Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 46


__ADS_3

"Mama tidak kenal betul, tetapi beberapa kali mama bertemu dengan wanita ini, karena memang perushaana Hartawan dan Adipratama bekerjasama sejak dulu. Tetapi, sempat putus hubungan ketika ibumu dan suamiku meninggal dalam satu mobil, waktu itu semua orang percaya jika ibumu dan suamiku berselingkuh." ungkap Juwita, Ferdi nampak mendengarkan semuanya,


"Padahal, ternyata semua itu hanya konspirasi. Mereka tidak berselingkuh, mereka pulang bersama dan tidak sengaja bertemu di jalan, tetapi seseorang dengan sengaja menabrak mobi suamiku, sepertinya target mereka bukan Rocky, melainkan Anita ibumu," lanjut Juwita, yang sudah terpaksa membongkar rahasia yang selama ini Juwita tutupi.


Juwita sengaja memberitahu Ferdi rahasia itu, karena takut jika Firman ingin menjebak Shanaya atas kematian istrinya dulu, padahal di hati itu bukan hanya Firman yang kehilangan Anita, Juwita juga kehilangan Rocky.


"Jadi, mama juga di bunuh waktu itu? dengan dalih kecelakaan?"


"Iya,"singkat Juwita.


"Setelah itu apa yang terjadi?"


"Tidak banyak, selain terbongkarnya kejahatan wanita ini, wanita ini adalah Lidia, sekretaris Kakek Rudi. Lidia memiliki hubungan satu malam dengan Kakek Rudi, dan hal itu di ketahui oleh Anita, mungkin wanita ini dalang di balik kecelakaan mamamu,"

__ADS_1


"Nenek?"


"Nenekmu, meninggal di kantor, setelah mengikuti meeting, di kabarkan meninggal karena serangan jantung, tetapi aku yakin pasti sesuatu telah terjadi," imbuh Juwita, Ferdi mengambil kembali foto itu dan menyimpannya.


Ferdi, bertanya tentang Lidia, tetapi Lidia telah lama meninggal di saat usia Ferdi 15 tahun, waktu itu. Padahal, Ferdi sudah yakin jika pelakunya adalah Lidia yang membunuh Kakek Rudi karena dendam.


Ferdi, berpamitan dengan Juwita, wanita ini menitipkan hati ayam rendang untuk Shanaya , meminta Ferdi untuk mengantar itu kepada istrinya.


Pulang dari rumah hartawan, Ferdi langsung menancap gas ke pondok pesantren Abi Hakim. Sebelum tiba di pondok, Ferdi terlebih dulu singgah di sebuah restoran untuk membelikan nasi bakar untuk Shanaya, Ferdi teringat nasi bakar akan enak bila di makan dengan hati ayam rendang.


"Tuan Ferdi," sapa seseorang, pria ini segera menoleh dan terkejut melihat Tuan Ben, yang menyapanya. Tetapi, karena masih marah, Ferdi mengabaikan Tuan Ben.


"Saya turut berduka, atas meninggalnya Kakek Rudi," ucap Tuan Ben. "Oh ya, saya melihat berita kehilangan Nona Clara, anak dari pemilik perusahaan Anthena, Tuan Mariot Anthena, membuat pengumuman tadi pagi jika anaknya telah hilang tiga hari ini," ungkap Tuan Ben, Ferdi yang mendengar kabar itu tentu saja terkejut, karena Ferdi juga ingin bertemu dengan Clara terkait kasus kematian Kakek Rudi.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini Anda terlalu dekat dengan Nona Clara, jauh hari saya melihat Anda bertemu dengan Nona Clara," cibir Ferdi, mengingat hari dimana Ferdi melihat Clara dan Tuan Ben bertemu.


"Tentu dekat, Tuan Mariot kolega saya, beliau sahabat saya. Hari itu, Nona Clara mengantar berkas milik Tuan Mariot untuk saya, dan saya memberikan proposal untuknya, begitulah kerja sama kami, tidak pernah ada perselisihan," ujar Tuan Ben, Ferdi langsung menaikan alisnya dan pergi meninggalkan restoran tersebut.


Ferdi, mengubungi Lucki, memberitahu perihal Clara yang hilang, dan juga tentang Ferdi yang salah paham sama Clara sebelumnya.


Ferdi kini tiba di depan pondok pesantren Abi Hakim. Pria ini turun dari mobil, tetapi dia melihat Ustaz Aiman, dan langsung menyapanya.


"Ustaz" panggil Ferdi, pria ini menoleh dan langsung berjalan dengan tergesa-gesa, mengingat hal yang memalukan pada malam itu, membuat Ustaz Aiman sangat malu.


"Tunggu Ustaz," Ferdi, mengejar Ustaz Aiman, pria itu menghentikan langkah kakinya, sembari menatap malas ke arah Ferdi.


" Tolong berikan ini kepada Aya, katakan dari suaminya, Aku tidak bisa mengantarnya, karena ada hal mendesak, jadi aku titip ini sama Ustaz Aiman, ya,"

__ADS_1


Awalnya Ustaz Aiman mau menolak, tetapi melihat Ferdi yang sedikit terburu-buru membuat pria itu mau membantunya. Setelah menitipkan itu kepada Ustaz Aiman, Ferdi mengirim pesan untuk Humairah, dan pria itu segera pergi meninggalkan pondok pesantren Abi Hakim.


Jangan lupa like+ koment, dan vote ya mumpung Senin ♥️ di tunggu setangkai mawar dan segelas kopi 🤍


__ADS_2