
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
Pagi harinya Gita, Gibran, Lala dan Alvin bersiap-siap untuk pergi ke pernikahan Intan dan Fajar. Rencananya akad nikah diadakan di kediaman Intan pagi ini, sementara acara resepsi diadakan setelahnya di sebuah gedung serbaguna yang letaknya tidak jauh dari kediaman Intan. Mereka semua berencana langsung ke acara resepsi.
Gibran mengenakan kemeja putih dan dasi berwarna hitam. Rambutnya yang agak panjang di-styling dengan gaya berantakan alias 'messy hair'. Dia menunggu di lobby hotel. Dia duduk dengan santai sambil memeriksa handphone-nya.
Beberapa saat kemudian Alvin juga datang dan mengambil duduk di seberang Gibran. Gibran menyadari kedatangannya dan dengan cepat berpaling kembali ke layar ponselnya.
Alvin menatap dingin Gibran dan memulai pembicaraan. "Kamu suka Gita?" tanya Alvin kepada Gibran di seberangnya.
"Suka." jawab Gibran santai.
"Suka dalam hal yang maksudku lebih dari sekedar sahabat?" tanya Alvin lagi belum puas atas jawaban singkat Gibran.
"Ya." jawab Gibran singkat membuat Alvin mengernyitkan dahinya.
"Apa Gita juga menyukaimu?" tanya Alvin kembali membuat Gibran segera menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Ya." jawab Gibran lagi-lagi singkat.
"Kalian pacaran?" Alvin sepeti menginterogasi Gibran.
"Saat ini? Belum." jawab Gibran membuat Alvin sedikit lega.
"Kenapa kalian nggak pacaran?" tanya Alvin membuat Gibran kali ini mengangkat alisnya.
"Apa itu penting buatmu?" tanya Gibran balik. Dia agak kesal karena pertanyaan-pertanyaan dari Alvin.
"Penting. Karena aku juga menyukai Gita." jawab Alvin dengan percaya diri. Gibran tersenyum dingin mendengarnya.
"Sayangnya Gita nggak menyukaimu." sahut Gibran juga penuh percaya diri.
"Tau dari mana kamu?" tanya Alvin agak keras mendengar pernyataan Gibran.
"Nggak penting dari mana, yang jelas dia menyukaiku." jawab Gibran tegas.
Alvin mengerutkan dahinya. Sebelumnya dia tidak mempunyai masalah apa pun dengan Gibran karena dia tau Gita dan Gibran bersahabat. Tetapi setelah Gibran mulai menganggap Gita lebih dari sekedar sahabat dan mulai mendekatinya juga, dia benar-benar tidak menyukai Gibran sekarang.
Gibran dan Alvin menghentikan pembicaraan mereka saat melihat Gita dan Lala berjalan menghampiri mereka.
Gita mengenakan gaun berwarna pink. Dia tampak cantik dan anggun mengenakannya. Dia menambahkan riasan minimalis dan tatanan rambut yang sangat cantik. Tidak lupa sepatu berwarna pink yang kemarin dibelinya bersama Gibran menambah sempurna penampilannya.
Gibran tak mengedipkan matanya saat melihat Gita datang. Dia benar-benar terpesona akan kecantikan perempuan itu. Gibran tersenyum menatap Gita yang juga balas tersenyum melihatnya.
Gita menghampiri Gibran dan duduk di sampingnya. Alvin yang melihatnya tentu saja merasa kesal. Dia berharap Gita berada di sampingnya, bukan di dekat Gibran.
"Duh, aku ke toilet dulu ya, sebentar aja." kata Lala tiba-tiba sebelum sampai di sofa. Dia ingin membenarkan tatanan rambutnya yang sedari tadi tampak mengganggunya.
__ADS_1
"Iya, ditungguin kok." sahut Gita.
Lala pun segera berjalan menuju toilet yang terdapat di lobby.
"Kamu cantik." bisik Gibran di telinga Gita sambil tersenyum.
Pipi Gita seketika merona mendengar pujian Gibran. Dia tersenyum malu-malu.
"Kamu juga." kata Gita kemudian tanpa sadar.
"Aku apa? Aku cantik?" sahut Gibran bercanda mendengar perkataan Gita.
'"Bukan, maksudku..." kata-kata Gita terhenti sejenak. "Kamu ganteng." bisik Gita pelan membuat Gibran berbunga-bunga dan bertambah lebar senyumnya. Gita juga ikut tersenyum.
"Ehmmm..." tiba-tiba Alvin berdehem membuat Gita terkejut karena baru sadar kehadiran Alvin. Sementara Gibran langsung menatap dingin Alvin.
"Kita pergi sekarang?" tanya Lala datang dengan rambut yang lebih baik dari tampilan sebelumnya.
Mereka semua akhirnya berangkat menuju acara resepsi.
Sesampainya di acara, Gibran memarkirkan mobil dan segera berjalan menghampiri Gita. Gibran mengambil tangan Gita untuk menggenggamnya. Awalnya Gita tampak tercengang dan agak canggung, tetapi akhirnya dia membiarkan Gibran melakukannya. Mereka berdua berjalan bersama memasuki gedung acara.
Alvin yang ada di belakang mereka benar-benar kesal melihat Gita dan Gibran bergandengan. Dia merasa tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendekati Gita.
"Kak Alvin cemburu?" tanya Lala yang memperhatikan Alvin saat memandangi Gita dan Gibran dengan dingin.
"Nggak juga." jawab Alvin berbohong.
"Aku sudah tau, La." kata Alvin agak berat.
"Tau apa?" tanya Lala bingung.
"Tau kalau mereka saling suka." jawab Alvin tidak berminat.
"Oh... Aku juga tau." sahut Lala. "Mereka itu sebenarnya nggak bisa jauh satu sama lain. Cuma baru-baru ini aja mereka nyadar." kata Lala melanjutkan.
"Bagus lah kalau mereka bahagia." jawab Alvin masih agak berat.
"Mungkin Kak Alvin belum berjodoh dengan Gita." kata Lala sambil tertawa kecil.
Alvin hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Lala.
Sesampainya di acara, Gita melihat Intan dan Fajar di pelaminan. Ruangan resepsi Intan dan Fajar bernuansa putih, hijau dan natural. Menurut Gita dekorasinya sangat cantik. Suatu saat dia pun ingin menikah dan menggelar acara seperti ini.
"Kamu suka dekorasinya?" tanya Gibran menebak perasaan Gita.
"Iya, cantik banget." jawab Gita.
__ADS_1
"Kalau kamu menikah, kamu mau dekorasi yang seperti ini juga?" tebak Gibran membuat Gita tersipu.
"Iya. Apa boleh?" tanya Gita balik membuat Gibran tersenyum menatap Gita disampingnya.
"Boleh." jawab Gibran segera.
Gita senang mendengar jawaban Gibran. Dia mendekatkan kepalanya ke lengan Gibran. Gibran dikejutkan dengan sikap manis Gita, tetapi dia merasa sangat senang setidaknya Gita memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Gibran dan Gita mengambil duduk berdampingan dan mengikuti acara resepsi yang baru saja dimulai. Mereka juga menikmati makanan yang disediakan di meja. Sementara Alvin dan Lala duduk di seberang mereka dan juga mulai menyantap makanan masing-masing.
"Intan cantik banget ya, Git." seru Lala memandang ke pelaminan.
"Iya, La. Bikin pangling." jawab Gita menatap Intan yang tampil cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna putih.
Acara resepsi berlangsung lancar dan khidmat. Undangan yang datang tidak terlalu banyak, sebab Intan dan Fajar memang hanya ingin keluarga dan orang-orang terdekat yang hadir ke acara mereka. Acara ditutup dengan doa dan foto bersama keluarga mempelai dan rekan-rekan serta sahabat.
Gita, Gibran, Lala dan Alvin juga memberikan selamat dan berfoto bersama Intan dan Fajar di pelaminan.
"Terimakasih banyak kalian sudah mau datang jauh-jauh." kata Fajar berterimakasih.
"Sama-sama, Bro." jawab Alvin mewakili.
"Semoga bahagia selalu ya, Intan dan Kak Fajar." kata Gita mendoakan.
"Aamiinn..." jawab Intan dan Fajar berbarengan.
"Kamu kapan nyusul?" tanya Intan menggoda Gita. Gita tersenyum malu-malu dan tidak menjawabnya.
"Nunggu dilamar Gibran, Ntan." ceplos Lala sambil tertawa meledek Gita. Gibran terkejut mendengarnya dan dia tersenyum. Sementara Alvin sudah benar-benar kesal melihat tingkah Gibran dan Gita di hadapannya.
"Lala...!" seru Gita malu-malu.
"Tuh kan, akhirnya beneran sama Gibran." kata Intan agak berbisik kepada Gita.
"Intan...!" seru Gita lagi membuat Intan dan Lala tertawa.
"Ehmm.. Kita balik dulu ya, Kak." kata Gibran pamit kepada Fajar menyudahi obrolan singkat mereka.
Setelah acara selesai, mereka berempat kembali menuju hotel. Setelah menyiapkan barang-barang dan check out, mereka akhirnya pulang menuju rumah Gita.
Di perjalanan, seperti biasa Gita dan Lala yang lebih banyak bercerita, sementara Gibran dan Alvin yang duduk di depan hanya diam dan menimpali sesekali.
Sesampainya di rumah Gita, Alvin segera pamit untuk pulang ke rumah, sementara Lala sudah ditunggu oleh kakaknya di rumah Gita dan langsung pamit juga setelahnya. Tinggal Gibran yang masih ada di rumah Gita. Dia sebenarnya masih ingin bersama Gita.
"Kamu mau istirahat dulu?" tanya Gita menawarkan Gibran beristirahat karena tentu saja Gibran masih lelah menyetir selama empat jam perjalanan. Ditambah lagi dia harus pulang ke rumahnya mengendari motor selama dua jam perjalanan.
"Emmm... Mungkin iya kalau boleh." jawab Gibran mempertimbangkan tawaran Gita.
__ADS_1
"Ayo masuk dulu. Kamu bisa istirahat di dalam sebentar." kata Gita mengajak Gibran masuk ke rumah.
Gita berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Gibran di belakangnya. Gibran sebenarnya agak gugup karena baru kali ini dia menjejakkan kakinya di rumah Gita. Papa Gita sedang keluar, sementara mama Gita dan kedua adiknya ada di dalam rumah.