
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
Malam harinya Gita, Gibran, Lala, dan Alvin pergi keluar untuk makan malam. Mereka memutuskan pergi ke sebuah warung seafood yang letaknya tidak jauh dari hotel.
Sesampainya di tempat makan, Gibran langsung mengambil duduk di sebelah Gita. Alvin kesal melihat Gibran mendahuluinya dan terpaksa duduk di seberang mereka bersama Lala.
"Kamu pesan apa?" tanya Alvin perhatian kepada Gita yang duduk tepat di seberangnya.
"Emmm..." Gita berpikir.
"Kepiting saos asam manis." jawab Gibran seketika membuat Gita tersenyum.
"Kok kamu tau?" tanya Gita kepada Gibran di sebelahnya.
"Apa sih yang aku nggak tau tentang kamu?" ledek Gibran membuat Gita tersipu.
"So sweet banget sih kalian..." sahut Lala sambil tertawa.
"Ehmmm..." Alvin berdehem kesal melihat Gibran menggombali Gita.
"Minum dulu, Kak." kata Lala sambil menyodorkan sebotol air mineral yang tersedia di atas meja mereka.
Gibran tertawa melihat tingkah Alvin. Gita menatap Gibran dan ikut tertawa. Gibran balas menatap Gita dan menggenggam tangan Gita di bawah meja tanpa terjangkau dari penglihatan Alvin dan Lala. Gita tersentak tapi tidak melepaskan genggaman tangan Gibran.
"Kalian semester depan ngambil praktek kerja?" tanya Alvin membuka pembicaraan setelah mereka semua selesai memesan makanan.
"Iya, Kak." jawab Lala segera.
"Kak Alvin semester depan udah skripsi, ya?" tanya Gita. Gibran melirik ke arah Gita. Dia tidak suka Gita memperhatikan Alvin.
"Iya, Git. Doakan semoga lancar, ya." jawab Alvin semangat.
"Aamiinn..." sahut Gita.
"Nggak kerasa ya Kak Alvin udah mau lulus." seru Lala. "Pasti enak bisa kerja, terus dapat uang, terus nikah deh." kata Lala melanjutkan.
"Aamiinn..." jawab Alvin mengamini perkataan Lala.
Gibran masih terdiam karena tidak tertarik dan memutuskan tidak ikut dalam pembicaraan tentang Alvin.
Gibran tiba-tiba mendapatkan ide yang membuatnya tertarik. Dia mulai menggelitik tangan Gita yang ada di genggamannya hingga membuat Gita merasa geli. Gita berbalik menatap Gibran yang tertawa kecil melihat ekspresi Gita yang memelototinya.
"Aku juga mau cepat-cepat nikah kalau sudah kerja." kata Lala berangan-angan.
"Kamu kan memang berbakat mengurus rumah tangga, La. Jago masak lagi." puji Gita.
"Hihihi... Bisa aja kamu, Git." sahut Lala tersipu. "Enak ya, Intan udah mau nikah." lanjutnya.
"Iya... Mudah-mudahan dia dan Kak Fajar bahagia." kata Gita benar-benar mendoakan Intan dan Fajar yang besok akan menikah.
"Terlepas dari apa pun kesalahan yang mereka lakukan, mereka tetap pantas bahagia." sahut Gibran yang membuat Gita tersenyum padanya.
"Kamu juga mau cepat-cepat nikah, Git?" tanya Alvin kepada Gita. Gibran menatap Alvin dingin.
"Emmm... Tergantung jodohnya, Kak. Kalau diberinya cepat ya ayo, kalau nggak ya berusaha memantaskan diri dulu." jawab Gita bijak.
__ADS_1
Gibran kembali menatap Gita. Sementara Alvin cemburu melihat Gibran yang terus menerus menatap Gita di hadapannya.
"Memang kamu mau jodoh yang seperti apa?" tanya Alvin lagi membuat Gita terkejut.
Gita sebenarnya selama ini memiliki kriteria untuk calon suaminya kelak. Dia bahkan mencatatnya sendiri di buku catatan mengenai poin-poin yang harus dimiliki calon suaminya. Tetapi setelah menyadari perasaannya terhadap Gibran, dia seperti melupakan itu semua. Gibran benar-benar membuatnya tidak berjalan sesuai dengan rencana.
"Emmm... Nggak ada kriteria khusus, Kak." jawab Gita malu-malu.
Akhirnya pesanan datang dan mereka mulai menyantap makanan masing-masing.
"Kalau aku masuk kriteria kamu, nggak?" tanya Alvin lagi membuat Gita yang baru saja menyuap makanannya tersedak.
Gibran segera memberikan minum kepada Gita dan Gita meminumnya. Gibran mengelus-elus punggung Gita dan membantu menenangkannya.
"Kamu nggak papa?" tanya Gibran cemas.
"Nggak, aku nggak papa." jawab Gita baik-baik saja.
"Pelan-pelan makannya, Git." kata Lala juga cemas.
"Maaf, Git. Aku nggak bermaksud mengejutkanmu." kata Alvin meminta maaf.
"Nggak papa, Kak." sahut Gita kembali memakan kepiting pesanannya. Gibran melihat Gita kesulitan dan membantunya melepaskan kulit kepitingnya. Dia sibuk membantu Gita dan melupakan makanannya sendiri.
"Kamu makan dulu." kata Gita merasa tidak enak kepada Gibran.
"Iya..." jawab Gibran singkat kemudian melanjutkan makannya.
Alvin menatap Gibran dan Gita serius. Dia merasa ada yang aneh pada tingkah kedua orang di hadapannya itu. Dia berharap tebakannya salah. Sementara Lala asyik menyantap makanannya sampai-sampai tidak memperhatikan sekelilingnya lagi.
Sesampainya di kamar...
Gita dan Lala membungkus hadiah pernikahan untuk Intan sesampainya di kamar. Mereka memberikan sebuah selimut dan piyama tidur cantik untuk Intan.
"Gemes banget piyamanya, Git." seru Lala saat membungkusnya.
"Iya, La. Cantik banget." sahut Gita tersenyum.
"Beruntung Intan nggak kenapa-kenapa ya, Git. Dia dan calon bayinya sehat-sehat aja." kata Lala serius.
"Iya, La. Tapi seperti pesan Intan, kita harus saling menjaga. Dia bilang cukup dia yang melakukan kekhilafan seperti itu." kata Gita mengingatkan.
"Iya, Git. Kamu ingatkan aku kalau-kalau nanti aku lupa ya." pesan Lala.
"Iya, La. Kamu juga ingatin aku, ya. Eh, tapi kamu kan nggak punya pacar." ledek Gita tertawa.
"Kamu juga nggak punya." ledek Lala balik. "Tapi kamu punya Gibran. Hati-hati ya kalau kamu nanti khilaf sama dia." ledek Lala lagi.
"Apaan sih, Lala." seru Gita tersipu malu.
"Jadi ada peningkatan nggak nih dari sahabat jadi cinta?" tanya Lala menggoda Gita lagi.
"Emmm..." Gita berpikir. "Rahasia...!" jawabnya kemudian membuat Lala kesal.
"Pelit banget sih, nggak mau cerita." gerutu Lala sambil cemberut.
__ADS_1
Tiba-tiba handphone Gita berdering dan Gita melihat nama di layar panggilan dari Gibran.
"Halo..." jawab Gita.
"Git, keluar yuk." ajak Gibran tiba-tiba.
"Kemana?" tanya Gita. "Udah malam, Gibran." lanjut Gita sambil melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 21.45.
"Aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat." ajak Gibran lagi.
"Emmm..." Gita sebenarnya penasaran kemana Gibran akan membawanya pergi. "Iya..." akhirnya Gita menyetujui.
"Aku di depan kamarmu." kata Gibran lagi mengagetkan Gita.
"Apa?" tanya Gita sambil melompat dari atas ranjang dan menuju ke pintu kamar lalu membukanya.
"Hai..." sapa Gibran di depan pintu sambil mematikan teleponnya.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Gita heran.
"Sejak... tadi." jawab Gibran santai.
Lala bingung memperhatikan Gita dan Gibran. "Kalian mau pergi?" tanya Lala kepada mereka berdua.
"Pinjam Gita sebentar ya, La." kata Gibran meminta ijin kepada Lala.
"Silahkan... dengan senang hati, Gibran." ledek Lala sambil tertawa.
"Ayo..." Gibran menarik tangan Gita yang masih berdiri membeku di depan pintu. Gita menurutinya keluar.
"Kita mau kemana?" tanya Gita sesampainya di mobil. Gibran menyalakan mesin mobil dan membawanya melaju ke jalanan kota.
"Rahasia." jawan Gibran singkat.
"Kamu pernah ke kota ini sebelumnya?" tanya Gita kepada Gibran yang sibuk menyetir.
"Pernah." jawab Gibran lagi-lagi singkat.
"Kamu kok jawabannya singkat dan padat gitu?" tanya Gita lagi.
"Kamu kok bawel banget, Gita." jawab Gibran sambil mencubit gemas pipi Gita.
"Gibran...!" seru Gita. Wajahnya memerah lagi karena perlakuan Gibran.
Gita menyalakan musik dari radio di mobil dan memilih lagu Sempurna dari Andra and The Backbone.
"Aku suka lagu itu." kata Gibran melirik Gita.
"Aku juga." kata Gita setuju.
"Aku juga suka kamu." kata Gibran lagi meledek Gita.
"Aku..." sesaat Gita ingin berkata 'aku juga', tetapi segera menyadarinya. "Gibran...!" seru Gita tersadar ledekan Gibran. Gibran tertawa senang.
Tidak terasa sudah 30 menit mereka di perjalanan dan akhirnya sampai ke tempat yang dituju Gibran.
__ADS_1
"Kita sudah sampai." kata Gibran memarkirkan mobil di tempat parkir dan mengajak Gita turun. Gita mengikuti Gibran turun.