
Semalam, Lucki dan Shanaya tiba di rumah sudah larut malam, sehingga Shanaya tak di izinkan Lucki untuk bertemu dengan kakeknya. Tetapi, pagi ini ketika Shanaya turun untuk makan, Shanaya melihat kakek Hardiman yang sehat walafiat, berarti semalam Lucki telah membohongi Shanaya.
"Cucuku, sudah bangun. Ayo, sarapan bersama," ajak Kakek Hardiman, Shanaya hanya mengenakan piyama panjang serta celana panjang, karena Shanaya tak memiliki pakaian muslim lainnya di rumah, tetapi Shanaya masih sempat mengenakan hijab, meskipun tidak memakai cadar.
"Kakak, apa ini? kakek baik-baik saja?" tanya Shanaya yang mendekati meja makan, dan melihat semua orang yang ada di dalam ruangan nampak tersenyum mendengar pertanyaan Shanaya.
"Sayang, Kakek baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa dengan kakek," ujar Mama Shanaya, yang juga berada di meja makan.
"Kenapa kakak membohongiku?" Shanaya mendekati tempat duduk Lucki, pria ini terdiam tak berani melihat ke arah Shanaya.
"Jangan salahkan kakakmu, Kakek yang meminta dia untuk mencarimu," timpal kakek Hardiman, Shanaya menoleh lalu menyimpulkan senyuman penuh kekecewaannya kepada keluarganya.
"Kalian sanggup main-main dengan nyawa, jadi aku tidak heran jika kalian bisa mempermainkan kehidupanku, seperti yang kalian inginkan," tukas Shanaya, yang meneteskan air matanya. Padahal, sejak semalam begitu tiba di rumah, Shanaya tidak bisa tidur memikirkan kondisi kakeknya, tetapi ternyata semua orang telah mempermainkan dirinya.
"Kakek tahu kamu sudah berubah, selama ini kamu tinggal di pondok pesantren Abi Hakim, kakek tak melarangmu berhijab, tetapi kakek tak bisa memberi restu untuk kamu memakai cadar,"ujar pria tua yang saat ini masih menjadi kepala keluarga di dalam keluarga Hartawan.
"Ternyata usia tak menjamin kakek menjadi orang yang lebih pintar," tukas Shanaya, dan berlalu pergi meninggalkan ruang makan. Meskipun Juwita telah memanggilnya berulang kali, Shanaya tidak menggubrisnya.
Shanaya membenci orang yang membohonginya, begitu juga dengan Daffa, yang pernah menyembunyikan kebenaran darinya.
Lucki hanya bisa diam melihat itu semua, jujur saja Lucki menyayangi adik perempuannya, tetapi Lucki belum punya hak untuk membantah ucapan Hardiman ataupun Juwita, dua orang itu terlalu obsesi dengan perjodohan dan berbesan dengan keluarga Adipratama.
"Aku akan pergi melihatnya," Lucki bangun dari tempat duduknya, lalu pergi meninggalkan meja makan.
Saat ini, Lucki ada di dekan kamar adik perempuannya, sebelum masuk Lucki terlebih dulu mengetuk pintu kamar tersebut, tetapi setelah Lucki mengetuknya tak ada jawaban dari dalam kamar.
"Assalamualaikum, " ucap Lucki, sengaja agar Shanaya mau menjawab salamnya, tetapi ternyata sama saja, Shanaya tak menjawab.
__ADS_1
"Tidak menjawab salam, tetapi mendengarnya dosa lho?"lanjut Lucki, yang masih setia menunggu di depan kamar Shanaya.
"Aya menjawabnya, kakak." Sahut wanita itu dalam kamar, Lucki malah tersenyum mendengar suara Shanaya yang terdengar cukup kesal. Lalu, pintu kamar itu terbuka, menampilkan seorang wanita cantik yang masih memakai piyama serta hijab, wajahnya yang cemberut membuat Lucki menarik ke dua pipi Shanaya.
"Awww, sakit!" pekik Shanaya, tetapi Lucki malah terkekeh, dan menerobos masuk ke dalam kamar Shanaya.
Lucki duduk di tepi ranjang Shanaya, wanita ini menutup pintu kamarnya kembali, dan Shanaya menghampiri Lucki.
"Sebagai permintaan maaf kakak, kakak belikan kamu baju muslimah, serta lengkap dengan cadar, kamu boleh meminta seberapa banyak 'pun asal kakak mendapat maaf dari kamu, " tukas Lucki, yang melihat ke arah Shanaya. Netra Shanaya berbinar-binar mendengar tawaran dari Lucki, langsung membuat Shanaya bersemangat.
"Mau dua lusin, Shanaya enggak mau tahu, dan tidak boleh kurang satu 'pun," ujar Shanaya, dengan ke dua tangan dilipatkan di dada lalu duduk di samping Lucki.
"Oke, deal. Tiga lusin, untuk adikku yang cantik ini," Lucki memeluk Shanaya lalu membuat Shanaya memberontak karena tak ingin di peluk oleh Lucki.
Meskipun di depan kakek Lucki tak bisa berbuat apapun, Lucki masih berusaha untuk membujuk sang adik agar tak marah padanya, dan menuruti keinginan adiknya untuk tetap bercadar meskipun Shanaya berada di rumah.
Seperti janji Lucki kepada sang adik, beberapa kurir datang untuk mengantarkan pesanan Lucki untuk Shanaya, dan pembantu rumah Hartawan menerima paket tersebut.
"Siapa yang datang, Bi?" tanya Kakek Hardiman, saat melihat Bibi Inah melewati ruang tamu dan membawakan beberapa paperbag milik Shanaya.
"Kurir datang untuk mengantarkan pesanan Tuan Muda, Tuan besar." Ungkap Bi Inah, lalu berpamitan untuk menyimpan paperbag tersebut di kamar Shanaya. Begitu Bi Inah, tiba di depan kamar Shanaya, Bi Inah langsung mengetuk pintu tersebut, dan Shanaya yang tahu paketnya telah tiba yang menunggu waktu lama untuk membuka pintu kamarnya.
Shanaya begitu senang, karena sang kakak tak pernah ingkar janji kepadanya. Lucki bukan hanya mengirim pakaian muslimah untuk sang adik, tetapi beberapa buku panduan agama untuk Shanaya Lucki hadiahkan, begitu cinta Lucki untuk sang adik.
Di tempat lain, Bagas bersama dengan Ferdi, baru saja selesai bertemu dengan klien. Ternyata, Kakek Rudi datang ke kantor untuk bertemu dengan Ferdi.
"Tuan muda, Kakek Rudi menunggu Anda di dalam ruangan CEO," tukas Bagas, yang berdiri di ambang pintu ruangan meeting. Ferdi, baru saja mengakhiri rapatnya dengan klien.
__ADS_1
"Aku akan segera pergi menemuinya,"
Ferdi, ataupun Bagas segera pergi menuju ruangan CEO, ternyata di sana bukan hanya Kakek Rudi, tetapi Firman juga berada di dalam ruangan tersebut. Masih ada orang lain, yang datang untuk bertemu dengan Ferdi, yaitu Kakek Juwita bersama sebab Lucki.
"Selamat siang," ucap Ferdi, begitu pintu ruangan tersebut terbuka, semua orang nampak tersenyum di saat Ferdi dan Bagas masuk ke dalam ruangan CEO.
"Siang, silahkan duduk," Kakek Rudi, menyuruh Ferdi untuk segera bergabung dengan mereka semua. Bagas yang melihat tatapan Kakek Rudi, segera pergi meninggalkan ruangan tesebut.
Ferdi duduk di sebelah Kakek Rudi, sedangkan Juwita duduk berdampingan dengan Lucki, mereka berdua nampak memperhatikan pria tampan yang saat ini duduk di depan mereka.
"Ferdi, ini calon ibu mertuamu, dan ini calon iparmu," tukar Kakek Rudi, memperkenalkan Juwita dan Lucki kepada Ferdi. Pria ini mengurutkan keningnya, sejak awal telah menolak perjodohan itu, tetapi Kakek Rudi masih memaksanya untuk menikah.
"Tunggu dulu, maksud Kakek? perjodohan itu masih berlanjut?" tanya Ferdi, yang melihat ke arah Kakek Rudi, lalu melirik ke arah Firman.
"Tentu, saja masih berlanjut." Jawab Kakek Rudi mantap, tanpa bertanya kepada Ferdi, pria ini setuju atau enggak.
Ferdi langsung berdiri dari tempat duduknya sembari menatap Juwita ataupun Lucki. Melihat Ferdi yang tiba-tiba berdiri membuat Kakek Rudi ataupun Firman terkejut, mereka berdua takut Ferdi akan menolak perjodohan itu lagi.
Kakek Rudi memiliki lahan pertambangan yang belum berfungsi ke duanya berjanji akan saling berkerja dan menguntungkan jika dua keluarga itu dapat bersatu. Namun, Ferdi dan Shanaya hidup pada zaman modern yang menolak keras perjodohan itu.
"Kakek, Ferdi baru ingat, kalau Ferdi memiliki janji dengan klien, saya permisi dulu Tante," Ferdi menangkup ke dua tangannya dan berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Kakek Rudi yang melihat itu tak bisa menahan amarahnya. Kakek Rudi tahu, Ferdi hanya membuat alasan saja agar bisa keluar dari ruangan tersebut, karena sampai kapapun Ferdi akan menolak perjodohan itu.
Akhirnya Kakek Rudi, meminta maaf kepada Juwita dan juga Lucki, atas sikap Ferdi yang tidak sopan terhadap mereka berdua.
__ADS_1