
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
Gita bangun pagi-pagi sekali. Dia berencana berolahraga di Minggu pagi ini. Dia memilih olahraga lari.
Gita bersiap-siap memakai baju olahraganya. Dia memakai sweater berwarna abu muda dengan celana training panjang berwarna hitam. Sementara rambutnya dikuncir tinggi di belakang.
Gita mengunjungi GOR di pusat kota dengan mengendarai mobilnya dan berniat berolahraga lari disitu. Sesampainya dia di dalam GOR, dia segera melakukan pemanasan dan mulai berlari santai mengelilingi GOR yang berbentuk lingkaran itu.
Di Minggu pagi ini banyak sekali orang-orang yang juga datang ke GOR untuk berolahraga atau pun sekedar berjalan santai dan berkumpul dengan keluarga.
Sudah 20 menit Gita berlari dan akhirnya dia beristirahat sejenak dengan berjalan kaki.
Tiba-tiba...
"Brakkkk...!" ada sesuatu yang menabraknya dengan keras dari belakang.
Gita tersungkur dan kakinya terasa sakit karena membentur pembatas jalan yang terbuat dari beton. Dia segera menoleh ke atas untuk melihat apa dan siapa yang sudah menabraknya.
Seorang lelaki yang bertubuh agak besar dan tinggi sedang memarkirkan sepedanya. Ya, dia yang sudah menabrak Gita dengan sepedanya karena saat melaju dan ingin menjawab panggilan telepon yang ada di sakunya, tiba-tiba dia kehilangan keseimbangannya.
Lelaki itu segera menghampiri Gita yang masih meringis sambil memeluk kakinya yang sakit.
"Kamu nggak papa?" tanya lelaki itu berjongkok di hadapan Gita. Dia terlihat seperti seumuran atau lebih tua sedikit dari Gita.
"Nggak papa." jawab Gita singkat. Dia sebenarnya merasa sangat kesal.
"Maaf, aku tiba-tiba hilang keseimbangan tadi." kata lelaki itu meminta maaf kepada Gita.
"Aww..." Gita berusaha bangun untuk berdiri tapi gagal karena kakinya sepertinya masih terlalu sakit untuk digerakkan.
"Sini aku bantu." kata lelaki itu mengulurkan tangannya untuk membantu Gita berdiri.
Gita menuruti dan membiarkan lelaki itu memapahnya ke kursi taman terdekat. Gita duduk dan memeriksa betis kirinya. Ternyata benar saja, kakinya terlihat merah dan terasa akan membengkak.
"Kita harus mengompresnya." kata lelaki itu sambil kembali berjongkok untuk melihat luka di kaki Gita.
Gita bingung, bagaimana dia bisa pulang menyetir mobilnya kalau kakinya sakit seperti ini. Seandainya Gibran tidak berada jauh darinya, dia pasti sudah memanggilnya kesini.
"Kamu kesini sendirian?" tanya lelaki itu lagi memperhatikan tidak ada orang lain di sekitar Gita.
"Emmm... Iya..." jawab Gita agak ragu-ragu.
"Kamu naik apa tadi kesini?" tanya lelaki itu kembali.
"Emmm... Aku bawa mobil kok." jawab Gita.
"Kamu nggak bisa nyetir sekarang dengan kondisi kakimu seperti ini." kata lelaki itu lagi.
Gita menatapnya ragu-ragu. 'Apakah dia orang baik?' batin Gita dalam hati.
"Oh iya, namaku Andra. Kamu bisa lihat KTP-ku atau menyitanya sementara. Aku benar-benar nggak berniat jahat." kata Andra menjelaskan sambil sedikit tertawa kecil.
Gita mengangguk mendengarkan penjelasan Andra. "Emmm... Iya... Aku nggak bermaksud seperti itu kok." kata Gita menanggapi. "Namaku Gita." lanjut Gita memperkenalkan diri.
Andra mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Gita. Gita membalas dan mereka berjabat tangan.
"Aku bisa membantumu mengantar ke rumahmu. Aku bisa menyetir." kata Andra menawarkan diri. Dia menatap wajah Gita yang menurutnya sangat manis. Dia sepertinya tertarik pada Gita.
"Emmm..." kata Gita masih berpikir. 'Apa aku punya pilihan lain?' batin Gita sambil berpikir.
"Aku juga bawa mobil, tapi aku bisa meninggalkannya sementara di parkiran." kata Andra lagi.
"Baiklah..." kata Gita akhirnya setuju.
"Kita perlu berjalan sedikit ke dekat area parkir. Apa kamu masih bisa berjalan?" tanya Andra kepada Gita.
"Iya, masih kok." jawab Gita.
"Tapi kamu tunggu disini sebentar, aku akan menaruh sepedaku dulu di bagasi mobil. Setelah itu nanti aku kesini lagi." kata Andra.
__ADS_1
Gita mengangguk setuju. Andra segera menaiki sepedanya dan menuju parkiran.
Tidak lama setelah itu, Andra datang sambil berlari menghampiri Gita.
"Boleh aku bantu?" tanya Andra kepada Gita. Gita mengangguk. Andra membantu memapahnya berjalan ke dekat area parkiran.
"Yang mana mobilmu?" tanya Andra sesaat mereka tiba di dekat area parkiran.
"Itu yang warna abu-abu. Ini kuncinya." jawab Gita mengambil kunci mobil dari kantong celananya dan menyerahkannya kepada Andra.
"Oh... Kamu tunggu disini. Aku akan mengambil mobilmu." kata Andra memerintahkan Gita tetap berdiri di tempatnya.
"Iya..." jawab Gita.
Andra berjalan ke arah mobil Gita yang terparkir. Dia memencet remote di kunci mobil itu dan menemukan suara mobil Gita. Dia masuk ke dalam mobil Gita dan mengendarainya menghampiri Gita yang masih berdiri di trotoar dekat area parkiran.
Andra menghentikan mobil Gita dan keluar dari mobil. Dia membukakan pintu depan penumpang dan membantu Gita menaiki mobilnya.
"Terimakasih." kata Gita sesaat dia dan Andra sudah sama-sama duduk di dalam mobil.
"Sama-sama... Tapi aku masih berhutang maaf padamu." kata Andra tersenyum kepada Gita. Gita membalas senyumnya.
Andra membawa mobil Gita melaju meninggalkan GOR menuju rumah Gita. Gita memandu Andra ke jalan menuju rumahnya.
"Jadi, kamu masih kuliah atau sudah bekerja?" tanya Andra memulai percakapan saat berada di dalam mobil.
"Aku masih kuliah. Kamu?" tanya Gita balik.
"Aku juga masih kuliah. Tapi bukan disini, aku hanya liburan disini." jawab Andra.
"Aku juga nggak kuliah disini. Aku kuliah di Universitas Merdeka, sekitar dua jam perjalanan dari sini." kata Gita memberitahu.
"Benar kah? Berarti kampus kita lumayan berdekatan. Aku kuliah di Universitas Nusa." jawab Andra. "Dan aku tinggal disana." kata Andra menambahkan.
"Oh ya? Berarti kebetulan banget kita ketemu disini." kata Gita menanggapi sambil tersenyum.
Andra melirik Gita yang tersenyum di sampingnya. Menurutnya senyum Gita sangat manis.
"Aku di jurusan Teknik Sipil, ini lagi masuk semester 6." jawab Gita.
'Teknik Sipil semester 6... di Universitas Merdeka...' batin Andra sambil berpikir. Sepertinya dia tidak asing dengan seseorang yang berada disitu.
"Drrrttt... drrttt... drrttt..." suara getar dari handphone Gita membuat Andra sadar dari lamunannya dan Gita segera mengangkat panggilannya yang ternyata dari Gibran.
"Halo..." jawab Gita.
"Kamu kemana aja, Git?" tanya Gibran di seberang sana dengan nada agak cemas.
"Aku... Emmm... Aku lagi di mobil mau pulang ke rumah." jawab Gita.
"Kok whatssapp-ku nggak dibalas?" tanya Gibran lagi.
"Oh, aku belum sempat membacanya. Tadi aku lari pagi ke GOR, terus aku ditabrak sepeda, terus kakiku sakit, terus ini baru mau pulang." kata Gita menceritakan kisahnya pagi ini kepada Gibran.
"Apa? Kamu nggak papa? Aku kesana sekarang, ya?" tanya Gibran khawatir.
"Nggak papa, nggak usah kesini. Aku baik-baik aja kok, cuma sakit kaki sedikit." jawab Gita menenangkan Gibran.
Andra masih mendengarkan Gita yang sedang berbicara di telepon. 'Apa itu telepon dari pacarnya?' batin Andra bertanya-tanya di dalam hati.
"Kamu masih bisa nyetir?" tanya Gibran di telepon.
"Emmm... Nggak bisa." jawab Gita singkat.
"Terus gimana kamu bisa pulang?" tanya Gibran lagi.
"Aku..." jawaban Gita terhenti sejenak. "Belok kiri di depan, Ndra." kata Gita kepada Andra menyuruhnya berbelok.
Gibran masih mendengarkan di teleponnya. "Ndra? Kamu lagi sama siapa?" tanya Gibran mulai emosi memikirkan Gita dengan orang lain, atau bahkan lebih parah dengan pria lain.
__ADS_1
"Oh, dia yang menabrakku tadi. Tapi dia tanggung jawab kok mengantarku pulang." jawab Gita cepat-cepat.
Andra masih mendengarkan di samping Gita. 'Apa pacarnya marah?' batin Andra kembali bertanya-tanya di dalam hati.
"Gimana kamu bisa pulang dengan orang asing? Aku kesana sekarang." kata Gibran benar-benar cemas bercampur emosi sekarang.
Gita mulai kesal karena sikap Gibran yang menurutnya agak berlebihan. "Nggak usah, lagian kamu baru dari sini kemaren, kamu nggak capek, apa?" tanya Gita sambil sedikit emosi.
"Yang nabrak kamu laki-laki atau perempuan?" tanya Gibran lagi masih penasaran.
Gita berpikir sejenak. Kalau dia berkata jujur yang menabraknya laki-laki dan mengantarnya pulang, pasti Gibran akan tambah marah kepadanya.
"Emmm... Nanti aku cerita lagi kalau sudah sampai di rumah. Sudah ya, nanti aku telepon kamu lagi." jawab Gita akhirnya mematikan teleponnya.
"Pacar kamu?" tanya Andra sesaat Gita mematikan teleponnya.
"Emmm..." jawab Gita berpikir. Dia bingung dengan hubungannya dengan Gibran. Gibran dan Gita memang sudah saling menyatakan perasaannya masing-masing, tapi mereka tidak pernah 'melabelkan' hubungan mereka adalah pacaran.
"Kita belok kiri di depan sedikit, rumahku yang nomor 3." kata Gita tiba-tiba tersadar dia sudah hampir tiba di rumahnya.
Andra segera membelokkan mobil dan berhenti di depan pagar rumah Gita. Andra segera turun dan membuka pagar rumah Gita. Dia memarkirkan mobil Gita di halaman rumahnya. Andra juga membantu Gita turun dari mobil.
Sementara itu Bi Inah datang dan terkejut melihat keadaan Gita. Dia pun segera menghampiri dan ikut membantu Gita.
"Mbak Gita kenapa?" tanya Bi Inah kepada Gita cemas.
"Nggak papa, Bi. Cuma sakit kaki aja." jawab Gita.
Gita sampai di kursi teras depan dan duduk disitu. "Terimakasih, Ndra. Kamu mau minum dulu?" tanya Gita menawarkan minuman.
"Kayaknya aku langsung aja deh. Mobilku masih di parkiran soalnya." jawab Andra.
"Oke kalau gitu." sahut Gita. Sementara Bi Inah masih memeriksa kaki Gita.
"Aku langsung ya, Git. Aku juga sudah mesan Go Car nih." kata Andra pamit.
"Iya silahkan." jawab Gita.
"Aku benar-benar minta maaf. Oh iya, aku minta nomor handphone kamu, ya. Aku mau memastikan kamu baik-baik aja." kata Andra lagi meminta nomor handphone Gita.
Gita menyebutkan nomornya dan Andra menyimpan di handphone-nya. Setelah itu Andra pergi dari rumah Gita.
"Bibi ambilkan air hangat dulu ya, Mbak. Kita kompres dulu kakinya." kata Bi Inah menyarankan.
"Iya, Bi." jawab Gita mengangguk. Bi Inah segera masuk mengambilkan air hangat di dapur.
Sementara itu di rumah Gibran...
Gibran masih merasa kesal karena Gita tadi buru-buru menutup teleponnya. Dia langsung mengambil dompet dan kunci motornya.
"Mau kemana kamu, Gibran?" tanya Ayah Gibran ketika dia baru saja tiba di ruang tengah rumahnya.
"Mau keluar sebentar, Yah." jawab Gibran.
"Kamu sudah menyelesaikan hitungan Pak Anwar?" tanya Ayah Gibran membuatnya teringat dia harus menyelesaikan pekerjaannya.
"Hehe... Belum, Yah." jawab Gibran sambil sedikit tertawa.
Gibran memang bekerja sebagai konsultan freelance sambil kuliah. Dia ikut bekerja di perusahaan kecil Om Wisnu, adik kandung ayahnya. Dia bekerja sebagai konsultan perencana di bidang konstruksi. Karena dia masih kuliah, Om Wisnu memperbolehkannya bekerja di rumah dan menggajinya sesuai dengan hasil pekerjaannya. Jadi, Gibran tidak mendapatkan gaji tetap seperti karyawan lainnya.
Gibran sedang mengerjakan hitungan perencanaan untuk proyek pembangunan gedung milik Pak Anwar Dia merencanakan hitungan struktur, gambar rencana, dan juga rencana anggaran biayanya. Tetapi karena beberapa hari ini dia sibuk, dia hampir lupa kalau besok adalah dateline menyerahkan hasil perencanaan kepada Pak Anwar.
"Aku selesaikan sekarang." kata Gibran membatalkan rencananya pergi ke rumah Gita.
"Kamu sudah setahun bekerja sama Om Wisnu dan baru kali ini melupakan kerjaanmu. Ada apa Gibran?" tanya Ayah Gibran perhatian.
"Nggak papa, Yah. Aku cuma lupa." jawab Gibran menenangkan ayahnya.
"Ya sudah, kamu selesaikan sekarang, ya." kata Ayah Gibran.
__ADS_1
"Baik, Yah." jawab Gibran sambil berjalan menuju kamarnya.
'Aku besok ke rumahmu, Git, setelah menyelesaikan ini semua.' batin Gibran sambil membuka laptop-nya.