Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 32


__ADS_3

Brak!


Semua orang menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara yang cukup keras. Ternyata Lucki menabrak pintu ruangan karena pandangannya hanya tertuju ke arah Humairah saja.


Semua orang menertawakan Lucki, sehingga membuat pria itu kehilangan muka. Apalagi Ferdi, yang sampai tak henti-henti menertawakan iparnya. Shanaya memukul lengan Ferdi, agar berhenti menertawakan Lucki.


"Anak itu, entah hidup di jaman apa, bisa-bisanya melihat wanita bisa tak fokus jalan," cibir Juwita, sembari memberikan tempat duduk untuk Humairah, dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk.


"Terima kasih, Tante." Ucap Humairah dengan sopan. Ferdi, berpamitan dengan tiga wanita yang ada di dalam ruangan tersebut, untuk mengambil obat di farmasi.


Begitu Ferdi, keluar dari ruangan Shanaya, Humairah 'pun berbincang-bincang dengan Shanaya dan juga Juwita. Bahkan, Humairah sempat menceritakan perihal tentang Ustaz Aiman, yang setiap hari menanyakan kabar Shanaya.


Namun, Shanaya menyuruh Humairah untuk menceritakan hal yang sebenarnya, agar Ustaz Aiman tak berharap banyak. Shanaya mengusap perutnya yang masih rata membuat Humairah sangat iri, wanita ini juga menginginkan agar segera dapat menikah dan merasakan menjadi seorang ibu.


"Jadi, nak Humairah apa masih single?" tanya Juwita, membuat Humairah menoleh dan tersenyum sebelum menjawabnya.


"Humairah, masih sendiri, Tante." Jawab Humairah sopan, Juwita langsung mendekat dan duduk di samping Humairah memegang ke dua bahu gadis itu.


"Katakan sayang, berapa mahar yang kamu minta? Tante, ingin melamarmu untuk anak Tante, itu 'pun kalau kamu tidak keberatan," ujar Juwita, Shanaya terkejut mendengar pertanyaan ibunya.


"Ma, apa yang mama tanyakan, tidakkah mama bisa melihat apa sopan bertanya seperti itu, kepada seorang wanita? jika mama ingin melamar Humairah untuk Kak Lucki, kenapa mama nggak langsung datang ke rumahnya saja," imbuh Shanaya, Humairah nampak masih terdiam tak memberi komentar apapun. Juwita merasa bersalah telah bertanya seperti itu kepada Humairah, akhrinya Juwita meminta maaf kepada gadis itu.


"Maafkan, Tante Humairah. Tante, tak bermaksud menyinggung perasaanmu, kalau Tante memiliki waktu, Tante akan datang ke rumahmu, secepatnya." Ucap Juwita dengan mantap, membuat Shanaya senang dan menggenggam tangan Humairah sebagai calon iparnya.


Humairah, hanya tersenyum sebelum wanita ini berpamitan untuk kembali ke pesantren al-hakim, Humairah takut jika pergi terlalu lama, Abi Hakim akan cemas.


Baru saja Humairah berlalu sekitar 15 menit. Ferdi, kembali dengan membawa obat yang sudah di ambilnya di Farmasi. Dokter Arum, juga ikut masuk ke dalam ruangan Shanaya untuk melepaskan jarum infus, karena cairnya sudah mau habis.


Dokter Arum, menasehatkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu, untuk menjaga kandungan Shanaya yang masih trimester pertama, apalagi itu sangat rentan dengan hal-hal yang negatif.


Dokter Arum, menyarankan Ferdi untuk menggunakan kursi roda saja, tetapi Ferdi malah memilih untuk mengendong Shanaya ke tempat parkir, sehingga membuat Lucki sejak tadi mengejek pria itu.

__ADS_1


"Kami pulang dulu, ma." Pamit Ferdi, mencium punggung tangan ibu mertuanya. Lalu, berpamitan dengan Lucki iparnya.


"Jaga betul-betul adikku dan calon keponakanku, jangan sampai lecet, ingat!"


"Auh, mama!" ketus Lucki, kemudian di saat Juwita kembali menjewer daun telinga Lucki, membuat daun telinga itu memerah.


"Bicara yang sopan sama ipar sendiri, mama nggak pernah ajarin kamu ngomong begitu ya,"


"Iya ma, iya." Ucap Lucki, sembari memohon ampun, Ferdi dan Shanaya hanya tertawa melihat dua orang itu yang terus saja berdebat.


Ferdi, langsung masuk ke dalam mobil, dan duduk di bagian kemudi. Karena, Ferdi menyetir sendiri ke rumah sakit tadi pagi. Sementara Bagas, saat ini ada di Jepang dan akan kembali dua hari lagi, pria itu ada proyek baru di kota sakura.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Adipratama, Ferdi tak bosan-bosan mengusap perut rata Shanaya sehingga membuat wanita ini merasa cukup geli tangan Ferdi menyentuh perutnya yang masih rata.


"Sayang, ada yang ingin kamu makan? kita dapat membelinya sebelum kita tiba di rumah,"


"Eeemmm, mau es krim," jawab Shanaya cepat sembari membayangkan es krim dingin yang nikmat, sehingga membuat Shanaya begitu ingin segera memakannya.


Tiba di supermarket, Shanaya dan Ferdi langsung turun dari mobil, tetapi Ferdi tak membiarkan Shanaya berjalan sendiri, tanpa ada Ferdi, pria ini begitu was-was, bahkan dia merangkul pinggang Shanaya hingga masuk ke dalam supermarket.


"Selamat datang Tuan, selamat berbelanja," sapa pelayan supermarket dengan begitu ramah. Ferdi, memberikan catatan yang di berikan Dokter Arum, untuk seorang pelayan agar tak membuat mereka capek jika harus mencari sendiri.


"Mas, untuk susu ibu hamil, apa bisa pilih sendiri? aku ingin melihat rasa apa yang cocok," ujar Shanaya, meminta izin terlebih dulu sama suaminya, sebelum melakukan apapun yang ingin Shanaya lakukan.


"Tentu, boleh Sayang. Ayo, aku antar!" Ferdi, membawa Shanaya ke bagian rak susu ibu hamil, kini Shanaya dan Ferdi berdiri tepat di depan rak susu ibu hamil, ada berbagai macam rasa varian di dalam rak tersebut, dan terlihat semuanya enak.


Ferdi menemani Shanaya yang sedang sibuk memilih dan memilah rasa apa yang ingin di belinya. Tiba-tiba ponsel Ferdi berdering dan itu panggilan penting dari Bagas, pria ini sedikit menjauh agar tak menganggu Shanaya yang sibuk memilih susu ibu hamil.


"Shanaya," sapa seseorang yang membuat Shanaya segera berbalik dan terkejut melihat Clara ada di tempat itu juga. Secara kebetulan mereka bertemu setelah dua bulan yang lalu, dan ingin mereka bertemu untuk pertama kalinya lagi.


"Apa kabarmu?" tanya Clara dengan ramah, sembari mengamati bentuk tubuh Shanaya yang banyak berubah.

__ADS_1


"Selamat ya," lanjut Clara, ketika melihat kotak susu ibu hamil di tangan Shanaya.


"Terima kasih. Kamu apa kabar Clara?" tanya Shanaya dengan ramah, seakan-akan tak pernah menyimpan dendam terhadap wanita itu.


"Aku baik, sudah lama nggak bertemu. Padahal, aku ingin sekali bertemu dengan mu ataupun Ferdi, tetapi Bagas tak memperbolehkan aku masuk ke kantor Ferdi. Shanaya kamu harus percaya sama aku, aku tak melakukan hal seperti yang di tuduhkan Ferdi terhadapku, aku berani ...."


"Sayang," panggil Ferdi, yang baru saja selesai berbicara dengan Bagas, melalui ponselnya.


"Iya, Mas. Kamu sudah selesai nelponnya?" tanya Shanaya, sembari memeluk lengan Ferdi, agar tak membuat pria ini curiga.


"Tadi kamu bicara sama siapa? aku mendengar seseorang berbicara dengan kamu?" tanya Ferdi, dengan raut wajah yang penuh curiga.


"Tidak, itu hanya pelayan, aku meminta mereka untuk memasukan dua kotak es krim ke dalam kantong belanja kita," tukas Shanaya, dan mengajak Ferdi untuk pergi dari sana.


Sekali lagi Ferdi menoleh ke arah tempat dimana Shanaya sebelumnya berdiri. Karena, Ferdi masih curiga dengan siapa istrinya barusan berbicara.


Clara yang bersembunyi cukup deg-degan, karena bagaimanapun Ferdi telah memberi peringatan untuknya agar tak menganggu kehidupan mereka, oleh sebab itu Clara tak ingin rencananya untuk berbicara dengan Shanaya di lain waktu gagal.


Tiba di kasir, Ferdi langsung membayar semua barang belanjaannya, serta meminta pelayan toko untuk mengantar barang tersebut ke mobil.


"Sayang, kamu pergilah lebih dulu, aku akan mengambil minuman mineral untukmu, tadi aku lupa," ujar Ferdi, sembari mengecup singkat kening Shanaya dan meminta Shanaya untuk menunggunya di mobil.


Ferdi, berbicara dengan kasir, seperti meminta tolong sesuatu, bahkan Ferdi memberikan alamat emailnya, dan juga sejumlah uang untuk kasir tersebut.


Shanaya telah menunggu Ferdi lebih dari 20 menit, lamanya. Tetapi, pria itu tak juga keluar dari supermarket. Shanaya melihat Ferdi yang berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa menuju tempat parkiran mobil.


"Sayang, maaf ya kamu menunggu lama, kita pulang ya," Ferdi mencium kening dengan lembut sebelum pria ini menyalakan mesin mobilnya. Dari jauh, Clara mengintip ke arah mobil Ferdi yang sedang memutar arah untuk pulang, Shanaya mengetahui akan hal itu, tetapi dia belum mengatakan apapun kepada Ferdi.


Mobil Ferdi, melaju dengan kecepatan rata-rata meninggakan tempat parkiran supermarket. Mengetahui Shanaya dan Ferdi telah pergi barulah Clara keluar dari tempat persembunyiannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2