
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
Hari Jumat tiba...
Siang ini Gita, Lala, dan Alvin sudah janjian di rumah Gita untuk pergi ke pernikahan Intan.
Pagi harinya Gita memutuskan untuk pergi keluar membeli sepatu, kebetulan sepatu yang ingin dipakai untuk melengkapi gaun merah mudanya tiba-tiba saja haknya patah dan harus diganti.
Gita bergegas menyalakan mobilnya dan membawanya keluar dari garasi rumahnya. Tidak lupa dia membuka kaca mobilnya dan berterimakasih kepada Bi Inah yang sudah membukakan pagar untuknya.
Tanpa disadari Gita, ada seseorang yang sedang mengikuti mobilnya di belakang. Laki-laki itu mengenakan jaket kulit, celana jeans panjang dan sedang mengendarai motor besar kesayangannya. Dia mengikuti mobil Gita sampai ke sebuah mall yang ditujunya. Mall tersebut baru saja buka.
Gita memarkirkan mobilnya di parkiran lantai basement mall dan mematikan mesin mobilnya. Tidak lama dia segera keluar dari mobilnya.
"Gita...!" panggil seseorang yang suaranya sangat familiar di telinga Gita.
Gita menoleh ke arah suara itu dan tercengang, "Gibran...!" serunya seketika mendapati Gibran telah sampai di hadapannya.
"Kamu ngapain ke mall? Sendiri?" tanya Gibran sesaat setelah sampai di hadapan Gita.
"Kamu kenapa ada disini?" Gita balik bertanya dan mengabaikan pertanyaan Gibran. Dia heran kenapa Gibran bisa tiba-tiba ada di hadapannya.
"Aku... emmm..." pikir Gibran mencari-cari jawaban pertanyaan Gita. "Kamu sendiri? Atau janjian sama orang?" lanjut Gibran bertanya karena penasaran sekaligus khawatir kalau-kalau Gita sedang janjian dengan orang lain apa lagi lelaki lain selain dia.
"Nggak. Aku nggak janjian sama siapa-siapa. Aku kesini cuma ada yang mau dibeli sebentar." jawab Gita. "Terus kamu kenapa ada disini?" Gita mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab Gibran.
"Itu... Aku mau menemuimu, Git." jawab Gibran serius. "Aku tadinya mau ke rumahmu. Tapi saat aku kesana, aku melihatmu keluar dari rumah dan aku langsung mengikutimu kesini." lanjut Gibran menjelaskan.
Gita dan Gibran masih berdiri di parkiran.
"Kamu nguntit ya?" tanya Gita kali ini agak marah.
"Nggak... Aku cuma mau tau kamu kemana dan sama siapa." jawab Gibran jujur.
"Kenapa kamu mau tau aku kemana dan sama siapa?" tembak Gita membuat Gibran bingung menjawabnya.
Gibran terdiam, entah mengapa berat rasanya berkata kalau sebenarnya dia tidak suka jika ada lelaki lain yang bersama dengan Gita.
"Aku masuk dulu." kata Gita akhirnya setelah lama menunggu jawaban Gibran.
Gita bingung dengan sikap Gibran akhir-akhir ini. Gita merasa Gibran mulai mendekatinya dan bersikap seolah-olah sedang melakukan pendekatan kepadanya. Padahal Gita masih tetap dengan pendiriannya tidak ingin berpacaran dan Gibran tau itu. Bukannya Gita terlalu percaya diri jika Gibran benar-benar menyukainya, hanya saja dia sendiri tidak ingin terlalu larut dalam perasaan yang membuatnya bingung.
"Aku ikut." sahut Gibran dengan cepat.
"Kamu mau ngapain di dalam?" tanya Gita kepada Gibran heran.
"Kamu mau beli apa?" tanya Gibran balik.
"Aku? Mau beli sepatu." jawab Gita heran pertanyaannya bukannya dijawab malah ditanya balik oleh Gibran.
"Kalu gitu aku nemenin kamu." jawab Gibran.
"Aku sendiri aja juga nggak papa, kok." gumam Gita yang masih bisa didengar Gibran.
__ADS_1
"Jangan menghindar terus, Gita." sahut Gibran yang sekarang berdiri di hadapan Gita. Gibran menatapnya dengan serius. "Kamu nggak bisa menghindar dariku." kata Gibran dengan serius.
Gita balas menatap Gibran. Dia melihat mata sahabatnya itu menatapnya dengan tajam. Sebuah tatapan yang benar-benar belum pernah dilihatnya seperti itu sebelumnya.
Mereka berdua terdiam untuk sejenak. Gibran meraih tangan Gita dan membawanya ke dalam genggamannya. Gita tidak menolak genggaman tangan Gibran.
Jujur saja hatinya senang diperlakukan sedemikian rupa oleh Gibran. Hanya saja dia masih menyangkal perasaannya.
Demikian pula dengan Gibran, dia tidak mengerti mengapa tubuhnya selalu mengirimkan getaran yang aneh saat bersama dengan Gita. Dia tidak ingin merusak hubungannya dengan Gita yang sudah terjalin selama ini. Dia juga tau Gita tidak akan pernah mau jika dia meminta menjadikannya lebih dari sekedar sahabat, walaupun sebenarnya dia ingin sekali menjalin sebuah hubungan yang serius dengan Gita.
"Gibran..." Gita memberanikan diri berbicara. "Jangan seperti ini." kata Gita sedih. Gibran menatap Gita bingung dengan perkataannya.
"Maksudmu?" tanya Gibran heran.
Gita melirik ke arah tangannya yang sedang digenggam Gibran. Gibran langsung paham, tetapi menolak melepaskannya.
"Kamu nggak suka?" tanya Gibran lagi.
"Aku nggak mau kita jadi saling salah paham." jawab Gita lirih.
"Tapi kamu suka?" tanya Gibran tidak mengindahkan perkataan Gita.
"Aku... nggak tau. Cuma aneh aja kalau kita selalu seperti ini." jawab Gita juga bingung dengan perasaannya. Dia benar-benar menyukai perlakuan Gibran, tapi dia juga benar-benar tidak bisa terjebak terlalu dalam dengannya.
"Kamu suka atau nggak?" tanya Gibran menegaskan.
"Gibran..." sahut Gita bingung, dia sungguh tidak ingin menjawab pertanyaannya.
,
"Aku..." jawab Gita terbata-bata. "Ya... tapi..." lanjut Gita masih berhati-hati dengan jawabannya.
"Aku menyukaimu, Gita." sahut Gibran tiba-tiba membuat Gita tercengang. Gibran memberanikan diri menyatakan perasaannya. Hari ini, pagi ini, ketika mall baru saja di buka, di parkiran mall yang masih agak sepi, Gibran memberitahu Gita kalau dia menyukainya.
"Kenapa bisa?" tanya Gita yang entah mengapa pertanyaan macam itu terlontar dari mulutnya.
"Kamu tanya kenapa?" jawab Gibran heran atas pertanyaan Gita.
"Emmm... kamu nggak mungkin mendekatiku sama seperti kamu mendekati pacar-pacar kamu sebelumnya, kan?" tanya Gita lagi. Dia benar-benar tidak yakin atas pernyataan Gibran.
"Aku belum pernah merasa yang seperti ini, Git." jawab Gibran terlihat serius dengan perkataannya.
"Aku benar-benar bingung, Gibran." kata Gita tidak tau lagi harus berkata apa.
"Aku juga." sahut Gibran setuju. Gibran mengelus rambut Gita. "Aku cuma mau kamu tau. Itu saja." kata Gibran lagi melanjutkan.
Gita tersentak. Dia belum biasa menerima perlakuan-perlakuan seperti ini, apa lagi dari sahabatnya itu.
"Maafkan aku, Git. Mungkin kamu belum siap mendengar ini." kata Gibran memahami Gita. "Aku akan menunggumu kalau memang kamu perlu waktu." lanjut Gibran bersungguh-sungguh.
Gita terdiam. Dia benar-benar dibuat bingung sekarang.
"Ayo masuk. Kakiku sudah pegal dari tadi berdiri disini." ajak Gibran sambil bercanda, dia memecah lamunan Gita. Gita tertawa kecil mendengar ajakan Gibran.
__ADS_1
"Tuh kan, tadi kamu serius nggak sih? Sekarang malah bercanda." gumam Gita.
"Aku memang serius, Gita." sahut Gibran menegaskan. Dia menarik Gita berjalan masuk ke dalam mall.
Sesampainya mereka di dalam mall...
"Kamu mau beli sepatu? Buat apa? Sampai-sampai bela-belain ke mall pagi-pagi." tanya Gibran kepada Gita sesampainya di depan counter sepatu yang dituju Gita.
"Intan sama Kak Fajar besok nikah. Hak sepatuku yang rencana dipakai buat besok rusak. Jadi aku mau cari gantinya." jawab Gita.
"Apa? Kenapa kamu nggak memberitahu aku kalau besok Intan dan Kak Fajar nikah?" protes Gibran.
Gita benar-benar lupa memberitahu Gibran. Padahal Intan menyuruhnya untuk memberitahu Gibran dan datang bersamanya. Tetapi karena beberapa minggu ini dia menghindari Gibran, dia lupa untuk memgatakannya.
"Aku pikir kamu sibuk, lagi pula acaranya jauh di rumah Intan, jadi mana mungkin kamu mau ikut?" jawab Gita sambil melihat-lihat sepatu di etalase toko.
"Memangnya kamu kapan pergi kesana?" tanya Gibran menemani Gita yang sedang melihat-lihat.
"Rencananya siang nanti, supaya sampainya nggak kemalaman." jawab Gita sambil memilih sepatu wedges berwarna gold dan mengambilnya.
"Sama siapa?" tanya Gibran lagi.
"Sama Lala." jawab Gita singkat sambil memperhatikan sepatu yang ada di tangannya lalu mencoba di kakinya.
"Besok rencananya aku dan keluargaku akan menengok nenek dan kakekku di rumah mereka." kata Gibran memberitahu Gita.
"Oh..." sahut Gita singkat. Dia memanggil penjaga toko dan meminta ukuran yang sesuai untuknya. "Nomor 39, Mbak." kata Gita memberitahu Mbak-mbak penjaga toko.
"Kamu pergi sama Lala berdua?" tanya Gibran lagi ingin tau.
"Nggak... Kak Alvin bilang mau bareng juga." jawab Gita membuat Gibran tersentak.
"Apa?" seru Gibran terkejut. "Kalau gitu aku ikut." kata Gibran segera. Gibran tidak bisa membayangkan Gita pergi bersama Alvin. Apa lagi mereka akan menginap. Meskipun ada Lala yang akan ikut juga, tetapi pikirannya tidak bisa menerima kehadiran Alvin di dekat Gita.
"Bukannya tadi kamu bilang mau ke rumah nenek kakekmu?" tanya Gita heran.
"Nggak jadi. Aku ikut ke nikahan Intan dan Kak Fajar." jawab Gibran yakin.
Gita tertawa mendengar perkataan Gibran. Dia merasa lucu karena jelas sekali Gibran tidak suka mendengarnya akan pergi bersama Kak Alvin.
"Oke, kamu bisa naik motormu sendiri, kan?" tanya Gita tersenyum menggoda Gibran.
"Kenapa aku harus pergi sendiri?" tanya Gibran tidak suka.
"Memangnya kamu mau berangkat sama siapa?" tanya Gita masih menggoda Gibran.
"Sama kamu, lah." jawab Gibran segera.
Tidak lama penjaga toko membawakan sepatu yang diminta Gita. Gita langsung mencobanya dan menyukainya. Dia memutuskan membeli sepatu itu.
"Kami menginap sampai besok, kamu kan nggak bawa baju atau perlengkapan apa pun." kata Gita membuat Gibran cemberut karena kesal mendengar ledekan Gita.
Gita membayar sepatunya ke kasir. Sekarang tas belanja berisi sepatu tadi sudah ada di tangannya. "Ayo pulang." ajak Gita kepada Gibran setelah keluar dari toko.
__ADS_1
"Temani aku dulu." Gibran menarik tangan Gita dan membawanya ke toko pakaian pria. Gibran membeli sebuah kemeja putih, celana kain, dan dasi berwarna hitam, serta tidak lupa baju kaos dan celana pendek untuk baju gantinya.
'Dia benar-benar berniat ikut pergi.' batin Gita menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa melihat sikap Gibran yang masih kesal atas perkataan Gita yang akan pergi bersama Alvin.