Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 17 PENGAKUAN GIBRAN


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Sesampainya di hotel...


Gibran dan Alvin menurunkan barang-barang dari bagasi mobil. Gita dan Lala menuju meja resepsionis untuk melakukan check-in.


Setelah menyelesaikan administrasi, mereka mendapat kunci kamar masing-masing. Letak kamar mereka berdekatan satu sama lain.


Gita dan Lala berada di kamar yang sama, sementara Gibran dan Alvin sesuai keinginan mereka mendapatkan kamar sendiri-sendiri.


Gita dan Lala menata barang mereka di lemari sesampainya di kamar. Malam sudah hampir tiba, Gita dan Lala bergegas untuk membersihkan diri setelah melalui perjalanan yang melelahkan.


Gita menyiapkan baju ganti untuk dipakai keluar makan malam nanti. Dia mencari-cari sebuah tas kecil yang berisi pakaian dalamnya disana tetapi tidak menemukannya.


"Kenapa, Git?" tanya Lala bingung melihat Gita agak panik.


"Emmm... tas kecilku kok nggak ada, ya." jawab Gita.


"Tas apa?" tanya Lala lagi.


"Tas kecil yang isinya pakaian dalam, La. Seingatku tadi sudah aku masukin ke tas." jawab Gita sambil berpikir mengingat-ingat. "OMG...!!!" serunya kemudian.


"Kenapa lagi, Git?" tanya Lala terkejut mendengar teriakan Gita.


"Apa mungkin aku salah masukin ke tasnya Gibran?" kata Gita menepuk dahinya.


"Apa? Hahaha...!" Lala tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Gita. "Kok bisa sih, tumben kamu teledor, Git." kata Lala melanjutkan.


Wajah Gita seketika memerah. Dia tidak bisa membayangkan wajah Gibran saat menemukan tas yang berisi pakaian dalamnya.


"Kamu mandi duluan ya, La. Aku ke kamar Gibran dulu." kata Gita memberitahu Lala.


"Oke...!" sahut Lala masih menertawakan Gita.


Gita keluar dari kamarnya dan menuju kamar Gibran. Dia mengetuk pintu kamar Gibran. Agak lama akhirnya Gibran membukakan pintu untuknya. Dia hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Sepertinya Gibran baru saja selesai mandi.


Wajah Gita memerah melihat Gibran di depannya. Sesaat, dia terdiam memperhatikan tubuh Gibran yang masih agak basah.


"Kenapa, Git?" tanya Gibran memecah lamunan Gita.


"Emmm... Itu... ckckck.." tenggorokan Gita seperti tersumbat. Dia segera menelan ludahnya.


"Masuk." ajak Gibran mempersilahkan Gita masuk ke kamarnya.


Tanpa berpikir, Gita melangkahkan kakinya masuk ke kamar Gibran dan pintu tertutup otomatis di belakangnya.


Gibran berjalan menuju tasnya yang dipinjamkan Gita dan mencari baju untuk dipakainya. Dia mengambil kaos berwarna putih yang baru saja dibelinya pagi tadi bersama Gita.


Gita melihat tas kecilnya di dalam tas Gibran dan langsung mendekatinya.


"Ada apa?" tanya Gibran heran melihat Gita mendekat padanya.


"Nggak papa." jawab Gita malu-malu. Dia tidak mungkin memberitahu Gibran kalau dia salah memasukan tas kecilnya yang berisi pakaian dalam itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu kesini?" tanya Gibran lagi masih belum memakai kaos di tangannya.


"Itu... Ada yang mau aku ambil..." jawab Gita sambil tersenyum malu-malu.


"Apa?" tanya Gibran penasaran.


"Itu..." Gita menunjuk sebuah tas kecil di dalam tas Gibran. Wajahnya pasti benar-benar merah saat ini.


"Ini?" Gibran mengangkat tas kecil yang dimaksud Gita dan menunjukan kepadanya. "Apa isinya?" tanya Gibran menggoda Gita. Dia ingin membuka tas kecil itu.


"Jangaaaannnn...!" teriak Gita seketika berada di hadapan Gibran dan berusaha merebut tas kecil itu dari tangan Gibran.


Gibran mengangkat tas itu ke udara, Gita berusaha menggapai-gapai tetapi tidak bisa meraihnya karena tubuh Gibran jauh lebih tinggi darinya.


Gibran tertawa puas bisa menggoda Gita. Gita merengut dan kesal karena dipermainkan Gibran. Akhirnya dia berhenti melompat-lompat dan masih berdiri di hadapan Gibran.


Gibran mendekatkan wajahnya kepada Gita. Gita bisa mencium aroma segar daun mint dari tubuh Gibran. Aromanya sangat enak dan Gita menyukainya.


Wajah Gibran kini berada sangat dekat dengan Gita. Gita merasa jantungnya seketika ingin melompat keluar.


Sementara Gibran juga tidak bisa menahan diri. Apa lagi saat ini situasinya sangat mendukung. Mereka berdua berada di dalam kamar. Hanya berdua!


"Aku bisa menebak apa yang ada di dalam tas ini." kata Gibran berbisik di telinga Gita. Gita merasa geli saat hembusan nafas Gibran terasa di telinganya.


"Sini..." Gita kembali berusaha meraih tasnya dari tangan Gibran, tapi sia-sia. Gibran malah berhasil menangkap tangan Gita dan membawanya ke genggamannya.


Wajah Gita benar-benar merah merona sekarang. Dia berusaha mengacuhkan pemandangan dada Gibran yang ternyata sangat menawan di hadapannya.


Gibran melepaskan tas kecil yang diperebutkannya bersama Gita dari tangannya. Kemudian tangannya yang kosong itu mengambil pinggang Gita dan mendekatkannya ke tubuhnya.


Gita tidak tau harus berbuat apa. Dia sangat menyukai Gibran berada di dekatnya. Entah mengapa tubuhnya seperti tidak bisa menolak magnet Gibran.


"Ka... kamu mau apa?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Gita.


"Aku?" tanya Gibran balik. Dia mendekatkan bibirnya ke bibir Gita. "Aku mau kamu." bisik Gibran sambil mengecup bibir Gita.


Gita tersentak karena kecupan Gibran. Dia berusaha mundur tapi tangan Gibran di pinggangnya tidak membiarkannya pergi. Tubuhnya seakan lemah terbawa suasana yang diciptakan Gibran.


Gibran tidak bisa menahan lagi. Dia ingin merasakan manisnya bibir Gita lagi dan lagi. Gibran menatap mata Gita begitu pun sebaliknya.


Gita akhirnya menerima ciuman Gibran lagi untuk yang kedua kalinya. Kali ini dia tidak tinggal diam, melainkan membalas ciuman Gibran. Untuk sesaat pikiran realistisnya ditinggalkannya entah kemana. Saat ini yang dilakukannya adalah bentuk spontanitas dari apa yang memang diinginkannya.


Gibran merasa makin bergairah saat Gita membalas ciumannya. Kali ini menjadi ciuman yang lebih lama, lebih lembut dan lebih intens dari sebelumnya. Dia sangat menyukai bibir Gita lebih dari yang dia kira.


"Gibran..." bisik Gita lirih saat Gibran berpindah menciumi lehernya. "Stop..." Gita meminta Gibran menghentikan permainannya, meskipun dia sangat menikmatinya. Pikiran rasional Gita ternyata masih bekerja di otaknya. Dia tersadar sebelum melangkah terlalu jauh dia harus segera menyudahinya.


Gibran berhenti melakukan aksinya. Dia juga tersadar dari aksi spontanitasnya. Dia melepaskan tangannya dari pinggang Gita dan segera mengambil kaos di atas tasnya, lalu mengenakannya.


"Apa kamu memperlakukanku sama dengan pacar-pacarmu dulu?" tanya Gita kepada Gibran dengan wajah agak sedih. Dia jelas masih meragukan Gibran dan menganggapnya hanya mempermainkannya karena saat ini Gibran tidak punya pacar.


"Aku sama sekali nggak memperlakukanmu sama seperti mereka!" jawab Gibran tegas. Dia agak kesal mendengar pertanyaan Gita yang seolah-olah menudingnya mempermainkannya.


"Aku nggak mau jadi pelampiasanmu hanya karena sekarang kamu nggak punya pacar...!" kata Gita tidak kalah tegas.

__ADS_1


Gibran menghela nafas. "Dengar, Git. Aku belum pernah melakukan hal yang seperti kita lakukan tadi ke pacar-pacarku sebelumnya." kata Gibran menjelaskan.


Gita agak terkejut. Setaunya Gibran memang tidak pernah menyentuh pacar-pacarnya, tapi Gita mengira dia masih bermain-main setidaknya dipikirnya Gibran pernah berciuman sebelumnya.


"Kamu tau aku nggak pernah menyentuh mereka." kata Gibran lagi melanjutkan.


"Menyentuh seperti apa?" tanya Gita polos.


Gibran tersenyum mendengar pertanyaan Gita. "Aku bahkan belum pernah berciuman sebelumnya, Gita." kata Gibran memberitahu Gita.


"Nggak mungkin. Aku pikir meskipun kamu bilang nggak menyentuh mereka, paling nggak kamu sudah pernah berciuman sebelumnya." kata Gita masih membahas pengakuan Gibran.


Gibran kembali menghela nafas panjang. "Ciuman pertamaku di mobil waktu itu denganmu, ciuman keduaku... sekarang denganmu lagi." kata Gibran mengakui.


Gita menatap mata Gibran yang bersungguh-sungguh mengakui perkataannya. "Aku juga, Gibran." sahut Gita juga mengakui.


"Aku menyukainya." kata Gibran mengakui lagi.


Gita tersenyum mendengar pengakuan Gibran lagi. Dia benar-benar menyukai Gibran entah sejak kapan. Tapi di sisi lain dia juga masih mempunyai sedikit keraguan pada perasaan Gibran terhadapnya.


"Aku harap kamu nggak akan menghindar lagi, Git." pinta Gibran serius.


"Apa aku punya pilihan lain?" tanya Gita sambil bercanda.


Gibran segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sangat menyukai Gita dan tidak ingin Gita menjauh darinya.


"Baiklah, aku harus kembali ke kamarku." kata Gita lagi.


"Boleh aku minta satu hal kepadamu?" tanya Gibran membuat Gita mengerutkan alisnya.


"Apa?" tanya Gita balik.


Gibran mendekati Gita dan memeluknya. Gita tersentak dan terdiam. Rasanya sangat hangat dan nyaman berada di pelukan Gibran.


Gibran mencium puncak kepala Gita dan merasakan aroma rambutnya. Dia sangat menyukainya.


Gibran melepaskan pelukannya sesaat kemudian. "Aku sayang kamu, Gita." kata Gibran serius. "Aku akan menunggumu." lanjutnya.


Gita belum bisa menjawab pernyataan Gibran. Dia masih bingung dan tidak tau harus berkata apa.


"Emmm... Aku ke kamar dulu ya." kata Gita pamit.


Gita mengambil tas kecilnya dan segera melangkah keluar dari kamar Gibran menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar...


"Kok lama, Git?" tanya Lala kepada Gita sesampainya di kamar. Lala sedang berdandan di depan cermin dan sudah berpakaian rapi.


"Emmm... nggak lama kok." jawab Gita mengelak dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Lala heran melihat tingkah Gita yang seperti sedang salah tingkah.


"Nggak lama apaan, setengah jam dia disana. Hmmm..." gumam Lala curiga.

__ADS_1


__ADS_2