Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 33 TAK-TIK LALA


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


"Brakkk...!" tiba-tiba Gita yang masih berdiri bertatapan dengan Gibran ditabrak seorang anak laki-laki yang sedang berlari-lari di dalam restoran itu. Minuman yang dibawa anak itu terjatuh dan tumpah mengenai rok panjang yang dikenakan Gita.


Gibran segera beranjak dari duduknya untuk menghampiri Gita dan memberikannya beberapa tisu makan yang tersedia di atas meja untuk mengelap roknya yang basah terkena tumpahan minuman.


"Kamu nggak papa?" tanya Gibran kepada Gita.


"Ng... nggak..." jawab Gita terbata-bata sambil menerima tisu dari Gibran dan mengelap roknya.


"Yah, minumanku tumpah semua...! Hiks..." anak kecil yang berusia sekitar 7 tahunan itu cemberut dan akhirnya menangisi minumannya yang tumpah.


"Aldo, kamu disini rupanya. Mama cari-cari kamu dari tadi!" seru seorang wanita yang menghampiri anak kecil itu dan ternyata adalah ibunya.


"Minumanku tumpah semua, Ma. Ditabrak kakak ini! Huhuhu..." kata anak kecil itu sambil menangis mengadu ke ibunya.


"Kamu pasti lari-lari lagi, kan. Sudah mama bilang jangan lari-lari! Sambil bawa minuman lagi!" kata ibu itu memarahi anaknya.


Gibran dan Gita masih berdiri sambil terdiam melihat perdebatan anak dan ibunya itu.


"Aku ganti minumannya ya, anak manis." kata Gibran menawarkan minuman baru ke anak itu.


"Nggak usah, Mas. Nggak papa kok. Justru kami yang minta maaf karena membuat baju Mbak-nya basah." jawab ibu dari anak itu dengan bijak.


"Nggak papa, Bu. Ayo kita beli lagi." ajak Gibran kepada anak kecil itu.


"Duh, jadi ngerepotin, Mas. Nggak usah." kata ibu itu lagi merasa tidak enak.


"Nggak papa, Bu. Ayo..." ajak Gibran lagi. Anak kecil itu berhenti menangis dan tersenyum pada Gibran.


"Terimakasih ya, Mas." kata ibu itu berterimakasih dan akhirnya membiarkan Gibran mengantri bersama anaknya.


"Git, aku minta tolong kamu jagain tas sama makananku sebentar, duduk aja disitu." kata Gibran meminta tolong kepada Gita sebelum menuju ke deretan antrian. Gita mengangguk dan segera duduk di sebelah kursi Gibran.


Tidak lama kemudian Lala datang membawakan pesanan untuknya dan Gita. "Kalau nggak salah, kayaknya tadi aku lihat Gibran deh di antrian." kata Lala sesaat setelah duduk di seberang Gita.


"Terimakasih, La." kata Gita sambil mengambil makanannya. Dia berterimakasih kepada Lala karena sudah mengantri, tetapi tidak merespon pernyataan Lala soal Gibran.


"Loh, ini tas siapa? Piring siapa juga ini?" tanya Lala heran karena ternyata meja yang menjadi tempat makannya dan Gita sudah terlebih dahulu diisi orang.


"Punya Gibran." jawab Gita singkat.


"Apa?" seru Lala terkejut. "Jadi yang aku lihat tadi itu beneran Gibran? Kamu sudah baikan sama dia?" tanya Lala melanjutkan.


Gita menghela nafasnya. "Aku juga nggak sengaja ketemu dia, La. Tadi waktu kamu ngantri, aku nyari-nyari tempat duduk yang kosong dan nggak sengaja ketemu dia. Terus ada anak kecil yang nabrak aku dan minumannya tumpah ke bajuku. Terus Gibran ngajak anak kecil itu beli minuman yang baru karena anak kecil itu nangis minumannya tumpah. Jadinya dia ngantri lagi deh bareng anak itu. Dan dia minta aku duduk disini buat jagain tas dia. Lagian semua meja sudah pada penuh juga." kata Gita menjelaskan panjang lebar.


"Oh gitu..." sahut Lala. "Baik juga si Gibran." kata Lala memuji Gibran.


Gita tersenyum mendengar ucapan Lala. Dia melirik ke arah Gibran dan anak kecil yang sedang mengantri itu. Kini tiba giliran mereka memesan minuman. Gita melihat wajah sumringah anak kecil itu sangat bersemangat karena ditemani dan ditraktir minuman oleh Gibran.


"Kamu yakin nggak mau nikah sama dia?" ledek Lala membuat Gita salah tingkah.

__ADS_1


"Lala...!" tegur Gita. Dia memang sudah menceritakan semuanya kepada Lala. Dan yang paling membuat Gita kesal, Lala selalu menyalahkannya betapa ribetnya pikirannya dan selalu mendukung Gibran. Dia sepertinya ada di pihak Gibran sekarang.


Lala menertawakan Gita yang salah tingkah. Menurutnya, sahabatnya itu memang tidak bisa jauh dari Gibran. Seperti magnet, walaupun saling bertolak belakang, tapi bagaimana pun mereka berjauhan, pada akhirnya akan selalu berdekatan satu sama lain.


Gibran selesai menemani anak kecil tadi membeli minuman dan sekarang telah kembali ke tempat duduknya. Dia duduk di sebelah Gita. Gita menunduk untuk fokus pada makanannya, sementara Gibran juga kembali melanjutkan makannya.


Lala yang melihat mereka berdua tidak saling bertegur sapa kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, 'Bagaimana mungkin mereka tiba-tiba seperti orang yang belum saling mengenal?' batin Lala menggerutu di dalam hati.


"Gibran, gimana magangmu?" tanya Lala akhirnya membuka pembicaraan.


"Alhamdulillah lancar." jawab Gibran. "Kalian gimana?" tanya balik Gibran kepada Lala dan Gita.


"Lancar juga, kok. Aku sama Gita ditempatkan di bidang yang berbeda, tapi kami masih bisa istirahat bareng kayak sekarang ini." jawab Lala antusias. Gita masih diam dan fokus menyantap makanannya.


"Syukurlah kalau kalian betah." sahut Gibran tersenyum kepada Lala.


"Oh iya, kamu sendiri betah nggak kerja sama calon mertua?" tanya Lala sambil bercanda.


"Uhuk... uhuk..." Gita tersedak mendengar pertanyaan Lala. 'Lala...!' teriak Gita dalam hati. Ingin rasanya dia menghampiri dan membekap mulut Lala sekarang juga.


Gibran segera menyodorkan minuman untuk Gita dan menepuk-nepuk punggung Gita. Lala tersenyum melihat gelagat kedua temannya itu.


"Kamu nggak papa?" tanya Gibran agak cemas kepada Gita.


"Uhuk... nggak..." jawab Gita segera sambil menyedot kembali minumannya.


"Pelan-pelan makannya, Git." kata Gibran perhatian.


Wajah Gita memerah karena perlakuan Gibran. Jujur saja, dia sangat merindukan Gibran di dekatnya.


"Nggak... nggak sama sekali." jawab Gibran tersenyum.


Gita sudah mengira kalau Gibran akan betah bekerja di kantor papanya. Setiap hari papa Gita selalu menceritakan bagaimana perkembangan Gibran selama bekerja. Beliau juga sering memuji sikap Gibran yang baik, sopan, dan selalu menyenangkan, bukan hanya kepada papanya melainkan juga kepada pegawai lainnya.


Gibran, Gita, dan Lala sudah menyelesaikan makannya masing-masing. Gita tidak begitu banyak berbicara, sementara Gibran dan Lala asyik membahas tentang pekerjaan mereka masing-masing.


Lala kemudian mengambil ponselnya. "Git, kayaknya aku harus jemput Kak Alya dulu deh baru balik ke kantor. Ini dia whatsapp aku minta jemput." kata Lala memberitau Gita.


"Yah, terus aku gimana dong balik ke kantornya?" tanya Gita. Gita memang berboncengan naik motor Lala saat pergi ke tempat makan tadi.


"Gibran, aku minta tolong kamu anterin Gita, ya?" tanya Lala meminta tolong kepada Gibran.


Gita terkejut dan membelalakan matanya menatap Lala. 'Apa-apaan si Lala...!' batin Gita menggerutu di dalam hati.


"Iya, boleh." jawab Gibran tersenyum.


"Kalau gitu aku pergi duluan ya." kata Lala berpamitan.


"Hati-hati, La." jawab Gibran. Sementara Gita hanya mengangguk pasrah.


Suasana kemudian hening sejenak setelah Lala pergi. Gibran memainkan ponselnya, sementara Gita masih asyik memainkan sedotan di minumannya yang sudah habis.

__ADS_1


Gibran menyimpan ponselnya ke saku celananya dan mulai berbicara. "Gimana kamu sama Kak Alvin?" tembak Gibran menanyakan hubungan Gita dan Alvin.


Gita terkejut mendengar pertanyaan Gibran. "Gimana apanya? Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia." jawab Gita ketus.


"Aku kira kamu sekarang beralih padanya, bukannya dia seperti yang kamu cari? Dia siap menikahimu setelah lulus beberapa bulan lagi." kata Gibran menyinggung Gita dengan dingin.


"Kamu pikir menikah itu gampang? Aku nggak mungkin nikah sama orang yang nggak aku cintai sama sekali." jawab Gita masih ketus.


"Jadi siapa yang kamu cintai?" tanya Gibran.


"Ka..." Gita refleks ingin menjawab 'kamu' tapi tiba-tiba dia berhenti dan menutup mulutnya dengan tangannya.


Gibran tertawa melihat tingkah Gita. 'Dia sangat lucu, tidak pernah berubah.' pikir Gibran. Gibran juga lega sekaligus senang ternyata Gita tidak benar-benar memberikan kesempatan kepada Alvin untuk mendekatinya.


"Jadi kita ke kantor sekarang? Sudah jam 1 siang nih." kata Gibran melihat ke arah jam tangannya.


"Iya." jawab Gita singkat. Dia sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan Gibran, tetapi dia juga harus ingat dengan pekerjaannya.


Gibran dan Gita berjalan menuju parkiran motor. Helm Gita sudah berada di atas motor Gibran, rupanya Lala sudah memindahkan helmnya kesana.


Gibran menyalakan motornya dan memberikan helm kepada Gita. "Ayo...!" ajak Gibran kepada Gita untuk naik ke motornya.


Gita segera menuruti dan duduk di belakang Gibran. Gibran menarik kedua tangan Gita untuk memeluknya dari belakang. "Pegangan, nanti jatuh." kata Gibran sambil tersenyum penuh kemenangan. Dia juga merasa sangat merindukan Gita.


Gita terkejut tetapi tidak menolak. Dia tersenyum malu-malu di balik helmnya. Gibran membawa motornya melaju ke kantor Gita dan mengantarkannya.


Sesampainya di halaman kantor...


"Terimakasih." kata Gita berterimakasih kepada Gibran ketika turun dari motornya. Dia berdiri di depan Gibran dan motornya.


"Sama-sama." jawab Gibran tersenyum. "Apa kita boleh jalan lagi lain kali?" tanya Gibran membuat Gita tersenyum malu. Sebelumnya Gibran tidak pernah minta ijin kepadanya. Sepertinya ini menjadi awal yang baru untuk hubungannya dengan Gibran. Dan tentu saja, Gita menyukai 'cara baru' Gibran.


"Tumben kamu minta ijin?" tanya Gita balik.


"Aku hanya ingin mencoba memulai semuanya denganmu. Aku nggak mau egois dan seperti yang kamu bilang 'semaunya'." jawab Gibran menjelaskan. "Dan yang paling penting, aku ingin membuatmu nyaman karena aku benar-benar menyayangimu, Git." lanjut Gibran membuat pipi Gita seolah-olah terbakar. Gibran pasti bisa melihat jelas pipinya yang memerah sekarang.


"Emmm..." Gita bingung harus berkata apa.


"Masuklah, kamu harus kerja, aku juga mau kembali ke kantor. Nanti papamu malah nyari pegawai magang teladannya kalau aku nggak ada di kantor pas jam kerja." kata Gibran sambil bercanda.


Gita tertawa mendengar candaan Gibran. Dia mengangguk dan tersenyum kepadanya. "Hati-hati di jalan, Gibran." kata Gita berpesan.


"Baik..." jawab Gibran mengangguk.


Gibran kemudian berlalu dan Gita berjalan masuk ke dalam kantornya. Gita berjalan menuju ruangannya. Ketika melewati ruangan Lala, betapa terkejutnya dia mendapati Lala sudah datang terlebih dahulu dan sedang duduk manis di ruangannya.


Gita menghampiri Lala. "Lala, bukannya tadi kamu jemput Kak Alya dulu?" tanya Gita heran.


Lala terkejut dilabrak Gita. "Eh, Gita. Gimana tadi sama Gibran?" tanya Lala sambil tertawa. Di ruangan itu hanya ada Gita dan Lala, sementara pegawai lain masih beristirahat dan belum kembali ke kantor.


"Gimana apanya? Kamu sengaja ya?" tanya Gita menginterogasi.

__ADS_1


"Hehehe... Habisnya aku gemes ngelihat kalian berdua kayak orang asing yang nggak saling kenal aja." jawab Lala masih sambil tertawa.


"Lala...!" seru Gita setengah berteriak kepada Lala.


__ADS_2