Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 4 KEJUTAN


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


Seminggu berlalu sejak terakhir Gibran menemui Gita di kost-nya. Gita dan Gibran tidak saling berbicara. Gita tidak membalas pesan atau menjawab telepon dari Gibran. Dia juga selalu menghindari Gibran saat bertemu di kampus. Gita tampaknya masih marah kepada Gibran.


Hari Jumat ini adalah hari libur tanggal merah dan Gita berencana pulang ke rumahnya. Dia merasa bersemangat karena akan berada di rumahnya selama long weekend ini. Sudah satu bulan dia tidak pulang ke rumah, tugas kuliah membuatnya sangat sibuk dan tidak sempat pulang, padahal jarak antara kost dan rumahnya hanya sekitar dua jam perjalanan.


"Mel, aku nitip kamar ya, aku mau pulang ke rumah weekend ini." pesan Gita kepada Melati, teman kost-nya di kamar sebelah. Melati saat ini juga kuliah semester lima di Fakultas Kedokteran.


"Oke, Git. Enak ya kamu bisa pulang, aku malah nggak bisa karena jauh, padahal kan lagi libur panjang." jawab Melati sedikit sedih karena Melati berasal dari luar pulau sehingga jarang sekali bisa pulang.


"Hehe, iya Mel, kamu jangan sedih dong." hibur Gita. "Atau kamu mau ikut aku ke rumah? Kita bisa jalan-jalan Mel, daripada kamu sendiri disini?" lanjut Gita mengajak Melati ke rumahnya. Melati adalah teman dekat Gita di kost. Dia sangat tau kalau Melati jarang keluar kost untuk berteman atau jalan-jalan. Dia tipe orang yang serius menggapai cita-cita alias rajin belajar. Hehe.


"Lain kali aja, Git, nggak papa. Kebetulan tugas kuliahku lagi numpuk banget minggu ini." jawab Melati.


"Oh, yaudah kalo gitu. Kalo ada apa-apa kamu bisa kok telepon aku." kata Gita menawari Melati.


"Iya, Git. Lain kali aku pasti mau kok ikut ke rumah kamu. Lagian, aku juga mau kenal sama keluarga kamu." balas Melati tersenyum.


"Next time ya, mama papaku pasti senang. Mereka tuh senang banget sama anak perempuan, pasti mereka suka kalau seandainya aku punya saudara perempuan. Mereka maunya sih gitu, tapi yang keluar malah dua adikku itu laki-laki. Hahaha." jawab Gita sambil bercanda.


"Biar kamu jadi yang paling disayang di rumah, Git." kata Melati menimpali. Mereka pun tertawa bersama-sama.


Gita pamitan kepada Melati dan segera menyalakan mesin mobilnya. Dia sudah tidak sabar untuk berada di rumah bertemu keluarganya.


Sementara di rumah yang lain...


Gibran masih berbaring di ranjang kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 dan dia belum beranjak dari tempatnya itu semenjak dia bangun tidur.


Pikirannya masih merasa bersalah kepada Gita. Gibran benar-benar bingung karena baru kali ini dia dan Gita berada dalam keadaan yang seperti ini, berjauhan dan tidak saling menghubungi.


Tiba-tiba ponsel Gibran berdering. Dia segera menjawabnya dan berharap itu panggilan dari seseorang yang sedang dipikirkannya.


"Halo..." jawab Gibran segera.


"Halo sayang..." sahut suara perempuan di seberang sana.


"Oh..." jawab Gibran singkat setelah mengenali suara itu sebagai pacarnya.


"Kok cuma oh? Kamu lagi ngapain?" tanya Lodya. "Biar aku tebak, pasti lagi mikirin aku, ya?" lanjut Lodya dengan percaya dirinya.


'Nggak sama sekali.' batin Gibran sambil memutar bola matanya.


"Iya sayang..." jawab Gibran berpura-pura.


"Kamu so sweet banget deh sayang..." kata Lodya terdengar sangat senang mendengar jawaban 'jujur' Gibran.


Gibran hanya tersenyum sambil terpaksa.


"Jalan yuk sayang, aku bete nih, kamu kok nggak pernah ngajak aku jalan lagi, sih?" protes Lodya.


Gibran baru menyadari selama seminggu ini dia tidak pernah lagi mengajak pacarnya keluar.

__ADS_1


"Boleh, aku jemput nanti sore, ya?" tanya Gibran menawari Lodya untuk menjemputnya.


"Nggak usah sayang, kita langsung ketemuan aja ya nanti." jawab Lodya menolak tawaran Gibran. Selama pendekatan sampai dengan sekarang Lodya memang belum pernah mau dijemput Gibran. Gibran tidak mempermasalahkannya, baginya malah lebih bagus kalau dia tidak direpotkan oleh pacarnya.


"Oke, kamu maunya kemana?" tanya Gibran lagi.


"Emmmm, ke mall aja ya, sekalian ada yang mau aku beli." jawab Lodya.


"Baiklah..." jawab Gibran menyanggupi keinginan pacarnya itu.


Sore harinya Gibran dan Lodya bertemu di sebuah mall. Lodya ingin membeli sepatu dan tas baru untuknya. Gibran pun menemaninya dengan agak berat hati.


Entah mengapa, pacaran kali ini sedikit terasa aneh untuknya. Biasanya dengan senang hati dia menemani mantan-mantannya berbelanja. Dia pun juga senang mengajak mereka keluar, bahkan untuk sekedar menemaninya makan. Tapi kali ini jangankan mengajak dan menemani jalan, menghubungi pun lebih sering Lodya yang lebih dulu ketimbang Gibran.


Gibran pun tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Tetapi, dia menyadari ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya.


"Yang ini bagus nggak sayang?" Lodya mengangkat tangannya menunjukkan tas kecil yang berwarna kuning kepada Gibran yang dari tadi hanya berdiri diam di sampingnya tanpa banyak berkata.


"Iya bagus." jawab Gibran singkat.


"Bagus mana sama yang merah ini, sayang?" Lodya kembali bertanya, kali ini dia menunjukkan tas kecil berwarna merah yang ada di tangan sebelahnya kepada Gibran.


"Bagus juga." jawab Gibran singkat.


"Kok bagus-bagus terus sih, sayang? Aku kan jadi galau mau pilih yang mana." kata Lodya dengan manjanya.


"Ya... memang bagus itu keduanya..." jawab Gibran bingung.


"Terserah kamu..." jawab Gibran singkat. Dalam hatinya, dia tidak habis pikir bagaimana pacarnya itu ternyata menurutnya sangat menyebalkan.


"Baiklah, aku beli keduanya aja. Hihi." kata Lodya bertambah bersemangat.


Gibran hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Setau Gibran, Lodya memang anak orang kaya. Dia mempunyai mobil pribadi dan tinggal di sebuah apartemen mewah. Tetapi, Gibran belum pernah berkunjung kesana karena Lodya melarangnya. Lodya tidak ingin ada yang salah paham kalau ada lelaki yang mengunjunginya sendirian. Katanya, dia terlalu takut kalau orang tuanya tau dan menjadi salah paham. Gibran pun menurutinya.


Akhirnya kencan dengan Lodya berakhir juga. Setelah makan malam bersama, Gibran kembali ke rumahnya.


Gibran lagi-lagi memikirkan Gita. 'Sedang apa ya dia di kost-nya?' batin Gibran.


Gibran segera keluar lagi dan menyalakan motornya menuju kost Gita.


Sesampainya di kost Gita, Gibran tidak menghubunginya karena dia sudah menebak kalau Gita tidak akan menjawab teleponnya. Gibran pun langsung masuk dan mengetuk pintu utama kos Gita.


Kost Gita memiliki ruang tamu besar di tengah seperti lobby, sementara kamar-kamarnya berada di samping kiri dan kanannya. Kost Gita tidak memiliki banyak kamar, hanya ada enam kamar yang masing-masing berukuran besar dan dilengkapi fasilitas lengkap di dalamnya.


"Tok... tok... tok..." suara ketukan pintu, tetapi belum ada seorang pun yang membukakan pintu untuk Gibran. Dia mengetuk sekali lagi, sementara itu kost-nya terlihat sepi. Akhirnya setelah tiga kali mengetuk, ada seseorang yang membukakan pintu untuk Gibran.


"Iya, ada apa, Mas?" jawab seorang perempuan yang membukakan pintu untuk Gibran.


"Emmm, Gitanya ada?" tanya Gibran tanpa basa-basi.


"Oh, temannya Gita, ya?" tanya balik perempuan itu yang tidak lain adalah Melati.

__ADS_1


"Iya, Gitanya ada?" tanya Gibran lagi mengulangi.


"Gitanya nggak ada, dia pulang ke rumahnya tadi pagi." jawab Melati.


"Oh, kalo gitu terimakasih, ya." sahut Gibran.


"Sama-sama..." jawab Melati. Gibran pun berbalik pergi.


Gibran kembali pulang ke rumahnya. Di sepanjang perjalanan dia memikirkan bagaimana caranya dia bisa segera bertemu dan berbicara dengan Gita. Gibran tidak mengetahui dimana rumah Gita karena selama ini dia belum pernah kesana.


Tiba-tiba Gibran teringat sesuatu...


"Halo, La, kamu dimana?" tanya Gibran di telepon kepada Lala.


"Di rumah, ada apa? Tumben kamu nelepon aku?" tanya Lala lagi sedikit terkejut karena Gibran menghubunginya.


"Aku mau pinjam sesuatu, boleh nggak?" tanya Gibran tampaknya merencanakan sesuatu.


Keesokan harinya...


Gita bangun pagi-pagi sekali dan sedang menyirami tanaman di halaman rumahnya. Papanya sedang bersantai duduk di kursi teras rumah sambil menikmati secangkir teh. Mamanya sedang memasak di dapur bersama Bi Inah, asisten rumah tangga di rumahnya. Sementara kedua adiknya, Haris belum bangun tidur dan Fariz baru saja selesai mandi.


Gita sangat senang berada di rumahnya. Dia bisa melihat tanaman-tanaman yang telah lama ditinggalkannya. Gita memang menyukai tanaman dan dia merawat mereka dengan baik.


"Git, kamu semester depan sudah praktek kerja, ya?" tanya papa Gita kepada anak sulungnya itu.


"Iya, Pa. Masih belum tau sih dimana." jawab Gita masih dengan selang di tangannya.


"Di kantor Papa aja gimana? Nggak perlu repot-repot kan melamar dan lain-lain?" kata Papa Gita menawari.


"Kantor Papa kan jauh banget dari kampus, aku susah bolak-balik nanti. Lagian, nggak enak ah, masa praktek kerja di kantor Papa sendiri? Nggak kreatif ah..." canda Gita sambil tertawa kecil menanggapi tawaran papanya.


"Kamu ini... Masa malah nggak mau yang mudah?" goda ayah Gita.


"Ih Papa nggak boleh kaya gitu. Masa mau anaknya nggak mandiri?" tanya Gita lagi sambil tersenyum kepada papanya.


"Baiklah..." kata papa Gita. "Papa yakin anak papa ini bisa mandiri." lanjutnya. Gita tersenyum. "Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar, Git?" tanya papa Gita lagi. Kali ini pertanyaannya membuat Gita agak terkejut.


"Nggak ada, Pa. Papa kan tau aku nggak mau pacaran sebelum nikah." jawab Gita dengan tegas.


"Ya... Papa pikir kamu kan sudah dewasa, sudah saatnya kamu mengenal laki-laki di luar sana, supaya kamu bisa lebih paham, Git." nasehat papa Gita. Tiba-tiba Gita teringat kepada seseorang yang juga pernah menasehatinya seperti itu.


"Iya, Papa. Nggak usah pakai pacaran-pacaran segala, aku juga udah kenal berbagai jenis laki-laki, kok." jawab Gita lagi.


"Iya, iya... anak Papa yang paling cantik tapi paling keras kepala." canda papa Gita. "Biar keras kepala, tapi papa paling sayang..." sambung papa Gita sambil tersenyum. Gita balas tersenyum kepadanya. papa Gita kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


Gita mematikan keran di halaman rumahnya. Dia sudah selesai menyiram tanaman.


"Teeeetttt..." bel rumahnya tiba-tiba berbunyi. Gita segera membukakan pintu pagar karena kebetulan dia sedang berdiri di dekat sana.


Setelah Gita membuka pintu pagar, dia terkejut melihat seorang laki-laki yang sekarang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Hai, Git." sapa lelaki yang bernama Gibran itu.


__ADS_2