
"Dimana Mas Daffa, ma?"
"Sayang, kamu sudah siuman? tanya Juwita yang mendekat ke arah ranjang pasien milik Shanaya. Lucky saat ini berdiri di depan jendela kala sembari memasukan dua tangannya ke dalam saku celana.
Air mata lucky menetes, mengingat tuduhan keluarga Adipratama untuk adiknya. Sejak kecil Shanaya di asuh menjadi wanita yang lembut, jangankan untuk membunuh orang, kadang berkata kasar untuk menyakiti orang lain saja Shanaya tak tega.
"Dimana Mas Dada?"
Juwita tak menjawab, dia kembali menyeka air mata yang tak bisa di tahan lagi, apalagi mendengar pertanyaan Shanaya yang terus saja bertanya tentang Ferdi, bahkan mereka saja tidak tahu dimana pria itu saat ini, di pemakaman atau di rumahnya.
"Ma, dimana Mas Daffa? kenapa kakak diam saja? ma, jawab aku!" Shanaya mengguncangkan tubuh Juwita, tetapi wanita itu semakin tak bisa menahan diri yang akhirnya memeluk tubuh Shanaya dengan erat.
Isak tangis Shanaya semakin pecah, memenuhi ruangan itu, tangis pilu Shanaya membuat Lucki, merasakan sesak di dadanya. Ini kedua kali Lucki mendengar tangisan itu, pertama saat Rocky meninggal dan ke dua sekarang saat Shanaya di campakkan dari keluarga suaminya.
Menangis terlalu banyak, membuat tubuh Shanaya kembali kaku dan dingin, itu membuat Juwita panik, bahkan Shanaya beberapa kali merasakan mual tapi tak ingin muntah.
Lucki, mendekat dan memeluk adik perempuannya dengan erat.
__ADS_1
"Jangan begini, kakak mohon, jangan hukum kakak dan mama terlalu berat, kami takkan sanggup," ucap Lucki yang masih dengan setia memeluk adik perempuannya itu.
"Mas Daffa,"
Terdengar suara pintu terbuka, Shanaya berharap itu yang datang Ferdi, tetapi ternyata itu Dokter Arum yang datang untuk memeriksa Shanaya kembali. Wajah penuh kekecewaan terlihat jelas dari raut wajah Shanaya ketika yang datang adalah Dokter Arum, bukan Ferdi suaminya.
"Aku akan memeriksa ulang," tukas Dokter Arum, Lucki menjauh dan meninggalkan Shanaya bersama dengan Juwita. Lucki berjalan ke arah tempat parkir, Lucki tak percaya jika adiknya mampu menghilangkan nyawa orang lain.
Lucki beberapa kali memukul setir mobil dan mengusap kasar rambutnya dengan frustrasi.
"Aku harus membuktikan semua tuduhan itu tidak benar, aku tidak akan membiarkan hidup adikku di bayangi rasa bersalah, aku yakin Shanaya tak melakukan itu," gumam lucky, melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan jam 21:31, malam.
Namun, ternyata Kakek Hardiman tak ada di rumah, Lucki tidak tahu dimana keberadaan kakeknya. Sepanjang malam siaran televisi membicarakan tentang kematian seorang pengusaha kaya dan sukses telah menutup usianya, dan mereka juga memberitakan kematian Kakek Rudi, atas pembunuhan yang di lakukan oleh menantu keluarga Adipratama.
"Tekan semua perusahaan surat kabar yang menyiarkan berita palsu itu, adikku bukan pembunuh!" ucap Lucki dengan tegas, di balik ponselnya.
Lucki, mondar-mandir mencoba menghubungi Ferdi, tetapi tak ada jawaban dari pria itu, bahkan Lucki malam ini terlihat begitu jelas tak tahu dimana keberadaan Kakek Hardiman saat ini.
__ADS_1
Di kediaman Adipratama, Ferdi sedang mencoba mencari ponsel yang hilang entah kemana. Pria ini sudah berusaha untuk mencari ke seluruh tempat tetapi tak juga menemukannya, Ferdi tak ingat dimana ponsel itu terkahir kali di letakkan oleh dirinya.
'Shanaya!'batin Ferdi, pria ini bergegas turun ke lantai dasar, seluruh lampu sudah mati, itu pertanda Firman sedang berada di kamarnya. Ferdi menyelinap pergi untuk menemui Shanaya yang saat ini sedang berada di rumah sakit. Ferdi belum sempat berpikir untuk mengurus apapun lagi, karena yang Ferdi pikirkan pria itu saat ini adalah Shanaya, istrinya yang tengah hamil berada di rumah sakit.
Bintang malam itu nampak bersinar menerangi bumi dengan cahaya gemerlapnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Ferdi hanya merasakan kegelisahan yang tiada tara, mengingat Shanaya tengah berbadan dua, Ferdi takut hal yang baru saja terjadi dapat mempengaruhi istrinya.
Tiba di rumah sakit, Ferdi langsung mencari kamar Shanaya, setelah mendapat pesan singkat dari Dokter Arum. Tidak ada yang menjaga kamar itu dari luar sehingga bisa dengan bebas Ferdi masuk untuk menemui Shanaya.
Ferdi, membuka pintu ruangan Shanaya dengan perlahan. Begitu dia berhasil masuk, mata Ferdi tertuju ke arah ranjang pasien, dimana sang istri tengah berbaring lemah dengan jarum infus yang masih tertancap di punggung tangan Shanaya. Hati Ferdi terenyuh melihat pemandangan itu, apalagi ketika sudah mendekat, Ferdi dapat melihat dengan jelas raut wajah Shanaya yang penuh dengan kecemasan dan ketakutan meski wanita itu sedang tertidur.
Ferdi, langsung memeluk erat tubuh Shanaya, dan membuat wanita itu terbangun dari tidurnya, begitu tahu yang datang Ferdi, Shanaya langsung kembali terisak dan memeluk erat tubuh suaminya.
"Mas, bukan aku. Aku tidak melakukan hal kejam itu, aku tidak melakukan itu, mas."Ucap Shanaya yang masih terisak, sungguh sakit hati Ferdi mendengar ucapan Shanaya untuk membela diri, tetapi Ferdi belum bisa menghapus tuduhan itu untuk Shanaya.
"Aku percaya, aku percaya kepadamu, jangan menangis," Ferdi menyeka air mata Shanaya, dan Ferdi mengecup singkat kening Shanaya serta ke dua pipi sang istri yang sangat di cintainya.
"Biar aku saja yang menangis untukmu, kalau kamu menderita aku juga akan tersiksa, jika kamu sakit aku juga akan merasakan sakit. Jangan pernah menangis, aku takkan membiarkan air matamu menetes begitu saja," ucap Ferdi, memegang wajah istri serta menatap dalam ke arah netra Shanaya. Seakan Ferdi dapat membaca betapa tersiksanya Shanaya begitu mendengar tuduhan yang di lontarkan Ayah mertua untuknya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini?"