Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 3 DIA AGRESIF


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Gita turun dari mobilnya dan berjalan ke arah taman di kampus. Dia duduk di kursi taman yang kosong. Gita sengaja berangkat ke kampus lebih awal karena sebelum masuk kelas, dia ingin menulis rencana untuk minggu ini terlebih dahulu di agendanya. Gita memang terbiasa terorganisir. Dia selalu merencanakan segala sesuatunya dengan baik, dari mulai mengatur jadwal belajar sampai dengan waktu luang untuk bersantai. Segala sesuatu selalu berjalan menurut aturannya, kecuali apabila hal itu menyangkut tentang Gibran. Entah mengapa Gibran selalu saja bisa membuatnya menyampingkan jadwal-jadwal yang sudah dibuatnya.


"Gita...!" panggil Intan, sahabat Gita. Dia berjalan ke arah Gita yang sedang duduk sendiri. "Tadi Kak Alvin nanyain kamu." kata Intan sesampainya di dekat Gita dan duduk di sebelahnya.


"Nanya apaan?" tanya Gita sambil bergeser agar Intan bisa duduk di sebelahnya.


"Nanyain kamu sama Gibran, dia penasaran kamu sama Gibran ada hubungan apa. Aku jawab aja kamu sama Gibran sahabatan." jawab Intan. "Setauku sih gitu, nggak tau deh kalau sekarang udah berubah?" lanjut Intan menggoda Gita.


"Apaan sih, Ntan...!" sahut Gita sedikit malu. "Memangnya kapan dia nanya?" lanjut Gita.


"Tadi pagi kami ketemu di parkiran. Aku tadi berangkat bareng sama Kak Fajar." jawab Intan.


Fajar pacarnya Intan, mereka sudah 6 bulan jadian. Fajar dan Alvin berteman dekat dan mereka seangkatan.


"Tapi kenapa Kak Alvin jadi nanya gitu, ya? Memangnya kamu ngapain sama Gibran?" tanya Intan kepada Gita penasaran.


"Nggak ngapa-ngapain, Intan." Gita meyakinkan Intan yang menginterogasinya. "Kemaren waktu aku nemenin Gibran makan siang, kami nggak sengaja ketemu Kak Alvin. Padahal sebelumnya Kak Alvin ngajakin aku jalan tapi aku tolak." lanjut Intan menjelaskan.


"Kamu nolak Kak Alvin tapi malah nemenin Gibran? Kamu beneran nggak ada apa-apa sama Gibran, Git?" tanya Intan lagi.


"Nggak, Ntan. Aku nggak ada perasaan apa-apa kok sama Gibran." jawab Gita.


"Aku bingung loh sama kamu dan Gibran, kalian sahabatan tapi kayak orang pacaran. Beneran deh, Git, kamu nggak ada perasaan sedikit pun gitu? Aku tau kamu nggak mau pacaran sebelum nikah, cuma nggak menutup kemungkinan kalo kamu tiba-tiba jatuh cinta, kan?" kata Intan menatap bingung sahabatnya itu.


Gita terdiam sejenak mencerna kata-kata sahabatnya dan segera menjawab "Aku..."


"Hei, kalian disini rupanya, aku cari kemana-mana." sapa Lala tiba-tiba datang dan duduk di antara Gita dan Intan. Gita tidak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa? Ada yang aku lewatkan?" tanya Lala heran menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Banyaaakķ...!" sahut Intan bercanda.


"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Lala.


"Ngomongin kamu." jawab Gita cepat. "Nggak penting, La, ayo kita ke kelas." sambung Gita mengajak kedua sahabatnya berjalan ke arah kelas mereka. Hari itu perkuliahan berjalan seperti biasa.


Malam harinya...


Gibran bersiap-siap kencan dengan Lodya. Mereka janjian di sebuah kafe karena Lodya menolak dijemput Gibran. Sesampainya di kafe, Gibran belum melihat keberadaan Lodya. Gibran pun duduk di sudut kafe sambil melihat-lihat buku menu yang ada di atas meja.


Tidak berselang lama Lodya datang bergabung dengan Gibran. Mereka langsung memesan makanan dan minuman masing-masing.


"Aku kangen kamu sayang." kata Lodya membuka obrolan.


"Aku juga." jawab Gibran.


"Kamu berapa hari ini ngapain aja?" tanya Lodya bersemangat.


"Nggak ada yang spesial sih, seperti biasa aja. Kamu jadi jemput ibu kamu kemarin?" Gibran bertanya balik.


"Iya sayang, setelah itu ibuku nggak ngebolehin aku keluar lagi, katanya kangen sama aku." jawab Lodya sambil tersenyum manja.


Lodya memegang tangan Gibran yang sedang duduk disebelahnya. Dia memainkan jari-jari Gibran dengan jarinya.


"Ehm... gimana kuliah kamu?" tanya Gibran lagi sambil menarik tangannya dari tangan Lodya. Gibran merasa sedikit canggung dengan perlakuan Lodya.

__ADS_1


"Aku sebenarnya nggak gitu suka kuliah, apalagi Kimia, mending aku jadi ibu rumah tangga aja kali ya? Bisa santai ngurus anak dan suami, hihi..." jawab Lodya santai.


"Kalau kamu ngga suka pelajaran Kimia, terus kenapa kamu kuliah jurusan Kimia? Lagipula, jadi ibu rumah tangga itu juga banyak yang diurus, nggak bisa selalu santai juga." kata Gibran menanggapi.


"Orang tuaku ingin aku menjadi semacam scientist mungkin... Hahaha... aku juga nggak ngerti kenapa mereka maksa aku banget." Lodya menjelaskan. "Udah ah, aku nggak tertarik sama obrolan membosankan itu. Kita ngobrolin yang lain aja yuk sayang?" ajak Lodya melanjutkan.


"Oke, oke..." Gibran menyetujuinya.


"Mendingan ngobrolin tentang kita aja." kata Lodya sambil menyenderkan kepalanya ke pundak Gibran. Gibran mulai merasa risih lagi.


"Maaf mas, mba, ini makanan sama minuman pesanannya." kata pelayan kafe menghampiri meja mereka.


Gibran langsung melepaskan Lodya dari pundaknya dan segera mengambil makanannya. 'Selamat... selamat...' batin Gibran.


Sementara itu...


Gita baru selesai belanja keperluannya di sebuah minimarket. Tidak lupa dia juga membungkus sate ayam dan lontong untuk makan malamnya. Malam ini setelah makan malam rencana selanjutnya adalah belajar selama dua jam dan kemudian tidur. Sesampainya Gita di halaman kost, ponselnya berbunyi.


"Halo." Gita menjawab teleponnya.


"Git, aku ke kost kamu ya." sahut Gibran di seberang sana.


"Ngapain kamu malam-malam kesini?" tanya Gita.


"Nggak ada apa-apa, aku kesana ya." jawab Gibran.


"Kalo nggak ada apa-apa ngapain... tiiitt.. tiiitt.. tiiitt.." suara telepon terputus.


"Kebiasaan banget sih Gibran seenaknya matiin telepon...!" gumam Gita agak kesal.


Gita mematikan mesin mobilnya dan segera masuk ke dalam kamar kost-nya. Baru sebentar dia menata belanjaannya dan mengambil piring untuk makanannya, suara ponselnya kembali berbunyi.


"Aku di depan." kata Gibran singkat mematikan teleponnya.


Gita keluar dari kamarnya sambil membawa sepiring makanan dan sebotol minuman di tangannya. Dia mendatangi Gibran yang tengah duduk di salah satu gazebo di halaman kost-nya. Kost Gita memang menyediakan tiga buah gazebo di halaman sebagai tempat menerima tamu. Gazebo-gazebo itu masing-masing dilengkapi dengan dua buah kursi panjang yang saling berhadapan dan sebuah meja panjang di tengahnya.


"Apa itu?" tanya Gibran melihat piring yang dibawa Gita.


"Sate ayam." jawab Gita singkat.


"Aku mau." sahut Gibran cepat.


"Aku nggak ada nawarin kamu." kata Gita sambil bercanda menjulurkan lidahnya.


"Nggak boleh pelit." jawab Gibran.


"Ngapain sih malam-malam kesini? Kebiasaan deh ya kalo ada apa-apa larinya kesini. Ini jadwal belajarku padahal." kata Gita sambil duduk di sebelah Gibran dan meletakkan piringnya di meja.


"Kayaknya aku nggak suka deh sama Lodya." kata Gibran tanpa basa-basi.


"Bla... bla... bla..." ejek Gita. "Bukannya yang kemarin-kemarin juga sama?" tanya Gita mulai memakan sate ayamnya.


"Sama apanya?" Gibran bertanya balik.


"Ya sama, memang mantan-mantanmu kemarin kamu suka?" goda Gita.


"Nggak." jawab Gibran singkat.

__ADS_1


"Bilangnya nggak suka tapi bisa bertahan berbulan-bulan sama mereka." gumam Gita disambut tawa Gibran. "Kali ini kenapa? Ada yang salah sama Ladya?" tanya Gita melanjutkan.


"Lodya, Git." Gibran lagi-lagi mengingatkan dan Gita tertawa.


"Iya, iya, sorry aku lupa terus." kata Gita bercanda.


"Dia agresif." jawab Gibran segera menjawab pertanyaan Gita tadi.


"Uhuk.. uhuk.." Gita tersedak mendengar jawaban Gibran. Gibran segera mengambilkan botol minum dan memberikannya kepada Gita.


"Agresif gimana? Kamu diapain sama dia?" tanya Gita setelah meneguk minumannya dan tidak tersedak lagi.


"Nggak ngapa-ngapain, cuma tau aja dari gelagatnya." jawab Gibran.


"Bukannya cowok suka cewek yang agresif?" tanya Gita lagi.


"Kata siapa? Aku nggak." jawab Gibran sambil memperhatikan Gita yang sedang asyik makan.


"Masa sih?" tanya Gita kembali meragukan Gibran.


"Enak banget ya sate ayamnya?" tanya Gibran mengalihkan pembicaraan, masih fokus memperhatikan Gita.


"Antara doyan sama lapar itu beda tipis. Hahaha..." jawab Gita tertawa.


"Sini aku coba?" pinta Gibran kepada Gita. "Aaa..." lanjut Gibran membuka mulutnya meminta Gita menyuapinya. Gita menolak dan mengernyitkan dahinya, tapi Gibran dengan cepat menangkap tangan Gita yang sedang memegang sate ayam itu dan dengan cepat memasukannya ke dalam mulutnya lewat tangan Gita.


Gita merasakan ada yang aneh dengan jantungnya saat tangan Gibran berhasil menangkap tangannya. Dia pura-pura merasa biasa saja dan melepaskan tangannya dari tangan Gibran sambil kembali mengambil sate ayam yang lain untuk dimakan.


Gibran tersenyum melihat tingkah Gita.


"Makan yang banyak ya, Gitaku." goda Gibran kemudian.


"Nggak usah dibilangin, makanku juga udah banyak kok." jawab Gita sinis karena salah tingkah. "Jangan panggil aku Gitaku, pleaseee?" pinta Gita dengan nada bercanda tapi serius.


"Kenapa memangnya? Aku suka panggilan itu." kata Gibran.


"Hmmm... udah ya, aku masuk aja kalau gitu." ancam Gita.


"Kamu nggak suka?" tanya Gibran lagi tidak mempedulikan ancaman Gita. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Gita. Kini mata mereka berdua saling menatap.


Gita merasa canggung dengan keadaan ini. Dia merasakan detak jantungnya bertambah cepat. Sebelumnya menatap Gibran tidak pernah terasa seperti ini.


Gibran mendekatkan wajahnya lagi dan mengecup pipi Gita. Gita terkejut karena ciuman tiba-tiba Gibran. Tanpa disadari Gita langsung menarik tubuhnya menjauh dari Gibran.


"Maaf..." Gibran meminta maaf karena sadar melihat respon sahabatnya itu dan segera menarik tubuhnya juga.


"A... aku... aku mau masuk dulu, Gibran." kata Gita terbata-bata.


"Kamu marah?" tanya Gibran khawatir.


"Nggak, maksudku aku nggak tau, Gibran. Sampai jumpa nanti." jawab Gita terburu-buru.


Baru saja Gita ingin beranjak dari kursinya, tetapi Gibran dengan cepat menangkap tangannya dan menggenggamnya.


"Entah kenapa aku cuma mau cium kamu tadi." Gibran menjelaskan.


"Jadi kalau kamu mau, kamu bisa seenaknya gitu? Aku bukan pacar-pacar kamu yang bisa kamu perlakukan seenaknya, Gibran!" kali ini Gita marah mendengar penjelasan Gibran.

__ADS_1


"Maaf, Git." jawab Gibran. Hanya permintaan maaf yang bisa dikatakan Gibran saat ini. Dia pun sebenarnya tidak menyangka kejadian seperti ini. Yang ada di pikirannya tadi hanya tiba-tiba ingin mencium perempuan di depannya itu.


Gita melepaskan tangannya dari genggaman Gibran dan berjalan masuk ke kamar kost-nya meninggalkan Gibran sendiri. Gibran pun segera pergi meninggalkan kost Gita.


__ADS_2