
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
Putus?" tanya Gita. Tidak terkejut memang, karena sebelumnya Gibran sudah memberitahu rencananya putus dengan Lodya.
"Ya, jadi taruhan kita berlaku mulai besok." jawab Gibran bersemangat.
"Ya... ya... ya... Kita lihat aja nanti siapa yang menang, tuan Gibran Ghanial...!" sahut Gita percaya diri.
"Oke, nona Gitani Dianza Utari. Deal...!" tegas Gibran.
"Tapi, kok kamu bisa putus? Rekor banget ini, pacaran tersingkat kamu dua minggu kan?" tanya Gita meledek Gibran.
"Emmm... Ada sesuatu yang ingin kuceritakan." kata Gibran serius. Dia mengajak Gita duduk di salah satu gazebo yang kosong, kebetulan kost Gita sedang sepi.
"Ada apa?" tanya Gita penasaran melihat wajah Gibran yang serius. Gita duduk bersebelahan dengan Gibran.
"Kamu masih ingat Andra? Yang dulu pernah kuceritakan padamu, teman dekatku saat SMA dulu?" tanya Gibran memulai pembicaraan.
"Emmm..." Gita berpikir sejenak. "Oh, yang dulu kamu pernah berantem gara-gara cewek, siapa namanya?" tanya Gita melanjutkan.
"Iya, iya." jawab Gibran. "Dia pacaran sama Lidya, adiknya Lodya. Maksudku, mantannya." lanjut Gibran menjelaskan.
"Oh... Terus?" tanya Gita lagi heran apa sebenarnya yang ingin diceritakan Gibran.
"Aku penasaran sama Lodya, karena dia nggak pernah memberitahuku dimana dia tinggal. Aku juga nggak tau banyak hal tentang dia. Aku baru berkenalan dengannya selama seminggu dan langsung menembaknya." kata Gibran bercerita.
"Aku tau. Kamu kan memang selalu begitu, selalu semaumu bahkan dalam urusan mencari pacar." potong Gita gemas.
"Baiklah, aku nggak akan semauku lagi. Oke?" tegas Gibran. "Memang salahku yang selalu terburu-buru dan bahkan tidak memikirkan perasaan orang lain." lanjut Gibran.
"Yap..." angguk Gita setuju. Gibran hanya tersenyum melihat ekspresi Gita.
"Hari itu aku menelepon Andra setelah sekian lama. Aku nggak punya pilihan lain karena aku nggak tau orang-orang terdekat Lodya. Awalnya dia nggak mau memberitahuku, tapi hari ini tadi dia akhirnya mau menemuiku dan memberikanku kartu akses apartemen Lodya." kata Gibran menjelaskan sambil memperlihatkan sebuah kartu di tangannya.
"Hah? Kenapa Andra punya kartu akses apartemen Lodya?" tanya Gita heran.
"Aku juga belum tau kenapa, tapi aku memikirkan satu hal." jawab Gibran.
"Apa?" tanya Gita. "Terus, kamu sudah kesana?" lanjut Gita penasaran.
__ADS_1
"Iya aku tadi kesana sebelum kesini menemuimu." jawab Gibran makin serius.
"Terus?" tanya Gita lagi makin penasaran.
"Aku menemukannya di dalam kamar dengan seorang pria." jawab Gibran menatap mata Gita yang terbelalak karena ucapan Gibran.
"Pria?" sahut Gita kaget.
"Pria paruh baya. Emmm... Jauh lebih tua dari kita. Mungkin lebih cocok jadi ayahnya." kata Gibran lagi.
"Kamu kecewa?" tiba-tiba Gita merasa sedih melihat Gibran.
"Aku? Nggak. Cuma miris aja, memikirkan aku pernah pacaran dengan perempuan seperti Lodya." jawab Gibran.
Gita tau pasti, selama berpacaran, Gibran selalu menjaga pacar-pacarnya dengan gaya pacaran yang sehat. Meskipun dia sering bergonta-ganti pacar, tapi tidak pernah ada satupun yang disentuhnya. Dia tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh dan dia belum pernah berciuman. Yang paling jauh yang pernah dia lakukan adalah mencium pipi Gita. Aneh memang, tapi Gibran beralasan kalau dia tidak ingin merugikan pacar-pacarnya, dia juga hanya ingin ciumannya hanya untuk perempuan yang benar-benar dicintainya. Gibran pada dasarnya memang lelaki yang baik-baik.
"Kali ini aku bingung harus berkata apa." kata Gita menanggapi.
"Aku nggak perlu kata-kata apapun darimu." sahut Gibran segera sambil menyunggingkan senyumnya.
"Ya, mungkin kamu nggak perlu sekedar kata-kata. Atau kamu perlu cokelat?" tanya Gita meledek Gibran sambil mengambilkan cokelat dari dalam sakunya.
"Tuh kan, aku pasti bisa bikin kamu ketawa." hibur Gita ikut tertawa bersama Gibran. Gita mencubit pipi Gibran sambil memainkannya seperti anak kecil.
Gibran tidak tahan melihat sikap Gita yang menggemaskan itu. Gibran langsung menangkap tangan Gita. Dia mendekap tubuh Gita dipelukannya dan Gita menyandarkan kepalanya ke dada Gibran. Pelukan ini terasa sangat hangat dan nyaman bagi mereka berdua.
Setelah beberapa saat Gibran melepaskan pelukannya dari Gita. "Emmm..." belum sempat Gita mengeluarkan kata-katanya, 'Cup...' Gibran pun kembali mencium pipi Gita. "Terimakasih..." sambil mengambil cokelat yang sedari tadi masih berada di genggaman Gita.
Gita tentu saja terkejut, pipinya memerah, tetapi kali ini dia lebih menyukainya. Dia tidak menolak ataupun marah terhadap tindakan Gibran, dia membiarkan Gibran mendekap dan mencium pipinya lagi. Dia pun tersenyum dan menyadari sesuatu sedang terjadi pada hatinya.
Malam harinya...
Gibran kembali bertemu dengan Andra. Mereka janjian di kafe yang sama saat tadi siang bertemu.
"Ini..." Gibran menyerahkan kartu akses apartemen Lodya.
"Sudah tau?" tanya Andra menyunggingkan senyumnya.
"Ya..." jawab Gibran singkat.
__ADS_1
"Aku tau dia sedang bersama lelaki itu." kata Andra memberitahu.
"Darimana kamu tau?" tanya Gibran lagi.
"Kamu pikir apa alasan aku dan Lidya putus?" tanya Andra balik.
"Aku sudah tau. Kamu mengkhianatinya dengan Lodya." jawab Gibran yakin.
"Lodya yang memaksaku. Dia yang menginginkanku." balas Andra masih dengan senyuman dinginnya. "Dia menggodaku dan mengacaukan hubunganku dengan adiknya. Tapi aku hanya kekasih bayangannya. Dia memberiku kartu aksesnya karena ingin setiap saat aku dibutuhkan, aku bisa datang untuknya." lanjut Andra menjelaskan.
Gibran terkejut mendengar pengakuan Andra. "Pria itu?" tanya Gibran tiba-tiba memikirkan lelaki yang ditemukannya bersama Lodya.
"Pria tua itu? Dia kekasih yang sebenarnya. Dia yang menyewakan apartemen mewah itu untuk Lodya. Dia tidak pernah tau Lodya memberikan satu kartu aksesnya untuk lelaki lain." jawab Andra lagi.
Gibran masih mencerna kata-kata Andra. Dia tidak tau harus berkata apa.
"Setelah Lidya tau pengkhianatanku, dia langsung memutuskanku dan menjauh dari Lodya. Ayah ibunya juga tau dan sama seperti Lidya, mereka menjauh." lanjut Andra serius. "Kadang aku masih merasa bersalah pada Lidya." kata Andra jujur.
"Kenapa kamu menceritakan semua ini padaku?" tanya Gibran heran.
"Awalnya aku benar-benar nggak mau peduli padamu. Tapi setelah kamu bilang sedang berpacaran dengan Lodya, aku jadi berpikir, mungkin dia sedang merencanakan sesuatu." jawab Andra.
"Rencana apa?" tanya Gibran bertambah heran.
"Mengganti posisiku denganmu. Dia mungkin bosan denganku, aku memang sudah lama tidak menerima 'panggilannya', lalu dia menginginkanmu." jawab Andra membuat Gibran terbelalak. Memikirkan bersama Lodya saja sudah membuat perutnya mual.
"Kenapa kamu peduli padaku?" tembak Gibran menyadari Andra ternyata masih peduli padanya. Dia meyakini sebenarnya Andra adalah teman yang baik untuknya.
"Bukannya aku peduli. Aku hanya kesal kalau memang pikiranku mengenai rencananya itu benar." tolak Andra membuat Gibran tersenyum kecil.
"Kamu nggak pernah berubah." sahut Gibran. Andra balas tersenyum.
"Terlepas dari yang pernah terjadi pada Mawar, paling tidak aku sudah menyelamatkanmu kali ini." kata Andra serius. Matanya terlihat sedih saat mengucapkan nama Mawar.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi pada Mawar. Aku benar-benar sudah berusaha melakukan apa pun yang aku bisa." kata Gibran dengan tulus meminta maaf.
Andra terdiam. Memorinya kembali kepada kejadian saat dia dan Gibran masih duduk di bangku SMA. Kejadian yang menghancurkan hidup gadis cantik itu sekaligus menghancurkan persahabatannya dengan Gibran.
"Kamu tau aku tidak akan pernah bisa memaafkan itu." jawab Andra serius. Matanya masih menyiratkan kebencian.
__ADS_1
"Apapun itu, kali ini terimakasih." kata Gibran tulus kepada Andra.