
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
"Aku belum memikirkan tentang pernikahan, Gibran." kata Gita serius.
"Aku nggak minta kamu menikah denganku hari ini." sahut Gibran tidak bisa menahan senyumnya mendengar pernyataan Gita.
"Apa?" seru Gita terkejut, tanpa sadar mulutnya masih terbuka.
"Hahaha...!" Gibran tertawa melihat wajah melongo Gita.
"Gibran...!" kata Gita agak berteriak karena kesal Gibran meledeknya. Gita mencubit lengan Gibran.
"Aduhhhh sakit, Gita..." kata Gibran sambil mengusap lengannya yang bekas dicubit Gita.
Gibran lagi-lagi senang melihat wajah Gita yang cemberut. "Hahaha...!" kata Gibran kembali tertawa.
"Nggak lucu, Gibran. Bodohnya aku sudah mengira kamu serius tadi." kata Gita sambil bergumam. Dia benar-benar kesal Gibran mempermainkannya.
Tawa Gibran akhirnya berhenti. "Iya... iya... maaf." kata Gibran kemudian meminta maaf.
Gibran mengambil tangan Gita untuk menggenggamnya. Wajah Gibran kali ini berubah serius. "Tapi aku benar-benar mau menikah denganmu suatu saat nanti." kata Gibran bersungguh-sungguh.
Gita terdiam mendengar kata-kata Gibran. 'Apa-apaan ini? Apa aku baru saja membicarakan pernikahan dengan Gibran?' batin Gita.
"Mbak Gita sudah pulang?" tanya Fariz tiba-tiba datang mengagetkan Gibran dan Gita yang sedang berpegangan tangan. Gita langsung melepaskan tangannya dari tangan Gibran.
"Fariz? Sudah bangun?" tanya Gita balik.
"Iya, Mbak. Aku kangen sama Mbak Gita." jawab Fariz sambil mendatangi Gita dan memeluknya.
Gibran tersenyum melihat perlakuan adik bungsu Gita itu. Sementara Gita membalas pelukan adiknya dan mencium pucuk kepalanya.Adik bungsunya itu memang sangat manja, apa lagi kepada Gita.
"Mbak Gita kan perginya cuma sebentar." kata Gita melepaskan pelukan Fariz dan menenangkannya.
"Iya... iya... Mbak Gita harus janji hari ini nemenin Fariz membaca buku." rengek Fariz. Dia memang mempunyai hobi yang sama dengan Gita, membaca buku.
"Iya, nanti malam Mbak Gita temenin." kata Gita tersenyum kepada Fariz.
Fariz balas tersenyum dan berpindah menatap Gibran yang juga tersenyum di samping Gita.
"Mas, pacarnya Mbak Gita?" tanya Fariz dengan polosnya sambil tersenyum manis menatap Gibran.
Pipi Gita lagi-lagi memerah. 'Tadi papa yang nanya gitu, sekarang Fariz.' batin Gita.
"Boleh nggak kalau Mas jadi pacarnya Mbak Gita?" tanya balik Gibran kepada Fariz.
"Boleh aja. Mas ganteng kok, cocok sama Mbak Gita." jawab Fariz masih dengan polosnya.
Gibran tertawa kecil mendengar jawaban Fariz. "Oh iya, kenalin nama Mas, Mas Gibran." kata Gibran memperkenalkan diri kepada Fariz.
"Namaku Fariz, Mas Gibran." sahut Fariz dengan sopan.
"Karena kamu sudah bilang Mas ganteng, nanti kalau Mas Gibran kesini lagi, Mas bawakan buku deh buat Fariz." kata Gibran membuat Fariz tersenyum senang. Gita juga tersenyum melihat Gibran dan Fariz mulai bisa akrab.
"Memangnya kamu nanti masih mau kesini?" tanya Gita kepada Gibran sambil berbisik.
__ADS_1
"Iya." jawab Gibran singkat membuat Gita heran bagaimana mungkin Gibran bisa seenaknya membuat janji dengan adiknya.
"Beneran Mas?" tanya Fariz senang.
"Iya. Kamu suka buku apa?" tanya Gibran lagi.
"Aku suka komik, tapi aku masih belum lancar membaca, jadi jangan yang tebal-tebal ya, Mas Gibran." jawab Fariz riang.
"Oke... Kalau Mbak Gita ngebolehin Mas Gibran kesini lagi, nanti Mas bawakan bukunya buat Fariz." kata Gibran berjanji.
"Tenang aja, Mbak Gita pasti setuju." jawab Fariz senang. Dia benar-benar menyukai Gibran. Gibran tersenyum mendengar jawaban Fariz.
Gita terdiam mendengar percakapan Gibran dan Fariz. Dia tidak menyangka Gibran pandai mengambil hati keluarganya, padahal baru sekali ini dia menemui mereka.
"Mama mana, Fariz?" tanya Gita akhirnya merubah topik pembicaraan.
"Mama nemenin papa, Mbak. Papa kan baru datang." jawab Fariz.
"Fariiiiz..." suara Bi Inah memanggil Fariz dari belakang rumah.
"Iya, Bi...!" teriak Fariz langsung berlari mendatangi Bi Inah dan meninggalkan Gibran serta Gita yang masih duduk di ruang tamu.
"Aku pulang dulu ya, Git." kata Gibran pamit kepada Gita. "Udah sore soalnya." lanjutnya.
"Sekarang?" tanya Gita agak enggan melepas Gibran pergi.
"Iya... Aku nggak mau kemalaman sampai rumah." jawab Gibran.
"Iya..." jawab Gita lirih.
"Kamu kenapa?" tanya Gibran sambil bersiap-siap memasang jaketnya.
Gibran mengangkat alisnya. "Yakin?" tanya Gibran lagi memastikan.
"Iya..." jawab Gita sebenarnya tidak yakin. Entah mengapa dia masih ingin berada di dekat Gibran.
"Kalau gitu aku pulang dulu." kata Gibran berpamitan.
"Aku antar kamu ke depan, ya." kata Gita menawarkan.
Gita berjalan mengikuti Gibran dan mengantarkannya sampai ke garasi motornya. Gibran mengeluarkan motor dan menyalakannya.
Gita masih belum rela Gibran pergi. Ditambah lagi sekarang sedang liburan semester, dia pasti akan lama tidak bisa bertemu dengan Gibran.
Gibran menatap Gita yang masih berdiri di depan garasi motor. Tatapan Gita seakan kosong, dia menyadari Gita sedang merenung.
Gibran akhirnya turun dari motornya dan menghampiri Gita. "Kamu beneran nggak papa?" tanya Gibran agak cemas.
Gita menatap Gibran yang sekarang berdiri di depannya. "Nggak kok." jawabnya masih dengan nada suara yang lirih.
"Kamu bohong." tembak Gibran.
"Kenapa aku harus bohong?" tanya Gita menepis tuduhan Gibran.
"Kamu nggak mau aku pergi." jawab Gibran dengan sangat yakin.
__ADS_1
"Tau darimana?" tanya Gita balik. Dia heran kenapa Gibran selalu bisa menebak perasaannya dengan tepat. 'Apa Gibran paranormal? Atau dia bisa membaca isi hati orang?' batin Gita. Otaknya pasti sedang kacau memikirkan yang tidak-tidak.
"Hahaha..." tawa Gibran seketika meledak. "Tapi aku benar, kan?" tanya Gibran tertawa puas.
Gita cemberut melihat Gibran yang meledeknya. "Gibran...!" seru Gita sambil memukul lengan Gibran.
Gibran menangkap tangan Gita yang sedang memukulinya. Dia menggenggam tangan Gita dan membawanya ke samping garasi motor yang merupakan halaman samping rumah Gita. Disitu mereka tidak bisa terlihat langsung dari rumah.
Gibran meletakkan kedua tangan Gita di pinggangnya, sementara kedua tangan Gibran juga berada di pinggang Gita. Mereka berdua saling berpelukan.
"Kamu nggak mau jauh dariku?" tembak Gibran sambil tersenyum kepada Gita.
"Kamu terlalu percaya diri." ledek Gita tidak terima.
"Aku hanya mewakili perasaanmu." sahut Gibran menatap Gita memberikan senyum yang paling manis untuk perempuan di hadapannya itu.
"Kalau gitu, berhentilah jadi paranormal, Gibran." kata Gita sambil tertawa.
Mereka berdua kemudian tertawa bersama-sama. Gita masih enggan melepaskan pelukan Gibran. Dia benar-benar menyukai aroma tubuh Gibran.
"Kamu harus mengijinkanku pulang hari ini, Git." kata Gibran perlahan melepaskan pelukannya.
"Hmmm..." gumam Gita agak kecewa.
"Aku sudah dua hari nggak pulang. Mungkin ayah ibuku akan mencoretku dari daftar kartu keluarga kalau hari ini aku nggak pulang ke rumah." kata Gibran sambil bercanda.
"Hahaha..." Gita tertawa mendengar lelucon Gibran. "Baiklah." kata Gita akhirnya melepaskan Gibran. "Hati-hati di jalan, Gibran." lanjut Gita berpesan kepada Gibran.
"Aku akan kesini lagi nanti." kata Gibran membuat Gita sedikit tenang.
"Kapan?" tanya Gita tidak sabar.
"Hahaha...! Kamu semangat banget, Gita." ledek Gibran. "Apa sekarang kamu sudah benar-benar jatuh cinta padaku?" tanya Gibran kemudian.
Gita tersipu-sipu mendengar pertanyaan Gibran. "Aku juga belum tau, mungkin aku akan mencoba melakukan apa yang kumau, seperti katamu, terkadang aku harus melakukan saja apa yang kusuka." jawab Gita bersungguh-sungguh.
Gibran tersenyum mendengar jawaban Gita. "Aku pulang dulu." kata Gibran pamit untuk yang ke sekian kalinya.
"Baiklah..." jawab Gita dengan senang. "Kabari aku kalau kamu sudah sampai rumah." pesan Gita melanjutkan.
"Siap...!" jawab Gibran sambil bercanda memberi hormat kepada Gita.
Gibran segera kembali ke motornya dan menyalakannya. Dia membawa motornya melaju keluar dari rumah Gita.
Gita pun kembali berjalan masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, mama Gita sedang berada di ruang keluarga menonton tv bersama Fariz dan Haris, sementara papanya masih beristirahat di kamar.
"Pacarmu sudah pulang?" tanya mama Gita tiba-tiba ketika Gita mengambil duduk di sebelah Haris.
"Pacar?" tanya Gita heran. 'Kenapa semua orang rumah hari ini menganggap Gibran pacarku? Apa karena selama ini aku nggak pernah bawa teman lelaki ke rumah?' batin Gita mengerutkan dahinya.
"Mas Gibran namanya, Ma." jawab Fariz dengan polosnya.
"Beneran punya pacar, Mbak?" tanya Haris girang di sebelah Gita. "Hahaha...!" Haris tertawa puas.
__ADS_1
"Lain kali kalau dia datang lagi kenalin ke mama, ya. Masa cuman papa yang diajak kenalan?" kata mama Gita protes.
Wajah Gita seketika merona dan dia hanya bisa tersenyum mendengar keluarganya begitu antusias dengan kedatangan Gibran hari ini.