Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 32 MERINDUKANMU


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


'Jika mencintaimu adalah hal yang rumit, maka ijinkan aku membuatnya menjadi sederhana, karena cinta itu sebenarnya sederhana, hanya pikiranmu saja yang membuatnya rumit. (Gibran Ghanial).'


Sebulan berlalu setelah peristiwa Gibran dan Gita di parkiran kampus waktu itu. Hari ini Gibran kembali magang di kantor Pak Surya, papanya Gita. Selama magang, dia tinggal di mess dekat kantor.


Gibran bersiap untuk bekerja. Dia memakai kemeja berwarna biru muda dan celana panjang kain berwarna hitam hari ini. Dia berangkat ke kantor dengan mengendarai motornya.


Kantor papanya Gita cukup besar dan luas. Meskipun papanya Gita adalah direktur sekaligus pemilik perusahaan yang boleh dibilang besar, tetapi gaya hidupnya sederhana dan tidak terlalu berlebihan. Papanya Gita sangat baik, beliau terkenal sangat dermawan, dan selalu memperhatikan karyawannya.


Perusahaan Surya Wicaksana Grup memang menguasai berbagai bidang konstruksi, diantaranya bidang bisnis properti, bidang kontraktor bangunan, bidang konsultan pengawasan, bidang konsultan perencanaan serta bidang pengembangan perumahan dan real estate. Sementara Gibran mengambil praktek kerja di bidang konsultan perencanaan di perusahaan itu.


Sesampainya di kantor, Gibran disambut dengan berkas-berkas untuk dateline di atas mejanya. Gibran magang di bagian teknis sebagai staf teknis perencanaan. Dia merencanakan struktur bangunan, gambar rencana dan juga rencana anggaran biaya untuk suatu proyek konstruksi bangunan.


Gibran duduk di kursinya. Dia selalu menjadi yang pertama datang di ruangan itu. Ruangannya tidak terlalu besar. Di ruangan itu dia bersama-sama dengan dua staf teknis lainnya, Bima dan Ridho. Keduanya merupakan karyawan tetap perusahaan.


Gibran membuka laptop-nya dan mulai bekerja. Dia memang sangat rajin bekerja dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan papanya Gita kepadanya. Tidak lama kemudian Bima datang dan duduk di kursinya.


"Gibran, kamu sudah cek lokasi untuk rencana pembangunan hotel Arion belum?" tanya Bima kepada Gibran.


"Belum, Kak. Rencananya aku mau kesana siang ini." jawab Gibran.


"Aku siang ini ada rapat, mungkin kamu bisa pergi dengan Ridho." kata Bima mengusulkan.


"Kak Ridho hari ini ada survei ke lokasi lain, Kak. Dia sudah janji dengan Pak Latif." jawab Gibran. "Aku sendiri yang kesana juga nggak papa, Kak. Belum pengukuran juga kan, cuma cek lokasi awal dulu." kata Gibran melanjutkan.


"Oke kalau gitu, aku yakin kamu bisa handle proyek itu." jawab Bima sambil tersenyum. Dia sangat senang ada Gibran yang datang membantu pekerjaannya. Selama ini dia dan Ridho selalu kerepotan mengurus pekerjaan-pekerjaan yang selalu datang dan menuntut harus segera diselesaikan.


"Tok... tok... tok..." suara ketukan pintu dari luar ruangan itu.


"Masuk...!" jawab Bima.

__ADS_1


Pak Robert, asisten Pak Surya, papanya Gita, masuk ke ruangan itu. Beliau sudah sangat senior di kantor ini. Pak Robert lebih tua 10 tahun dari papanya Gita. Beliau sudah berusia 55 tahun dan sudah mengabdikan diri di perusahaan selama lebih dari 20 tahun sejak papanya Gita mulai merintis perusahaan itu.


"Mas Gibran, kamu dipanggil Pak Direktur ke ruangannya." kata Pak Robert memanggil Gibran.


Gibran segera menutup laptop-nya. "Baik, Pak." jawab Gibran sambil berjalan keluar menuju ruangan Pak Surya.


Gibran sangat jarang bertemu dengan papanya Gita di kantor. Dia hanya pernah tiga kali bertemu dengan Pak Surya dalam sebulan ini, yaitu saat pertama kali masuk kerja, rapat rutin bulanan dan saat tidak sengaja suatu pagi bertemu di parkiran.


'Apa ada masalah? Aku rasa aku sudah bekerja dengan cukup baik.' batin Gibran.


Gibran sampai di depan pintu ruangan Pak Surya dan langsung mengetuknya.


"Tok... tok... tok..."


"Masuk..." jawab Pak Surya dari dalam ruangannya.


"Maaf Pak, tadi kata Pak Robert, Bapak memanggil saya?" tanya Gibran masih berdiri di depan pintu yang sudah terbuka.


"Santai saja, Gibran. Tutup pintunya dan duduk disini." kata papa Gita mempersilahkan Gibran untuk duduk di kursi tamu di hadapannya.


Gibran segera duduk. Dia agak gugup karena baru kali ini dia berada di ruangan papa Gita sendirian. Ruangan itu cukup besar dengan fasilitas yang lengkap di dalamnya. Selain kursi dan meja kerja, ada dua lemari berisi buku-buku yang tersusun dengan rapi, sebuah kulkas besar, dispenser, sebuah sofa panjang untuk beristirahat dan juga televisi.


"Om ingin tau apa kamu betah kerja disini?" tanya papa Gita dengan santai.


"Iya Pak..., maksud Gibran, Om." jawab Gibran mengoreksi.


Papa Gita tertawa kecil mendengar jawaban agak gugup dari Gibran. "Panggil Om aja, Gibran." kata papa Gita meminta.


"Baik, Om." jawab Gibran tersenyum.


"Baguslah kalau kamu kerasan. Om rencananya ingin mempertahankanmu disini. Ya... kalau kamu nggak keberatan kerja disini." kata papa Gita menawari Gibran.

__ADS_1


Gibran agak terkejut. Dia senang bisa bekerja di kantor ini, tapi juga merasa agak tidak nyaman karena pemilik perusahaan ini adalah papanya Gita.


"Tapi Gibran belum lulus kuliah, Om." jawab Gibran.


"Nggak lama lagi kamu kan lulus kuliah. Om sangat senang dengan hasil kerja kamu yang selalu memuaskan. Kamu sangat berbakat, Gibran." kata papa Gita memuji Gibran.


"Terimakasih, Om. Gibran sangat senang kalau bisa memberikan yang terbaik." jawab Gibran dengan bijak.


"Oh iya, bagaimana denganmu dan Gita? Kamu sekarang nggak pernah ke rumah lagi?" tanya papa Gita mengalihkan pembicaraan.


"Baik, Om." jawab Gibran berbohong. Padahal dia sudah lama tidak berhubungan dengan Gita.


"Apa itu jawaban yang jujur?" tanya papa Gita lagi meragukan jawaban Gibran.


"Emmm... Iya, Om." jawab Gibran lagi. "Sepertinya kami hanya perlu waktu." lanjut Gibran akhirnya jujur.


"Om nggak tau apa yang terjadi padamu dan Gita. Tetapi apa pun itu, Om harap nggak akan mempengaruhi hubungan kita dalam bekerja. Om benar-benar menghargai bakatmu dan hasil kerja kerasmu, bukan karena kamu pacarnya Gita atau siapa pun." kata papa Gita menjelaskan.


Gibran tersenyum dan mengangguk. "Iya, Om. Terimakasih." jawab Gibran setuju.


"Baiklah, kamu boleh kembali ke ruanganmu sekarang." kata papa Gita.


"Baik..." jawab Gibran.


Gibran beranjak dari ruangan papa Gita. Dia kembali menuju ruangannya dan bekerja seperti biasa. Dia kembali memikirkan Gita, sudah lama sekali dia dan Gita tidak saling menghubungi. Gibran merasa sangat merindukan Gita.


Siang harinya Gibran berangkat survei ke lapangan. Dia meninjau lokasi untuk rencana pembangunan sebuah hotel. Gibran pergi sendirian.


Sesampainya di lokasi, Gibran langsung membuat rencana untuk proyeknya. Setelah selesai dengan sketsanya, dia berencana makan sebentar dan kemudian kembali ke kantor.


Gibran makan di sebuah restoran siap saji. Dia mengantri untuk memesan makanan dan mengambil duduk di pojok ruangan, tempat kosong yang tersedia satu-satunya karena sekarang sedang jam makan siang dan semua tempat duduk sudah terisi penuh.

__ADS_1


Saat Gibran mulai makan, tiba-tiba matanya tertuju kepada sosok dua orang perempuan yang baru saja datang, Gita dan Lala. Lala mengantri, sedangkan Gita mencari tempat duduk untuk mereka berdua. Gita melihat-lihat ke sekeliling dan pandangannya jatuh pada Gibran yang juga sedang menatapnya. Mereka hanya saling menatap dan terdiam sesaat.


__ADS_2