Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 12 SERANGAN PERTAMA


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Gita terbelalak menatap Gibran. Pertanyaan 'menembak' Gibran membuatnya tersadar kalau sikapnya agak berlebihan sehingga menimbulkan kecurigaan ketiga orang teman yang sedang berada dalam satu meja dengannya.


"Nggak..." jawab Gita mengatur nada bicaranya, dia menenangkan diri sebisa dan sebiasa mungkin.


Gibran menatap balik Gita dengan tatapan tajam dan menuduh. "Jelas kita harus bicara." kata Gibran kemudian.


"Nggak usah, nggak penting juga." sahut Gita agak dingin.


"Aku tau apa yang kamu pikirkan." kata Gibran menyunggingkan senyumnya, masih menatap Gita.


"Aku benar-benar nggak mau tau." sahut Gita lagi, masih dingin.


"Stop stop...!" kata Intan tiba-tiba menyela. "Di sini ada kami loh. Helooooo...!" ledek Lala sambil melambaikan tangan. Intan pun mengangguk setuju.


"Kalian kayaknya perlu waktu berdua deh." kata Intan menyarankan. "Kami duluan, ya." lanjut Intan segera menarik Lala.


"Eh, kalian mau kemana?" cegah Gita.


"Ke kampus duluan." jawab Lala segera menuruti Intan untuk pergi.


Gita hanya bisa terdiam melihat sahabat-sahabatnya itu pergi. Sejenak, Gita dan Gibran terdiam. Suasana canggung seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Gita merasa tidak nyaman, sementara Gibran masih sibuk dengan pandangannya seolah-olah ingin memakan Gita yang sekarang ada di depannya.


Mereka berdua memesan kopi dan menunggu pesanan dalam diam. Setelah beberapa saat pesanan mereka akhirnya datang memecah keheningan.


"Yang tadi itu Lodya." akhirnya Gibran membuka pembicaraan dengan memberitahu Gita.


Gita sedikit terkejut. "Lodya?" tanya Gita sambil mengerutkan keningnya. Setau Gita, Gibran kemarin sudah mengatakan kalau dia dan Lodya sudah tidak berhubungan lagi. Lalu apa sekarang yang dilakukan Gibran dan Lodya di kafe berduaan?


"Aku tau kamu curiga aku punya pacar baru." kata Gibran sambil sedikit tertawa. Dia jelas senang melihat ekspresi Gita yang 'ketahuan'.


"Aku nggak tau dia itu Lodya. Kamu kan nggak pernah mengenalkanku dengannya." jawab Gita menjelaskan.


"Aku kan pacaran baru 2 minggu, jadi belum sempat mengenalkan dia ke kamu." sahut Gibran.


"Terus kenapa kalian ketemuan?" tanya Gita penasaran.


"Dia yang ngajak ketemuan. Dia minta maaf." jawab Gibran kali ini serius.


"Terus kamu maafin?" tanya Gita lagi.


"Ya, secara teori. Tapi tetap nggak bisa merubah keputusanku. Kamu jangan khawatir." ledek Gibran sambil mengacak-acak rambut Gita.


"Gibran...!" tegur Gita karena rambutnya kini berantakan.


"Kamu beneran nggak cemburu?" tanya Gibran kali ini membuat Gita kembali salah tingkah.


"Nggak." jawab Gita cepat-cepat.


"Sedikit pun?" tanya Gibran lagi menegaskan.


"Emmm... iya, emmm... sedikit." jawab Gita mengakui. "Mungkin juga nggak sama sekali." lanjut Gita mencoba membantah pengakuannya sendiri.


"Hahaha... Kamu cemburu." kata Gibran menyimpulkan sendiri.


"Apaan sih, nggak." sahut Gita cepat-cepat sambil menghirup kopinya.

__ADS_1


"Iya, jelas sekali itu yang dinamakan cemburu, nona Gitani." kata Gibran menegaskan.


"Nggak...!" Gita masih menyangkal.


"Iya....!" Gibran bersikeras.


"Nggak... Nggak... Nggak...!" jawab Gita gemas.


"Hahaha... Lagian sekarang itu nggak penting." sahut Gibran sambil tertawa lepas karena merasa lucu melihat respon Gita.


Gibran mendekatkan wajahnya ke wajah Gita. Gibran bisa melihat dengan jelas pipi Gita yang kini sedang memerah, dia sangat menyukainya. "Ada yang jauh lebih penting." lanjut Gibran lagi kali ini membuat Gita salah tingkah karena tatapannya.


"Ap... Emmm... Apa?" tanya Gita terbata-bata. Gita merasakan panas di pipinya. Dia tau pasti sekarang Gibran bisa melihat dengan sangat jelas pipinya yang merona.


"Kuliah... Ayo kita masuk kelas. Sebentar lagi mata kuliah pak dosen killer...!" seru Gibran segera membuat Gita malu karena tadi sudah memikirkan yang tidak-tidak.


Gibran mengajak Gita pergi dan menggenggam tangannya, sementara tangan yang satunya masing-masing membawa kopi yang tadi mereka pesan.


Tangan Gibran terasa hangat menurut Gita. Rasanya dia tidak ingin melepaskan genggaman tangan itu. Terlepas dari apa pun pemikiran Gita yang saat ini bertentangan dengan hatinya, dia hanya ingin menikmati waktu bersama dengan Gibran lebih lama lagi.


Sesampainya di kampus, Gita melepaskan tangan Gibran. Dia tidak ingin teman-teman mereka salah paham. Gibran sebenarnya tidak ingin melepaskannya, tetapi dia menuruti permintaan Gita dan memahaminya.


Gita merasa tidak nyaman. Dia bingung dengan perlakuan Gibran akhir-akhir ini terhadapnya. Gita merasa ada sesuatu yang salah. Dia merasa pikirannya sedang benar-benar kacau sekarang. Dia tidak ingin terjebak terlalu dalam dengan perasaannya.


Perkuliahan hari itu akhirnya selesai. Gita bergegas pulang karena ingin menghindari Gibran sementara waktu ini untuk mengatur ulang kembali perasaannya.


Siang ini dia berencana pergi ke toko buku sendirian. Dia ingin menemukan ketenangan dan pengalihan perhatian dengan membaca buku. Lagi pula dia juga harus membeli buku tentang teknik pondasi tanah yang sangat diperlukan untuk salah satu mata kuliahnya.


Gibran yang melihat Gita keluar kelas dengan tergesa-gesa langsung mengejar dan menghampirinya.


"Emmm... Mau ke toko buku." jawab Gita cepat-cepat.


"Aku temani." sahut Gibran juga cepat-cepat. Gibran merasa ada yang aneh pada sikap Gita terhadapnya kali ini.


"Nggak usah, aku bisa sendiri." jawab Gita sambil melajukan langkahnya. Gibran segera mendahului Gita lalu berhenti di hadapannya. Gita pun menghentikan langkahnya.


Gibran menatap tajam Gita yang balas menatapnya. "Aku temani." kata Gibran sekali lagi mengulangi kata-katanya.


Gita tidak bisa menolak tatapan itu. "Baiklah..." akhirnya dia kalah dan membiarkan Gibran menemaninya.


"Aku yang nyetir." kata Gibran sesampainya di parkiran mobil.


"Motor kamu gimana?" tanya Gita sesaat mereka sampai di depan mobil Gita.


"Biar ditinggal di kampus, nanti kamu antar lagi aku kesini." jawab Gibran.


"Tuh kan bolak-balik jadinya, mending aku sendiri tadi." gumam Gita tetapi masih bisa didengar Gibran.


"Sudah siang, ayo masuk." kata Gibran mengajak Gita masuk ke dalam mobil setelah Gita menyerahkan kunci mobilnya.


"Yang mau beli buku siapa yang buru-buru siapa!" gumam Gita lagi sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang depan.


Gita dan Gibran menuju ke toko buku di sebuah mall yang tidak terlalu jauh dari kampus.


Sesampainya di toko buku, Gita tidak jadi mencari novel romantis dan sejenis yang disukainya. Dia langsung mencari buku pengetahuan untuk kuliahnya. Gita memilih-milih buku yang tersusun di rak itu dan membaca-baca ringkasan di belakangnya.


Gibran merasa bosan karena Gita dari tadi belum selesai dengan pilihannya. Akhirnya dia pergi ke rak buku yang lain. Gita sudah selesai dan segera mencari Gibran. Dia menemukan Gibran sedang berdiri di bagian buku novel dan sastra. Gita tertawa melihat sebuah buku yang ada di tangan Gibran berjudul 'Pacaran Setelah Menikah'.

__ADS_1


"Mau nikah, Pak?" tanya Gita mengejutkan Gibran yang sedang membuka-buka buku itu. Gibran hampir saja menjatuhkan buku di tangannya itu.


"Kamu sudah selesai?" tanya Gibran tanpa menjawab pertanyaan Gita.


"Sudah, ini tinggal ke kasir." jawab Gita masih menahan tawanya. "Kamu nggak jadi beli buku itu?" tanya Gita menunjuk buku yang masih ada di tangan Gibran.


"Emmm... Nggak... Ayo ke kasir." jawab Gibran salah tingkah mengembalikan buku itu ke raknya.


Gita masih tersenyum melihat tingkah Gibran. "Bagus loh pacaran setelah menikah?" ledek Gita lagi membuat Gibran gemas.


"Gitaaaa...!" seru Gibran sambil mengacak rambut Gita.


"Sudah Gibran, berantakan nanti...!" kata Gita menjatuhkan tangan Gibran kemudian menata rambutnya kembali. Mereka berjalan menuju ke kasir.


"Jadi taruhan kita masih berlaku, kan?" tanya Gibran sesampainya di kasir.


"Ya... baru juga berapa hari. Jangan yakin dulu kamu menang." jawab Gita sambil membayar bukunya.


"Aku yakin akan menang. Kamu harus menuruti permintaanku nanti." kata Gibran percaya diri.


"Kita lihat saja nanti, Tuan Percaya Diri!" seru Gita tidak mau kalah.


Gita dan Gibran menuju restoran yang ada di dalam mall. Sebenarnya Gita lebih suka makan di warung pinggir jalan di luar mall, tetapi Gibran bersikeras karena dia sudah sangat lapar.


Setelah makan, Gita dan Gibran menuju parkiran. Gibran membukakan pintu mobil untuk Gita. Mereka berdua sudah ada di dalam mobil. Gibran menyalakan mesin mobil dan berpikir sejenak.


"Git, kamu masih nggak mau pacaran?" tanya Gibran tiba-tiba membuat Gita terkejut.


"Emmm... Kenapa memangnya?" tanya Gita balik.


"Cuma mau tau." jawab Gibran singkat.


"Emmm... Iya masih." jawab Gita kemudian.


Gibran seperti memikirkan sesuatu. Dia sendiri bingung karena selama ini dia selalu punya pacar disampingnya. Sekarang, dia hanya ingin berpacaran dengan seseorang yang benar-benar dicintainya. Anehnya, dia merasa nenginginkan Gita yang menjadi seseorang itu.


"Kita jalan sekarang?" tanya Gita membuyarkan lamunan Gibran.


Gibran masih terdiam tidak menghiraukan perkataan Gita.


"Gibran...!" seru Gita mendengus dan memutar bola matanya. Dia mencubit lengan Gibran dan Gibran akhirnya menatap Gita.


"Kamu ini kenapa sih?" tanya Gita kebingungan. Gibran dan Gita saling bertatapan.


Gibran mendekatkan wajahnya ke wajah Gita. 'Deg... deg... deg...' bunyi detak jantung Gita seakan mau melompat. Dia tidak pernah sedekat ini dengan Gibran, demikian pula sebaliknya.


Gibran makin mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Gita yang sekarang sudah merah merona. Gibran menyukai bau parfum yang dipakai Gita, aroma bunga mawar jelas tercium di hidungnya.


Sementara itu, Gita tidak menolak. Dalam hati dia juga bingung harus berbuat apa. Separuh hatinya berusaha menolak, namun separuhnya lagi benar-benar menikmati kebersamaan dengan Gibran.


Gibran melepaskan ciuman dari pipi Gita dan membawanya menuju bibir Gita. Gita seolah-olah pasrah dan menerima serangan tiba-tiba Gibran. Gita memejamkan matanya, dia sadar betul jika ini akan menjadi ciuman pertamanya.


Begitu pula Gibran yang entah dari mana mendapatkan keberanian untuk melakukannya pertama kali. Akhirnya bibir Gibran sampai di bibir Gita. Ciuman pertama Gibran yang terjadi bukan dengan pacar, melainkan dengan sahabatnya sendiri.


Gita segera membuka matanya. Dia ingin melihat dengan jelas jika ciuman ini benar-benar terjadi. Bibir Gibran terasa sangat manis dan lembut.


Gibran pun merasakan hal yang sama, sebuah sensasi yang belum pernah dirasakannya. Dia ternyata sangat menyukai bibir Gita. Mereka berdua menikmati ciuman tak terduga itu.

__ADS_1


__ADS_2