
Tiba-tiba Ferdi melihat sosok wanita cadar yang baru saja keluar dari restoran yang ada di seberang jalan sana, Ferdi langsung turun dari mobil berniat untuk mengejar wanita itu.
"Tuan!" panggil Bagas, yang cemas melihat lampu merah yang tiba-tiba sudah hijau, Ferdi malah berusaha untuk menerobos kendaran yang lalu lalang.
Tit! Tit! Tit!
Mau tak mau Bagas, harus menepikan mobilnya terlebih dulu ke tempat lain, baru bisa turun dari mobil untuk mengejar Ferdi.
Suara klakson mobil memenuhi jalan tersebut, karena Ferdi yang sedang berusaha menerobos jalan, sedangkan kendaraan begitu banyak di jalan apalagi lampu hijau baru saja menyala.
Brak!
"Tuan!" teriak Bagas, dari jauh saat melihat Ferdi tertabrak oleh mobil, pria ini segera berlari untuk melihat anak dari majikannya.
Ferdi hanya mendapatkan luka ringan saja pada bagian lengannya saat terjatuh. Namun, sosok wanita cadar yang dia lihat tadi telah menghilang dan Ferdi sadar kalau itu hanya halusinasinya saja.
"Tuan, Anda tidak apa-apa? mari saya bantu," Bagas membantu Ferdi untuk berdiri. Bahkan, Bagas mengajak Ferdi untuk ke rumah sakit, tetapi Ferdi menolaknya, dia meminta untuk segera pulang.
Bagas menuntun Ferdi menuju mobil, melihat siku Ferdi yang terluka, bahkan Bagas sedikit cemas jika Tuan Besar bertanya kepadanya saat tiba di rumah.
Mobil memasuki halaman rumah dua lantai itu, beberapa pengawal mendekat dan membuka pintu untuk Ferdi. Pria ini segera turun dari mobil, dan pengawal lain nampak terkejut melihat luka di bagian lengannya.
__ADS_1
"Tuan muda, Anda tak apa-apa?" tanya pelayan saat melihat Bagas menuntun Ferdi masuk ke dalam rumah.
"Saya, oke." Jawab Ferdi, yang melepaskan tangan Bagas dari lengannya, lalu Ferdi segera pergi menuju kamarnya.
"Bi, biar saya saja yang mengobati Tuan muda, sepertinya suasana hatinya sedang tak baik-baik saja," ujar Bagas, Bi Asih memberikan kotak P3K untuk Bagas, dan pria itu segera menyusul Ferdi, hingga ke kamar tidurnya.
Di dalam kamar, Ferdi membuang jas ke sembarangan tempat, lalu melonggarkan dasinya, serta membuka kancing kemeja dan melemparnya ke atas lantai begitu saja, dengan noda darah yang terlihat jelas di kemeja putih yang dia pakai sebelumnya.
"Aggrrh!" teriak Ferdi begitu keras, dan berdiri didepan wastafel kamar mandi, serta memandangi wajahnya yang terpantul di kaca tersebut.
"Kenapa? kenapa hanya aku yang berjuang? kenapa kamu tak berusaha menghubungi ku, padahal kamu tahu siapa aku, sangat mudah bagimu untuk mencariku!" teriak Ferdi, kembali di depan kaca wastafel, sehingga suara ketukan pintu dari luar mengejutkan Fedi di dalam kamar mandi.
Ferdi, keluar dari kamar mandi, lalu pergi untuk membuka pintu kamar, dan terlihat Bagas yang berdiri di depan pintu kamarnya, serta kotak P3K ada di tangan Bagas.
Ferdi menghela nafasnya, hanya Bagas yang di percayai Ferdi selama ini, sehingga Ferdi mengizinkan pria ini untuk masuk ke dalam kamarnya. Begitu Bagas masuk, Ferdi menutup kembali pintu kamar tersebut.
Bagas fokus mengobati luka yang ada di lengan Ferdi, sesekali Bagas melihat ke arah raut wajah Ferdi, yang terlihat begitu datar dan dingin.
"Tuan, katakan padaku, apa yang sedang Anda pikirkan?" seru Bagas, Ferdi menoleh ke arah Bagas.
"Bagas, untuk pertama kali aku jatuh cinta pada seorang wanita, tetapi aku tidak tahu siapa keluarganya, karena aku hanya mengetahui dirinya telah mengetuk pintu hatiku. Selama aku tinggal di luar rumah ini, aku belajar banyak tentang agama, jadi aku yakin wanita itu yang di kirim Allah, sebagai istriku," tukas Ferdi, lalu melihat ke arah Bagas, pria ini terkejut sehingga gunting yang ada di tangannya terjatuh.
__ADS_1
"A-apa yang Tuan katakan benar?" tanya Bagas gugup, Ferdi mengangguk pelan kepalanya, sontak membuat Bagas terduduk di lantai. Bagas tak pernah berpikir kalau Ferdi akan jatuh cinta pada wanita lain, sedangkan keluarga Adipratama telah menyiapkan jodoh untuk Ferdi, itu pasti akan sulit untuk Ferdi dan wanita itu.
"Tuan, Anda tahu...."
"Bagas, aku tahu. Aku tahu papa tidak akan membiarkan itu terjadi, papa pasti akan menentang cintaku, tetapi apa mereka tidak akan memberikan aku satu kesempatan saja?" Ferdi berdiri dari tempat duduknya, lalu menoleh ke arah Bagas yang masih duduk di lantai.
Bagas terlihat menghela nafas beratnya lalu bangkit dari tempat duduk dan berdiri di depan Ferdi. Bagas memperhatikan raut wajah Ferdi, memang Ferdi terlihat berbeda setelah pria ini kembali ke rumah setelah menghilang dua Minggu yang lalu.
"Tuan, aku mendukungmu. Aku sudah lama ikut denganmu, jadi aku tahu bagaimana Anda, berjuanglah untuk mendapatkan cintamu, buktikan pada Tuan Besar, jika wanita itu adalah wanita terbaik yang Anda pilih," Bagas memberikan dukungan untuk anak majikannya. Karena Bagas tahu, jika Ferdi sudah yakin Bagas juga yakin wanita itu pasti sangat istimewa.
Raut wajah Ferdi langsung berubah saat mendapat dukungan dari Bagas, karena yang Ferdi butuhkan adalah dukungan dari orang terdekat, Bagas adalah pengawal pribadinya, dan Bagas sudah bekerja lama untuk keluarga Adipratama.
Di tempat lain, Shanaya baru saja keluar dari ruang pengajian bersama dengan Humairah, dan juga Ustaz Aiman.
"Assalamualaikum, ukhti Shanaya," sapa Ustaz Aiman, ke dua wanita ini menoleh, melihat Ustaz Aiman yang menghampiri mereka.
"Waalaikumsalam, " jawab Humairah, dan juga Shanaya secara serentak.
Namun, tiba-tiba Abi Hakim datang mengejutkan mereka bertiga.
"Aya, seseorang datang untuk menemuimu, orang itu ada di rumah Abi," tukas Abi Hakim, Shanaya dan Humairah saling pandang satu sama lain.
__ADS_1
'Siapa orang itu?' batin Ustaz Aiman, yang ikut penasaran dengan tamu yang datang menemui Shanaya.
Bersambung.....