
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
"Gampang banget sih tiba-tiba mau putus lagi?" protes Gita mendengar Gibran ingin memutuskan hubungan untuk yang ke sekian kalinya. Selama ini memang Gibran yang selalu meminta putus dari pacar-pacarnya sebelum Lodya.
"Aku mau insyaf." jawab Gibran serius.
"Hahaha...!" Gita tertawa mendengar jawaban Gibran.
Gibran melirik Gita memperhatikan. 'Tawa Gita sangat lucu.' batin Gibran. "Kamu nggak percaya?" tanya Gibran kemudian.
"Nggak lah." jawab Gita. "Kamu kan nggak bisa hidup tanpa pacar." lanjutnya lagi.
"Aku nggak mau pacaran lagi. Ya, paling tidak, tidak dalam waktu dekat ini." kata Gibran mengutarakan niatnya.
Gita berpikir sejenak. "Nggak mungkin, aku nggak percaya." jawab Gita menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa nggak?" tanya Gibran heran.
"Kamu sudah terbiasa selalu ada perempuan yang menemani, setiap saat, setiap waktu. Menurutku akan sangat sulit saja merubah segala sesuatu yang sudah menjadi 'kebiasaan' bagimu." jelas Gita membuat Gibran menyunggingkan senyumnya.
"Aku serius." jawab Gibran singkat. Sebenarnya Gibran hanya ingin menata hatinya. Selama beberapa minggu ini pikirannya sedang kacau, dia tiba-tiba merasa tidak tertarik lagi berpacaran. Dia merasa bosan menjalani hubungan yang seperti itu-itu saja. Kali ini dia hanya ingin menemukan seseorang yang benar-benar dicintainya. Dia ingin memiliki hubungan yang serius dan tentu saja menyenangkan untuk dijalaninya.
"Aku tetap nggak percaya." kata Gita teguh dengan pemikirannya.
"Gimana kalau kita taruhan?" tanya Gibran menawari Gita.
"Taruhan apa?" tanya Gita balik.
"Kalau setelah aku putus dengan Lodya, aku bisa bertahan selama enam bulan tidak berpacaran, kamu harus mau memenuhi apa saja keinginanku." tantang Gibran dengan wajah serius.
"Hahaha... !Nggak usah enam bulan kelamaan." jawab Gita sambil tertawa, dia berpikir tidak akan mungkin Gibran bisa bertahan jomblo selama itu.
"Emmm..." Gita berpikir sejenak. "Baiklah, aku pikir cukup tiga bulan. Kalau kamu bisa bertahan selama itu, kamu menang. Tapi kalau kamu kalah, maka kamu yang harus memenuhi apapun permintaanku. Apapun!" tantang Gita balik dengan nada meyakinkan.
"Baiklah, tetapi hanya boleh satu permintaan. Bagaimana?" tanya Gibran sambil mengulurkan tangannya menawarkan jabatan tangan kepada Gita.
"Deal...!" jawab Gita segera menerima jabat tangan Gibran.
Setelah selesai makan siang, Gibran mengantar Gita pulang ke rumah.
Senin harinya di Kampus Teknik...
Intan, Lala, dan Gita sedang berkumpul di ruang belajar kampus. Mereka berjanji bertemu untuk mendiskusikan tugas kuliah, dimana mereka berada dalam satu kelompok.
"Jadi kesimpulannya apa nih, teman-teman?" tanya Intan kepada Gita dan Lala.
"Emmm... Jadi dalam pembangunan, disamping harus memperhatikan kualitas bangunan dan keselamatan kerja, juga harus memperhatikan dampak lingkungan yang tentu saja berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan keseimbangan ekosistem kehidupan." jawab Gita menyarankan.
"Setuju...!" sahut Lala menyetujui.
"Kamu setuju-setuju terus dari tadi, La. Tambahin ide yang lain dong." protes Intan.
"Hihihi.. Apa ya? Sudah dijawab Gita panjang lebar tadi, Ntan." jawab Lala sambil tersenyum kepada Intan.
__ADS_1
"Lala, Lala...!" sahut Gita sedikit tertawa mendengar jawaban Lala.
"Yes, akhirnya selesai juga makalah ini." kata Intan lega karena sudah menyelesaikan tugas kelompoknya.
"Kita masih ada kelas jam 10.15 nanti." kata Gita sambil melirik ke arah jam tangannya yang menunjukkan saat ini pukul 09.30.
"Ngopi di kantin yuk." ajak Lala kepada teman-temannya.
"Boleh..." jawab Gita dan Intan kompak.
Gita, Intan, dan Lala segera pergi ke kantin. Mereka memesan minuman masing-masing.
"Jadi kalian ngapain nih weekend tadi? tanya Gita membuka pembicaraan setelah mengambil duduk di seberang kedua sahabatnya.
"Aku kencan dengan Ka Fajar tentunya." jawab Intan dengan girang.
"Cieeee...." sahut Gita dan Lala berbarengan.
"Enak ya punya pacar." kata Lala menanggapi.
"Ada enak ada nggaknya juga. Kalau aku banyak senangnya sih tapi. Hehehe..." jawab Intan dengan senang. Gita tersenyum mendengar jawaban Intan.
"Kamu kemaren pulang, La?" tanya Intan kemudian.
"Nggak Git, ayah ibuku kemaren datang kesini. Katanya sekalian mau beresin rumah. Mereka nggak percaya aja gitu kalau aku dan kakakku bakal beresin. Jadi mereka semacam jadi pengawas gitu. Nggak bisa jalan kemana-mana deh aku." jawab Lala mendengus tidak tertarik. "Kamu pulang, Git?" lanjut Lala bertanya kepada Gita.
Lala dan Gita berasal dari kota yang sama. Mereka sudah berteman sejak SMA dan berada di sekolah yang sama. Kini Lala dan kakaknya tinggal di sebuah rumah yang dibelikan orang tuanya khusus untuk mereka berdua untuk tempat mereka tinggal selama kuliah.
"Oh iya, Git. Kemaren hari Jumat Gibran ada ke rumahku, dia minjam buku tahunan SMA kita. Untungnya ada kusimpan di rumah sini." kata Lala memberitahu Gita.
"Buku tahunan?" tanya Gita heran. "Oh..." tiba-tiba Gita menyadari sesuatu.
"Kenapa, Git?" tanya Lala balik.
"Jadi dia tau dari buku tahunan?" gumam Gita pelan tetapi masih bisa didengar Intan dan Lala.
"Tau apaan?" tanya Intan penasaran, demikian juga dengan Lala.
"Emmm..." Gita mulai merangkai kata. "Tau alamat rumahku." jawab Gita. "Sabtu pagi kemaren Gibran datang ke rumahku." lanjut Gita.
"Apa?" tanya Intan dan Lala kaget berbarengan.
"Jadi dia minjam buku itu untuk mencari tau alamat rumah kamu?" lanjut Lala bertanya.
"Mungkin..." jawab Gita singkat.
"Kenapa dia nggak langsung nanya aku aja coba? Kan aku tau dimana alamatmu." kata Lala heran.
"Hehehe... Dia malu kali." jawab Gita pelan tertawa kecil.
"Tapi... ngapain dia ke rumahmu?" tanya Intan penasaran.
"Dia minta maaf." jawab Gita.
__ADS_1
"Memang dia salah apa?" tanya Intan lagi makin penasaran.
"Emmm..." Gita berpikir. Dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin rasanya dia bercerita kepada kedua sahabatnya itu tentang ciuman tiba-tiba Gibran ke pipinya. "Ada lah, masalah kecil aja kok, sudah selesai. Hehe..." jawab Gita kemudian.
"Masa masalah kecil sampai nyamperin kamu ke rumah segala? Perjalanannya lumayan jauh loh." tanya Intan lagi. Kali ini berusaha menginterogasi Gita.
"Emmm... iya. Udah ah, masa ngomongin Gibran terus." jawab Gita protes.
"Kalian kayak orang pacaran aja, pakai acara ngambek-ngambekan gitu?" tanya Intan lagi-lagi terus mengorek-ngorek Gita.
"Nggak, Ntan. Aku nggak ngambek. Cuma agak sedikit kesal aja, tapi kita sudah baikan kok." jawab Gita. "Sudah ya. Sudah cukup kayanya kita ngomongin Gibran." lanjut Gita memohon.
"Ngomongin apa?" suara seorang lelaki menyahut pembicaraan Gita, yang ternyata adalah Gibran. Gibran mengambil duduk di sebelahnya dan langsung mengambil minuman Gita lalu segera meneguknya.
Gita terkejut dengan kehadiran Gibran. Intan dan Lala pun juga. Intan mengernyitkan dahinya, rasa penasaran makin besar tumbuh di benaknya. Sementara Lala tersenyum malu-malu melihat Gibran dan Gita.
"Eh... Main minum aja kamu!" seru Gita melihat Gibran hampir menghabiskan kopinya.
"Ngomongin apa tadi?" tanya Gibran lagi tanpa menanggapi protes Gita.
"Nggak ada apa-apa." jawab Gita segera.
"Aku dengar kamu menyebut namaku?" tanya Gibran lagi, kali ini dia menggeser tubuhnya agar duduk berhadapan dengan Gita.
"Nggak ada apa-apa, Gibran!" tegas Gita menoleh kepada Gibran di sampingnya kemudian berpaling mengambil minuman di depannya.
Gibran memperhatikan Gita sejenak. Gita salah tingkah ditatap Gibran sedemikian rupa, apalagi di depan kedua sahabatnya yang sedari tadi terdiam heran memperhatikan gelagat mereka berdua.
"Ini buku kamu, La. Terimakasih ya." tiba-tiba Gibran menyerahkan buku tahunan yang kemarin dipinjamnya kepada Lala. Dia menoleh sejenak kepada Lala sambil menyerahkan buku itu, kemudian kembali menatap Gita lagi. Gita makin merasa risih, dia kembali meneguk kopi yang sedari tadi sebenarnya sudah habis diminumnya.
"Buat apa kamu minjam buku tahunanku, Gibran?" tanya Lala pura-pura ingin tau, padahal dia sudah mengetahui jawabannya.
"Oh... Ada misi, La. Sudah terlaksana kemaren." jawab Gibran tanpa memalingkan pandangannya dari Gita.
"Misi apa? Kayak detektif aja kamu?" ledek Lala.
"Misi rahasia lah." jawab Gibran lagi sambil masih menatap Gita. Gita tambah salah tingkah. Tiba-tiba suasana menjadi canggung dan hening sejenak.
"Sudah jam 10 nih, ke kelas yuk." ajak Gita kepada teman-temannya memecahkan keheningan dan kecanggungan yang terjadi.
"Ayo..." jawab Gibran segera.
"Yuk..." jawab Intan dan Lala berbarengan.
Gita beranjak dari tempat duduknya. Gita lupa akan tasnya yang masih tergeletak di kursi.
"Tas kamu..." kata Gibran memakaikan tas yang dilupakan Gita.
"Cieeee..." ledek Lala sambil tertawa. Dia tidak tahan tidak mengomentari gelagat Gibran dan Gita.
Wajah Gita memerah karena malu mendengar ledekan sahabatnya. Gibran hanya tersenyum dan berjalan beriringan dengan Gita.
Entah mengapa dia sangat menyukai wajah memerah Gita. Dia semakin menyukai apapun yang dilakukan Gita. Sementara Gita masih bingung dengan perlakuan Gibran, meskipun di lain sisi, hatinya juga senang berdekatan dengan Gibran, lebih dari yang selama ini pernah dirasakannya.
__ADS_1