Jodohku Dekat Di Mata

Jodohku Dekat Di Mata
BAB 29 AYO KITA MENIKAH


__ADS_3

****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****


"Kita nggak bisa terus seperti ini, Gita." kata Gibran dengan lembut sambil melepaskan genggaman tangannya dari Gita.


Gita menatap mata Gibran, dia melihat ketulusan dan kesungguhan disana. Gibran yang selama ini dikenalnya tidak pernah serius seakan-akan hilang entah kemana, dia sekarang berganti menjadi Gibran yang lebih dewasa.


Gibran menghela nafas panjang dan mulai berbicara. "Saat aku bertemu denganmu pertama kali waktu kita baru masuk kuliah, aku belum punya perasaan apa pun padamu, Git. Aku menganggapmu teman biasa, tidak lebih."


Gibran berhenti sejenak, sementara Gita memperhatikannya. "Saat itu, aku mulai berpacaran dan bergonta-ganti pacar. Awalnya aku hanya ingin mencoba-coba, karena sebelum kuliah, aku belum pernah berpacaran. Aku ingin tau rasanya bagaimana punya wanita yang selalu ada di sampingku, memperhatikanku dan selalu ada untukku. Menurutku itu semua menyenangkan, tapi hanya itu, tanpa melibatkan perasaan sedikit pun."


Gita masih memperhatikan Gibran dengan seksama. Dia sesekali mengerutkan keningnya ketika menyimak cerita dari Gibran.


"Saat itu juga aku mulai dekat denganmu. Kita selalu bersama-sama karena sering bertemu saat kuliah dan mulai nyaman untuk saling bercerita satu sama lain. Entah mengapa, saat aku berpacaran dengan pacar-pacarku, aku tidak pernah menemukan sosok wanita yang kuinginkan di dalam diri mereka. Aku memutuskan pacarku, mencari pacar baru lagi, lalu putus lagi, dan seterusnya sampai aku benar-benar lelah dan bertanya-tanya siapa yang sebenarnya sedang kucari?" kata Gibran lagi melanjutkan. Dia benar-benar serius sekarang. Sementara Gita tidak berhenti menatapnya saat berbicara.


"Sampai suatu saat aku baru menemukan jawabannya, kamulah sosok yang sebenarnya kuinginkan selama ini. Aku selalu tidak betah dengan pacar-pacarku dan pada akhirnya selalu berlari dan mengadu padamu. Tapi aku terlalu bingung dengan perasaanku dan aku bingung bagaimana jadinya hubungan kita kalau ternyata suatu saat aku benar-benar menyukaimu. Dan inilah yang terjadi sekarang, kita berada di titik yang membuat kita tidak bisa memutuskan seperti apa hubungan kita sekarang." kata Gibran panjang lebar. Dia kembali menghela nafas panjangnya dan menatap Gita dalam-dalam.


"Aku nggak pernah tau kamu memutuskan pacar-pacarmu karena aku?" tanya Gita memastikan. Dia tidak pernah tau Gibran selama ini menyukainya.


"Aku baru menyadari perasaanku dan aku berusaha mencarimu dalam diri mereka karena aku tau kamu nggak akan bisa jadi pacarku." jawab Gibran lirih.


"Apa ini bisa kupercaya? Semua yang kamu sampaikan, Gibran?" tanya Gita serius.


"Kamu pasti tau saat aku berbohong atau saat aku benar-benar jujur padamu. Kamu sudah mengenalku lama, Git." jawab Gibran sambil tersenyum kepada Gita.


"Sekarang, aku benar-benar nggak mau kehilanganmu." kata Gibran kembali menggenggam tangan Gita. "Aku ingin memilikimu, Gita." lanjut Gibran bersungguh-sungguh.


Gita terdiam dan menatap Gibran tanpa berkedip. Dia belum pernah melihat Gibran seperti ini. Gita dibuat terkejut karena pernyataan Gibran yang ternyata menyukainya sejak lama. "Apa yang harus kulakukan, Gibran?" tanya Gita bingung.


"Ayo kita menikah." ajak Gibran tiba-tiba dengan spontanitasnya yang tidak Gita duga.


"Apa?" tanya Gita terkejut mendengar ajakan Gibran. "Kita bahkan belum lulus kuliah." jawab Gita mengingatkan.


"Aku hanya ingin memenuhi keinginanmu. Lagi pula sebentar lagi kita lulus kuliah." kata Gibran meyakinkan Gita.


"Itu bukan alasan yang tepat untuk seseorang melamar, Gibran. Bisakah kamu memikirkan yang lebih bagus?" tanya Gita membuat Gibran mengerutkan keningnya. Dia hanya ingin memenuhi keinginan Gita untuk menikah, apa ada alasan lain yang lebih bagus dari itu?

__ADS_1


'Sungguh Gibran tidak peka.' batin Gita. Bagaimana bisa dia mengajak Gita menikah seperti sedang mengajak jalan ke mall?


"Apa harus ada alasan untuk itu?" tanya Gibran bingung. "Lagipula aku bisa bekerja sambil kuliah. Aku bahkan sudah punya pekerjaan sekarang." lanjut Gibran meyakinkan Gita.


"Pikirkanlah dulu, Gibran. Kamu nggak bisa tiba-tiba mengajakku menikah hanya karena kamu menginginkannya. Bukan sesederhana itu." jawab Gita.


"Kamu nggak mau pacaran, nggak mau menikah, tapi juga nggak mau kita berhubungan tanpa status, lalu apa maumu sebenarnya, Gita?" tanya Gibran dengan emosi yang mulai memuncak. Dia sepertinya mulai kesal dan kehilangan kesabarannya.


"A... aku..." jawab Gita terkejut mendengar kata-kata Gibran yang bercampur emosi. "Aku nggak bilang aku nggak mau menikah..." lanjut Gita pelan.


Gibran kembali menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Dia berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Baiklah, Git." kata Gibran mengangguk paham. Dia sepertinya sudah lelah dengan perdebatan yang tidak kunjung usai itu. "Kalau gitu, aku pulang dulu." kata Gibran kemudian berpamitan kepada Gita.


Gita sebenarnya masih ingin bersama Gibran, tapi dia juga paham kalau sekarang mereka perlu waktu masing-masing.


"Baiklah..." jawab Gita lirih.


Gibran mengecup kening Gita. "Aku sayang kamu." kata Gibran setelahnya dan beranjak pergi dari hadapan Gita.


Air mata Gita perlahan jatuh dan menetes di pipinya. Gita merasa sedih karena sebenarnya dia juga ingin memiliki Gibran. Dia sedih karena melihat Gibran yang sepertinya sudah putus asa menghadapi pemikirannya.


Gita berjalan dengan lunglai ke kamar kost-nya. Matanya memerah karena menangis tadi. Sesampainya Gita di depan kamar, Melati baru saja keluar dari kamarnya dan menghampiri Gita.


"Kamu kenapa, Git?" tanya Melati heran melihat Gita dengan wajah sedihnya.


"Emmm... Nggak papa, Mel." jawab Gita berbohong.


"Ayolah, kamu nggak bisa bohong dengan mata merahmu itu, Git." kata Melati bersikeras.


Gita memeluk Melati dan kembali menangis. Dia benar-benar perlu teman bicara sekarang.


"Ayo masuk dulu." ajak Melati masuk ke kamar Gita.


Gita duduk di tepian ranjangnya dan Melati duduk berhadapan dengan Gita di kursi belajarnya. Melati mengambilkan segelas air putih dari dispenser yang ada di kamar dan memberikannya kepada Gita.


"Ada apa?" tanya Melati pelan-pelan setelah melihat Gita agak tenang.

__ADS_1


'Apa aku harus menceritakan semuanya pada Melati? Apa dia bisa kupercaya? Selama ini aku selalu berkeluh kesah pada Gibran. Tapi aku benar-benar perlu teman bicara sekarang.' batin Gita menimbang-nimbang.


"Apa ini tentang Gibran?" tebak Melati.


"Darimana kamu tau?" tanya Gita heran.


"Siapa lagi yg bisa ngebikin kamu kayak gini kalau bukan dia?" tanya Melati sambil meledek Gita.


Gita menghela nafasnya. Dia sudah benar-benar tenang sekarang. "Kami benar-benar dua orang yang berbeda, Mel." kata Gita akhirnya mulai bercerita.


"Maksudmu? Aku lihat kalian sangat cocok dan selalu bersama." tanya Melati bingung.


"Kami punya prinsip masing-masing, Mel." jawab Gita. "Gibran mau pacaran, aku nggak mau. Bukan masalah besar mungkin untuk sebagian orang, tapi ini benar-benar jadi masalah untuk kami." lanjut Gita sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Kamu nggak mau pacaran? Kamu kok aneh, Git? Kamu trauma?" tanya Melati heran.


"Nggak, Mel. Aku hanya nggak mau, mungkin juga agak takut." jawab Gita. "Aku hanya ingin menikah." lanjut Gita malu-malu.


"Apa?" seru Melati terkejut. "Tapi kalian belum lulus kuliah, Git." lanjut Melati lagi.


"Iya, Mel. Aku juga nggak mau nikah sekarang kok." jawab Gita.


"Terus?" tanya Melati lagi-lagi heran dengan pemikiran Gita.


"Terus aku juga bingung maunya gimana." jawab Gita jujur. "Mungkin aku malah membuat Gibran menyerah karena rumitnya pemikiranku ini." lanjut Gita.


"Iya sih, kenapa kamu nggak pacaran aja sih, kamu kan juga bisa mengenal Gibran dulu." kata Melati memberikan masukan.


"Entahlah, Mel. Aku nggak bisa berkata iya." jawab Gita lagi-lagi bingung.


"Terus Gibran gimana?" tanya Melati lagi.


"Dia pulang, kayaknya dia lelah, mungkin juga dia sudah menyerah." jawab Gita dengan wajah yang tertunduk lesu.


"Mungkin dia cuma perlu waktu. Kamu juga, Git." kata Melati menenangkan Gita.

__ADS_1


Gita hanya bisa tersenyum mendengar kata-kata Melati. Mungkin dia harus terbiasa untuk sementara waktu tanpa Gibran di sisinya.


__ADS_2