Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 28 CEMBURUNYA GITA PART 2


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Tidak terasa hari ini sudah hari Minggu dan besok perkuliahan dimulai kembali. Gita membereskan barang-barangnya dan menatanya di dalam tas. Dia akan kembali ke kost-nya siang ini.


"drrrttt... drrrttt..." bunyi getar handphone Gita. Dia melihat ke layar ponsel, ternyata itu panggilan dari Gibran.


"Halo..." jawab Gita.


"Sudah siap-siap?" tanya Gibran di seberang sana.


"Ini masih siap-siap." jawab Gita.


"Jam berapa kamu berangkat?" tanya Gibran memastikan.


"Mungkin sebentar lagi, aku tinggal masukin tas-tas ini ke mobil." jawab Gita. "Kenapa memangnya?" tanya Gita melanjutkan.


"Aku kangen kamu." jawab Gibran cepat.


Gita tersenyum mendengar jawaban Gibran. "Masa sih?" ledek Gita membuat Gibran juga tersenyum di kamarnya.


"Aku ke kost kamu ya nanti sore." kata Gibran meminta ijin Gita.


"Apa aku boleh nolak?" tanya Gita sambil bercanda.


"Nggak." jawab Gibran sambil tertawa kecil.


"Berarti aku nggak punya pilihan lain dong, wahai Tuan Pemaksa." sahut Gita kembali bercanda dengan Gibran.


"Hahaha... sampai nanti, Gitaku." kata Gibran.


"Sampai nanti..." sahut Gita menutup telepon Gibran.


Gita segera membawa tas-tasnya keluar. Gita sudah jauh lebih sehat sekarang. Kakinya sudah tidak bengkak lagi dan kembali normal.


Sementara itu setelah terakhir bertemu di rumah Gita, Andra mengirimi Gita whatssapp beberapa kali. Dia menanyakan kabar Gita dan sedikit berbasa-basi tentang masalah perkuliahan. Gita tidak terlalu menanggapi chat Andra. Dia hanya membalas sekedarnya saja.


"Kamu sudah mau berangkat?" tanya mama Gita saat melihat Gita mengangkat tas-tas nya menuju teras depan.


"Iya, Ma." jawab Gita sambil menumpuk tas nya di teras depan.


"Mbak Gita sudah habis ya liburnya?" tanya Fariz kepada Gita.


Fariz terlihat masih ingin bersama Gita. Selama libur di rumah, Gita memang banyak menghabiskan waktu dengan adik bungsunya itu. Dia selalu menemani Fariz saat ingin tidur malam. Biasanya dia selalu membacakan buku atau bercerita untuknya.


"Iya sayang. Nanti Mbak Gita balik lagi kok, Mbak Gita kan mau magang disini." jawab Gita menenangkan Fariz.


"Kamu sudah menentukan magang dimana, Git?" tanya papa Gita yang baru saja datang bergabung dengan Gita, mamanya, dan Fariz di teras depan.


"Belum, Pa. Tapi rencananya disini aja yang nggak terlalu jauh dari rumah." jawab Gita.


"Apa kamu mau magang di kantor pemerintahan? Papa punya link kesana." kata papa Gita menawarkan bantuan.

__ADS_1


"Belum tau, Pa. Nanti sambil aku cari dulu. Biasanya di kampus juga banyak sih pilihan bareng teman-teman yang lain." jawab Gita menimbang-nimbang.


"Oh iya, bilang sama Gibran, Papa tunggu dia di kantor ya." kata papa Gita teringat janjinya pada Gibran.


"Iya, Pa." jawab Gita tersenyum. Dia tidak menyangka papanya sepertinya sangat menyukai Gibran.


Gita mengambil jaket di kamarnya dan kembali ke depan teras. Dia bersiap-siap untuk berangkat kembali ke kost-nya.


Gita mencium tangan kedua orang tuanya dan juga mencium pucuk kepala Fariz. Haris, adik Gita yang satunya lagi sedang ada jadwal latihan bola hari ini.


"Hati-hati di jalan, sayang." kata Ibu Gita berpesan. Gita mengangguk dan berjalan masuk ke dalam mobilnya. Dia segera menyalakan mobilnya dan membawanya melaju.


Sesampainya di kost...


Gita memarkirkan mobilnya di halaman depan kost-nya. Dia menurunkan tasnya dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Kamar Gita masih terlihat seperti semula saat dua minggu yang lalu ditinggalkannya.


Gita mulai membersihkan kamarnya. Dia menyapu dan menata barang-barangnya kembali. Setelah selesai, dia memutuskan untuk menyegarkan dirinya dengan mandi.


"Drrrttt... drrrttt..." suara getar handphone Gita saat dia sedang berada di kamar mandi. Dia tidak menjawab panggilan dari Gibran.


Sementara itu...


Gibran sedang duduk di tepian ranjang di kamarnya. Dia menelepon Gita beberapa kali, tetapi tidak diangkat olehnya. Gibran memutuskan untuk pergi ke kost Gita.


Sesampainya di kost Gita...


Gibran memarkirkan motornya di halaman kost Gita. Tiba-tiba handphone-nya berbunyi.


"Gibran, kamu tadi ada nelpon aku?" tanya Gita di telepon.


"Iya..." jawab Gibran singkat.


"Aku tadi lagi mandi." kata Gita memberitau.


"Oh... Aku di depan kost." kata Gibran membuat Gita terkejut.


"Apa?" seru Gita terkejut.


"Apa perlu aku langsung ke kamarmu sekarang? Kamu sudah pakai baju belum?" tanya Gibran bercanda.


"Gibran...!" seru Gita lagi. Pertanyaan Gibran membuatnya malu.


"Hahaha...! Aku tunggu di luar." kata Gibran sambil tertawa karena berhasil meledek Gita.


"Ya sudah aku siap-siap dulu sebentar." jawab Gita sambil mematikan teleponnya.


Gibran duduk menunggu seperti biasa di gazebo depan kost Gita. Dia mengutak atik handphone-nya.


"Hai Gibran...!" sapa Melati tiba-tiba sudah duduk di hadapannya. Gibran hanya tersenyum melihat kedatangan Melati.


"Lagi nungguin Gita?" tanya Melati menebak.

__ADS_1


"Iya..." jawab Gibran singkat.


Gita datang dan langsung menghampiri Gibran dan Melati. 'Apa Gibran sekarang berteman dengan Melati?' batin Gita bertanya melihat Gibran sedang mengobrol dengan Melati. Dia segera duduk di samping Gibran.


"Kamu sudah datang, Git?" tanya Melati kepada Gita.


"Iya, aku baru aja datang." jawab Gita. "Kalian sudah lama?" tanya Gita yang sebenarnya penasaran apakah Gibran sudah lama datang dan sedang mengobrol apa dengan Melati.


"Nggak kok, baru aja." jawab Gibran dengan cepat.


"Gimana adikmu, Gibran? Sudah sehat?" tanya Melati kepada Gibran membuat Gita terkejut. 'Tau darimana Melati kalau Gibran punya adik?' batin Gita lagi-lagi bertanya dalam hati.


"Sudah, Mel. Terimakasih bantuanmu waktu itu." kata Gibran berterimakasih. Gita semakin bingung dan agak kesal karena sepertinya dia ketinggalan cerita. 'Apa Gibran dan Melati pernah bertemu di belakangnya?' tiba-tiba Gita merasa marah memikirkannya.


"Sama-sama." jawab Melati. "Aku masuk dulu ya." lanjut Melati pamit kepada Gibran dan Gita.


Gibran mengangguk, sementara Gita masih memasang wajah bingung dan menatap kosong di depannya.


"Kamu kenapa?" tanya Gibran melihat Gita tiba-tiba diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Emmm... nggak papa." jawab Gita dingin.


"Yakin?" tanya Gibran meragukan jawaban Gita.


"Kamu pernah ketemuan sama Melati?" tanya Gita akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya.


"Hahaha...!" Gibran seketika tertawa mendengar pertanyaan Gita.


"Kok malah ketawa?" tanya Gita.


"Bilang aja kamu cemburu." tembak Gibran sambil tertawa. Dia sangat senang melihat Gita cemburu.


"Nggak..." jawab Gita pelan dengan wajah yang masih cemberut. "Jadi kamu ketemuan sama Melati?" tanya Gita mengulangi lagi.


"Iya..." jawab Gibran membuat Gita terkejut. Dia merasa sesak di dadanya membayangkan Gibran dan Melati ketemuan. "Tapi nggak sengaja di apotek." kata Gibran melanjutkan.


Gibran senang melihat kelegaan di wajah Gita. 'Dia benar-benar cemburu.' batin Gibran dengan yakin.


"Beberapa hari yang lalu Mia sakit perut karena PMS, aku disuruh membelikan obat ke apotek dan nggak sengaja ketemu Melati. Dia yang membantuku memilih obat karena aku nggak paham sama sekali dan waktu itu handphone-ku ketinggalan." kata Gibran menjelaskan.


"Oh..." Gita tersenyum mendengar penjelasan Gibran dan merasa lega karena mereka tidak janjian.


"Jadi kamu cemburu?" tanya Gibran lagi.


"Aku... aku cuma nggak suka, sedikit." jawab Gita mengelak.


"Hahaha..." Gibran kembali tertawa. "Itu namanya cemburu, sayang." lanjut Gibran meledek Gita.


Gita tersipu malu mendengar Gibran menyebutnya sayang. Wajahnya seketika memerah.


Gibran menggenggam tangan Gita. Dia kini duduk berhadapan dengan Gita. "Kita perlu memperjelas hubungan kita sekarang." kata Gibran dengan serius. Gita terkejut mendengar perkataan Gibran.

__ADS_1


__ADS_2