
"Ustaz Daffa?" panggil Abi Hakim lagi, masih menunggu jawaban dari pria tersebut. Daffa memandangi Shanaya dengan lekat, tak berniat untuk membohongi semua orang yang ada di dalam bilik itu. Tetapi, Daffa terpaksa untuk saat ini dia belum bisa memberitahu Shanaya ataupun Abi Hakim yang sebenarnya.
"Saya lajang, Abi." Jawab Daffa mantap.
"Alhamdulillah, " ucap Abi Hakim, Humairah menggenggam tangan Shanaya sembari tersenyum, dua wanita cadar itu merasa lega, akhirnya Shanaya dan Daffa bisa berta'aruf dengan lancar.
Abi Hakim meminta Daffa untuk kembali ke kamarnya, karena jam 'pun sudah menunjukkan waktunya untuk istirahat. Begitu juga dengan Humairah dan Shanaya, Abi meminta dua orang itu untuk kembali ke kamar masing-masing.
*
*
*
Tiga hari telah berlalu, setiap Daffa dan Shanaya tak sengaja bertemu, keduanya selalu bersikap canggung. Meskipun ke duanya memiliki perasaan yang sama, tetapi Shanaya dan Daffa masih menjaga jarak sampai ke duanya benar-benar sah di mata agama.
Hari ini, Ustaz Aiman di perintahkan Abi Hakim untuk berbelanja ke pasar, karena Humairah dan Shanaya memiliki jadwal yang lain di luar pondok pesantren, Humairah dan Shanaya ada acara untuk turun ke desa-desa terdekat untuk melakukan pengajian gratis.
Ustaz Aiman, baru saja selesai berbelanja keperluan dapur pondok pesantren Al-Hakim. Begitu selesai pria ini bergegas untuk kembali ke pondok pesantren.
Mobil yang di kendarai m
Ustaz Aiman berhenti di lampu merah. Seorang anak kecil menawarkan sebuah koran kepada Ustaz Aiman, awalnya pria ini menolak, tetapi begitu melihat sosok pria yang ada di koran mirip dengan Daffa, Ustaz Aiman tertarik untuk membeli koran tersebut.
__ADS_1
Suara klakson mobil di belakang Ustaz Aiman, mengejutkan Ustaz Aiman, dan pria ini segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut. Ustaz Aiman belum melihat koran yang dia beli tadi, tetapi Ustaz Aiman sudah tiba di pondok pesantren.
Beberapa orang santriwan membantu Ustaz Aiman untuk menurunkan semua barang belanjaan yang ada di dalam mobil. Ustaz Aiman teringat akan koran yang dia belikan tadi di jalan, lalu mengambilnya yang dia simpan di mobil.
"Ustaz, semua nya sudah selesai," ujar santriwan yang membantu Ustaz Aiman barusan.
"Terima kasih, ya." Ucap Ustaz Aiman, semuanya langsung bubar dan kembali ke dapur untuk membantu para santriwan yang menjadi piket memasak hari ini.
Barulah Ustaz Aiman, memiliki kesempatan untuk melihat dan membaca koran tersebut. Tetapi, begitu Ustaz Aiman lihat, pria ini terkejut ternyata, foto yang ada di koran itu benar foto Daffa, dan juga di sana di sebut sebagai ahli waris keluarga Adipratama.
Namun, yang membuat Ustaz Aiman tak habis pikir adalah, Ferdinand di kabarkan lari dari rumah karena perjodohan. Kalau memang berita itu benar adanya, ini kesempatan Ustaz Aiman untuk merebut kembali Shanaya dari tangan Daffa.
"Aku harus memberitahu hal ini kepada Abi, karena Abi paling tidak suka dengan orang yang suka berbohong," gumam Ustaz Aiman, yang kini berniat untuk mencari Daffa terlebih dulu.
"Maafkan aku, Aya. Aku tidak bermaksud membohongi kamu dan yang lain, tetapi aku terpaksa. Aya kamu tenang saja, setelah ini aku berjanji aku akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu, aku juga akan membawamu untuk menemui keluargaku, karena aku tulus mencintaimu," ujar Daffa, lalu menyembunyikan kembali ponsel serta dompet miliknya di bawah tempat tidur.
"Jadi, kamu selama ini hanya berpura-pura di depan kami semua?" tanya Ustaz Aiman, kedatangan Ustaz Aiman mengejutkan Daffa, pria ini langsung menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati Ustaz Aiman yang berdiri di ambang pintu kamar Daffa.
Tentu saja, kedatangan Ustaz Aiman mengejutkan Daffa. Karena, selain Ustaz Aiman, tidak ada orang lain yang menginginkan Daffa untuk pergi dari pondok pesantren Al-hakim.
Ustaz Aiman, melemparkan koran yang dia beli tadi ke wajah Daffa, pria ini menangkapnya dan segera melihat. Daffa sudah menduganya kalau hal ini pasti akan terjadi, tetapi hal tersebut terjadi sebelum Daffa mengatakan yang sebenarnya kepada Shanaya ataupun Abi Hakim, serta Humairah, yang telah berpihak kepadanya untuk ta'aruf dengan Daffa.
"Kenapa kamu membohongi Aya dan kami semua? apa kamu hanya memanfaatkan kebaikan Aya agar bisa tetap tinggal di sini? ini semua hanya kepentingan pribadi mu saja 'kan?" ucap Ustaz Aiman, dengan lantang.
__ADS_1
Bahkan, Ustaz Aiman sudah memberitahu Abi Hakim melalui panggilan seluler, mengingat Abi Hakim masih berada di luar pondok pesantren saat ini.
"Tidak, Ustaz Aiman. Aku tak pernah punya niat untuk memanfaatkan semua orang yang ada di sini. Aku tulus menyukai dan ingin meminang Aya, dan semua yang Ustaz Aiman katakan, itu semua tidak benar," bantah Daffa, tetapi Ustaz Aiman malah menampilkan senyuman mengejek saat mendengar ucapan Daffa.
"Jadi, maksud kamu Ustaz Aiman yang berbohong?"
Ustaz Aiman dan Daffa menoleh secara bersamaan saat mendengar suara Abi Hakim. Bukan hanya Abi Hakim, ternyata Humairah dan Shanaya juga berada di tempat itu, mereka berdua mengikuti Abi saat Abi Hakim baru saja kembali dari pertemuannya di luar pondok pesantren.
"Abi Hakim," ucap Daffa, melihat ke arah semua orang. Shanaya menatap Daffa tak percaya, Shanaya merasa di bohongi oleh Daffa.
"Apakah amnesia itu juga Anda berpura-pura?" tanya Humairah, Daffa terdiam dan melihat ke arah Shanaya, wanita ini menatap Daffa dengan netra penuh kekecewaan.
Daffa terdiam, tak menjawab pertanyaan dari Humairah.
"Kalau kamu diam, itu berarti kamu membernarkan pertanyaan Ukhti Humairah, Daffa?" Ustaz Aiman kembali bertanya.
"Ustaz Aiman, kenapa Anda senang sekali memojokkan saya? saya mengaku salah, karena telah berbohong, tetapi apa yang Anda tuduhkan tadi itu tidak benar, saya tidak pernah memanfaatkan siapapun di sini, termasuk Aya, karena saya tulus ingin melamarnya," ungkap Daffa, Shanaya belum memberi komentar apapun kepada semua orang, terkait dengan masalah yang sedang terjadi.
"Apa surat kabar ini juga termasuk tuduhan? di sini mengatakan kalau Ustaz Daffa, lari dari rumah karena perjodohan, sedangkan Anda mengaku kepada saya, kalau Anda lajang, benarkah begitu, Ustaz Daffa?" kini giliran Abi Hakim yang bertanya, Daffa tidak memiliki pembelaan lagi, sedangkan semua yang ada di surat kabar itu, benar adanya.
Shanaya kecewa dengan Daffa, yang telah membohonginya, Daffa memiliki banyak waktu sebelumnya untuk meminta maaf, dan mengatakan yang sebenarnya, tetapi Daffa malah memilih untuk diam dan membiarkan semua kebohongannya tetap berlanjut. Shanaya pergi meninggalkan kamar tersebut.
"Shanaya!"
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ♥️