Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 25 TAWARAN YANG LANGKA


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Hari ini adalah hari Senin. Hari dimana orang-orang sibuk memulai rutinitasnya setelah beristirahat di akhir minggu, baik yang masih sekolah maupun yang sudah bekerja.


Gibran bersiap-siap hari ini ke kantor Om Wisnu untuk menyerahkan hasil perencanaannya. Dia semalaman lembur dan sibuk dengan pekerjaannya. Sementara itu, Gita tidak menghubunginya lagi semenjak terakhir dia memutuskan telepon Gibran.


Gibran merasa kesal karena Gita juga tidak membalas pesannya. 'Ada apa lagi sih sama Gita?' batin Gibran memikirkan Gita.


Hari ini setelah menyelesaikan pekerjaannya, Gibran berencana menemui Gita di rumahnya.


Sesampainya di kantor Om Wisnu...


"Gibran, ayo masuk." ajak Om Wisnu saat melihat Gibran tiba di depan ruangannya. Kantor Om Wisnu memang tidak terlalu besar, hanya ada lima ruangan di dalamnya, yaitu ruangan staf administrasi, ruangan staf teknis, ruangan tenaga ahli, ruang rapat, dan tentunya ruangan Om Wisnu sendiri.


"Om..." sapa Gibran masuk ke dalam ruangan dan segera menyalaminya.


"Kamu ikut Om rapat sekarang, ya." kata Om Wisnu memerintahkan Gibran.


"Tapi Om..." kata Gibran ingin menolak. Dia selama ini belum pernah mengikuti rapat apa pun, karena biasanya dia hanya bekerja 'di balik layar'. Selain itu dia juga ingin cepat-cepat menemui Gita.


"Sebentar aja kok, nggak akan lama. Kita kedatangan tamu khusus hari ini." kata Om Wisnu membujuk Gibran. Gibran pun mengangguk.


Sesaat Gibran merasa salah kostum karena hanya memakai celana jeans dan kaos kerah dengan sepatu kets yang terkesan santai. Kalau dia tau akan ikut rapat, mungkin dia akan berpakaian yang lebih pantas.


Gibran mengikuti Om Wisnu berjalan ke ruang rapat. Saat mereka memasuki ruangan, mereka sudah ditunggu dua orang pria yang sedang duduk berdampingan di meja rapat. Gibran mengikuti Om Wisnu duduk di seberang mereka.


Betapa terkejutnya Gibran saat melihat salah satu dari pria itu adalah papanya Gita.


"Kamu Gibran, kan?" tanya papa Gita mengenali Gibran.


"Iya, Om." jawab Gibran segera.


"Kamu kenal Pak Surya?" tanya Om Wisnu kepada Gibran.


"Pak Surya papanya teman Gibran, Om." jawab Gibran memberitahu.


"Teman? Om pikir kamu sama Gita pacaran?" tanya papa Gita meledek Gibran membuatnya salah tingkah. Gibran hanya tersenyum mendengar pertanyaan ayah Gita.

__ADS_1


"Kenalkan Gibran, ini Pak Anwar, pemilik proyekmu, kemudian Pak Surya, ayah temanmu." kata Om Wisnu mengenalkan mereka berdua.


"Bapak-bapak sekalian, ini Gibran, keponakanku yang kuceritakan waktu itu. Dia yang merencanakan proyek ini dan beberapa proyek sebelumnya." kata Om Wisnu memperkenalkan Gibran.


"Wah anak muda berbakat kamu, Gibran." kata papa Gita memuji Gibran.


"Om Wisnu melebih-lebihkan, Om. Saya masih banyak belajar." kata Gibran merendah.


"Kamu katanya masih kuliah?" tanya Pak Anwar kepada Gibran.


"Iya, Pak. Saya masih semester 6." jawab Gibran dengan sopan.


"Kamu harus kerja di tempatku, Gibran." kata papa Gita setengah memaksa. "Kamu harus melepaskan Gibran untuk bekerja di tempatku, Wisnu." lanjut papa Gita sambil tertawa kecil meledek Om Wisnu.


"Wah, itu tawaran yang langka, Gibran." kata Om Wisnu menyemangati. "Pak Surya ini pemilik Surya Wicaksana Grup. Perusahaannya malang melintang di dunia konstruksi." kata Om Wisnu melanjutkan.


"Jangan terlalu dilebihkan, Wisnu. Seperti yang Gibran bilang, masih banyak belajar." kata papa Gita juga merendah.


Mereka semua tertawa dan Gibran tidak lagi canggung seperti pertama kali masuk ke ruangan rapat. Dia berhasil menjelaskan perencanaannya dengan baik dan memuaskan.


"Om harap kamu serius sama Gita." kata papa Gita tiba-tiba memulai pembicaraan.


Gibran terkejut mendengar pernyataan papa Gita. Dia benar-benar membuat Gibran salah tingkah sekarang.


"Om tau, Gita belum pernah punya pacar. Dia selalu bermimpi suatu saat bisa menikah dengan lelaki yang dicintainya. Hanya menikah." sambung papa Gita memberitahu Gibran.


"Gibran tau, Om. Gita nggak mau pacaran." kata Gibran menanggapi perkataan papa Gita.


"Kamu serius sama Gita?" tanya papa Gita masih penasaran dengan kesungguhan Gibran.


"Gibran serius, Om." jawab Gibran yakin. Entah darimana dia mendapatkan kesungguhan dan keberanian seperti itu.


"Bagus... Om nggak mau Gita kecewa." kata papa Gita lagi. "Om harap kamu benar-benar sayang sama Gita. Om yakin kamu orang yang bertanggung jawab. Kamu sudah membuktikannya dengan pekerjaanmu yang hasilnya selalu memuaskan." lanjut papa Gita memuji Gibran.


"Itu dua hal yang beda, Om. Tapi sebenarnya memang sama, Gibran selalu ingin memberikan yang terbaik untuk pekerjaan maupun untuk Gita." kata Gibran meyakinkan.


"Om percaya kamu. Dan tentang tawaran bekerja itu, kamu bisa mulai dari magang di kantor Om nanti." kata papa Gita kembali menawarkan.

__ADS_1


"Terimakasih, Om. Tawaran yang sangat menarik." jawab Gibran tersenyum. "Dan kalau boleh, Gibran mau ke rumah Om dulu menemui Gita sekarang." kata Gibran meminta ijin kepada papa Gita.


"Tentu saja, dia pasti senang. Kakinya juga sudah agak mendingan setelah dirawat Bi Inah kemarin." jawab papa Gita memberitahu Gibran.


"Syukurlah... Kalau gitu, Gibran permisi dulu, Om." kata Gibran pamit.


"Hati-hati di jalan." kata papa Gita berpesan.


Gibran segera berjalan ke arah motornya dan mengendarainya ke rumah Gita. Dia sudah tidak sabar bertemu pujaan hatinya itu.


Sementara itu di rumah Gita...


Gita sedang duduk di ruang tengah rumahnya sambil memencet-mencet remote yang ada di tangannya. Dia benar-benar bosan harus berdiam diri dan hanya menonton televisi di rumah.


Papa Gita sejak tadi pagi-pagi sekali sudah pergi bekerja. Haris sedang sekolah dan berencana mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya sampai sore.


Sementara mamanya dan Fariz baru saja pergi mengunjungi nenek Gita yang sedang sakit di rumahnya dan kemungkinan malam baru kembali.


Kaki Gita sudah mendingan dan tidak terlalu sakit lagi. Dia sudah bisa berjalan meskipun masih pelan-pelan.


Gita mengecek handphone-nya dan membaca kembali beberapa pesan dari Gibran. Gita sebenarnya masih agak kesal dengan Gibran karena dia merasa sikap Gibran terlalu berlebihan kemarin. Dia belum menghubungi Gibran lagi setelah memutuskan teleponnya kemarin. Lagi pula kemarin dia terlalu sibuk memikirkan kakinya sehingga dia tidak terlalu mengecek handphone-nya.


Gita menimbang-nimbang untuk menghubungi Gibran. Beberapa kali dia mencari kontak Gibran untuk meneleponnya tapi tidak jadi. Gita sebenarnya juga sudah merindukan Gibran.


Bi Inah yang melihat Gita sedang merenung tiba-tiba mengagetkan Gita. "Mbak Gita...!" panggil Bi Inah sesaat menghampiri Gita yang sedang asyik dengan lamunannya.


"Eh... Bibi ngagetin aja...!" seru Gita terkejut.


"Ada yang nyari, Mbak." kata Bi Inah memberitahu Gita.


"Siapa?" tanya Gita penasaran.


Bi Inah mempersilahkan tamu itu masuk.


"Gibran...!" seru Gita.


Bi Inah segera permisi ke dapur dan meninggalkan Gibran dan Gita berdua di ruang tengah.

__ADS_1


__ADS_2