
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
Gita melihat-lihat di sekelilingnya, lumayan banyak juga orang yang berkunjung ke tempat yang sedang didatanginya bersama Gibran itu. Pengunjungnya kebanyakan anak-anak muda seperti mereka.
"Ayo kita foto dulu di bawah pohon lampu itu." ajak Gita kepada Gibran bersemangat. Gita mengeluarkan ponselnya dan Gibran menurutinya.
cekrek...
"Ayo kita ke atas." lanjutnya mengajak Gita berjalan.
Gita belum pernah kesini sebelumnya. Tempat ini tidak terlalu besar, namun udaranya sangat sejuk ditambah semilir angin malam yang membuat Gita semakin kedinginan.
Gibran paham keadaan Gita dan memberikannya jaket kulit yang sedang dipakainya. Gibran langsung memakaikan jaket itu ke pundak Gita, sementara dia sendiri kini hanya memakai kaos berlengan panjang dan anehnya, dia sama sekali tidak merasa kedinginan atau keberatan jaketnya diberikannya pada Gita.
Di depan tempat Gita dan Gibran sedang berdiri, ada semacam bukit kecil dengan anak-anak tangga yang tersusun rapi untuk sampai ke atas bukit. Beberapa orang sedang menapaki anak tangga itu dan menuju ke atas.
"Ada apa disini?" tanya Gita kepada Gibran bingung.
"Ayo naik." ajak Gibran menggenggam tangan Gita dan mengajaknya untuk menaiki anak-anak tangga itu.
"Kamu pernah kesini?" tanya Gita sambil menaiki tangga dengan Gibran.
"Pernah." jawab Gibran singkat.
"Sama siapa? Kok nggak pernah cerita?" tanya Gita lagi penasaran karena selama ini Gibran selalu bercerita apa pun kepadanya.
"Sama pacarku." jawab Gibran bercanda. Wajah Gita langsung merengut mendengarnya. "Hahaha... Nggak, Git. Aku bercanda, kok." lanjut Gibran lagi tertawa melihat ekspresi Gita.
"Jadi sama siapa?" tanya Gita lagi masih penasaran. Dia benar-benar kesal membayangkan Gibran pernah ke tempat itu dengan seorang perempuan selain dirinya.
"Dulu waktu masih SMA, aku pernah tanding basket sampai ke kota ini. Dan Andra yang mengajakku dan teman-teman lainnya kesini." kata Gibran memberitahu.
"Andra?" tanya Gita lagi. "Kamu benar-benar dekat sama dia, ya? Sekarang kenapa nggak sahabatan lagi sih? Aku masih penasaran masalah apa yang menyebabkan kalian sampai menjauh begini?" selidik Gita penasaran. Gibran memang selalu menceritakan apa pun kepadanya, terkecuali masalah yang satu ini.
"Nanti aku ceritakan kalau ada waktu." jawab Gibran kurang tertarik.
"Sekarang kita ada waktu." desak Gita.
"Sekarang bukan waktunya." jawab Gibran lagi. Dia tidak ingin membicarakan tentang Andra saat sedang berdua dengan Gita di suasana yang indah seperti sekarang.
"Memangnya sekarang waktunya apa?" tanya Gita heran.
"Sekarang waktunya aku sama kamu." Jawab Gibran menggoda Gita membuat wajahnya memerah. Mereka berdua berhenti karena sudah sampai di atas.
"Wow... Aku belum pernah lihat yang seperti ini...!" seru Gita takjub saat tiba di atas bukit dan segera melihat ke atas langit malam yang indah. Dia bisa melihat bulan dengan jelas dan tentu saja bintang-bintang bertaburan di atas sana.
Gibran tersenyum melihat wajah Gita yang mempesona. Wajahnya seakan bersinar di tengah kegelapan malam. Dia sangat menyukainya.
__ADS_1
"Kamu harus lihat yang nggak kalah indah disana." kata Gibran menunjuk ke arah tepian dan masih menggenggam erat tangan Gita, membawanya menuju tempat yang ditunjuknya.
Gita melihat hamparan pemandangan kota yang ada di bawah sana dari atas bukit tempatnya dan Gibran berdiri. Lampu-lampu kota berkerlap-kerlip seakan-akan membentuk gugusan bintang di bawah sana.
"Ini indah banget." kata Gita bersungguh-sungguh.
"Kamu suka?" tanya Gibran tersenyum memandang wajah Gita yang berseri-seri.
"Tentu. Aku belum pernah lihat yang seperti ini." jawab Gita dengan senang.
Gibran masih menggenggam tangan Gita. Dia tidak ingin melepaskan genggaman tangannya bahkan sedetik pun.
Gibran menengok ke sekelilingnya. Dia menemukan ilalang yang tumbuh tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tiba-tiba ada sebuah ide yang terlintas di pikirannya.
"Emmm... Sebentar ya." kata Gibran melepaskan genggaman tangan Gita dan berjalan beberapa langkah menuju ilalang tadi dan memetiknya sehelai saja.
Gibran langsung membuat lingkaran dari ilalang itu. Dia membuatkan cincin dari ilalang untuk Gita.
Gita mengernyitkan dahinya melihat apa yang sedang dilakukan Gibran. Dia penasaran apa yang sedang dibuat oleh Gibran.
Gibran kembali berjalan ke arah Gita dan mengambil tangan Gita lagi.
"Ini..." kata Gibran memakaikan cincin dari ilalang itu di jari manis Gita.
Gita tersenyum dan tersipu malu. Dia belum pernah diperlakukan lelaki mana pun semanis dan seromantis ini.
Gita sungguh tidak tau harus berbuat apa dan mengatakan apa. Dia berada di persimpangan antara hatinya dan egonya. Dia tidak mungkin melanggar prinsipnya yang tidak mau berpacaran dan berhubungan dengan lelaki sebelum menikah, tetapi dia juga tidak bisa mengalahkan hati dan perasaannya yang juga sangat menginginkan Gibran lebih dari yang dia kira.
"Aku sebenarnya mau kamu jadi pacarku." kata Gibran lagi, sementara Gita masih terdiam memandangi mata Gibran di hadapannya. "Tapi aku tau kamu nggak akan bisa." lanjut Gibran lagi dengan nada lirih.
"Gibran... Aku..." Gita masih tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu bingung.
"Aku akan nunggu kamu, Git." sela Gibran kemudian.
"Emmm... Aku..." kata Gita berpikir. "Aku juga sayang kamu, Gibran." akhirnya Gita mengakui. "Tapi... Aku nggak tau kita harus berhubungan yang seperti apa." lanjut Gita bingung.
"Kamu bilang sayang tapi nggak mau kita pacaran?" tanya Gibran juga bingung.
"Ya... Aku benar-benar bingung sekarang." jawab Gita lagi.
Gibran berusaha sabar menghadapi pemikiran Gita. Dia sangat mengenal pikiran sahabatnya itu. Dia sudah mengira sebelumnya akan sangat sulit melunakkan hati Gita dan membuatnya menggoyahkan pendiriannya.
"Jadi kamu maunya apa, Git?" tanya Gibran lagi-lagi bingung.
Gita memandang ke arah lain dan berpaling dari wajah Gibran. Dia sama sekali tidak bisa memberikan jawaban apa pun sekarang.
"Kamu mau hubungan tanpa status?" tembak Gibran membuat Gita terkejut.
__ADS_1
"Apa?" tanya Gita balik.
"Apa namanya kalau kita sama-sama sayang tapi kita nggak pacaran?" tanya Gibran lagi dengan agak kesal.
"Apa menurutmu hubungan itu hanya sebatas pacaran?" tanya Gita balik menuding Gibran.
"Apa salahnya pacaran?" tanya Gibran lagi mulai terbawa emosinya.
"Apa salahnya nggak mau pacaran dan hanya ingin menikah?" kata Gita lagi dengan kesal tanpa menyadari perkataannya. Dia menepuk dahinya dan baru menyadari kalau dia sudah mengatakan kata 'menikah' di hadapan Gibran.
"Kita masih muda, Git." kata Gibran sudah mulai tenang. Seketika dia meredakan emosinya.
"Aku nggak bilang mau nikah sekarang." sahut Gita juga tenang. "Aku cuma perlu waktu." lanjutnya lagi.
"Berapa lama aku harus nunggu kamu? Apa kita benar-benar harus menikah dulu baru kamu mau berhubungan denganku?" tanya Gibran lagi. Suaranya mulai terdengar lirih dan putus asa. Dia seperti Gibran yang belum pernah Gita kenal.
"Ini nggak akan pernah berhasil, Gibran. Kita benar-benar punya pemikiran yang berbeda." kata Gita mengambil duduk di atas rumput sambil memeluk lututnya.
Gibran mengikuti Gita duduk di sebelahnya dan juga memeluk lututnya. "Kita benar-benar beda, Git." kata Gibran menyetujui perkataan Gita.
Gibran tertawa kecil sambil melemparkan batu kecil ke depannya. Gita memandangi cincin dari ilalang di jari manisnya yang dibuatkan Gibran untuknya. Dia mengangkat sudut bibirnya.
"Kita sudahi dulu pembicaraan ini." kata Gibran menyudahi. "Dan... Tentang taruhan kita waktu itu, aku kalah." lanjut Gibran mengakui kekalahannya.
"Siapa bilang kamu kalah? Kan kamu belum punya pacar?" tanya Gita heran.
"Aku anggap aku kalah karena nggak bisa bertahan dan jatuh cinta sama kamu. Anggap itu penyebab kekalahanku." kata Gibran sambil tertawa kecil.
"Baiklah.. kamu kalah." sahut Gita tidak ingin berdebat lagi.
"Kamu mau permintaan apa?" tanya Gibran bersungguh-sungguh.
"Emmm... Aku bahkan belum memikirkannya." jawab Gita mengangkat kedua alisnya.
"Baiklah, kalau kamu sudah tau nanti segera beritau aku." kata Gibran lagi serius.
"Kamu harus benar-benar menepatinya." kata Gita lagi bersungguh-sungguh.
"Pasti." jawab Gibran singkat.
"Cincin ini bagus." kata Gita mengalihkan pembicaraan sambil memandangi cincin barunya. "Terimakasih, Gibran." lanjut Gita berterimakasih. Dia benar-benar menyukai cincin itu, bukan karena bentuk cincin yang sebenarnya, tetapi karena Gibran yang sudah membuatkan untuknya.
"Sama-sama." jawab Gibran sambil mengacak rambut Gita dan merangkulnya.
Gita merasa tenang, untuk sesaat dia melupakan perbedaannya dengan Gibran. Mereka merasa benar-benar harus menemukan jalan keluar perbedaan ini sebelum semuanya terlambat.
Setelah beberapa saat, Gibran dan Gita segera kembali ke hotel. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 saat mereka sampai di kamar masing-masing dan mereka pun segera tertidur.
__ADS_1