
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
"Mas-nya ngebawain buah, Mbak. Bibi taruh di dapur dulu ya, sekalian bikinin minuman." kata Bi Inah memecah keheningan di antara Gita, Gibran, dan Andra yang masih duduk diam di tempat masing-masing.
'Kenapa dia disini? Pakai acara bawa buah lagi?' batin Gibran agak kesal melihat kedatangan Andra.
Gibran menatap tajam Andra, demikian pula sebaliknya. Sementara Gita tidak tau harus berkata apa melihat Gibran dan Andra seperti mau perang dingin.
"Emmm... Gibran, Andra yang menolongku kemarin." kata Gita memulai percakapan.
"Apa kabar?" tanya Andra kepada Gibran dengan sopan.
"Baik." jawab Gibran singkat.
'Jadi Gibran pacarnya Gita?' batin Andra menebak Gibran dan Gita sedang berpacaran.
"Maaf aku menabrak pacarmu kemarin." kata Andra meminta maaf. Dia terlihat lebih rileks sekarang.
Gita salah tingkah karena Andra mengira dia pacarnya Gibran. Sementara Gibran masih menatap tajam Andra.
"Ada urusan apa kamu kesini?" tanya Gibran agak dingin. Dia tidak menghiraukan permintaan maaf Andra.
Gita agak kesal mendengar nada bicara Gibran. 'Apa dia nggak bisa lebih santai sedikit?' batin Gita memprotes Gibran.
"Aku hanya ingin menjenguk Gita dan memastikan dia baik-baik saja." jawab Andra santai.
"Dia baik-baik saja, seperti yang kamu lihat." sahut Gibran dengan tegas.
"Apa pacarmu selalu seperti ini?" tanya Andra beralih menatap Gita.
"Seperti apa?" tanya Gibran tidak terima dengan pertanyaan Andra.
"Seperti selalu terbawa emosi. Sebentar, apa kamu cemburu?" tanya Andra kembali menatap Gibran.
"Kalian berdua bisa berhenti? Kakiku tambah sakit mendengar kalian bicara tanpa henti." akhirnya Gita menengahi.
Gibran dan Andra terdiam. Mereka berdua sekarang merubah posisi duduk masing-masing agar lebih santai dari yang sebelumnya.
"Bukannya kalian sahabat?" tanya Gita kepada Gibran dan Andra yang membuat mereka berdua tertawa bersamaan.
"Dulu..." jawab Andra segera. "Sebelum dia mengacaukan segalanya." lanjut Andra kemudian.
"Kamu bahkan belum mendengar kebenarannya." sahut Gibran dengan cepat.
"Aku tidak tau apa yang terjadi di antara kalian berdua, tapi kuharap sebagai orang yang pernah bersahabat, bukankah lebih baik kalian saling memaafkan?" tanya Gita berusaha bijaksana.
"Aku yakin kamu pun nggak akan memaafkannya jika tau yang sebenarnya." jawab Andra dengan tegas.
"Kamu belum tau yang sebenarnya." kata Gibran menanggapi.
Gita memegang kepalanya. Bagaimana mungkin kedua orang yang sedang perang dingin itu bisa berada di rumah Gita?
"Jangan lupa aku sudah pernah menyelamatkanmu kemarin." kata Andra lagi mengingatkan Gibran tentang peristiwa dengan Lodya.
"Aku berterimakasih untuk itu." kata Gibran menanggapi.
"Baiklah, lebih baik aku pulang. Syukurlah kamu baik-baik saja, Gita. Aku akan menghubungimu lain kali." kata Andra menyadari ketidaknyamanan atas kehadirannya dan berpamitan kepada Gita.
"Lain kali?" tanya Gibran.
"Aku hanya ingin berteman dengan pacarmu, bukankah dulu kamu juga pernah berteman dengan pacarku?" kata Andra menyinggung Gibran.
__ADS_1
Gibran terdiam dan kembali menatap tajam Andra.
"Aku pergi dulu." kata Andra pamit. Dia beranjak dari tempat duduknya.
Sementara itu Bi Inah datang ke ruang tengah untuk membawakan minuman saat Andra beranjak pergi. "Nggak minum dulu, Mas?" tanya Bi Inah kepada Andra.
"Nggak, Bi. Lain kali aja, terimakasih." jawab Andra dengan sopan menolak dan segera pergi dari rumah Gita.
Gita hanya terdiam melihat Andra pergi. Di dalam hati dia bertanya-tanya dengan maksud omongan Andra terhadap Gibran. 'Apa Gibran menyimpan sesuatu yang tidak kuketahui?' batin Gita.
Bi Inah kembali ke belakang dan meninggalkan Gita dan Gibran berdua.
"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Gita kepada Gibran dengan serius. Dia menggeser tubuhnya agar menghadap Gibran.
"Tentang Andra?" tanya Gibran balik.
"Apa kamu nggak mau memberitauku apa masalahmu dengannya?" tanya Gita lagi.
"Aku sebenarnya nggak mau punya masalah dengan siapa pun." jawab Gibran.
Gita memasang wajah cemberut. Dia benar-benar tidak bisa mengenyahkan perkataan Andra. Gibran melihat ekspresi wajah Gita seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia tidak ingin Gita berpikiran yang macam-macam terhadapnya.
"Baiklah, aku akan cerita, tolong dengarkan dan percayalah padaku." lanjut Gibran meminta Gita mempercayainya.
"Baiklah, aku akan percaya padamu. Tolong jujurlah padaku." pinta Gita kepada Gibran.
Gibran mengangguk setuju dan menghela nafas panjang. Dia mulai bercerita.
"Waktu itu, aku masih kelas 2 SMA, Andra kakak kelasku, dia kelas 3 SMA. Kami bersahabat baik karena dulu kami sama-sama berada di tim basket sekolah, dia yang menjadi kaptennya." kata Gibran berhenti sejenak.
"Saat itu dia berpacaran dengan Mawar. Mawar setahun lebih tua dari Andra. Dia baru saja beberapa bulan masuk kuliah saat berpacaran dengan Andra." lanjut Gibran.
Gita tidak berhenti menatap Gibran yang duduk di sampingnya. Dia memperhatikan Gibran dengan seksama. 'Mawar?' batin Gita bertanya dalam hati.
"Roni? Kenapa Andra bermusuhan dengan Roni?" tanya Gita.
"Karena sebelum dengan Mawar, Andra pernah jadian dengan gebetannya Roni. Tapi nggak lama kemudian mereka putus." jawab Gibran.
Gita mengangguk. "Terus?" tanya Gita lagi meminta Gibran melanjutkan.
"Seperti biasa kami bertanding dengan bersemangat. Saat itu kebetulan tim kami yang menang. Roni bertambah murka karena Andra mengejek kekalahannya. Dan pada waktu itu, saat aku mau pulang ke rumah dan berada di parkiran sekolah bersama Andra dan Mawar, Andra tiba-tiba dipanggil Dedi, kapten tim basket sekolah Roni." lanjut Gibran.
Gita mulai mencerna cerita Gibran, tentang nama-nama yang baru didengarnya, Mawar, Roni, Dedi. Dia mencoba mengingatnya.
"Aku ditinggal berdua dengan Mawar. Saat itu tiba-tiba ada yang membiusku dari belakang. Dan entah bagaimana caranya aku sudah berada di sebuah kamar hotel." kata Gibran bercerita.
Gita melongo mendengar cerita Gibran. "Lalu?" dia merasa sangat penasaran.
"Setelah aku sadar, aku hanya menemukan Mawar menangis di dalam kamar itu. Tidak lama kemudian Andra datang dan mendapati kami berdua." kata Gibran kembali melanjutkan.
Gibran tidak memberitau Gita tentang rencana Mawar yang sebenarnya, karena dia sudah berjanji dengan Mawar tidak akan memberitau siapa pun yang sebenarnya terjadi pada Mawar.
"Apa yang kamu lakukan dengan Mawar?" tanya Gita terkejut.
"Aku nggak melakukan apa pun." jawab Gibran jujur.
"Tapi kenapa kalian bisa ada di kamar hotel yang sama? Siapa yang membius dan membawamu kesana?" tanya Gita sangat penasaran.
"Aku nggak tau, Git. Tapi aku curiga itu perbuatan Roni." jawab Gibran. Di bagian ini Gibran terpaksa sedikit berbohong, karena dia benar-benar tidak mau Gita tau yang sebenarnya terjadi. Dia tidak mau Gita tau semuanya itu adalah rencana Mawar sendiri.
"Kenapa Roni ingin menjebakmu? Apa Andra tau itu perbuatannya?" tanya Gita lagi masih penasaran.
__ADS_1
"Mungkin Roni ingin menjebakku dan Mawar supaya Andra mengira kami selingkuh di belakangnya. Aku sudah berusaha menjelaskan tapi dia tetap salah paham." jawab Gibran.
Gita masih mencerna semua cerita Gibran. "Lalu dimana Mawar sekarang?" tanya Gita.
"Aku nggak tau. Terakhir kali aku mencarinya, dia sudah kembali ke kampung halamannya dan berhenti dari kuliahnya." jawab Gibran.
"Kamu yakin nggak melakukan apa pun dengan Mawar?" tanya Gita masih memerlukan keyakinan.
"Aku nggak pernah melakukan apa pun yang mengganggu pikiranmu, Gita." jawab Gibran meyakinkan Gita.
Gita mengerutkan keningnya. Dia bingung apakah harus percaya dengan Gibran? Ya, dia menyayangi Gibran dan akan mempercayainya saat ini.
"Aku nggak tau harus berkata apa. Aku harap kamu nggak berbohong padaku, Gibran." kata Gita berusaha menerima.
Gibran mengangguk. "Aku nggak mau memikirkan itu lagi. Aku hanya ingin memikirkanmu dan hubungan kita sekarang." kata Gibran meyakinkan Gita kembali.
Gita tersenyum mendengar perkataan Gibran.
"Baiklah, sudah mau sore nih, aku balik dulu ya." kata Gibran berpamitan dan menghabiskan minumannya.
"Cepat banget?" tanya Gita tidak rela melepaskan Gibran karena merasa baru sebentar ke rumahnya.
"Aku nggak mau mengganggu istirahatmu, Gitaku." jawab Gibran sambil mencubit hidung Gita.
"Gibran...!" teriak Gita sambil mengelus hidungnya.
Gibran sebenarnya ingin lebih lama bersama Gita, tetapi Gita pasti butuh istirahat karena sakit kakinya dan juga karena perbincangan panjang yang mereka lakukan hari ini. Lagi pula hari ini dia juga sudah merasa lelah.
"Aku pasti merindukanmu sampai hari Senin nanti." kata Gibran kepada Gita.
Hari Senin depan perkuliahan sudah mulai aktif kembali karena masa liburan telah usai. Gita dan Gibran harus disibukkan dengan kegiatan praktek kerja yang memakan waktu tiga bulan di semester ini.
"Oh iya, aku lupa memberitaumu, aku bertemu papamu pagi ini." kata Gibran tiba-tiba teringat.
"Ketemu dimana?" tanya Gita setengah terkejut.
"Di kantor Om Wisnu. Kebetulan aku sambil kerja disana. Aku diminta ikut rapat hari ini dan bertemu papamu." jawab Gibran melanjutkan.
"Kamu kerja?" tanya Gita malah salah fokus dengan pernyataan Gibran yang bekerja.
"Aku hanya membantu Om Wisnu, bukan pegawainya atau semacamnya." jawab Gibran.
"Ada lagi yang belum kamu ceritakan?" tanya Gita seolah-olah selama ini dia tidak banyak mengetahui tentang Gibran, padahal dia bersahabat dekat dengannya.
"Semuanya sudah kuceritakan, Git. Papamu menawariku magang di kantornya." kata Gibran lagi memberitau.
"Kamu terima?" tanya Gita.
"Mungkin iya." jawab Gibran. "Mana mungkin aku menolak tawaran calon mertuaku?" tanya Gibran lagi sambil bercanda.
Gita seketika tertawa dan wajahnya memerah. Dia tidak bisa membayangkan suatu saat Gibran memanggil papanya dengan sebutan 'papa mertua'.
"Aku pulang dulu, ya." kata Gibran kembali berpamitan.
"Baiklah..." jawab Gita agak enggan. "Apa kamu nggak akan kesini lagi besok?" tanya Gita sedikit manja.
"Aku masih ada kerjaan, Git. Lagian kamu kan masih harus istirahat, kamu nggak bisa kemana-mana kalau kakimu masih sakit." jawab Gibran memberi Gita pengertian.
"Iya... Iya..." sahut Gita agak berat.
"Sampai jumpa minggu depan." sahut Gibran.
__ADS_1
"Sampai nanti..." sahut Gita.
Gibran mencium kening Gita dan beranjak keluar dari rumah Gita. Gita tersenyum memandangi Gibran pergi.