Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 23 GARA-GARA PMS


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Gibran memarkirkan motornya di halaman rumahnya. Hari sudah gelap dan Gibran merasa lelah karena perjalanan panjangnya dua hari ini.


"Kak Gibran sudah datang?" sapa Mia yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi dan memegang sepiring mie instan di tangannya.


Gibran berhenti sejenak dan menyendok mie instan Mia. "Enak nih..." kata Gibran sambil kembali menyuap untuk yang ke sekian kalinya.


"Enak sih enak, tapi jangan dihabisin dong, Kak." protes Mia dengan wajah cemberutnya.


Gibran tertawa kecil mendengar protes Mia. "Ayah dan Ibu dimana?" tanya Gibran kepada Mia.


"Mereka di kamar, Kak." jawab Mia.


"Kamu sudah datang, Gibran?" tanya Ibu Gibran menghampiri kedua anaknya.


"Iya, Bu." jawab Gibran segera mencium tangan ibunya dan duduk di sebelahnya. "Maaf ya, Gibran nggak ikut ke rumah kakek kemarin." kata Gibran meminta maaf kepada ibunya.


"Nggak papa. Lagian cuma sebentar, kok." jawab Ibu Gibran santai. "Gimana acara pernikahannya? Lancar?" tanya Ibu Gibran lagi.


"Iya, Bu. Acaranya lancar." jawab Gibran sambil mengangguk.


"Kak Gibran pergi sama Kak Gita?" tanya Mia memastikan.


"Iya..." jawab Gibran singkat. "Sama Lala sama Kak Alvin juga." Gibran buru-buru menambahkan. Dia tidak mau ibunya salah paham.


"Apa kabar Gita? Dia sudah lama nggak main kesini." kata Ibu Gibran tiba-tiba menanyakan kabar Gita.


Gita memang pernah beberapa kali datang ke rumah Gibran. Dia satu-satunya teman perempuan yang pernah diajak Gibran ke rumahnya, bahkan pacar-pacarnya sekali pun belum pernah diajaknya ke rumah.


"Baik, Bu. Dia sekarang lagi di rumahnya selama liburan semester ini." jawab Gibran menjelaskan.


"Mia juga lama nggak ketemu Kak Gita. Kapan-kapan ajakin kesini dong, Kak. Mia lama nggak ngobrol-ngobrol sama Kak Gita." kata Mia meminta.


"Iya... iya..." jawab Gibran.


"Ngomong-ngomong pacar Kak Gibran nggak cemburu sama Kak Gita?" tanya Mia heran.


"Kakak udah nggak punya pacar alias jomblo, Mia." jawab Gibran agak kesal karena pertanyaan Mia mengingatkannya pada Lodya yang sekarang menjadi mantannya.


"Loh bukannya kemaren katanya Kak Gibran punya pacar?" tanya Mia lagi masih penasaran.


"Sudah putus, Mia." jawab Gibran lagi.


"Apa? Cepat banget sih." kata Mia ketus menanggapi jawaban Gibran.


"Ya mau gimana lagi?" sahut Gibran cuek.


"Bukan karena Kak Gita?" tanya Mia jahil.


"Sok tau banget." kata Gibran sambil mengacak rambut Mia. Mia segera membenarkan rambutnya.


"Kalau sama Gita, Ibu setuju-setuju aja kok." kata Ibu Gibran tidak keberatan.


Gibran tersenyum mendengar perkataan ibunya.


"Masalahnya, Bu, Kak Gitanya mau nggak sama Kak Gibran? Hahaha..." ledek Mia tertawa puas.


Gibran langsung cemberut mendengar ledekan Mia. "Ya pasti mau lah..." jawab Gibran dengan segera.


"Masa sih? Nggak mungkin..." sahut Mia menanggapi.


"Udah ah, nggak pernah selesai berdebat sama kamu. Weeekkk..." kata Gibran balas meledek Mia sambil menjulurkan lidahnya.


"Weeekkkk..." balas Mia juga menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


Ibu Gibran hanya bisa tertawa melihat kelakuan kedua anaknya itu.


Gibran segera beranjak ke kamarnya dan mengabari Gita bahwa dia sudah tiba di rumah.


Gibran:


'Aku sudah sampai di rumah.


Miss u Gitaku...'


Tidak lama ada balasan dari Gita:


'Syukurlah...


Istirahat ya kamu.'


Gibran tersenyum membaca balasan pesan dari Gita dan mulai mengetik lagi:


'Baiklah...


Cuma itu?'


Gita kembali membalas:


'Memangnya ada lagi?'


Gibran:


'Kamu nggak kangen aku?'


Gita:


'Emmm sedikit.'


Gibran:


Gita:


'Aku kangen kamu Gibran Ghanial.'


Gibran tersenyum lebar membaca balasan Gita. Dia juga sudah merindukan Gita.


Gibran:


'Aku sayang kamu Gitaku.'


Di seberang sana, Gita juga tersenyum di dalam kamarnya. Dia sedang berbaring sambil melihat layar di handphone-nya.


Gibran segera meletakkan handphone-nya dan segera ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya. Setelah selesai, dia segera ke dapur untuk makan malam.


Ayah, Ibu dan Mia sudah makan terlebih dulu. Gibran makan sendirian di meja makan di dapur dan menyantap makanannya dengan lahap karena perutnya sudah kelaparan.


Gibran sudah selesai makan dan ingin kembali ke kamarnya, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara meringis Mia di kamarnya dan segera menghentikan langkahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Gibran khawatir karena adiknya itu meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Hiks... perut Mia... sakit, Kak... hiks..." ucap Mia terbata-bata menangis menahan sakitnya.


"Kamu salah makan?" tanya Gibran lagi.


Ibu Gibran datang mendengar keributan dan sudah berdiri di samping Gibran.


"Kenapa kamu, Mia?" tanya Ibunya langsung panik saat menemukan Mia sedang memegangi perutnya. Dia segera menghampiri Mia dan duduk di tepian ranjangnya.


"Hiks... kayaknya aku PMS, Bu." jawab Mia sesenggukan.

__ADS_1


"Dimana kamu simpan obatnya, Mia?" tanya Ibunya lagi sambil mencari-mencari di sekeliling.


"Kayaknya habis, Bu." jawab Mia sambil berpikir.


"Gibran, kamu cepat belikan obat PMS di apotek, ya." kata Ibu Gibran memerintahkan Gibran membelikan obat untuk Mia di apotek.


"Baik, Bu." jawab Gibran segera meninggalkan mereka berdua untuk mengambil dompet dan kunci motornya lalu pergi ke apotek terdekat.


Sesampainya di apotek...


'Lah, aku lupa nanya apa nama obatnya.' batin Gibran sesaat masuk ke dalam apotek.


Gibran berjalan menghampiri bagian obat-obatan kewanitaan, tetapi dia bingung harus membeli obat apa. Saking bergegasnya tadi, dia bahkan lupa membawa handphone-nya.


"Gibran...!" sapa seorang perempuan yang kini berdiri di samping Gibran membuatnya terkejut.


"Melati...!" sapa Gibran balik dan menyadari perempuan itu adalah teman kost-nya Gita.


"Mau beli obat, ya?" tebak Melati.


"Iya nih..." jawab Gibran agak malu karena dia tertangkap Melati sedang memilih-milih di bagian kewanitaan.


"Obat apa?" tanya Melati heran.


"Obat... emmm... PMS..." jawab Gibran ragu-ragu.


Melati tidak bisa menahan tawanya mendengar jawaban Gibran. Dia tertawa sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Buat adikku." sambung Gibran cepat-cepat agar Melati tidak salah paham.


"Oh..." kata Melati menghentikan tawanya. "Emmm... ini bagus buat meredakan sakitnya." lanjut Melati sambil memberikan sekaplet obat untuk Gibran.


"Oh iya, terimakasih." kata Gibran berterimakasih dan menyambut obat yang diberikan Melati.


"Jangan lupa bilang adikmu minum air putih yang banyak dan istirahat yang cukup." kata Melati lagi mengingatkan.


"Iya terimakasih, Melati." jawab Gibran berterimakasih sekali lagi. "Kamu kayak dokter aja." lanjut Gibran bercanda kepada Melati.


"Aku memang calon dokter, Gibran. Hehe..." kata Melati sambil tertawa kecil.


"Oh... pantas. Kamu kuliah di kedokteran?" tanya Gibran.


"Iya, belum lulus sih, masih masuk semester 6." jawab Melati tersenyum kepada Gibran. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan Gibran disini.


"Wah sama dong, berarti kita seangkatan." sahut Gibran.


"Iya, aku kan seangkatan juga sama Gita." kata Melati mengingatkan.


"Oh iya.." kata Gibran. "Aku bayar duluan ya, Mel." lanjut Gibran teringat Mia sehingga segera berpamitan kepada Melati.


"Iya... Silahkan..." jawab Melati dengan agak berat. Sebenarnya dia masih ingin berbincang dengan Gibran lebih lama lagi.


Gibran segera ke kasir untuk membayar obatnya. Setelah membayar, dia segera keluar dari apotek.


"Gibran...!" panggil Melati dari belakang saat Gibran baru saja keluar dari apotek.


Gibran segera menoleh ke arah Melati yang kini berdiri di hadapannya. "Iya, Mel?" tanya Gibran segera.


"Emmm... Aku... Aku boleh minta nomor handphone-mu?" tanya Melati memberanikan diri. "Emmm... maksudku... kalau nggak boleh nggak papa kok." lanjut Melati merasa tidak enak. Pikirnya dia benar-benar merasa canggung sekarang, darimana dia mendapatkan keberanian semacam itu?


"Oh..." Gibran agak terkejut. "Aku lagi nggak bawa handphone, nanti nomormu aku tanya Gita aja, ya." kata Gibran melanjutkan. Dia sebenarnya tidak ingin benar-benar menghubungi Melati.


"Emmm... iya..." jawab Melati pasrah. 'Bahkan menyebutkan nomor handphone saja dia nggak mau, dia pasti hafal nomornya sendiri, kan? Kenapa mesti tanya sama Gita?' pikir Melati agak kesal mendengar jawaban Gibran.


"Aku duluan ya. Adikku sudah nunggu." kata Gibran dengan cepat. Dia tidak ingin Mia gelisah karena lama menunggu obatnya.

__ADS_1


Melati mengangguk dan memperhatikan Gibran berjalan menuju motornya.


Gibran segera menyalakan motornya dan menghilang dari pandangan Melati.


__ADS_2