
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
Gita dan Alvin sampai di sebuah rumah makan di dekat kampus. Jika biasanya saat bersama Gibran, Gita selalu duduk di sampingnya, kini Gita mengambil duduk di seberang Alvin. Dia masih belum terbiasa bersama Alvin.
"Mau makan apa, Git?" tanya Alvin kepada Gita sambil memberikan Gita menu yang ada di atas meja makan.
"Emmm..." Gita masih melihat-lihat menu. "Nasi goreng spesial aja, Kak." jawab Gita kemudian.
"Pedas nggak?" tanya Alvin.
"Nggak, Kak." jawab Gita. 'Kalau Gibran pasti sudah tau aku nggak tahan makan yang pedas-pedas.' batin Gita tiba-tiba memikirkan Gibran.
"Minumnya apa?" tanya Alvin lagi.
"Es teh manis, Kak." jawab Gita lagi. 'Kalau Gibran pasti sudah tau aku bakal mesan minuman apa.' batin Gita lagi. 'Kenapa aku terus-terusan kepikiran dia sih?' tanya Gita dalam hati heran.
"Kenapa, Git?" tanya Alvin memperhatikan Gita yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Nggak papa, Kak." jawab Gita segera mengenyahkan pikiran-pikirannya tentang Gibran. "Oh iya, Kak Alvin ulang tahun yang keberapa?" tanya Gita mengalihkan pembicaraan.
"23 tahun, Git. Apa aku sudah terlihat cukup tua?" tanya Alvin bercanda.
"Hahaha..." Gita tertawa mendengar candaan Alvin. "Nggak, kok." jawab Gita melanjutkan. Dia belum pernah jalan berdua dengan teman laki-laki selain Gibran. Tentu saja ini menjadi sesuatu yang baru untuk Gita.
"Aku suka bisa bikin kamu ketawa." kata Alvin memandangi wajah Gita di depannya.
Pipi Gita memerah mendengar perkataan Alvin, tetapi entah mengapa dia tidak begitu menyukainya seperti saat Gibran yang mengatakannya. 'Rasanya pasti lebih menyenangkan jika saja Gibran yang mengatakannya.' batin Gita lagi-lagi mengingat Gibran. Dia benar-benar harus mengenyahkan Gibran yang lagi-lagi muncul di pikirannya.
"Terimakasih sudah memberikanku hadiah yang spesial hari ini." kata Alvin bersungguh-sungguh.
"Emmm... sama-sama, Kak." jawab Gita dengan senyum yang agak terpaksa.
"Drrrttttt... drrrrtttt... drrrtttt..." tiba-tiba handphone Gita bergetar. Gita segera mengambil ponselnya di saku celananya. Betapa terkejutnya dia mendapati nama 'Gibran' yang tercantum di layar panggilan.
Gita berpikir sejenak dan akhirnya mengabaikan panggilan itu. Dia bingung sekaligus masih kesal karena Gibran juga mengabaikannya saat di kampus tadi.
"Kok nggak diangkat?" tanya Alvin yang melihat Gita mengembalikan handphone ke sakunya.
__ADS_1
"Nggak papa, Kak. Nggak penting kok." jawab Gita segera.
"Dari Gibran ya?" tanya Alvin menebak-nebak.
Gita terkejut mendengar tebakan Alvin. "Emmm..." Gita berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Kalian ada masalah?" tanya Alvin lagi ingin tau.
"Emmm..." Gita kembali berpikir.
"Ayolah, Git. Sampai kapan kamu mau terus dibayang-bayangin Gibran?" tanya Alvin sedikit emosi. "Kalian pacaran?" Alvin kembali bertanya.
"Emmm... nggak, Kak." jawab Gita jujur.
"Aku pikir kalian saling suka." kata Alvin masih meragukan Gita.
Gita hanya tersenyum mendengar perkataan Alvin. Dia tidak bisa memberitau Alvin yang terjadi sebenarnya antara dia dan Gibran.
"Emmm... kalau gitu, boleh nggak aku 'pdkt' sama kamu?" tanya Alvin dengan hati-hati.
Gita terdiam mendengar pertanyaan Alvin. Dia benar-benar tidak tau harus memberikan jawaban apa. Saat ini, dia tidak berniat untuk melakukan pendekatan dengan Alvin.
Gita terkejut mendengar perkataan Alvin. Dia tidak menyangka pikirannya dan pikiran Alvin ternyata sama. Tapi, dia juga tidak menyangka Alvin membahas hal yang sangat serius secepat ini.
"Aku ingin mengenalmu lebih dekat, Git. Aku siap jika harus melamarmu setelah aku lulus dan bekerja nanti. Itu nggak akan memakan waktu yang lama." kata Alvin meneruskan.
"Apa?" seru Gita tercengang. 'Apa ini nggak terlalu cepat membicarakannya dengan Kak Alvin?' batin Gita bingung. "Maaf aku belum berpikir ke arah sana, Kak." jawab Gita kemudian.
"Maaf mungkin aku terlalu cepat mengatakannya." kata Alvin segera menyadari. Gita mengangguk setuju dan kembali terdiam.
Akhirnya makanan pesanan Gita dan Alvin datang. Mereka pun tidak lagi membahas pernikahan dan hal-hal serius lainnya. Mereka hanya mengobrol santai selama menyantap makanan yang ada di meja mereka.
Setelah selesai makan, Alvin mengantar Gita kembali ke kampus karena mobil Gita masih berada di parkiran kampus. Sesampainya di parkiran, mereka terkejut karena ada Gibran yang sedang duduk di selasar dekat parkiran. Seperti yang ada dalam pikiran Gita dan Alvin, Gibran sedang duduk menunggu Gita.
Gibran menatap tajam Alvin dan Gita yang baru saja datang. Dia benar-benar tidak menyukai Alvin yang berusaha mendekati Gita.
"Terimakasih, Git. Kapan-kapan kita jalan lagi ya?" kata Alvin berterimakasih sesampainya di depan mobil Gita.
__ADS_1
"Sama-sama, Kak." jawab Gita singkat. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan Gibran yang tertuju padanya.
"Aku pulang dulu." kata Alvin berpamitan. Dia menoleh sebentar ke arah Gibran dan menyadari kalau Gibran benar-benar sedang memperhatikan mereka berdua.
"Iya, Kak. Terimakasih traktirannya." jawab Gita juga berterimakasih kepada Alvin.
"Kamu nggak papa aku tinggal sendiri?" tanya Alvin was-was karena Gibran yang terus menerus tidak mengalihkan pandangannya dari mereka berdua.
"Nggak papa, Kak." jawab Gita menenangkan. "Aku juga mau langsung pulang." lanjut Gita lagi.
"Oke kalau gitu. Kalau ada apa-apa telepon aku ya?" kata Alvin berpesan pada Gita.
"Iya, Kak. Terimakasih." jawab Gita lagi.
Alvin segera menyalakan motornya. Setelah Alvin berlalu, Gibran segera menghampiri Gita yang sejak tadi masih berdiri di depan mobilnya.
"Dari mana kamu?" tanya Gibran agak emosi.
"Apa itu penting buatmu?" tanya Gita balik dengan tak kalah emosi.
"Jadi sekarang kamu ngebiarin dia ngedekatin kamu?" tanya Gibran lagi bertambah emosi.
"Kalau iya memangnya kenapa?" tanya Gita tidak mau kalah. Syukurlah parkiran kampus sedang sepi dan tidak ada orang lalu-lalang di sekitar situ yang akan mendengar pertengkaran mereka.
Gibran menghela nafas panjangnya. "Aku nggak suka." jawab Gibran bersungguh-sungguh.
"Apa hakmu nggak suka?" tanya Gita lagi. Kali ini dia terpancing emosi. Dia merasa kesal sepertinya Gibran tidak pernah berubah dan masih selalu semaunya. Gibran tiba-tiba mengabaikannya tadi pagi dan sekarang malah melarangnya bersama Alvin.
"Kamu nggak seharusnya bertanya seperti itu setelah semua yang terjadi pada kita, Git." kata Gibran serius. Seketika wajah Gibran berubah mendengar pertanyaan Gita. Gibran terdiam dan tatapannya berubah menjadi dingin menyadari statusnya.
Gita tiba-tiba merasa bersalah karena membentak Gibran dengan keras. Dia menatap sendu Gibran yang masih terdiam di hadapannya.
"Baiklah, aku mengerti sekarang." kata Gibran pelan. Dia segera menyadari posisinya dan tidak melanjutkan kemarahannya.
Gita ingin menggenggam tangan Gibran dan meminta maaf telah membentaknya, tetapi nyatanya dia malah ikut terdiam tanpa bergerak sedikit pun. 'Ini bukan semua salahnya, aku yang menyebabkannya begini. Bukan..., pikiran rumitku yang menyebabkannya begini.' batin Gita di dalam hati.
Gibran berpaling perlahan dan meninggalkan Gita yang masih membeku. Dia tidak berpaling sedikit pun. Gita memperhatikan Gibran yang berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
Gibran berjalan menuju parkiran motor dan segera menyalakannya. Dia dan motornya berlalu dari pandangan Gita.
Sementara itu Gita langsung masuk ke dalam mobilnya. Tanpa terasa air matanya kembali jatuh membasahi pipinya. Di dalam mobil, Gita menangis sendiri dengan sekencang-kencangnya.