
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
"Drrrrttttt... drrrrtttt..." getar dari handphone Gita membuatnya melepaskan ciuman Gibran. Dia segera mengambil handphone-nya.
"Halo..." jawab Gita ditelepon, sementara Gibran menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi pengemudi. Gibran menghela nafas. 'Siapa sih yang ganggu momen ini?' batin Gibran menggerutu.
"Gita, kamu dimana?" tanya Lala di seberang sana.
"Emmm... Ini lagi di mall, La." jawab Gita masih sedikit terengah. "Ada apa?" tanya Gita melanjutkan.
Gibran melirik Gita, 'Awas kamu, Lala...' batinnya kembali menggerutu.
"Aku di rumah sakit, Git. Tadi Intan pingsan di kampus." jawab Lala membuat Gita terkejut, begitu juga dengan Gibran yang masih bisa samar-samar mendengar suara Lala di telepon.
"Apa? Di rumah sakit mana? Intan kenapa, La?" tanya Gita bertubi-tubi.
"Nggak tau, Git. Ini masih diperiksa dokter di UGD rumah sakit Harapan Mulia." jawab Lala cemas.
"Kamu sudah telepon Kak Fajar?" tanya Gita mengingatkan Lala untuk menghubungi pacarnya Intan.
"Sudah, Git. Habis telepon Kak Fajar, aku langsung telepon kamu." jawab Lala.
"Oke, aku kesana sekarang, La." sahut Gita sambil buru-buru menutup telepon.
Gibran segera paham maksud Gita. Dia melepaskan rem tangan dan langsung membawa mobil Gita melaju ke luar dari mall menuju rumah sakit yang dimaksud.
Sesampainya di rumah sakit...
Gita langsung menuju ke Unit Gawat Darurat. Gibran berjalan mengikuti di belakangnya. Mereka menemukan Lala dan Alvin sedang berdiri di depan pintu UGD.
"Gimana, La?" tanya Gita kepada Lala cemas.
"Masih di dalam, Git. Sudah setengah jam lebih mereka di dalam." jawab Lala juga cemas.
"Kak Fajar mana?" tanya Gita lagi sambil melihat-lihat di sekeliling.
"Dia di dalam nemenin Intan." jawab Lala.
Alvin memperhatikan Gita yang datang bersama Gibran. Alvin menatap dingin Gibran, dia mencurigai hubungan Gita dan Gibran. Gibran hanya diam membalas tatapan Alvin yang mencurigainya.
Sesaat kemudian Fajar keluar dari UGD. Wajahnya terlihat syok dan bingung.
"Gimana, Kak?" tanya Gita langsung menodong Fajar yang baru keluar.
"Emmm..." Fajar kebingungan. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Gita. Fajar malah melewatkan pertanyaan Gita dan langsung berjalan menuju Alvin. Dia membisikkan sesuatu ke telinga Alvin dan mereka berdua langsung pergi menjauh.
Gita, Lala, dan Gibran bingung. Gita dan Lala pun langsung masuk ke dalam UGD dan menemui Intan langsung, sementara Gibran menunggu di luar.
"Intan, kamu nggak papa?" tanya Gita cemas melihat wajah sahabatnya itu sangat pucat.
"Emmm... Nggak papa, kok. Cuma perlu istirahat." jawab Intan tersenyum agak terpaksa.
__ADS_1
Gita dan Lala bingung. Mereka tidak pernah melihat Intan sepucat dan setidak berdaya itu. Ditambah lagi terlihat mata Intan bengkak seperti habis menangis. Perawat mulai memasangkan infus dan menyuntikkan sesuatu ke lengannya.
"Kita pindah ke kamar rawat inap sebentar lagi ya, Bu." kata perawat itu memberitahu Intan. Intan mengangguk lemah.
"Kamu dirawat inap?" tanya Lala bertambah cemas.
"Emmm... Iya..." jawab Intan dengan nada sedih yang jelas terdengar dalam suaranya.
"Kamu kenapa sih, Ntan?" tanya Gita hampir tidak bisa menahan diri. "Sakit apa?" lanjut Gita bertanya lagi, dia sudah hampir kehabisan kesabaran.
"Aku..." Intan ragu-ragu menjawab pertanyaan Gita.
Gita dan Lala tampak serius menunggu jawaban Intan.
"Aku..." Intan belum bisa meneruskan jawabannya. Dia malah menitikkan air matanya lagi.
Gita dan Lala sangat tidak sabar menunggu jawaban Intan. "Kamu kenapa?" tanya Lala cepat-cepat.
"Emmm... Aku hamil..." jawab Intan sambil menangis lebih keras.
Gita dan Lala terbelalak mendengar jawaban Intan. Mereka tidak menyangka Intan bisa hamil di luar nikah. Tapi bagaimana pun kesalahan yang telah dilakukan Intan, dia tetap akan menjadi seorang ibu. Tidak mungkin rasanya meninggalkan Intan dalam keadaan yang seperti sekarang ini. Intan bahkan membutuhkan sahabat-sahabatnya kali ini lebih dari sebelumnya.
Gita mendekati Intan yang masih menangis. Dia duduk di tepian ranjang tempat Intan berbaring.
"Jangan nangis, Ntan." hibur Gita sambil memeluk Intan.
"Aku nggak tau apa yang harus kulakulan, Git. Hiks... Aku belum siap menerima semua ini...!" kata Intan sesenggukan.
"Kamu harus kuat, Ntan. Apa pun yang sudah kamu lakukan, kamu harus bisa menerima konsekuensinya. Lagi pula, nggak ada yang salah dengan menjadi seorang ibu." hibur Gita lagi.
"Aku nggak tau gimana harus menjalani ini, Git. Ayah ibuku pasti kecewa. Aku nggak sanggup memberitahu mereka, Git. Hiks... Dan... Kak Fajar... Dia juga belum siap, Git. Dia bahkan belum mau berencana menikah dalam waktu dekat." kata Intan lagi.
Gita dan Lala bingung harus bagaimana lagi menenangkan sahabatnya itu. Perawat pun akhirnya muncul dan membantu Intan pindah ke kamarnya.
"Bu, jangan stres ya, kasian bayinya, Bu." kata perawat mencoba menenangkan Intan yang masih saja terus menangis. Intan dibawa ke kamarnya dengan kursi roda. Perawat membantu mendorong kursi rodanya sementara Lala membawakan tas Intan dan mengikuti mereka di belakang.
"Aku bilang ke Gibran dulu ya sebentar, nanti aku nyusul. Kirimin aku nomor kamarnya Intan nanti." kata Gita kepada Lala. Lala pun mengangguk.
Gita segera kembali ke depan pintu UGD dan menemukan Gibran sedang duduk memainkan handphone-nya.
"Gimana?" tanya Gibran sesaat ketika Gita menghampirinya.
"Intan hamil..." jawab Gita memberitahu Gibran. Gibran terkejut. Gita mengambil duduk di sebelah Gibran.
"Emmm... Kamu nggak papa?" tanya Gibran mengkhawatirkan Gita. Wajah Gita memang terlihat pucat dan masih syok.
"Nggak..." jawab Gita singkat. "Aku cuma kasian sama Intan. Aku khawatir dia kenapa-kenapa." lanjut Gita menjelaskan.
"Aku cuma berharap Kak Fajar siap menerima semua ini. Dia harus bertanggung jawab dan segera menikahinya." sahut Gibran menanggapi.
"Dia harus!" kata Gita menegaskan.
__ADS_1
Gibran menggenggam tangan Gita. Dia berusaha menenangkan Gita disampingnya. Gita pun menyandarkan kepalanya ke bahu Gibran. Dia merasa sangat memerlukan Gibran disampingnya dalam situasi seperti ini.
"Ehm..." tiba-tiba Alvin berdehem membuat Gita dan Gibran tersentak. Gita melepaskan tangan Gibran dan mengangkat kepalanya dari bahu Gibran.
Alvin dan Fajar sudah berdiri di hadapan Gita dan Gibran.
"Intan harus dirawat, dokter bilang dia harus istirahat total." kata Alvin memberitahu Gita dan Gibran.
"Tapi Intan dan bayinya baik-baik saja kan, Kak?" tanya Gita mengkhawatirkan keadaan Intan dan calon bayi di dalam kandungannya.
"Emmm... Iya, Git. Kandungan Intan lemah, dia nggak boleh banyak bergerak." jawab Fajar. "Aku perlu bantuan kamu, Git." lanjut Fajar meminta bantuan Gita.
"Bantuan apa, Kak?" tanya Gita penasaran.
"Aku bingung harus mulai dari mana. Tapi yang pasti, aku perlu memberitahu orang tua Intan. Aku juga akan memberitahu orang tuaku." jawab Fajar dengan pasti. Meskipun dalam keadaan yang masih syok, tetapi Gita mengapresiasi rasa bertanggung jawab Fajar.
"Aku bisa memberitahu Kak Fajar nomor telepon dan alamat Intan kalau kakak perlu." kata Gita menenangkan Fajar.
"Terimakasih, Git. Aku harus mengurus administrasi dan macam-macam keperluan Intan dulu." kata Fajar berterimakasih.
"Kalau Kak Fajar perlu apa-apa, aku bisa bantu. Termasuk urusan dana kalau pun kakak kesulitan karena biaya rawat inap nggak sedikit, Kak." kata Gita kembali menawarkan bantuan.
"Aku juga bisa bantu, Kak." sahut Gibran serius menawarkan bantuan.
"Terimakasih kalian berdua. Kebetulan aku masih ada tabungan. Kalau sewaktu-waktu aku perlu bantuan kalian, aku pasti ngasih tau nanti." jawab Fajar berterimakasih.
Gita dan Gibran mengikuti Fajar dan Alvin ke kamar rawat inap Intan. Tidak lama setelah mereka tiba di kamar, Fajar kembali harus keluar untuk mengurus administrasi dan lain-lain.
Gita, Lala, Gibran, dan Alvin menemani Intan. Alvin masih selalu menatap Gibran dingin. Gibran pun merasa ditatap dingin Alvin, dan dia membalas Alvin dengan tatapan yang sama. Sepertinya mereka berdua mulai tidak menyukai satu sama lain.
Tidak terasa sore hari tiba dan Gita bersama Gibran pamit. Alvin sudah terlebih dulu pulang karena ada kesibukan. Sementara Fajar dan Lala masih menemani Intan di rumah sakit.
Gita mengantar Gibran ke kampus untuk mengambil motornya yang tadi ditinggalkan di parkiran.
"Terimakasih, Git." kata Gibran sesaat setelah mereka sampai di parkiran.
"Aku pulang dulu." kata Gita langsung pamit setelah Gibran melepaskan sabuk pengamannya.
"Kamu beneran nggak papa?" tanya Gibran mengkhawatirkan Gita.
"Nggak papa. Aku cuma perlu istirahat." jawab Gita menenangkan Gibran.
"Soal yang tadi..." Gibran mengingatkan Gita masalah ciuman yang terjadi siang tadi.
"Emmm... Aku nggak tau, Gibran. Aku perlu waktu." jawab Gita sudah mengetahui maksud Gibran.
"Aku minta maaf." kata Gibran meminta maaf. "Mungkin aku yang terlalu terburu-buru." lanjut Gibran lagi bersungguh-sungguh.
"Aku..." Gita berpikir sejenak. "Aku nggak tau, Gibran. Aku benar-benar perlu waktu." jawab Gita lagi. Gita bingung setelah semua yang dialaminya hari ini, ditambah lagi keadaan Intan yang membuatnya cemas, dia masih belum bisa memikirkan segalanya dengan jernih saat ini.
"Baiklah, beristirahatlah." kata Gibran akhirnya menyuruh Gita beristirahat.
__ADS_1
Gibran membuka pintu mobil Gita dan beranjak keluar. Dia mengambil motornya di parkiran dan segera pulang. Sementara Gita sudah menghilang kembali menuju ke kosnya.