
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
Gita baru saja sampai di kost-nya. Kuliah hari ini sangat melelahkan karena jadwalnya tiba-tiba ada yang dipindahkan hari ini sehingga dia harus mengikuti kelas dari pagi sampai sore. Selain itu juga banyak tugas yang menantinya di akhir semester ini, termasuk ujian akhir semester yang akan dihadapi.
"Hai, Mel." sapa Gita kepada Melati saat ingin masuk ke kamarnya. Melati sedang bersiap-siap untuk pergi.
"Hai, Git. Kamu kelihatan capek banget?" tanya Melati mencemaskan keadaan Gita.
"Iya nih. Jadwalku padat hari ini, Mel." jawab Gita memberitahu.
"Aku juga nih, bentar lagi kan ujian akhir semester." kata Melati sependapat. "Oh iya..." Melati tiba-tiba teringat sesuatu. "Aku lupa ngasih tau kamu kemarin waktu kamu pulang ke rumahmu weekend yang lalu ada yang nyariin kamu kesini, Git." lanjut Melati memberitahu Gita.
Gita mengerutkan keningnya dan kemudian teirngat. "Oh, Gibran maksud kamu?" tanya Gita kemudian menebak kalau Gibran sebelum datang ke rumahnya pasti terlebih dulu mencari ke kost-nya.
"Oh, namanya Gibran? Dia pacar kamu?" tanya Melati lagi membuat pipi Gita tiba-tiba memerah.
"Emmm... Enggak, Mel. Dia sahabatku." jawab Gita.
"Oh, aku kira dia pacar kamu." ledek Melati membuat pipi Gita tambah merah.
Gita pun langsung menjawab, "Nggak, dia sahabatku, Melati." jawab Gita sambil tersenyum malu-malu dan segera membuka kunci pintu kamarnya. Melati tertawa kecil melihat ekspresi malu Gita.
Gita masuk ke kamar dan meletakkan tasnya di samping pintu. Dia langsung merebahkan diri di ranjangnya dan mulai mengecek handphone-nya yang seharian tadi di-silent-nya.
Gita menemukan 5 panggilan tidak terjawab dari Gibran dan 4 pesan masuk untuknya. Gibran tidak satu kelas dengan Gita saat kuliah siang tadi, demikian pula kuliah sore tadi hanya Gita yang masuk kuliah, karena dia mengambil mata kuliah semester di atasnya, sementara Gibran tidak mengambilnya. Dia segera membuka whatsapp dari Gibran.
Gibran :
'Kamu sudah selesai kuliah belum?' (pesan pertama)
'Kamu dimana?' (pesan kedua)
'Gita...' (pesan ketiga)
'Gitakuuuuuu' (pesan keempat)
Gita segera memencet nomor handphone Gibran dan memanggilnya.
"Halo..." jawab suara Gibran di seberang sana ketus.
"Ada masalah apa, tumben kamu heboh banget nyariin aku?" tanya Gita langsung menebak Gibran pasti sedang ada masalah sehingga menelepon dan mengiriminya pesan berkali-kali.
"Kamu baru pulang?" tanya Gibran balik, tidak menghiraukan pertanyaan Gita.
"Iya, aku capek banget nih, kalau nggak ada yang penting aku tutup dulu ya." jawab Gita mulai tidak sabar.
"Aku kesana ya." pinta Gibran.
__ADS_1
"Nanti malam aja, aku mau istirahat, mana belum mandi juga." jawab Gita benar-benar lelah.
"Iya, iya." sahut Gibran mematikan teleponnya.
Malam harinya...
Gibran beranjak ke kost Gita. Dia sebenarnya tidak mempunyai masalah apapun, entah mengapa dia hanya ingin melihat Gita. Bagi Gibran sekarang lebih menyenangkan kalau dia bisa sering bersama dengan Gita.
Sesampainya di depan kost Gita, Gibran segera menelepon Gita. Berkali-kali dia memanggil tetapi belum ada jawaban dari Gita.
"Kemana sih ini anak..." Gibran bergumam. Dia gelisah karena tidak mendapat jawaban dari Gita.
Gibran gusar sambil sibuk mengutak atik handphone-nya.
"Nunggu Gita, ya?" tanya suara seorang perempuan tiba-tiba mengagetkan Gibran yang masih duduk di atas motornya.
"Emmm...iya." jawab Gibran agak ragu-ragu. Dia tidak mengenali perempuan yang bernama Melati itu.
"Bentar ya, aku panggilkan." kata Melati menawarkan bantuan.
"Iya, terimakasih." sahut Gibran berterimakasih.
Melati segera masuk ke dalam kost-nya. Tidak lama setelah masuk, Melati kembali keluar.
"Gibran, Gita-nya lagi tidur. Aku ketok-ketok pintu kamarnya nggak dijawab, waktu aku coba buka ternyata nggak dikunci. Kamu mau aku bangunkan dia?" tanya Melati sesampainya di depan Motor Gibran.
"Oh, nggak usah deh, aku pulang aja kalau gitu." jawab Gibran merasa tidak enak kalau harus membangunkan Gita dan juga merepotkan teman kost Gita itu.
"Oh..." sahut Gibran mengangguk. "Ngomong-ngomong, kamu tau namaku dari mana?" tanya Gibran agak penasaran karena Melati tadi menyebutkan namanya.
"Emmm... Gita yang memberitahuku, waktu aku bilang kamu datang kesini weekend yang lalu nyariin dia." jawab Melati. "Oh iya, namaku Melati." lanjut Melati mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.
"Aku Gibran." jawab Gibran membalas jabatan tangan dari Melati. Gibran sebelumnya tidak mengenal Melati, selama ini dia lumayan sering mengunjungi kos Gita tetapi baru beberapa waktu ini dia melihat Melati. "Kamu baru tinggal disini?" lanjut Gibran bertanya.
"Aku sudah enam bulan ini pindah kesini. Aku memang jarang keluar, jadi mungkin kamu belum pernah melihatku sebelumnya." kata Melati memberitahu Gibran dengan malu-malu.
Sesaat Gibran memperhatikan Melati, dia memakai kacamata dan rambut sebahunya dikuncir kuda. Melati memang agak polos dan dilihat dari penampilannya yang 'sederhana', dia memang tipe orang yang jarang bergaul. Tetapi, ada sesuatu saat Gibran melihat mata Melati. Entah mengapa dia seperti familiar dengan mata itu.
"Kalau gitu aku masuk dulu, ya." kata Melati membuyarkan lamunan Gibran.
"Iya, terimakasih." Gibran mengangguk dan mempersilahkan Melati masuk. Setelah itu dia menyalakan motornya dan pulang ke rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00, Gita baru saja terbangun dari tidurnya. Dia baru teringat kalau Gibran tadi menghubunginya dan ingin ke kost-nya malam ini. Dia segera mengecek handphone-nya, ada 3 panggilan tidak terjawab dari Gibran.
Gita segera menghubungi Gibran, namun tidak ada yang menjawab. 'Apa dia marah karena aku tadi ketiduran?' batin Gita mencemaskan Gibran. Dia pun memutuskan besok pagi saja saat di kampus dia akan menemui Gibran.
Keesokan harinya...
__ADS_1
Lodya menelepon Gibran dan memohon untuk bersedia menemuinya. Gibran sebenarnya sudah tidak tertarik membahas hubungannya dengan Lodya, karena sudah jelas dia tidak akan kembali padanya. Tetapi Lodya terus memaksa dan Gibran hanya ingin kali ini menjadi yang terakhir kalinya mereka bertemu dan sekaligus dia akan menegaskan hubungan mereka sudah berakhir.
Gibran janjian dengan Lodya di sebuah kedai kopi di dekat kampus yang sudah buka pagi itu.
"Hai..." Lodya menyapa Gibran sesaat setelah Gibran duduk di hadapannya.
"Ada yang mau dikatakan?" tanya Gibran langsung tanpa basa-basi.
Lodya tidak terkejut mendengar respon Gibran yang sangat dingin terhadapnya. Dia tau betul Gibran akan sangat marah atas kejadian yang dilihatnya kemarin. "Aku... minta maaf..." jawab Lodya berhati-hati.
"Ada lagi?" tanya Gibran lagi ketus.
"Aku..." Lodya berhenti sejenak memikirkan jawabannya. "Terkadang hidup nggak bisa memilih, Gibran." jawab Lodya dengan nada suara yang sedih.
"Setidaknya kita bisa memilih mana yang benar dan yang salah." sahut Gibran membuat perasaan Lodya lebih terluka.
"Aku benar-benar minta maaf telah membohongimu." kata Lodya lagi bersungguh-sungguh.
"Aku sudah memaafkanmu, jadi kita sekarang sebaiknya nggak usah ketemu lagi." kata Gibran juga bersungguh-sungguh.
"Kamu nggak akan cerita macam-macam ke yang lain, kan?" tanya Lodya kemudian membuat Gibran menyunggingkan senyumnya.
"Menurutku itu sama sekali bukan urusanku. Jadi kamu menemuiku karena khawatir aku akan menyebarkan 'rahasia' itu?" tanya Gibran balik.
"Aku tau kamu ngga akan melakukannya. Kamu nggak seperti Andra." jawab Lodya membuat Gibran tertawa dingin.
"Jadi kamu tau kalau Andra yang memberitahuku?" tanya Gibran lagi.
"Dari mana lagi kamu dapat kartu akses itu kalau bukan dia. Aku pikir kalian sudah nggak berteman lagi. Aku benar-benar melewatkannya." jawab Lodya dengan rasa kesal mengingat rencana Andra dan Gibran yang berhasil memergokinya.
"Hahaha... Tenanglah, aku bukan dia." kata Gibran menegaskan. "Aku nggak akan menasehatimu apalagi mengguruimu, jadi kamu bisa melakukan apa yang kamu mau." Gibran melanjutkan.
"Terimakasih Gibran. Aku benar-benar minta maaf." jawab Lodya kembali bersungguh-sungguh.
"Baiklah, aku pergi dulu kalau sudah nggak ada yang kita bahas lagi." sahut Gibran ingin beranjak dari tempat duduknya.
Baru saja Gibran ingin beranjak pergi, tiba-tiba Gita masuk ke dalam kedai kopi itu bersama Intan dan Lala. Mereka terkejut dan saling berpandangan.
Gibran segera berdiri menghampiri Gita. "Kamu tumben pagi-pagi kesini?" tanya Gibran kepada Gita yang tidak biasa datang ke kedai kopi itu sepagi ini.
"Kamu juga tumben pagi-pagi sudah nge-date disini, pacar baru?" tanya Gita ketus melihat Lodya yang masih duduk di kursinya. Baru saja Gibran mengatakan tidak akan berpacaran lagi tapi kali ini dia sudah mengingkari perkataannya pikir Gita.
"Aku pergi dulu ya, Gibran." kata Lodya berpamitan karena merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Gita.
Gibran mengangguk dan mempersilahkan Lodya pergi. Sementara itu Gita masih berdiri dengan emosinya yang entah mengapa tiba-tiba meledak melihat Gibran dengan perempuan sepagi ini. 'Pantas saja aku cari di kampus nggak ada, ternyata dia disini sama cewek' batin Gita marah.
Intan dan Lala saling berpandangan bingung. "Duduk dulu, yuk." ajak Intan kepada teman-temannya yang masih berdiri itu.
__ADS_1
Intan pun duduk di sebelah Lala. Gita juga mengambil duduk di seberangnya, sementara Gibran duduk di sebelah Gita.
"Kamu cemburu?" tanya Gibran tiba-tiba kepada Gita membuatnya terkejut. Intan dan Lala tidak bisa menahan senyum mereka melihat tingkah kedua temannya itu.