
Juwita dan Lucki sekuat tenaga menahan Shanaya agar tak di bawa oleh mereka, tetapi pihak kepolisan langsung membawanya paksa dari ruangan itu. Shanaya berteriak memanggil Lucki dan Juwita yang sedang di tangan oleh beberapa kepolisian.
Tiba di luar ruangan, Kakek Hardiman tiba di sana.
"Tunggu!" Kakek Hardiman, menghentikan pihak kepolisian yang ingin membawa Shanaya, pria tua ini mendekat, dan menarik tangan Shanaya bersama dengannya.
"Jangan pernah kalian menyentuh cucuku, dan sebelum memeriksa kejadian itu lebih lanjut, lakukan prosedur yang ada, aku sudah menghubungi atasan kalian. Jika kalian masih mengotot ingin membawa Shanaya pergi, ku pastikan kalian akan di pecat secara tak hormat!" tegas Kakek Hardiman, menempelkan selembar kertas ke dada polisi tersebut.
Kakek Hardiman mendapat jaminan untuk Shanaya, tetapi sebelum pelaku yang sebenarnya di temukan nama Shanaya masih belum bersih, karena saat ini semua bukti dan tuduhan berarah kepada wanita itu.
Polisi tersebut berpamitan pergi tanpa membawa Shanaya, tetapi mereka meminta Shanaya untuk melapor ke kantor posisi dua hari sekali.
__ADS_1
Juwita dan Lucki, juga ikut keluar dan melihat Shanaya ada pada Kakek Hardiman, membuat Lucki lega dan langsung memeluk adiknya dengan erat.
Jam 21:30, malam.
Pada malam hari, saat ini Juwita memberikan obat untuk Shanaya, agar kondisinya tak mempengaruhi pertumbuhan janin yang ada di dalam kandungan Shanaya. Sejak Shanaya kembali dari rumah sakit, wanita ini tak melihat adanya Ferdi yang datang untuk melihat dirinya. Bahkan, ketika pihak kepolisan akan membawa dia ke kantor polisi, Ferdi juga tak datang untuk membela, hal itu membuat Shanaya tiba-tiba kembali menangis.
"Sayang, jangan lagi menangis, kasian babymu, nanti dia akan bersedih, bila ibunya terus menangis," ujar Juwita menghapus air mata yang membasahi pipi Shanaya.
Juwita menyuruh Shanaya untuk tidur, agar bisa beristirahat setelah melewati hari yang begitu melelahkan. Semenjak kejadian itu, Juwita tahu Shanaya belum dapat tidur dengan nyenyak, kadang dia kerap di hantui dengan bayangan kematian Kakek Rudi.
Ferdi, yang sudah siuman dari pingsannya, segera menyelinap pergi untuk menemui Shanaya, Ferdi mendapat kabar kalau Shanaya telah pulang, dan itu membuat Ferdi sedikit lega jika Shanaya saat ini berada di rumahnya, bukan di kantor polisi.
__ADS_1
Seperti biasa, Ferdi tak dapat masuk, dia sudah berulang kali mencoba membuka pintu utama, tetapi tak bisa. Akhirnya memilih untuk mencoba melalui dapur, Juwita yang masih di dapur terkejut melihat bayangan hitam yang berada di luar dapurnya.
"Ferdi," gumam Juwita begitu mengintip dari jendela, Juwita langsung membuka pintu dapur, dan membuat Ferdi terkejut.
Namun.....
"Ma, jangan usir aku, aku ingin bertemu dengan istriku, aku mohon ma," ucap Ferdi, yang bersimpuh di kaki Juwita, membuat wanita ini tak tega. Apalagi, saat melihat memar di raut wajah Ferdi, membuat Juwita sadar satu hal, kalau Ferdi mungkin baru saja melewati hal yang buruk supaya dia bisa sampai ke kediaman Hartawan.
"Kamu masuk saja, Shanaya sudah tertidur, pintu kamarnya tidak di kunci," ujar Juwita, Ferdi mendongakkan kepalanya melihat ke arah ibu mertua yang fokus menatap ke depan sembari memegang handle pintu dapur.
"Terima kasih, ma." Ferdi, bergegas pergi untuk menemui Shanaya, karena Ferdi yakin saat ini Shanaya membutuhkan dirinya. Juwita menangis, mengingat rumah tangga anaknya yang tertimpa musibah yang cukup besar, dalam hati Juwita menangis, agar Shanaya dan Ferdi dapat melewati itu semua.
__ADS_1
Juwita mengunci kembali pintu dapur, sebelum ada yang datang, apalagi jika Lucki tahu, maka rencana Ferdi untuk bertemu dengan Shanaya bisa saja gagal.
Bersambung.....