Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 14 MATA MELATI


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Tiga minggu berlalu...


Gibran sibuk mengutak-atik handphone-nya. Dia sibuk memeriksa pesan, panggilan, bahkan semua media sosial yang dia miliki, facebook, instagram, namun tidak satu tempat pun dia dapat menemukan Gita.


Gita memang sedang menghindar dari Gibran, di kampus pun Gita tidak menyapa Gibran. Apalagi dua minggu terakhir mereka harus menghadapi ujian akhir semester, dan seminggu sebelumnya mereka libur karena 'minggu tenang'. Tentu saja Gibran tidak memiliki kesempatan untuk mengajak Gita mengobrol di kelas, karena mereka harus menyelesaikan ujian dengan khidmat dan Gita pun selalu menyelesaikan ujiannya lebih dulu dan pulang lebih cepat dari pada Gibran.


Gibran bingung mengapa Gita menjauhinya. Apa mungkin karena ciuman itu? Kalau memang benar, apa Gita tidak menyukainya sehingga sampai tidak mau menemuinya? Begitu pikir Gibran.


Hari ini Gibran memutuskan untuk menghubungi Gita kembali, tetapi sama seperti sebelum-sebelumnya, teleponnya tidak pernah dijawab, begitu pun Gita tidak pernah membalas pesannya.


Gibran mulai frustasi karena Gita tidak memberi penjelasan sedikit pun kepadanya. Dia memutuskan untuk mendatangi langsung Gita ke kosnya tanpa memberitahu terlebih dulu.


Sesampainya di kos Gita, Gibran langsung mengetuk pintu utama kos dan ternyata yang membukakan pintu adalah Melati.


"Eh, Gibran." sapa Melati ketika membukakan pintu. "Emmm... nyari Gita?" tanya Melati kepada Gibran.


"Iya, Mel. Gita ada di kamarnya?" tanya Gibran langsung.


"Loh, Gita nggak memberitahu kamu, ya? Dia pulang ke rumahnya siang tadi." jawab Melati heran.


"Oh, nggak, Mel." jawab Gibran agak kecewa.


Melati bisa melihat kekecewaan di raut wajah Gibran. Dia mencurigai ada sesuatu yang terjadi pada Gibran dan Gita. "Kalian kenapa?" tanya Melati memberanikan diri bertanya.


"Emmm... nggak papa, kok." jawab Gibran singkat. Dia tidak ingin Melati tau masalah antara dia dan Gita.


"Maaf, aku bukan bermaksud kepo, Gibran." kata Melati menjelaskan. Dia merasa tidak enak karena dianggap terlalu ingin tau.


Gibran tersenyum kepada Melati untuk menyatakan tidak apa-apa. "Aku pulang dulu, ya." kata Gibran masih tersenyum. Senyum yang menurut Melati sangat menawan. Gibran membalikan badannya untuk pergi, tetapi...


"Emmm... kita bisa ngobrol kalau kamu mau." kata Melati tiba-tiba menghentikan langkah Gibran. "Maksudku... ngobrol tentang Gita." lanjut Melati menahan Gibran pergi.


Gibran berbalik dan merasa penasaran, tidak mungkin dia menolak ajakan Melati, apa lagi ini menyangkut Gita. "Baiklah." jawab Gibran singkat kemudian berjalan ke arah sebuah gazebo dan duduk disana. Melati mengikutinya dan duduk di seberangnya.


"Gita siang tadi pulang ke rumah. Katanya ujiannya sudah selesai." kata Melati membuka pembicaraan.


"Iya, pagi tadi ujian terakhir. Tapi aku kira dia pulang besok. Biasanya dia membereskan semua barangnya dulu sebelum libur panjang seperti ini." sahut Gibran menyambut perkataan Melati.


"Kamu hafal banget ya kebiasan Gita." kata Melati menanggapi.

__ADS_1


Gibran tersenyum. Melati mulai menyadari betapa Gibran menyukai Gita. Tetapi di sisi lain dia juga mulai menyadari betapa mempesonanya senyum Gibran yang membuatnya tertarik untuk pertama kalinya pada seorang lelaki.


"Kamu lagi ada masalah sama Gita?" tanya Melati menyadarkan diri dari lamunannya sendiri, lamunan senyuman Gibran.


"Bukan masalah juga sih. Cuma ada kesalahpahaman, mungkin." jawab Gibran agak ragu-ragu. Dia pun sebenarnya juga bingung apa yamg sedang terjadi padanya dan Gita.


"Salah paham?" tanya Melati balik.


"Ya... sesuatu yang kamu lakukan tapi tidak seharusnya kamu lakukan yang mungkin membuat orang lain salah paham. Seperti itu kira-kira." jawab Gibran menjelaskan. Dia tidak mungkin mengatakan kepada Melati kalau dia sudah 'saling menghadiahi' dirinya sendiri dan juga Gita sebuah ciuman pertama.


"Emmm... aku nggak tau detailnya seperti apa. Tapi, aku cuma berharap kalian nggak membiarkan masalah kalian berlarut-larut. Kalian kan sudah berteman lama, paling nggak, jangan memendam masalah sendiri-sendiri. Kalian bisa ketemu, saling bicara dan bertanya perasaan masing-masing. Ya... supaya semuanya jelas." kata Melati menasehati panjang lebar.


Gibran terkejut mendengar perkataan Melati. 'Perasaan masing-masing?' batin Gibran sambil berpikir.


"Aku tau Gita bukan sekedar sahabat buatmu, dan kamu juga bukan sekedar sahabat untuk Gita." kata Melati melanjutkan.


Gibran menatap Melati dan berpikir, bagaimana bisa seseorang yang masih asing yang sedang duduk di hadapannya sekarang bisa menebak perasaannya dan menyadarkannya tentang perasaan yang dimilikinya. Dan juga, mata Melati seperti mengingatkannya pada seseorang, sesuatu yang entah dimana pernah dilihatnya, seperti tidak asing baginya.


"Kenapa?" tanya Melati malu-malu ditatap Gibran.


"Nggak papa. Aku cuma memikirkan kata-katamu." jawab Gibran berhenti memikirkan dimana dia pernah melihat mata seperti itu. Dia merasa Melati sebenarnya sosok yang ramah dan mudah berteman dengannya, padahal sebelumnya dia mengira Melati adalah penyendiri yang susah berteman dengan orang lain.


"Aku terlalu banyak ngomong ya?" tanya Melati sambil tersipu. Melati menyentuh gagang kacamatanya dan membenarkannya.


"Aku memang nggak terlalu suka bergaul. Baru kali ini aku ngobrol panjang lebar sama teman yang bukan perempuan. Hehe..." kata Melati sedikit tertawa sambil membenarkan gagang kacamatanya lagi.


Gibran tersenyum melihat tingkah Melati yang sangat polos. Dia menyadari kalau perempuan di depannya itu sedang malu dan salah tingkah. Gibran pun tidak ingin terlalu lama membuat Melati merasa demikian, karena yang terpenting baginya, dia masih harus memikirkan cara untuk menemui Gita.


"Aku pulang dulu ya." kata Gibran pamit kepada Melati.


Melati agak kecewa karena dia ingin lebih lama bertemu dan berbicara dengan Gibran. "Baiklah, hati-hati." kata Melati sesaat setelah Gibran beranjak dari kursinya dan bergegas mengambil motornya untuk pulang.


"Terimakasih atas sarannya." kata Gibran sambil menyalakan mesin motor.


Melati mengangguk dan tersenyum pada Gibran. Di dalam hatinya dia berandai-andai, jika saja dia lebih dulu bertemu dengan Gibran dan berteman dengannya, tentu dia akan sangat bahagia bersamanya.


Di rumah Gita...


Gita beristirahat di kamarnya karena baru saja sampai di rumahnya. Dia mendapat pesan dari Intan yang sekarang sedang menuju kota asalnya. Dia pergi bersama Fajar untuk mempersiapkan pernikahan mereka.


Intan sudah sehat dan bisa mengikuti ujian akhir semester. Sementara Fajar sekarang sedang sibuk dengan skripsinya dan bertekad untuk cepat menyelesaikan kuliahnya.

__ADS_1


Intan dan Fajar sudah menemui kedua orang tua mereka masing-masing. Mereka sudah menjelaskan keadaannya dan siap untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang telah mereka lakukan.


Orang tua mereka juga sudah saling bertemu dan akhirnya memutuskan untuk mempercepat acara pernikahan dan melaksanakannya di kota kediaman Intan dan keluarga.


Gita tentu saja sangat senang mendengar kabar itu. Dia dan Lala juga sudah menyiapkan gaun untuk pesta pernikahan Intan dan Fajar yang rencananya diadakan akhir minggu ini.


Gita juga masih memikirkan perasaannya terhadap Gibran. Dia menyadari kalau beberapa saat ini Gibran mungkin akan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dan apa yang menyebabkannya seperti menjauhi Gibran.


Tiba-tiba handphone Gita berbunyi menyadarkan lamunannya tentang Gibran.


"Halo..." Gita menjawab teleponnya.


"Halo, Git." jawab suara di seberang sana yang ternyata adalah Alvin.


"Oh... iya ada apa, Kak?" tanya Gita kepada Alvin.


"Kamu sudah di rumah?" tanya Alvin.


"Iya, Kak. Baru aja sampai rumah." jawab Gita.


"Emmm... kamu ke acara nikahannya Fajar dan Intan kan Sabtu nanti?" tanya Alvin lagi.


"Emmm... iya, Kak. Aku sudah janjian sama Lala. Kita berangkat hari Jumat ini." jawab Gita memberitahu.


"Kalian nginap?" tanya Alvin lagi.


"Iya, Kak. Rencana nginap semalam di hotel dekat acaranya aja." jawab Gita lagi.


"Kita bareng yuk." ajak Alvin bersemangat.


"Emmm..." Gita berpikir sejenak. "Boleh aja, sih." jawab Gita kemudian membuat Alvin tersenyum di seberang sana.


"Oke, kamu tenang aja. Aku bisa nyetir, kok." kata Alvin tambah bersemangat. Sementara Gita memutar bola matanya dan merasa tidak tertarik.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu, ya." kata Alvin mempersilahkan Gita beristirahat.


"Iya, Kak. Terimakasih." jawab Gita berterimakasih.


"Oke, sampai ketemu Jumat nanti." sahut Alvin dan menutup teleponnya.


Gita membiarkan Alvin ikut bersama-sama dengannya dan Lala ke pesta pernikahan Intan dan Fajar. Pikirnya tidak masalah jika Alvin ingin bergabung karena Alvin pasti tidak mempunyai teman untuk berangkat bersama.

__ADS_1


Intan dan Fajar memang tidak banyak mengundang tamu, hanya keluarga dan sahabat dekat yang akan hadir disana. Lagi pula dia bisa bergantian menyetir dengan Alvin.


Jarak antara rumahnya dan tempat tinggal Intan memang agak jauh. Itu membutuhkan kurang lebih empat jam perjalanan lewat darat. Dengan demikian Gita bisa beristirahat dan tidak terlalu lelah menyetir.


__ADS_2