
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
Gibran menghampiri Gita dan berdiri di hadapannya. Gita tersenyum melihat kedatangan Gibran.
Gita mendekati Gibran perlahan. Dia memeluk Gibran dengan erat. Dia merasakan kehangatan dari tubuh Gibran.
Gibran terhenyak karena inisiatif pelukan dari Gita. Dia tersenyum dan merasa sangat bahagia.
"Kamu nggak takut orang rumah melihat kita pelukan?" tanya Gibran menggoda Gita.
Gita melepaskan pelukannya dan tersenyum. "Kebetulan hari ini aku di rumah cuma sama Bi Inah." jawab Gita memberitahu.
"Hahaha... Jadi kamu 'mencuri' kesempatan?" tanya Gibran kembali menggoda Gita.
Pipi Gita seketika merona mendengar ledekan Gibran. "Emmm... Aku kangen kamu." kata Gita mengakui.
Gibran tersenyum mendengar pengakuan Gita. "Aku juga..." kata Gibran. "Padahal baru beberapa hari kemaren kita ketemu." lanjut Gibran mengingatkan. "Kakimu masih sakit?" tanya Gibran melihat kaki Gita.
"Nggak juga, sudah mendingan kok." jawab Gita. "Duduk?" tanya Gita menawari Gibran untuk duduk. Gita segera duduk diikuti Gibran di sampingnya.
"Kenapa kamu nggak balas pesanku, Git?" tanya Gibran sesaat mereka berdua duduk.
"Emmm... aku bingung." jawab Gita jujur.
"Kenapa?" tanya Gibran heran.
"Aku bingung kenapa kamu tiba-tiba marah dan..." kata-kata Gita terhenti sejenak. "reaksimu agak berlebihan." sambung Gita.
Gibran tertawa kecil. "Maksudmu karena kecemburuanku?" tanya Gibran.
"Kamu cemburu?" tanya Gita balik.
"Ya... bisa jadi..." jawab Gibran. "Jadi siapa yang menabrakmu dan mengantarmu pulang?" tanya Gibran ingin tau.
"Aku juga nggak kenal dia, Gibran. Tapi dia baik kok, dia menolongku dan mengantarku pulang." jawab Gita.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Gibran lagi penasaran.
"Laki-laki." jawab Gita singkat.
"Tua atau muda?" tanya Gibran makin penasaran.
__ADS_1
"Emmm... seumuran kita." jawab Gita memberitau. Dia mulai kesal karena Gibran mulai menginterogasinya lagi.
"Ganteng nggak?" tanya Gibran lagi sangat penasaran.
"Tuh kan, mulai lagi." gumam Gita agak kesal.
"Kamu nggak suka?" tanya Gibran.
"Nggak, kalau kamu sudah mulai bersikap berlebihan." jawab Gita.
Gibran menghembuskan nafas panjangnya. "Ini nih yang bikin aku ngotot mau pacaran sama kamu." kata Gibran membuat Gita bingung.
"Kenapa?" tanya Gita bingung.
"Karena aku bukan pacarmu, dan kamu pikir aku nggak punya hak untuk cemburu atau marah sama orang lain yang dekat denganmu." jawab Gibran berterus terang.
Gita terdiam mendengar jawaban Gibran. Dia sebenarnya tidak mempunyai maksud seperti yang dikatakan Gibran.
"Haruskah kita pacaran sekarang?" tanya Gita sedikit emosi.
"Ya...!" jawab Gibran juga dengan sedikit emosi. "Tapi aku nggak mau kamu mau pacaran denganku karena terpaksa." kata Gibran melanjutkan.
"Apa sih yang membuatmu nggak mau pacaran?" tanya Gibran lagi.
"Entahlah, apa ada manfaatnya pacaran?" tanya Gita balik.
"Apa kamu sangat membenci kata pacaran?" tanya Gibran balik membuat mereka terdiam sejenak. Sepertinya suasana menjadi tidak menyenangkan untuk keduanya.
Gita menghela nafas panjangnya dan mulai berbicara. "Waktu aku masih kecil, aku selalu bermimpi suatu hari bisa menikah dengan laki-laki yang benar-benar kucintai dan juga mencintaiku sehingga kami bisa bahagia, seperti cerita dongeng happy ever after." Gita berhenti sejenak. Gibran mendengarkan Gita sambil memperhatikannya.
"Lalu ketika aku beranjak remaja, aku mulai mengenal teman laki-laki dan tanpa kusadari aku mulai menilai mereka satu per satu. Saat itu aku mempunyai bayangan tersendiri seperti apa laki-laki yang harus kumiliki nanti, aku bahkan punya daftar kriterianya."
Gibran terkejut. Dia tau Gita selalu terencana melakukan segala sesuatu, tapi dia tidak menyangka untuk urusan laki-laki pun dia juga punya rencananya sendiri.
"Semakin dewasa aku semakin melihat orang-orang berpacaran, tetapi kebanyakan dari mereka pada akhirnya menikah bukan dengan pacar mereka. Itu juga terjadi pada orang-orang terdekatku, pada om, tante, sepupu, dan teman-teman dekatku. Aku kecewa pada mereka. Kenapa harus pacaran kalau pada akhirnya akan putus dan malah menikah dengan orang lain?"
"Sampai pada akhirnya aku mulai masuk kuliah, aku sama sekali tidak memikirkan tentang cinta. Aku berniat lulus kuliah dengan baik dan bekerja, setelahnya mungkin baru terpikir untuk menikah."
Gita kembali berhenti dan mengambil segelas air putih di hadapannya untuk diminum. Gibran masih mendengarkan dengan seksama.
"Aku bertemu denganmu dan menjadi sahabatmu. Dan itu yang menambah keyakinanku untuk tidak memiliki pacar, karena setiap kali aku melihatmu pacaran, kamu nggak pernah serius dengan mereka. Kamu menganggap pacar-pacarmu hanya seperti teman jalanmu, tanpa berpikir kamu akan benar-benar menyukai mereka. Aku bahkan sempat meragukanmu, apakah tidak pernah terpikir olehmu suatu saat akan menikah?" kata Gita mengeluarkan isi hatinya.
__ADS_1
"Apa? Karena aku?" tanya Gibran terkejut. Dia tidak pernah menyangka kelakuannya selama ini benar-benar mempengaruhi pikiran Gita.
"Dan sekarang kamu malah mau menjadikanku pacarmu." kata Gita lagi. "Dan sialnya aku malah menyukaimu." lanjut Gita berterus terang.
Gibran masih terdiam mendengarkan penjelasan Gita. Dia tidak menyangka pikiran Gita begitu rumit.
"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Berpacaran denganmu? Tapi apa kita nanti akan benar-benar sampai ke pernikahan?" tanya Gita bingung.
"Kita masih muda, Git." jawab Gibran juga bingung. "Aku nggak pernah menyangka ternyata pikiranmu begitu rumit." kata Gibran melanjutkan.
"Aku memang bukan sepertimu yang bisa dengan seenaknya berpacaran dan putus, lalu berpacaran lagi dan seterusnya." sahut Gita sambil mengerutkan keningnya.
"Nggak akan ada yang bisa menjamin kita akan bersama terus sampai akhir, Git." kata Gibran. "Tapi kita bisa berusaha melakukan yang terbaik." lanjut Gibran berusaha meyakinkan Gita.
"Kita sudah bersahabat cukup lama, Gibran. Lalu kalau kita berpacaran dan nanti putus, kita mungkin nggak akan bisa dekat lagi, bahkan bisa jadi kita malah saling menjauh." kata Gita mengingatkan.
"Aku bahkan belum berpacaran denganmu, tapi kamu sudah memikirkan bagaimana kalau kita putus?" tanya Gibran sambil tertawa kecil meledek pemikiran Gita.
"Aku tau pikiranku terlalu jauh. Tapi aku nggak bisa untuk tidak memikirkannya." jawab Gita.
Gibran dan Gita sama-sama terdiam. Mereka tau kemana arah pembicaraan mereka. Pada akhirnya mereka selalu berdebat mempertahankan keinginan mereka masing-masing. Dan pada akhirnya selalu tidak menghasilkan kesepakatan apa pun. Kenapa setiap kali berdebat hasilnya selalu menggantung?
Bi Inah tiba-tiba sudah berada di dekat Gita dan Gibran. Kedatangan Bi Inah memecahkan keheningan di antara mereka.
"Mbak Gita, ada tamu lagi." kata Bi Inah memberitau Gita.
"Siapa, Bi?" tanya Gita bingung. Dia merasa tidak memiliki janji bertemu dengan siapa pun selain Gibran.
"Yang kemarin kesini, Mbak." jawab Bi Inah.
Gita mengangkat alisnya, sementara Gibran mengerutkan keningnya. 'Yang kesini kemarin?' batin Gibran bertanya dalam hati.
"Suruh masuk aja, Bi." kata Gita kepada Bi Inah.
Bi Inah mempersilahkan tamu itu masuk dan kini mereka semua telah berkumpul di ruang tengah rumah Gita.
"Andra?" seru Gita saat Andra masuk dan mengambil duduk di seberang Gita dan Gibran.
Gibran tersentak melihat Andra di depan matanya. Begitu pun dengan Andra yang melihat Gibran yang sedang duduk di samping Gita.
Gita menyadari wajah syok Andra dan Gibran. Dia bertanya-tanya dalam hati, 'Apakah mereka saling mengenal? Apakah Andra ini yang pernah diceritakan Gibran kepadanya?'
__ADS_1