. Gita salah tingkah.
"Masa sih, Mbak Lala? Pantesan Bi Inah nggak asing wajah gantengnya. Jadi Mas Gibran toh namanya." sahut Bi Inah juga tertawa.
Gibran berjalan menghampiri mereka. "Ada apa?" tanya Gibran kepada Gita dan lain-lain.
"Nggak ada apa-apa. Ayo siap-siap." jawab Gita segera.
"Barang-barangku dimana, Git?" tanya Gibran kepada Gita tanpa mempedulikan Bi Inah dan Lala yang masih berbisik-bisik serta Alvin yang memandanginya dengan tajam semenjak dia datang tadi.
"Sudah aku masukin ke tas. Itu..." jawab Gita sambil menunjuk ke sebuah tas hitam yang berada tepat di bawah tas cokelat milik Gita.
"Wah, kamu baik banget nyiapin buat aku. Makasih, Gitaku." kata Gibran sambil mengacak rambut Gita dan membuatnya tersedak karena terkejut. Alvin masih dengan wajah dinginnya, sementara Lala dan Bi Inah berseru berbarengan, "Cieeee...."
Gita merasakan pipinya memerah sementara Gibran tersenyum penuh kemenangan karena melihat reaksi Alvin yang tidak suka kepadanya.
"Kalian sudah mau berangkat?" tanya papa Gita yang berjalan menghampiri mereka semua.
"Iya, Pa. Ini mau berangkat." jawab Gita.
"Iya, Om." sahut Lala.
"Kamu temenin Gita ya, La." kata papa Gita kepada Lala. "Temanmu yang lain nggak dikenalin ke Papa, Git?" tanya papa Gita melihat ke arah Gibran dan Alvin.
"Saya Gibran, Om. Teman kuliah Gita dan Lala." kata Gibran buru-buru mengenalkan diri dan segera menyalami papa Gita.
"Kalian seangkatan?" tanya papa Gita kepada Gibran.
"Iya, Om." jawab Gibran.
__ADS_1
"Saya Alvin, Om. Kakak tingkat mereka." kata Alvin juga memperkenalkan diri dan menyalami papa Gita.
"Kakak tingkat?" tanya papa Gita kepada Alvin.
"Iya, Om. Saya setahun di atas mereka." jawab Alvin.
"Baiklah, kalian semua sama-sama saling menjaga, ya. Hati-hati di jalan." kata papa Gita berpesan.
Gita mencium tangan papanya. "Kamu jangan macam-macam, ya." pesan papa Gita kepada Gita membuatnya malu.
"Iya, Pa. Ngapain juga macam-macam." jawab Gita dengan wajah merona. Papa Gita masuk kembali ke rumah. Sebelumnya Gita memang sudah bercerita rencananya pergi bersama teman-temannya hari ini kepada papa dan mamanya. Dia diijinkan pergi dan menginap satu malam.
"Aku yang nyetir, ya." kata Gibran menawarkan diri kepada Gita. Gita memberikan kunci mobilnya pada Gibran. Alvin memperhatikan dengan wajah kesal. Tadinya dia berharap dia yang akan menyetir di samping Gita.
Gita duduk di kursi belakang bersama Lala, sementara Alvin duduk di kursi depan di samping Gibran.
Gibran segera menyalakan mesin mobil dan membawa mobil Gita melaju. Suasana di dalam mobil pada awalnya terkesan dingin, karena Gibran dan Alvin tidak saling bicara satu sama lain.
Gita masih sibuk dengan handphone-nya karena dia mencari-cari hotel di sebuah aplikasi online.
"Jadi kita nginap dimana?" Akhirnya Lala memecah keheningan.
"Disini aja gimana?" tanya Gita kepada Lala sambil memperlihatkan layar handphone-nya.
"Boleh juga, lagi diskon disitu, Git." jawab Lala.
"Kalian gimana?" tanya Gita kepada Gibran dan Alvin.
"Terserah..." jawab Gibran dan Alvin kompak.
"Kita pesan dua kamar, ya?" tanya Gita.
"Nggak..." jawab Gibran dan Alvin lagi-lagi berbarengan.
Lala dan Gita tertawa melihat kekompakan Gibran dan Alvin.
"Kalian mau kamar sendiri-sendiri?" tanya Lala menegaskan.
"Iya...!" jawab Gibran dan Alvin bersama-sama.
"Hahaha... Kalian kompak banget, dari tadi barengan terus." ledek Lala sambil tertawa, demikian juga dengan Gita tidak bisa menahan tawanya.
Gita akhirnya memesan tiga kamar untuk mereka berempat dengan sistem bayar di tempat.
Sepanjang empat jam perjalanan hanya Gita dan Lala yang sibuk bercerita satu sama lain. Gibran dan Alvin sesekali menimpali. Mereka berdua sepertinya tidak nyaman berada berdekatan satu sama lain.
__ADS_1