
****** Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 nya yaaa... supaya tambah semangat nulisnya... terimakasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan jejak di karya ini... Salam hangat dari author 😊 *****
"Brakkkk...!!" tiba-tiba pintu kamar hotel terbuka. Gibran terkejut dan langsung melepaskan Mawar yang sedang memeluknya. Andra datang mengejutkan mereka berdua.
Andra langsung menghampiri Mawar, tatapannya sedih melihat kondisi Mawar saat ini. Kemudian dia beralih memandang Gibran penuh emosi dan dengan tatapan marah dia segera mendekati Gibran.
"APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Andra berteriak penuh emosi sambil mencekik leher Gibran.
Gibran tidak bergeming. Dia paham sahabatnya itu sedang dilanda emosi dan salah paham atas apa yang sedang dilihatnya.
"Kamu salah paham, Bang... Aku... ckk... nggak ngapa-ngapain Mawar." jawab Gibran sedikit sulit karena cengkeraman tangan Andra di lehernya. Andra melonggarkan cengkeramannya dan kembali menatap Mawar.
"Apa yang dia lakukan padamu?" kali ini nada bicara Andra lebih terkontrol.
"Emmm..." Mawar bingung harus berkata apa. Berat rasanya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jawab, Mawar...!!!" perintah Andra kali ini dengan nada yang lebih tinggi.
"Emmm... Gibran... dia..." Mawar bingung harus menjawab apa. Dia hanya menatap Gibran seakan-akan meminta bantuannya. Gibran merasa menjadi tertuduh padahal bukan dia tersangka yang sebenarnya.
"Nggak, Bang. Sumpah aku nggak tau apapun...!" kata Gibran membela diri.
Andra kembali menatap Gibran dengan penuh emosi lebih dari yang sebelumnya. Dia kembali menangkap kerah baju Gibran dan mulai memukul wajahnya. Gibran tersungkur dan tanpa perlawanan dia mencoba bertahan.
"Sudaahhh...!!!" Mawar mencoba melerai Andra dan Gibran. "Aku memang menyukai Gibran, dia nggak salah...!" lanjut Mawar. Ucapannya membuat Andra bingung.
"Apa?" tanya Andra. Perasaannya sangat terpukul mendengar pengakuan pacarnya itu.
"Aku menyukai Gibran, Andra! Bahkan sejak kita pertama kali bertemu, di kafe waktu itu. Aku memperhatikan Gibran saat itu!" kata Mawar menjelaskan.
Gibran yang tergeletak di lantai juga tercengang atas pengakuan Mawar. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya direncanakan Mawar. Sementara itu dia juga masih menahan sakit di wajahnya akibat pukulan-pukulan Andra.
"Aku mencintai Gibran!" ucapan Mawar kali ini membuat Andra marah. Dia segera pergi dengan penuh emosi meninggalkan kamar hotel itu, meninggalkan Gibran yang hanya diam karena bingung dan Mawar yang menangis tersedu-sedu saat ini.
"Apa yang kamu katakan tadi?" tanya Gibran kepada Mawar setelah Andra pergi. Gibran sudah bisa duduk kembali di lantai sambil memeluk kakinya.
"Aku memang menyukaimu..." jawab Mawar mengakui.
"Kamu tau aku nggak akan pernah bisa menyukaimu, dan kamu pacar sahabatku. Kamu ingat itu?" tanya Gibran lagi.
__ADS_1
"Aku tau... Aku minta maaf... Aku bingung..." jawab Mawar masih dengan tangisnya.
"Apa yang terjadi padaku tadi? Untuk apa aku dibawa kesini? Dan... Apa yang terjadi padamu?" tanya Gibran yang sedang kebingungan sehingga banyak sekali pertanyaan yang menghantui pikirannya.
"Kamu bisa pulang..." ucap Mawar tanpa menjawab satu pun pertanyaan Gibran.
"Kamu menyuruhku pulang? Baiklah, aku akan pulang tanpa tau apa yang terjadi dan seperti orang bodoh, aku harus menerima saja semua ini, bahkan kehilangan sahabat-sahabatku?" tanya Gibran sinis. Dia merasa telah menjadi korban saat ini.
"Aku minta maaf, Gibran. Aku harusnya nggak melakukan ini..." jawab Mawar membuat Gibran semakin bingung.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Gibran lagi, kali ini lebih keras dan dia dengan tatapan yang tajam dia meminta penjelasan dari Mawar.
"Aku yang merencanakan semua ini." jawab Mawar pelan, masih menangis.
"Ceritakan sekarang...!" perintah Gibran kepada Mawar.
"Aku janji akan menceritakannya, tapi kamu harus janji akan memenuhi satu keinginanku." pinta Mawar kepada Gibran serius.
"Ceritakan dulu, aku akan mempertimbangkannya." jawab Gibran dengan cepat. Dia tidak sabar mendengar penjelasan Mawar.
Mawar menghela nafas panjang kemudian mulai bercerita.
"Aku menemui Roni dan memintanya membantuku merencanakan sesuatu. Sebuah jebakan yang ternyata malah membunuhku." Mawar mulai bercerita. Tatapannya sedih, hatinya jelas terluka. "Aku memintanya membantuku menculikmu, karena aku benar-benar menginginkanmu. Aku berencana menggunakan bukti sebuah foto kalau kamu sudah meniduriku sehingga kamu nggak akan bisa menolakku, Gibran. Aku tau kamu lelaki yang baik dan polos sehingga nggak akan bisa menolakku jika kupaksa seperti itu." kata Mawar menjelaskan.
"Ya... Dia bahkan sangat bersemangat karena ingin melihat Andra kecewa karena dikhianati sahabatnya." jawab Mawar tersenyum sinis. "Tapi... dia ternyata lebih licik dari yang kukira." lanjut Mawar lagi.
Gibran terkejut dan berharap tebakannya salah.
"Dia meniduriku..." ucap Mawar lirih. Matanya kembali berkaca-kaca dan dia tidak bisa menahan air mata yang kini megalir di pipinya. "Dia pergi sebelum kamu bangun." lanjut Mawar hampir tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Gibran tidak tau harus berbuat apa. Dia menyadari posisinya jadi serba salah.
"Aku nggak tau harus berbuat apa..." kata Gibran akhirnya menanggapi.
"Aku hanya minta satu hal yang kuharap kamu bisa memenuhinya, Gibran." kata Mawar bersungguh-sungguh.
"Apa?" tanya Gibran singkat.
"Jangan pernah menceritakan hal ini pada siapa pun termasuk Andra. Kamu bisa bilang kita nggak pernah ngapa-ngapain di kamar ini, karena memang itu kenyataannya. Aku nggak bilang kamu yang meniduriku, aku cuma bilang menyukaimu tadi. Jadi, dia nggak perlu tau." pinta Mawar.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak laporkan saja si Roni itu? Lagi pula, aku dan Andra pada akhirnya akan dirugikan, kami tetap nggak akan mungkin bisa bersahabat lagi." jawab Gibran.
"Aku nggak akan bisa melawannya, Gibran. Aku disini seorang diri, orang tuaku jauh-jauh mengirimku kuliah ke luar pulau karena mereka ingin yang terbaik untukku, sementara aku malah mengecewakan mereka dengan kejadian yang awalnya memang kurencanakan sendiri. Aku benar-benar menyesal telah merencanakan semua ini." kata Mawar semakin menangis.
Gibran merasa geram. Dia tidak bisa berbuat apa-apa disaat gadis yang ada di depan matanya itu terluka. Dia juga tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Andra karena permintaan Mawar tadi.
"Aku nggak mau orangtuaku malu, Gibran. Kamu bisa jelaskan ke Andra seperti yang kubilang tadi." pinta Mawar kali ini memohon lagi dengan bersungguh-sungguh.
"Kamu pikir Andra bisa menerima penjelasan seperti itu?" tanya Gibran menyunggingkan senyumnya. Dia tau betul Andra tidak akan mempercayainya.
"Aku mohon, Gibran..." Mawar kembali menangis sejadi-jadinya. Gibran tidak tau harus berbuat apa. Mungkin saja pada akhirnya dia memutuskan untuk memenuhi keinginan Mawar tersebut.
2 bulan berlalu...
Sejak kejadian 2 bulan yang lalu, Gibran dan Andra tidak pernah lagi saling bertegur sapa. Meskipun Gibran sudah menjelaskan berkali-kali kepada Andra, tetapi dia tetap tidak bisa menerima penjelasan Gibran. Mereka berdua akhirnya berjauhan, dan Gibran memutuskan untuk keluar dari tim basket sekolahnya.
Gibran tidak pernah lagi mendengar kabar Mawar. Padahal dia sebenarnya juga mengkhawatirkan kondisi Mawar. Gibran hanya bisa berharap semoga semuanya baik-baik saja.
Hari itu Andra datang menemui Gibran ke kelasnya.
"Apa kabarmu dan Mawar?" tanya Andra tiba-tiba menghampiri Gibran.
"Aku nggak ada hubungan apa pun sama Mawar!" jawab Gibran tegas.
"Hahaha...! Dia hamil dan kamu bilang nggak ada hubungan apa pun?" tanya Andra lagi membuat Gibran terkejut.
"Apa? Darimana kamu tau?" tanya Gibran terbelalak.
"Hahaha... Berita seperti itu di kost-nya tentu saja akan menjadi pembicaraan yang hangat!" jawab Andra sambil tertawa. "Dia hamil 2 bulan. Dan pastinya karena ulahmu waktu itu. Selamat!!!" kata Andra melanjutkan dengan sinis.
Gibran hanya terdiam. Ingin sekali dia mengatakan yang sejujurnya, tetapi dia langsung ingat janjinya kepada Mawar.
Keesokan harinya, Gibran bolos sekolah dan mendatangi kampus Mawar. Dia tidak menemukan Mawar di kampusnya. Akhirnya dia bertanya kepada seseorang yang ternyata berteman dengan Mawar. Teman Mawar memberitahu Gibran alamat kos Mawar.
Sesampainya di kost Mawar, dia juga tidak menemukan Mawar disana. Teman kost-nya berkata Mawar sudah tidak tinggal disana lagi karena sejak 3 hari yang lalu dia pulang ke kota asalnya. Mawar ternyata sudah berhenti dari kuliahnya.
Gibran hanya bisa mendoakan semoga Mawar dan bayi di dalam kandungannya baik-baik saja. Dia juga berharap keluarganya dapat menerima keadaannya.
Sementara itu hubungan persahabatannya dengan Andra tidak bisa diperbaiki lagi. Meskipun Gibran sudah berusaha menjelaskan, tetapi Andra tetap tidak mau mendengarkan. Dia menganggap semua yang terjadi pada Mawar adalah salah Gibran. Menurut Andra, Gibran lah yang harus bertanggung jawab atas hancurnya hidup Mawar.
__ADS_1
Gibran memang tidak pernah mengatakan yang sebenarnya kepada Andra, meskipun Mawar sudah pergi, tetapi dia merasa tidak bisa mengingkari janjinya. Lagi pula, jika Andra tau yang sebenarnya, dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Roni, mungkin saja Andra akan melakukan hal yang paling buruk terhadapnya. Akhirnya Gibran memutuskan untuk memendamnya sendiri. Dia membiarkan dan berharap suatu saat Andra akan melupakan semuanya dan kembali berteman dengannya. Gibran sudah melakukan apa pun yang dia bisa.
FLASHBACK END...