Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 2 TEORI GITA


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Gibran memarkirkan motornya di halaman parkiran rumah makan Padang. Gita sudah turun dari motornya dan melepaskan helmnya.


"Kamu nggak makan?" tanya Gibran kepada Gita sesampainya di depan rumah makan.


"Nggak, aku sudah kenyang. Aku minum aja ya, pesanin aku teh es aja." jawab Gita.


"Oke bos.." sahut Gibran segera memesan makanan untuknya dan minuman Gita.


"Jadi, ada apa lagi nih? Tiba-tiba kencanmu batal dan sekarang malah ngajak aku kencan?" Gita memulai pembicaraan setelah Gibran mengambil duduk di sebelahnya.


"Hahaha.. Ini sih bukan kencan." jawab Gibran sambil mengacak rambut Gita, sebuah kebiasaan yang entah mengapa sangat disukai Gibran. "Lodya tiba-tiba ditelepon ibunya, disuruh jemput ke bandara, ibunya baru pulang dari luar kota, supirnya hari ini tiba-tiba minta ijin pulang karena sakit, jadi dia deh yang jemput." sambung Gibran.


"Oh..." tanggap Gita singkat.


"Kok cuma oh?" tanya Gibran.


"Kirain ada masalah apaan, sampai kamu buru-buru ngajak aku keluar." jawab Gita sambil mendengus sedikit kesal.


"Kamu nggak kesal karena aku punya pacar baru, kan?" goda Gibran senang melihat raut muka sahabatnya itu agak kesal.


"Nggak lah, ngapain juga cemburu." sahut Gita cepat-cepat.


"Aku nggak ada bilang cemburu, aku cuma bilang kamu kesal, Gita." Gibran kembali menggoda Gita yang menyebabkan Gita salah tingkah.


"Ini mas, mba, pesanannya." pelayan datang menyelamatkan ke-salahtingkah-an Gita. Gibran hanya tertawa melihat ekspresi wajah Gita.


"Hai..." sapa laki-laki yang tiba-tiba datang dan berdiri di hadapan Gibran dan Gita setelah pelayan pergi dari meja mereka.


"Hai, Kak.." sahut Gibran dengan bersahabat kepada lelaki itu.


"Kak Alvin?" tanpa sadar Gita membuka suaranya setengah terkejut. "Kak Alvin ngapain kesini?" lanjut Gita masih dengan ke-terkejutan-nya.


Gibran yang mendengar pertanyaan Gita heran, 'Kok nanya orang mau ngapain di rumah makan, ya mau makan lah, Gita.' batin Gibran sambil memandang heran wajah sahabatnya itu.


"Oh ini, aku lagi bungkus nasi padang buat makan siang." jawab Alvin.


"Mau gabung makan disini, Kak?" tanya Gibran berbasa-basi menawari kakak tingkatnya itu untuk makan bersama mereka. Gita memelototi Gibran.


"Nggak, aku mau makan di kost aja." jawab Alvin yang langsung paham ketika melihat ekspresi wajah Gita. "Sampai jumpa kalau gitu." lanjut Alvin pamit ketika nasi bungkusnya sudah siap.


Alvin pergi mengendarai motornya.


Gibran melihat ke arah Gita. "Kamu kenapa sih?" tanya Gibran kemudian.


"A.. aku? Nggak papa." jawab Gita singkat.


"Bohong." sahut Gibran juga singkat sambil memasukkan kerupuk ke dalam mulutnya.


"Barusan dia ngajak aku jalan..." akhirnya Gita bercerita. "aku nggak mau, aku bilang aja aku sibuk, mau ngerjakan tugas." sambung Gita.

__ADS_1


"Siapa? Kak Alvin?" tanya Gibran.


"Iya, tau-taunya dia ada disini melihat kita makan siang bareng, jadi nggak enak tadi aku nolak dia." jawab Gita sambil menangkap kerupuk yang berada di depan mulut Gibran yang tidak jadi memakannya karena diambil Gita. Hehe.


"Kenapa nggak mau? Dia cakep kok, pintar, idola adik-adik tingkat di kampus pula?" goda Gibran.


"Aku kan nggak mau pacaran." kata Gita membuat Gibran mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Gita.


"Memangnya dia ada bilang mau menjadikan kamu pacarnya?" tanya Gibran. "Gita, terkadang kamu harus mencoba melakukan pendekatan supaya kamu tau berbagai jenis dan sifat laki-laki di luar sana. Kamu nggak harus berakhir jadi pacarnya kok." Gibran mencoba menasehati Gita.


"Entahlah, aku cuma nggak mau melakukan hal yang pada akhirnya sudah kuketahui hasilnya. Itu seperti kamu mencoba tapi kamu sudah tau pada akhirnya hanya akan sia-sia." jawab Gita.


"Seperti biasa, kamu itu selalu saja penuh teori, cobalah sekali-sekali kamu buang teori-teorimu itu, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, apa yang kamu suka." kata Gibran sambil menyuap makanannya ke dalam mulut.


Gita terdiam mendengar perkataan Gibran. Sebenarnya di dalam hati Gita pun bingung, selama ini dia selalu melakukan segala sesuatunya dengan pemikiran yang matang. Tidak seperti Gibran yang spontan, dia harus mempertimbangkan segala sesuatu terlebih dahulu sebelum melakukannya.


Sementara Gibran justru kebalikannya, dia akan melakukan apa yang membuatnya senang, apa yang disukainya. Dia tidak pernah memikirkan akan seperti apa nantinya, yang terpenting baginya menjalani apa yang ada sekarang dengan hati senang alias sesuka hatinya.


Gita juga bingung bagaimana bisa selama dua tahun lebih ini dia bisa bersahabat dengan orang seperti Gibran, seseorang yang sifat dan prinsipnya sangat bertolak belakang dengannya.


"Pulang yuk." Gibran mengajak Gita pulang setelah selesai makan dan membayar makanannya. Gita mengangguk dan mengikuti Gibran ke parkiran.


Malam hari tiba...


Gibran duduk di sofa ruang tengah rumahnya bersama ibu dan adiknya. Ayah Gibran sedang keluar kota karena ada dinas luar. Ayah Gibran bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pekerjaan Umum, sedangkan ibunya sudah lama berhenti bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gibran mempunyai seorang adik perempuan bernama Mia. Mia berumur 17 tahun dan sekarang sedang duduk di kelas 3 SMA.


Keluarga Gibran adalah keluarga yang sederhana tapi berkecukupan. Gibran beruntung bisa kuliah di kampus yang dekat dengan rumahnya, jadi dia tidak perlu menyewa kost atau merantau seperti kebanyakan teman-temannya.


"Lancar, Bu." jawab Gibran singkat sambil tersenyum.


"Bohong, Bu, kakak pacaran terus." sahut Mia yang duduk di sebelah kanan ibunya sambil mengejek Gibran dengan menjulurkan lidahnya.


"Anak kecil sok tau." kata Gibran sambil meraih kepala adiknya memukulnya pelan.


"Siapa lagi yang jadi korban, Kak?" tanya Mia melanjutkan.


"Mau tau aja apa mau tau banget?" tanya Gibran balik dengan nada bercanda.


Ibu Gibran hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya itu.


Ngomong-ngomong Gibran baru ingat tugas kuliah yang harus dikumpul besok. Dia bergegas mengambil ponselnya di kamar dan mengetik pesan kepada Gita.


Gibran:


'Aku hampir lupa tentang tugas kuliah tadi siang, kamu sudah ngerjakan Git?'


Tidak lama setelah mengirimkan whatsapp, Gita membalas:


'Sudah, aku kirim file nya aja ya, kamu tinggal hitung ulang, ganti angkanya pakai NIM kamu'


NIM \= Nomor Induk Mahasiswa

__ADS_1


Gibran:


'Oke, thanks Gitaku, I love you ❤'


Gita:


'Nggak usah Gitaku Gitaku, Gibran...! pfffttt'


Gibran tertawa melihat balasan pesan dari Gita. Dia meletakkan ponselnya di atas meja kecil di samping ranjangnya.


"Kenapa ketawa-ketawa sendiri, Kak?" suara Mia mengagetkan Gibran dari depan pintu kamarnya.


"Mau tau aja anak kecil...! Siapa yang nyuruh kamu masuk ke kamar kakak tanpa ketok-ketok pintu dulu?" omel Gibran kepada Mia.


"Yeeee, salah sendiri pintu kamar kakak nggak ditutup." sahut Mia tidak mau kalah.


"Terus mau apa kamu kesini?" tanya Gibran mengalihkan pembicaraan.


"Aku mau pinjam handphone kakak, boleh nggak?" jawab Mia dengan nada yang melembut sambil mengedip-ngedipkan mata.


"Kakak jadi curiga kalau kamu pura-pura baik gitu?" kata Gibran curiga kepada adiknya.


"Hehe... bagi pulsa ya, Kak. Pleaseee..." rayu Mia mendekati kakaknya sambil menyatukan kedua telapak tangannya di hadapan Gibran.


"Tuh kan, pasti ada maunya...!" seru Gibran sambil menyerahkan ponselnya.


"Hehehe..." Mia tertawa. Dia pun langsung menyambut ponsel kakaknya dan menekan-nekan layar ponselnya. "Kak, ada whatsapp nih, dari Gitaku." kata Mia memperlihatkan layar ponsel kepada Gibran.


"Jangan dibuka, awas kalo kamu berani baca...!" ancam Gibran.


"Cieeee... Jadi akhirnya sama Kak Gita nih?" goda Mia. Gibran tetap acuh sambil membuka laptop-nya.


"Gitaku... Gitaku..." goda Mia lagi, sementara kakaknya tetap sibuk berkutat dengan laptop-nya.


"Kakak, kok Mia dicuekin sih...!" akhirnya Mia gemas karena dari tadi Gibran mengacuhkan ledekannya.


"Nggak, Mia, aku nggak pacaran sama Gita. Pacarku sekarang namanya Lodya. Puas?" jawab Gibran tetap asyik dengan laptop-nya.


"Kok nggak sama Kak Gita sih? Padahal dia baik, cantik lagi. Atau... Kak Gita yang nggak mau sama Kak Gibran? Makanya Kak, jangan sering-sering gonta ganti pacar. Nanti Kak Gita malah il-feel alias ilang feeling....!" kata Mia menasehati kakaknya.


"Dia nggak mau pacaran, lagian aku juga nggak ada perasaan apa-apa sama Gita." jawab Gibran datar.


"Yakin? Kalo aku sih nooo...! Aku nggak yakin Kak Gibran biasa aja sama Kak Gita." kata Mia bersikeras.


"Sudah sana, kalau sudah selesai transfer pulsanya cepat keluar, kakak mau ngerjakan tugas nih." perintah Gibran kepada adiknya.


"Iya.. iya... ini handphone kakak aku balikin. Hatur nuhun, terimakasih, thank you kakakku yang baik hati... Tak lupa aku doakan kakak berjodoh dengan Kak Gita... Aamiiinnn... Hahaha...!" ledek Mia sambil berlari keluar dari kamar Gibran.


"Dasar kamu Miaaaa...!" teriak Gibran kepada adiknya yang sudah keluar kamarnya secepat kilat.


Gibran membuka whatsapp dari Gita, ternyata isinya file tugas kuliah untuk besok. Gibran tertawa kecil mengingat apa yang adiknya katakan tadi, tanpa disadarinya 'Aamiinnn...' batinnya berkata.

__ADS_1


__ADS_2