Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 30 MENYERAH?


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Gibran kembali ke kampusnya pagi ini. Perkuliahan sudah kembali dimulai. Gibran pagi ini sibuk mengurus surat menyurat untuk keperluan magangnya. Dia berencana menerima tawaran papa Gita untuk magang di perusahaannya.


Gibran dan Gita tidak saling menghubungi sejak terakhir mereka bertemu di kost Gita. Gibran merasa perlu waktu agar bisa berpikir dengan jernih, begitu pula dengan Gita.


Gibran masih sibuk di bagian program studi kampus, tanpa disadarinya Alvin yang juga sedang berada di ruangan itu memperhatikannya dengan tajam.


"Gimana hubunganmu dengan Gita?" tanya Alvin tiba-tiba menghampiri Gibran dan mengajaknya berbicara.


Gibran langsung berhenti membereskan berkas-berkasnya dan berpaling kepada Alvin yang berdiri di sampingnya. "Baik." jawab Gibran singkat.


"Kalian sudah pacaran?" tanya Alvin sekali lagi.


"Apa penting untukmu mengetahuinya?" tanya balik Gibran. Dia benar-benar tidak suka Alvin selalu ingin tau status hubungannya dengan Gita.


"Tentu saja penting, kalau kamu nggak ada hubungan apapun dengan Gita, berarti nggak masalah kan kalo aku mendekatinya?" tanya Alvin.


Gibran mendengus kesal mendengar Alvin ingin mendekati Gita. "Kalau pun kamu mendekatinya, dia nggak akan mau." jawab Gibran yakin.


"Hahaha...! Kita lihat saja nanti." tantang Alvin dengan percaya diri. "Jangan lupa aku sebentar lagi lulus kuliah dan bekerja, Gita pasti akan memilih yang benar-benar mapan dan tentunya lebih bertanggung jawab." lanjut Alvin masih dengan kepercayaan dirinya.


Gibran menatap tajam Alvin. Rasanya dia ingin sekali meninju muka Alvin dengan tangannya. Tapi mengingat mereka tengah berada di kampus, Gibran mengurungkan niatnya. Gibran membawa berkas-berkasnya dan menjauh meninggalkan Alvin yang masih tersenyum-senyum sendiri.


Gibran belum melihat Gita hari ini di kampus. Harusnya Gita juga sibuk menyiapkan berkas untuk praktek kerja hari ini. Gibran menuju kantin dan menemukan Intan dan Lala yang sedang duduk berdua di kantin.


"Hai..." sapa Gibran kepada Intan dan Lala. Gibran mengambil duduk di seberang mereka.


"Hai Gibran..." sapa Lala balik.


"Ada apa?" tanya Intan dengan cepat. Dia bingung mengapa Gibran mendatangi mereka tanpa Gita disampingnya.


"Emmm... Gita mana?" tanya Gibran agak ragu-ragu.


"Bukannya biasanya sama kamu?" tanya balik Intan.


"Emmm... Hari ini nggak." jawab Gibran.


"Aku belum ada lihat sih dari tadi pagi." kata Lala. "Aku pikir dia sama kamu. Kalian kan kayak lem, nempel terus. Hahaha..." lanjut Lala meledek Gibran. Gibran tersenyum mendengar ledekan Lala.

__ADS_1


"Kalian ada masalah?" tanya Intan seketika menembak.


"Nggak ada." jawab Gibran singkat. "Oh iya, kalian praktek kerja dimana?" tanya Gibran lagi kepada Intan dan Lala untuk mengalihkan pembicaraan.


"Kalau aku di site pembangunan gedung olahraga di dekat kampus aja, soalnya susah kalau lagi hamil gini terus harus jauh bolak balik." jawab Intan.


"Kalau kamu, La?" tanya Gibran kepada Lala.


"Kayaknya sih di kantor pemerintahan. Aku sama Gita sudah janjian bakal barengan." jawab Lala.


"Apa? Dimana?" tanya Gibran lagi.


"Kamu nggak tau? Di kantor pemerintahan dekat rumahku. Kebetulan kantornya juga nggak terlalu jauh dari rumah Gita." jawab Lala.


Gibran tidak mengetahui rencana Gita. Mereka terlalu sibuk berdebat mengenai hubungan mereka sampai-sampai tidak membicarakan hal yang lain lagi.


"Eh itu dia Gita." kata Lala sambil menunjuk ke belakang Gibran. Kemudian Lala langsung memanggilnya, "Gita...!" teriak Lala. Gibran terdiam dan tidak berpaling sedikit pun.


Gita mendengar panggilan Lala dan menoleh ke arahnya. Dia berjalan mendekatinya dan tidak melihat Gibran yang membelakanginya. Sesampainya di dekat meja, Gita baru menyadari kehadiram Gibran. Dia segera duduk di kursi kosong di sebelah Gibran karena tidak ada pilihan lain.


Gibran dan Gita masih sama-sama diam sejak Gita datang tadi. Intan dan Lala yang melihat mereka berdua terdiam seakan-akan tau ada yang tidak beres dan sesuatu pasti telah terjadi.


"Kamu dicari Gibran tadi, Git." kata Intan membuka pembicaraan.


"Kalian berdua tiba-tiba sariawan ya? Dari tadi diem-dieman kayak gitu?" sindir Lala sambil tertawa kecil.


"Mereka lagi sakit gigi mungkin. Hihihi..." sindir Intan juga ikut terkikik.


Gibran tersenyum mendengar ledekan Intan dan Lala, sementara Gita masih terdiam.


"Aku duluan ya." kata Gibran tiba-tiba berpamitan membuat mereka semua terkejut, lebih-lebih Gita.


Gibran beranjak dari kursinya tanpa melihat Gita sedikit pun. Entah mengapa dia tidak ingin berbicara dengan Gita sementara waktu karena tidak ingin berdebat lagi dengannya.


Gita merasa sedih Gibran seperti menganggapnya tidak ada. Dia benar-benar kecewa atas sikap Gibran yang tiba-tiba cuek dan dingin kepadanya. 'Apa dia sudah benar-benar menyerah dan nggak mau memperjuangkanku lagi?' batin Gita di dalam hati membuat keningnya berkerut memikirkannya.


Intan dan Lala menatap Gita dengan heran.


"Jadi... Ada apa lagi nih?" tanya Intan kepada Gita yang masih diam. Gita tidak menjawab pertanyaan Intan. Dia sepertinya larut dalam pikirannya.

__ADS_1


"Gita...!" panggil Lala setengah berteriak membuat Gita tersadar dari lamunannya.


"Iya?" sahut Gita segera.


"Ada apa lagi? Kamu sama Gibran?" tanya Intan dengan gemasnya.


"Nggak ada apa-apa kok." jawab Gita pelan.


"Kamu dari mana tadi? Kok jam segini baru datang ke kampus? Kamu sudah ngurus berkas buat magang belum?" cecar Lala dengan berbagai pertanyaannya kepada Gita.


"Aku... aku tadi bangun kesiangan." jawab Gita. Dia memang benar-benar bangun kesiangan hari ini. Tadi malam Gita tidak bisa tidur karena terlalu memikirkan masalahnya dengan Gibran.


"Tumben, biasanya kamu on time. Kamu kan selalu teratur." sahut Intan. "Kamu ada masalah?" tanya Intan lagi masih penasaran dengan Gita.


"Nggak kok, Ntan. Aku cuma kecapek-an kemarin." jawab Gita mencari-cari alasan. "Oh iya, aku ke prodi dulu ya." kata Gita melanjutkan.


Gita langsung pergi dari hadapan Intan dan Lala. Dia berjalan menuju prodi dan sesampainya disana dia langsung mengurus kelengkapan berkasnya. Tidak lama kemudian dia sudah selesai mengurusnya dan membereskan berkas-berkasnya.


"Halo, Git." sapa Alvin saat Gita sudah bersiap.


"Iya, Kak?" sahut Gita yang masih duduk di bangku depan prodi.


"Ngurus praktek kerja ya?" tanya Alvin kemudian.


"Iya, Kak. Sudah selesai kok." jawab Gita.


"Habis ini kamu mau kemana?" tanya Alvin lagi.


"Emmm..." Gita mulai berpikir. "Nggak ada jadwal kuliah sih, paling mau pulang aja." jawab Gita.


"Kita keluar sebentar yuk, kita makan di luar. Hari ini aku lagi ulang tahun." ajak Alvin kepada Gita.


"Serius Kak Alvin hari ini ulang tahun? Wah, selamat ya, Kak." kata Gita mengucapkan selamat.


"Hehe... Iya nih. Aku traktir kamu, ya?" ajak Alvin lagi.


Gita menimbang-nimbang apakah harus menerima ajakan Alvin atau tidak. Pikirnya, dia sudah sering menolak ajakan Alvin. Tapi jika Gibran melihatnya bersama Alvin pasti dia akan marah. 'Ah, Gibran kan nggak peduli lagi sama aku.' batin Gita dalam hati. Lagi pula hari ini hari ulang tahun Alvin, bagaimana kalau kali ini saja dia menyenangkan Alvin dengan memberinya hadiah kecil berupa menerima ajakannya?


"Baiklah..." kata Gita akhirnya menerima ajakan Alvin.

__ADS_1


Alvin tersenyum sumringah mendengar jawaban Gita. Akhirnya usahanya tidak sia-sia. Alvin segera mengajak Gita pergi ke parkiran motor dan mengajaknya pergi.


Sementara itu, dari kejauhan terlihat seseorang yang sedang memperhatikan Gita dan Alvin. Gibran menggenggam kertas kosong yang ada di tangannya dan mengepalnya. Dia merasa sangat kesal dengan apa yang baru saja dilihatnya di depan matanya.


__ADS_2